My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
44. RISIH


__ADS_3

Gadis itu tidak membalas, juga tidak menolak apa yang dilakukan Reyn padanya. Hanya debar jantungnya kian memacu lebih kencang kala Reyn menarik tubuhnya masuk dalam dekapannya, menekan tengkuknya untuk memperdalam tautan mereka.


Lelah dengan kaki yang menggantung, Rose melingkarkan kakinya pada pinggang suaminya itu dan menguncinya erat.


Permukaan kolam yang mulai tenang karena tidak ada aktifitas renang, kembali berombak halus. Gerakan-gerakan aktifitas sepasang suami-isteri itu menciftakan riak-riak gelombang kecil hampir tak terlihat disekitar mereka.


Sepersekian detik kemudian, Reyn melepaskan tautan mereka. Membiarkan Rose menghirup oksigennya untuk mengisi paru-parunya. Menghapus jejak saliva dibi*ir Rose yang semakin memerah karena perbuatannya.


Rose membenamkan wajahnya diceruk leher panjang Reyn. Rasa malu tiba-tiba menyerangnya, tidak sanggup menerima tatapan mata elang milik suaminya. Debaran dalam dadanya kian membuncah saat Reyn mengangkat dagunya hingga mendongak keatas.


Tautan mereka kembali terjadi.


Rose tidak kuasa menolaknya, perlakuan Reyn teramat manis dan menggetarkan jiwa belianya, ini kali kedua ia melakukannya, hanya bersama Reyn suaminya. Rose kian terhanyut dan terbuai dalam pagut@n Reyn didalam sana. Reyn, laki-laki dewasa yang lebih tua tujuh tahun darinya, sudah mengajarinya hingga sejauh ini.


Tanpa sadar Rose mulai menahan gerakan suaminya dan memulai aksinya. Reyn terpaku, untuk beberapa detik berlalu, ia merasakan pergerakan pelan Rose, itu terlalu lembut dan hampir tak terasa.


Laki-laki itu memejamkaan matanya, berusaha merasakan pergerakan isterinya yang masih terasa canggung menurutnya. "Teruskan Rose, lakukan dengan cara yang kau bisa," gumannya didalam hati, tetap menanti dengan sabar, saat dirasa Rose kembali menghentikan pergerakannya.


Penantian Reyn berbuah manis.


Rose kembali melakukan pergerakannya, kali ini terasa lebih enerjik dari sebelumnya. Reyn hampir saja tersedak dibuatnya. Tangan gadis itu turut melingkar dileher sang suami.


"Reyn! Rose!"


Keduanya gegas melepaskan diri, mendengar Sarina meneriakan nama mereka.


"I-iya Ma! Kami berenang!" sahut Reyn cepat. Ia buru-buru berpindah dibelakang tubuh Rose.


"Kirain kemana, rupanya disini. Jangan lama-lama berenang, nanti Rose kedinginan Reyn," Sarina memandang sekilas kearah keduanya lalu kembali masuk ke ruang keluarga setelah mengetahui keberadaan keduanya.


"Iya Ma!" sahut Reyn lagi, walau ibunya sudah berlalu.

__ADS_1


"Udahan belajarnya ya Mas, Rose dingin," ucap gadis itu beralasan.


Dengan cepat Reyn mendaratkan kecupannya pada leher putih Rose tanpa menggubris alasan yang dilontarkan isterinya itu.


"Ahgh!" er@ng@n manja yang berhasil lolos dari bibir mungil Rose serasa memacu adrenalin kej@nt@nan Reyn yang sedari tadi sudah tersulut.


Reyn kembali melakukan hal yang sama di tempat yang sedikit bergeser, menyesapnya cukup lama untuk meninggalkan cap kepemilikannya. Ia masih ingin mendengar suara yang menggetarkan kej@nt@n@nnya dari mulut Rose yang menggemaskan itu.


"Aghhh!"


Er@ng@n itu kembali terdengar semakin manja dan seksi. Tak kuat mendengarnya, Reyn mencari apa saja yang bisa diraihnya untuk berpegangan.


"J-jangan lepasin itu--hhh, ng-nggak bo-lehhh," lirih Rose dibarengi suara des@hannya, kala tangan Reyn dirasa ingin melepas pengait br@-nya dibelakang sana.


"Kenapa?"


"Pokoknya nggak boleh! Jangan tanya kenapa!" sentak Rose tiba-tiba, ternyata kewarasannya sudah kembali.


Kabut-kabut diwajah Reyn seketika menguap begitu saja, ia menatap bingung, kenapa si bocil itu tiba-tiba saja bersikap garang padanya.


"I-iya. Mas lepasin. Tapi kenapa?" Reyn masih menatap bingung.


"I-itu," Rose mengangkat satu tangannya dari permukaan air dan menunjuk dengan jari telunjuknya kebawah, sementara ia menggigit jari telunjuknya yang lain sembari menatap cemas pada wajah Reyn yang masih menggendongnya didalam kolam.


"Itu? Itu kenapa?" Reyn masih belum mengerti.


"Mas--, nggak pake ce/@n@ ya? Belalai itu lagi nyundul-nyudul bawah bo"Oh my God, JONI!!" teriak Reyn kencang, membuat Rose menutup telinganya yang tidak sanggup mendengar teriakan Reyn. Laki-laki itu lupa kalau tadi ia sempat menurunkan ce/@n@nya saat berniat usil pada isterinya itu.Reyn seketika mendelik. Ia buru-buru mendorong Rose ke tangga kolam. "Sana! Cepat pergi!" usir Reyn dengan wajah memerah."J-Joni? Siapa Joni Mas?" Rose menatap Reyn bingung, ia takut suaminya itu marah setelah mendengar ucapannya. Tapi apa hubungannya dengan Joni, orang yang barusan dipanggil suaminya dengan raut kesal."Buruan pergi Rose, apa kau mau melihat Joni si belalai itu mengamuk karena sakit flu," usirnya lagi sambil mendorong bokong Rose menaiki tangga kolam.Walau masih belum sepenuhnya paham, Rose menurut, ia tidak pernah melihat Reyn bersikap seperti itu padanya saat mereka dirumah, kecuali disekolah. Tapi dirinya memang tidak ada niatan membuat suaminya itu tersinggung apalagi sampai marah karena ucapannya barusan."Siapa Joni Reyn?!" tanya Sarina dengan napas terengah-engah, wanita itu sudah berada ditepi kolam lagi bersama suami dan kedua orang tua Rose. Sejak tadi dirinya tidak melihat siapapun dirumah putranya itu selain anak dan menantunya.Wajah keempat orang tua itu nampak panik, teriakan Reyn membuat mereka buru-buru berlari kekolam dimana anak dan menantu mereka berada.Reyn segera menenggelamkan tubuhnya hingga keleher, meringkuk menyembunyikan apa yang memang perlu disembunyikan dibawah sana karena air kolam itu mampu memperlihatkan apa yang tidak boleh ia perlihatkan pada siapapun selain pada Rose."Bawahan Reyn dikantor Ma!" sahut Reyn asal."Oh kirain siapa," Sarina akhirnya bernapas lega. "Kalau sudah dirumah, jangan ingat-ingat yang dikantor Reyn," nasihat wanita itu lagi."Ayo Sayang, buruan ganti pakaian basahmu." Sarina menarik tangan Rose meninggalkan kolam renang bersama dua besannya. "Kau pasti kedinginan. Reyn ada-ada saja, ngajak renang kok nggak dibawain handuk," omelnya lagi pada putranya.Sementara Reyn hanya menatap mereka dari kejauhan, belum berani bergerak dari posisinya."Sejak tadi Mama nggak ngeliat mbok Dira sama pak Kasim, kemana mereka?" tanya Sarina lagi, ia meraih handuk Reyn yang diletakan dikursi santai kolam renang dan memberikannya pada Rose."Mas Reyn meliburkan mbok Dira dan pak Kasim setiap sabtu dan minggu, supaya mereka punya waktu untuk keluarganya Ma," Rose mengelap rambut dan wajahnya yang basah menggunakan handuk Reyn yang diberikan Sarina padanya."Dan supaya Reyn dan kau juga bisa memiliki waktu berdua saja 'kan dirumah ini?" goda Sarina pada menantunya sambil tersenyum. Wajah gadis itu merona dan salah tingkah sendiri, mendapat senyuman dari keempat orang tua tersayangnya itu."Udah Ma, jangan diganggu menantu Papa," Haswan menengahi, tapi ia tidak bisa menahan kekehannya yang sedari tadi ia tahan."Rose mau keatas dulu, ganti baju. Sekalian ambil handuk baru buat mas Reyn, kasian kedinginan kalau kelamaan." ujar Rose berpamitan. Berlama-lama disana akan membuatnya semakin salah tingkah saja mendengar ledekan para orang tuanya itu."Papa dan pak Martin bincang-bincang aja kembali diruang keluarga. Mama dan bu Marlina mau masak dulu buat makan malam kita," ujar Sarina lagi pada suaminya, ketika Rose sudah beranjak dari sana."Oke Ma," Haswan lalu beranjak bersama besannya, sementara Sarina dan Marlina beranjak ke dapur.Bersambung...👉


"Oh my God, JONI!!" teriak Reyn kencang, membuat Rose menutup telinganya yang tidak sanggup mendengar teriakan Reyn. Laki-laki itu lupa kalau tadi ia sempat menurunkan ce/@n@nya saat berniat usil pada isterinya itu.


Reyn seketika mendelik. Ia buru-buru mendorong Rose ke tangga kolam. "Sana! Cepat pergi!" usir Reyn dengan wajah memerah.

__ADS_1


"J-Joni? Siapa Joni Mas?" Rose menatap Reyn bingung, ia takut suaminya itu marah setelah mendengar ucapannya. Tapi apa hubungannya dengan Joni, orang yang barusan dipanggil suaminya dengan raut kesal.


"Buruan pergi Rose, apa kau mau melihat Joni si belalai itu mengamuk karena sakit flu," usirnya lagi sambil mendorong bokong Rose menaiki tangga kolam.


Walau masih belum sepenuhnya paham, Rose menurut, ia tidak pernah melihat Reyn bersikap seperti itu padanya saat mereka dirumah, kecuali disekolah. Tapi dirinya memang tidak ada niatan membuat suaminya itu tersinggung apalagi sampai marah karena ucapannya barusan.


"Siapa Joni Reyn?!" tanya Sarina dengan napas terengah-engah, wanita itu sudah berada ditepi kolam lagi bersama suami dan kedua orang tua Rose. Sejak tadi dirinya tidak melihat siapapun dirumah putranya itu selain anak dan menantunya.


Wajah keempat orang tua itu nampak panik, teriakan Reyn membuat mereka buru-buru berlari kekolam dimana anak dan menantu mereka berada.


Reyn segera menenggelamkan tubuhnya hingga keleher, meringkuk menyembunyikan apa yang memang perlu disembunyikan dibawah sana karena air kolam itu mampu memperlihatkan apa yang tidak boleh ia perlihatkan pada siapapun selain pada Rose.


"Bawahan Reyn dikantor Ma!" sahut Reyn asal.


"Oh kirain siapa," Sarina akhirnya bernapas lega. "Kalau sudah dirumah, jangan ingat-ingat yang dikantor Reyn," nasihat wanita itu lagi.


"Ayo Sayang, buruan ganti pakaian basahmu." Sarina menarik tangan Rose meninggalkan kolam renang bersama dua besannya. "Kau pasti kedinginan. Reyn ada-ada saja, ngajak renang kok nggak dibawain handuk," omelnya lagi pada putranya.


Sementara Reyn hanya menatap mereka dari kejauhan, belum berani bergerak dari posisinya.


"Sejak tadi Mama nggak ngeliat mbok Dira sama pak Kasim, kemana mereka?" tanya Sarina lagi, ia meraih handuk Reyn yang diletakan dikursi santai kolam renang dan memberikannya pada Rose.


"Mas Reyn meliburkan mbok Dira dan pak Kasim setiap sabtu dan minggu, supaya mereka punya waktu untuk keluarganya Ma," Rose mengelap rambut dan wajahnya yang basah menggunakan handuk Reyn yang diberikan Sarina padanya.


"Dan supaya Reyn dan kau juga bisa memiliki waktu berdua saja 'kan dirumah ini?" goda Sarina pada menantunya sambil tersenyum. Wajah gadis itu merona dan salah tingkah sendiri, mendapat senyuman dari keempat orang tua tersayangnya itu.


"Udah Ma, jangan diganggu menantu Papa," Haswan menengahi, tapi ia tidak bisa menahan kekehannya yang sedari tadi ia tahan.


"Rose mau keatas dulu, ganti baju. Sekalian ambil handuk baru buat mas Reyn, kasian kedinginan kalau kelamaan." ujar Rose berpamitan. Berlama-lama disana akan membuatnya semakin salah tingkah saja mendengar ledekan para orang tuanya itu.


"Papa dan pak Martin bincang-bincang aja kembali diruang keluarga. Mama dan bu Marlina mau masak dulu buat makan malam kita," ujar Sarina lagi pada suaminya, ketika Rose sudah beranjak dari sana.

__ADS_1


"Oke Ma," Haswan lalu beranjak bersama besannya, sementara Sarina dan Marlina beranjak ke dapur.


Bersambung...👉


__ADS_2