My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK


__ADS_3

Mutiara makin emosi saat memasuki kediaman pribadinya, pekarangan rumahnya yang biasanya tertata rapi dan terlihat asri kini penuh sesak dengan barang-barang yang menumpuk diselimuti terpal berwarna biru, hijau, dan jingga disana-sini.


"Kenapa kalian tidak segera membereskan semua kekacauan ini?! Kalian pikir rumah mewahku ini gudang pemulung!" Sentak Mutiara kasar pada para asisten rumah tangganya yang sedang sibuk berbenah.


"Buang saja semua barang rongsokan ini!" omelnya lagi sambil berkacak pinggang, pandangannya mengedar dan perasaannya semakin kusut melihat keadaan rumahnya.


"M-maaf Bu, kami membereskan barang-barang ini sesuai instruksi Bapak, baiknya mau taruh dimana begitu Bu." Salah satu dari pelayan itu memberanikan diri untuk berbicara.


Steven hanya menggeleng, merasa muak menyaksikan sikap ibunya yang mudah sekali emosi akhir-akhir ini, padahal para asisten rumah tangga itu sudah berkerja maksimal sesuai perintah.


Melihat beberapa barang miliknya yang ia kenali berasal dari rumah dinas ayahnya yang sedang di pindahkan masuk kedalam rumah, membuat Steven semakin yakin bila ayahnya sudah tidak menjabat lagi sebagai Kepala Daerah.


Dadanya begitu sesak memikirkannya, mengingat beberapa berita tentang alasan mengapa ayahnya dinonaktifkan dari jabatannya yang menjadi headline news pada media lokal dan nasional. Ia gegas meninggalkan perdebatan yang masih terus berlangsung, untuk mencari keberadaan ayahnya.


"Papi.." Steven menghentikan gerak putar kursi rodanya. Tenggorokannya tercekat, menahan segala rasa yang menyesakan dalam dadanya memandang pilu pada ayahnya.


Seminggu ini Steven memang tidak bertemu ayahnya. Ia cukup terkejut melihat ada banyak perubahan yang terjadi pada fisik laki-laki yang sangat berjasa dalam hidupnya itu, nampak lebih kurusan.


Pria yang di panggil Papi itu menoleh, ia mengembangkan senyumnya dan segera datang mendekat, menghampiri putranya itu.


"Kau sudah tiba, Stev? Maaf, Papi tidak bisa menjemputmu. Papi harus mengepalai para asisten rumah tangga kita untuk beberes perabotan-perabotan kita dari rumah dinas itu."


"Papi antar ke kamarmu ya?" Farid menyentuh sandaran kursi roda putranya.

__ADS_1


Steven segera menahan tangan ayahnya sambil menggeleng. Ia sudah tak kuasa membendung air matanya, buliran-buliran bening itu menganak sungai dan melaju keluar dari sudut-sudut matanya.


"Hei! Kenapa sekarang cengeng? Kalau ada yang sakit pada tubuhmu, katakan pada Papi-mu ini. Papi akan meniupnya agar segera mereda rasa sakitnya, sama seperti saat kau masih balita dulu." Farid berjongkok menatap wajah putra kesayangamnya yang berlinang air mata dan berusaha menghapusnya dengan menggunakan jari-jarinya.


Steven masih bungkam, air matanya semakin berderai, tidak ada suara keluar dari mulutnya, hanya pundaknya saja yang berguncang hebat, dan itu rasanya begitu sangat-sangat sakit.


Dari sorot mata yang sedikit kabur karena air matanya yang menggenang, Steven dapat melihat pipi ayahnya nampak lebih tirus dan cekung.


"Kenapa Papi menyimpannya sendiri tanpa mau berbagi dengan Steven?" lirih pemuda itu dengan suara serak dan terbata-bata, berusaha meredakan tangisnya.


"Steven, tidak semua hal bisa diceritakan secara gamblang," Farid menjedah ucapannya, ia mendesah pelan, menandakan beban berat yang menjadi fikirannya belum mampu ia tanggalkan.


"Ada banyak pertimbangan, salah satunya kau masih fokus dalam pemulihanmu, Papi tidak ingin kau juga kefikiran masalah ini, yang tidak seharusnya menjadi beban fikiranmu, Nak," Farid membelai lembut punggung putranya dengan penuh perasaan.


"TIDAK BISA!!"


"KALIAN TIDAK BISA MEMPERLAKUKAN SAYA SEPERTI INI!"


"APA KALIAN LUPA! SAYA ISTERI ORANG NOMOR SATU DI KOTA TANGGA ARANG INI!"


Steven dan Farid saling berpandangan, kaget mendengar suara Mutiara yang berteriak dan suara-suara kegaduhan diluar sana.


"Pi, kita harus keluar sekarang," Steven membereskan air matanya yang masih membasahi wajah tampannya, lalu buru-buru menekan tombol kursi rodanya untuk menjalankannya. Farid ikut bergegas mengekor dibelakang kursi roda putranya menuju halaman depan.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Farid menatap beberapa pria berseragam cokelat tua yang berdiri berjejer didekat isterinya. Sementara para asisten rumah tangganya berdiri sedikit tertunduk didekat perabotan yang sedang mereka benahi.


"Tolongin Mami Pi, mereka mau membawa paksa Mami, Mami nggak mau Pi," Mutiara berlari memeluk Farid, meminta perlindungan suaminya itu.


"Selamat pagi Pak," sapa lima orang polisi itu bersamaan sambil memberi penghormatan. Biarpun Farid sudah tidak menjabat lagi, namun para polisi itu masih segan padanya.


"Mohon maaf Pak, kami membawa surat tugas untuk menjemput ibu Mutiara yang akan dimintai ketetangan di kantor polisi hari ini." Salah satu petugas itu menyodorkan surat tugas yang mereka bawa. Farid menerimanya lalu mulai membacanya kata demi kata.


"Sebenarnya sudah hampir satu bulan ini jadwal pemeriksaan, namun pihak kami menunggu sampai ibu Mutiara sehat dan keluar dari rumah sakit. Mohon kerjasamanya Pak," sambung petugas itu lagi.


"Pi, Mami mohon. Mami tidak mau ke kantor polisi," Mutiara semakin mengeratkan pelukannya sambil menangis. Farid bisa melihat ada ketakutan di wajah isterinya itu.


"Mami tenang saja, Papi akan temani," bujuk Farid. Biar bagaimanapun, nalurinya sebagai seorang suami yang wajib melindungi isteri dan kelurganya masih tetap terjaga dengan baik, sekalipun isterinya itu telah menghancurkan hati dan juga karir yang telah ia bangun dengan susah payah.


"Steven, Papi tinggal dulu nggak papa 'kan? Bila kau butuh sesuatu minta tolong saja pada para asisten rumah tangga kita."


Steven tidak menjawab, namun ia tetap mengangguk, semuanya seperti mimpi buruk baginya. Ia memandang nanar kepergian kedua orang tuanya yang menaiki mobil polisi bagai tawanan.


Hari ini, terlalu banyak yang terjadi. Dirinya dipulangkan dari rumah sakit karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit, lalu menyaksikan bagaimana ibunya beradu mulut dengan seorang security karena memaksa masuk rumah dinas ayahnya yang sudah satu minggu ayahnya kosongkan.


Dan sekarang, ia melihat ayahnya menemani ibunya yang digelandang ke kantor polisi kota Tangga Arang, miris sekali. Kenapa harus berakhir seperti ini? Steven kembali berkaca-kaca, ia segara membalikan kursi rodanya, memasuki rumah dengan perasaan yang masih campur aduk.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2