My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
61. MERASA KUSUT


__ADS_3

"Rose, bisa 'kan pulang sekolah nanti kita ke rumah sakit? Membesuk kak Steven? Dia perlu penyemangat dari kita," Rina menatap Rose penuh harap, dan air matanya terus saja berurai walau ia sudah menyekanya berulang-ulang kali dengan punggung tangannya.


"Kalau itu--, aku--, aku sepertinya tidak bisa. Maafkan aku Rin?" walau menolak, sebenarnya Rose merasa kurang nyaman pada sahabatnya itu.


"Apa karena kau dan kak Steven sudah tidak punya hubungan lagi sehingga kau tidak perduli lagi padanya?" lantang Rina.


Rose menatap Rina, ia dapat merasakan kegalau hati sahabatnya itu. Selama mereka bersahabat, ini kali pertama sahabat baiknya yang lembut dan keibuan itu mengeraskan suara padanya.


"Atau kau takut pak Reyn marah karena sekarang guru Biologi kita itu adalah suamimu Rose?" Rina menatap nanar dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


"B-bagaimana kau bisa tau?" kaget Rose. Ingin marah rasanya, tapi ia buru-buru menyadarkan diri sendiri agar memaklumi sikap tidak biasa Rina siang ini padanya.


Rose melirik Norsa disebalahnya, walau ia tak yakin sepupunya itu yang membocorkannya. Tapi di sekolah ini hanya Norsa yang tahu tentang pernikahannya dengan Reyn selain Bapak kepala sekolah dan Ibu bendahara sekolah.


"No! No! No! Bukan aku Rose!" Norsa menggeleng rusuh dengan jari-jari tangannya mengembang diudara dan ikut rusuh berkibar. Tatapan intimiadasi Rose seolah menuduh apa yang tidak pernah ia lakukan.


"Kak Bram yang cerita kemarin," sahut Rina yang tidak ditanya, dan tangisnya sedikit mulai mereda.


"K-kak B-Bram? B-bagaimana bisa?" Rose tambah kaget. Tidak mungkin kakak yang paling melindunginya itu bisa mengungkapkan rahasia besar yang tidak boleh diketahui oleh orang luar selain keluarga saja batinnya tak percaya.


"Kemarin aku makan siang dengan kak Steven setelah pulang sekolah, dan di restoran itu kami bertemu kak Bram. Karena terburu-buru, kak Steven menitipkan aku diantar pulang oleh kak Bram. Saat itulah, kak Bram berterus terang padaku, kalau kau telah menikah dengan pak Reyn."


"Sebelumnya, aku dan kak Steven juga mendapat sedikit informasi tentang dirimu dan pak Reyn pada seorang ibu pemilik warung klontongan di tempat tinggalmu sekarang Rose. Dan kenapa kau menutupi pernikahanmu itu dariku Rose, bukankah kita sahabat? Apa kau tidak mempercayaiku?"


Rose tidak langsung menjawab, ia tidak bisa asal bersuara sambil memandang wajah Rina yang terlihat sembab. Sejujurnya ia tidak ingin menutupi pernikahannya seperti yang dituduhkan sahabatnya itu, ini semua terpaksa dilakukannya.


Rose mengambil tissue dari dalam tas jinjingnya, menyodorkannya pada Rina, supaya sahabatnya itu mengeringkan air matanya yang masih tersisa diwajahnya.


"Maafkan aku Rin." ucap Rose pelan. "Harapanku, kau tidak salah-faham pada sikapku. Kau pasti tau kenapa aku menutupi pernikahanku walau aku tidak menjabarkannya padamu."

__ADS_1


"Aku juga sudah tidak ingin punya hubungan apapun lagi dengan Steven. Pertama, aku harus menjaga diriku sendiri. Kedua, aku tidak ingin kedua orang tuaku mendapat hinaan dari ibunya kak Steven lagi gara-gara aku yang bandel tidak mendengarkan mereka dulunya. Ketiga, ada hati yang harus aku jaga saat ini." urai Rose sambil membolak-balik buku catatannya.


"Heum, aku tengah mengendus aroma.cinta dari kata-katamu Rose," Norsa terkikik sendiri. Sementara Rina tidak bereaksi apa-apa, ia hanya mendengar dengan raut datarnya.


"Tidak tau, Sa." Rose menoleh sekilas pada Norsa sepupunya lalu mengarahkan pandangannya pada kuncup-kuncup melati yang digoyangkan angin sepoi-sepoi di pagar sekolah.


"Kata bunda, aku gadis yang banyak tidak bisanya, beruntung ada laki-laki seperti pak Reyn yang mau menerimaku. Kak Bram saja tidak mau memakan sayur hancur masakanku, jijik katanya." ucap Rose sembari tersenyum geli mengingat raut wajah kakaknya kala itu.


"Tapi pak Reyn, dia masih mau makan salad buah hancur buatanku, hasil dari coba-coba. Karena pak Reyn, Ayah-Bunda, juga kedua mertuaku itu mau tidak mau ikut makan juga," Rose kembali tersenyum sendiri.


Melihat cara Rose menceritakan tentang guru Biologi mereka, kegiatan sahabatnya itu bersama Reyn dan kedua orang tua mereka dirumah, dan bagaiman Rose menyiratkan senyumnya saat berkisah, Rina dapat menyimpulkan bila sahabatnya itu benar-benar ingin menghapus tentang Steven dari hidupnya dan menggantinya dengan guru Biologi mereka.


Kring! Kring!


"Tuh 'kan nggak sempat belajar! Haduh, mana pelajarannya rumit lagi," gerutu Norsa ngedumel sendiri sambil membereskan buku-bukunya.


"Widih si Norsa. Makanya belajar tuh di rumah," batin Rina melirik Norsa yang menekukan wajahnya.


"Yuk, buruan. Tar keduluan pak guru yang masuk!" Rose menarik pergelangan tangan Norsa yang terkesan lambat. Ketiganya berlari kecil menuju bangunan kelas XII.


"Rin, jauhi kak Steven." Rose berucap pada Rina disebelahnya, yang ikut bergegas menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas dimana kelas mereka berada. Sementara Norsa dan siswa-siswi lainnya ikut bergegas dibelakang mereka.


"Dekat dengan laki-laki itu sama halnya membuatmu sengaja menyakiti diri sendiri. Dia memang baik, tapi ibunya akan membuatmu menyesal pernah dekat dengan anaknya."


Rina mendengar tapi ia enggan menanggapi. Pesona laki-laki yang mereka bicarakan seakan sudah membius hati dan perasaannya, padahal pria itu sama sekali tidak pernah memberinya harapan supaya dirinya bertahan dengan rasa sepihaknya.


...🍓🍓🍓...


"Apa ada.jalan keluar yang lain Pak Zaenal? Anak saya juga korban, keadaannya juga kritis di rumah saakit," Mutiara memandang pria berseragam polisi dihadapannya, berharap ada keringanan dari masalah yang tengah dihadapai putra kesayangannya itu.

__ADS_1


"Ini jalan tengah yang terbaik Ibu Mutiara. Dalam mediasi, ibu dengar sendiri kalau pihak keluarga korban bisa menerima jalan damai bila pihak keluarga ibu Mutiara bersedia membiayai perobatan rumah sakit hingga mereka sembuh," ujar pak Zaenal.


"Tapi pak Zaenal, putra saya Steven belum tentu bersalah." selanya masih bersikeras. "Dan dia belum dimintai keterangan bukan?"


Pria berseragam polisi itu terdiam sejenak, menarik napas lalu melepaskannya kembali pelan.


"Begini ibu Mutiara. Pengemudi kendaraan bermotor yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas dengan korban jiwa bakal dipenjara maksimal 6 tahun atau dikenakan denda maksimal 12 juta rupiah. Ketentuan ini diatur dalam pasal kecelakaan lalu lintas, yaitu Pasal 310 UU No. 22 Tahun 2009."


"Tapi dikecelakaan ini tidak ada yang meninggal Pak Zaenal," sela Mutiara cepat.


"Ibu Mutiara benar. Tapi pak Rahmad, pria berusia 48 tahun itu bisa saja meninggal kalau tidak segera dioperasi karena patah tulang rusuk yang dideritanya hampir menembus hati dan paru-parunya."


"Dan 13 orang lainnya lagi, saat ini mereka juga dirawat dirumah sakit karena menderita luka sobek dan luka lecet. Mereka pun meminta pertanggung jawaban biaya rumah sakit," ucap pak Zaenal sambil melihat daftar nama.yang telah diberikan oleh pihak rumah sakit padanya.


"Sebagai informasi, pengemudi yang terlibat kecelakaan, dan sengaja tidak memberi pertolongan bisa disebut melakukan tindak pidana kejahatan." urai pak Zainal lagi menjelaskan.


"Dan ibu Mutiara bisa melihat hasil rekaman CCTV yang ada di perempatan traffic lights, menyatakan bila Steven-lah yang melanggar peraturan lalu lintas."


Mutiara gegas melihat layar laptop yang ditunjukan polisi itu padanya.


"Tolong rahasiakan itu pak Zaenal," ucap Mutiara panik setelah melihat hasil rekaman berdurasi kurang lebih 3 menit itu. Pria berseragam itu tersenyum kecut, ia sudah mulai gerah menghadapi wanita dihadapannya.


"Sayangnya, para warga sekitar perempatan jalan dimana kecelakaan lalu lintas itu terjadi sudah mempublish-nya di laman berita sosial medianya masing-masing." sahut Zaenal datar.


"Bagaimana bisa? Bukankah itu hanya milik yang berwajib?" Mutiara menggeram kesal.


"Para warga yang memiliki toko di tepi jalan perempatan itu rata-rata memiliki CCTV-nya masing-masing Bu, termasuk satu toko yang pegawainya luka karena kaca tokonya pecah tertimpa motor sport Steven yang nyasar kesana."


"Jadi saya sarankan, ibu Mutiara dan keluarga harus berlapang dada memenuhi permintaan para korban kecelakaan yang disebabkan oleh Steven."

__ADS_1


Mutiara seketika meremas sanggulnya yang tertata rapi. "Kalau begini kami bisa bangkrut pak Zaenal!" keluhnya dengan raut kusut, sekusut rambut yang telah disasaknya dari kediamannya sebelum menyambangi kantor polisi.


Bersambung...👉


__ADS_2