My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
108. Mengantar Leony Pulang


__ADS_3

"Loh, om Haswan sama tante Sarina nggak barengan kita?" Bram terheran, saat kedua mertua adiknya itu malah menghampiri mobil Reyn.


"Udahlah Bram, nggak pa-pa. Om sama Tante ikut Reyn saja. Ini sudah pukul 10 malam, kau harus segera mengantarkan Leony pulang. Lagi pula kami masih mau banyak mengobrol dengan Ayah dan Bundamu dirumah Reyn." ucap Haswan beralasan, padahal dirinya sudah bersepakat dengan kedua besannya, begitu juga dengan Reyn dan Rose supaya sepasang muda-mudi itu punya waktu bersama.


"Baiklah, kalau begitu." Bram menghidupkan mesin mobil milik Rose.


"Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya ya kak Bram!" Teriak Rose yang duduk disamping Reyn.


"Bye kak Leony! Hati-hati dengan kak Bram! Dia memelihara binatang melata yang sangat buas!" sambung Rose lagi dari kaca jendela yang setengah terbuka sambil berlalu meninggalkan mobil Bram dan Leony dibelakang mereka.


"Rose..." tegur Marlina mendelikan matanya memandang tajam pada putrinya.


"Hehe... Maaf Bun, Rose becanda doang, masa ngga boleh. Serius terus 'ntar cepet menua," sahut Rose yang masih punya modal untuk menjawab ibunya.


"Rose..." Kini Martin yang menegur, merasa tak enak pada kedua besannya.


Seketika mulut Rose bungkam. Melihatnya, Reyn menahan senyumnya, isterinya itu memang takut pada ayahnya.


...🍓🍓🍓...


Bram memperhatikan Leony yang kesulitan memasang sabuk pengamannya, padahal perempuan itu sudah terbiasa.dengan peralatan dalam kabin semacam itu.


"Boleh aku membantumu? tanya Bram meminta izin.


Leony menoleh sejenak pada.Bram, lalu mengangguk setuju. Sedari tadi ia sudah berusaha menarik tali sabuk pengamannya tapi seolah terkunci sehingga sulit ditarik.


Setelah mendapat persetujuan Leony, Bram segera mengambil alih, menarik tali sabuk pengaman dengan begitu mudahnya lalu sedikit mencondongkan wajahnya kearah Leony.

__ADS_1


Leony sedikit menegang, perempuan itu merapatkan tubuhnya pada sandaran kabin dibelakangnya, khawatir wajahnya bersentuhan dengan wajah Bram yang begitu dekat. Wangi maskulin parfum pemuda itu menyeruak masuk ke indera penciumannya.


"Selesai," Bram undur, memasang kembali sabuk pengamannya yang sempat ia lepas sebelum membantu Leony. Dengan perlahan, mobil yang dikemudikan Bram merayap pelan meninggalkan area parkir restoran.


Sesuai pesan Rose, Bram memacu kendaraan milik adiknya itu dengan kecepatan sedang, supaya bisa menikmati kebersamaan dengan wanita pujaan hatinya itu cukup lama.


Setelah malam ini, belum tentu ia punya kesempatan bisa berduaan lagi. Ia sadar benar, hanya dirinya yang mendambakan perempuan disampingnya itu. Sedangkan perempuan itu, tidak sedikitpun memberi ruang dalam hatinya untuk bisa ia masuki.


Didalam mobil, hanya ada dirinya dan Bram. Leony merasakan suasana serasa begitu canggung, Bram yang biasanya suka mengganggunya dengan ocehan tidak pentingnya kini tidak banyak bicara seperti biasanya, pemuda itu nampak pokus pada mobil yang ia kemudikan saja.


"Terima kasih untuk gaun ini. Seleramu bagus juga," Leony berusaha berbasa-basi untuk mengusir sepi, walau sejujurnya ia tidak suka begitu, tapi setidaknya ia tidak boleh lupa berterima kasih bila telah menerima pemberian dari seseorang.


Bram menoleh sekilas, tersenyum tipis, lalu kembali pokus kedepan, memperhatikan arah lalu lintas yang mereka tempuh.


"Syukurlah kalau kau suka." singkat Bram, lalu kembali diam.


Keheningan kembali tercifta, Leony tidak punya bahan untuk mengobrol, karena biasanya Bram-lah yang selalu berinisiatif membuat suasana lebih hidup.


"Apa kau memelihara ular?" tanya Leony, sembari menoleh pada Bram, ia merasa ngeri bila benar pemuda itu memelihara hewan melata itu.


Bram seketika mengernyitkan keningnya, lalu ikut menoleh hingga pandangan keduanya saling bertemu.


"Ular? Bram masih mengernyitkan keningnya tanda tidak mengerti.


"Iya ular, bukankah tadi nona Rose mengatakan kalau dirimu memiliki binatang melata yang buas, binatang itu pasti ular kan?" tegas Leony masih merasa ngeri membayangkan hewan melata yang menjijikan itu.


Bram tiba-tiba terkekeh sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa? Lucu?" Leony masih melihat wajah Bram yang tertawa disebelahnya.


"Lucu sih," Bram masih meneruskan tawanya, sesekali ia melirik Leony yang masih menatapnya bingung.


"Hewan mengerikan dan menjijikan seperti itu dikatakan lucu, aneh," gumam Leony tak habis fikir. Ia kembali menghadapkan wajahnya kedepan, memperhatikan jalan didepannya yang sesekali menikung kekanan, lalu menikung kekiri, begitu seterusnya.


"Lupakan, kau pasti akan kaget bila tau hewan modelan gimana yang dimaksud adikku itu," sisa-sisa tawa Bram masih terdengar samar.


"Tadi kulihat kau digelandang para polisi lalu lintas itu karena kebut-kebutan ditengah keramaian para pelajar yang masih melakukan aksi konvoinya, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melakukan itu," Leony kembali menoleh pada Bram yang ada disebelahnya, mengingat video yang sempat ditontonya beberapa jam yang lalu.


"Terpaksa." Bram tersenyum tipis. "Aku tidak mau skripsiku tertunda hanya gara-gara tidak bisa bertemu ibu Livia hari ini." jelasnya.


"Dan aku minta maaf, karena tidak mematuhi perkataanmu," lanjut Bram sambil menoleh sejenak pada Leony, mendapatkan perempuan itu juga sedang memandangi dirinya.


"Tidak masalah. Kau tidak punya kewajiban menuruti apa yang aku katakan." Leony buru-buru mengalihkan pandangannya kedepan. Entah kenapa tatapan pemuda itu sedikit membuat perasaannya bergetar.


Bram menepikan mobilnya tepat didepan apotik yang sudah tutup karena larut malam.


"Kenapa kita berhenti disini?" Leony kembali menoleh pada Bram. "Kau mau beli obat? Apotiknya sudah tutup,".Leony menunjuk kearah apotik menggunakan wajahnya, yang berada disebelah kiri jalan.


"Tidak. Aku ingin bicara padamu sebelum kita sampai dirumahmu didepan sana," Bram menatap kearah depan, kurang lebih 100 meter lagi, mereka sudah tiba dirumah Leony.


"Leony--, boleh aku memanggilmu seperti itu." suara Bram terdengar sangat pelan. Leony tertegun sesaat, tidak lama berselang ia buru-buru menoleh pada Bram, dan pandangan keduanya kembali bertemu tatap.


"Terserah kau, asal jangan panggilan yang biasa kau sematkan padaku itu. Aku jijik mendengarnya," ucap Leony berterus terang.


Menanggapinya, Bram tersenyum tipis diujung bibirnya.

__ADS_1


"Aku tau, maafkan aku. Itu sebabnya aku berusaha mengubah panggilanku itu agar kau tidak jijik dan ilfil padaku," Bram masih berusaha tersenyum walau terlihat hambar.


Bersambung...👉


__ADS_2