My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
23. BELAJAR


__ADS_3

"Apa ini.Mas?" Rose menatap amplop cokelat pemberian Reyn ditangannya.


"Gaji guruku," sahut Reyn singkat sembari meraih handuk lalu bergegas masuk kekamar mandi.


"Tapi kenapa diberikan padaku Mas?" Rose merasa bingung. Ia mengejar Reyn kekamar mandi.


"Kau yang mengelolanya karena sekarang kau sudah menjadi isteriku," Reyn melepaskan pakaian atasannya disana. Seketika Rose berbalik, tapi tidak beranjak pergi, merasa dirinya belum selesai dengan berbagai pertanyaan yang ada didalam kepalanya.


Ia teringat ayahnya juga sering memberikan amplop gaji pada ibundanya setiap bulannya wallau ibunya sebenarnya juga punya uang sendiri karena sama-sama berkerja sebagai pegawai negeri.


"Aku belum berpengalaman, tidak sehebat Bunda dalam mengatur keuangan rumah tangga, bagaimana kalau aku boros? Nanti bisa kurang dan tidak cukup untuk satu bulan," Rose membatin gelisah.


"Tapi Mas, aku--" Rose berbalik, ia terkesiap saat Reyn riba-tiba ada tepat dibelakangnya. Dan apa itu? Hanya ada segitiga pembungkus itu saja yang tersisa pada tubuh suaminya.


Spontan Rose memundurkan tubuhnya beberapa langkah hingga mentok pada dinding kamar mandi dibelakangnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah ketika pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang menggembung sesak dalam pembungkus segitiga itu.


Seketika darahnya berdesir dan terasa hampir tumpah saat Reyn mengunci tubuhnya disana. Debaran jantungnya memacu semakin cepat tidak beraturan. Lidahnya seakan kelu, tidak bisa meneruskan kalimat yang masih melayang bebas dalam kepalanya.


Rose mencengkram amplop cokelat ditangannya dengan kuat ketika bibi* Reyn menempel pada bibi*nya, Terasa hangat, dan basah. Hatinya ingin menolak tapi tubuhnya berkata lain, tetap ingin menikmati sensasi pengalaman pertamanya itu.

__ADS_1


Selama ini, ia hanya bisa melihatnya dilayar kaca dan turut menghayati dalam khayalannya, dan itu sepertinya menyenangkan. Dan kini, apa yang pernah ditontonnya itu nyata, dialaminya sendiri, membuatnya terbuai dan memejamkan matanya, pasrah. Oh, ternyata.lebih nikmat dari yang pernah ia bayangkan batinya dengan rasa yang mulai terhanyut.


"Aku apa?" suara Reyn terdengar lembut,


Wajah Rose seketika merona, begitu membuka mata medapatkan Reyn menatapnya lekat. Mendadak rasa malu menguasainya begitu menyadari laki-laki itu baru saja selesai menciumnya, dan ia terlena, wadaw memalukan!


"Aku--, aku takut gaji mas Reyn habis sebelum waktunya. Aku--, belum pernah mengelola keuangan rumah tangga," untung Rose masih ingat apa.yang ingin ia katakan sebelumnya. Setidaknya ia tidak akan kehilangan muka walau ucapannya sedikit terbata-bata.


Jujur saja, fikirannya masih fokus pada apa yang barusan Reyn lakukan padanya, ia belum bisa berfikir banyak kearah lain, masih buntu.


"Ini waktunya kau belajar menjadi seorang bendahara dalam keluarga kecil kita. Jangan takut bila isi amplopnya habis, aku akan mencarinya lagi." sahut Reyn. Laki-laki itu kembali memajukan wajahnya, kembali menghapus jarak diantara mereka.


"Yang ini juga kau harus belajar." Reyn kembali mengulangi apa yang sebelumnya ia lakukan, menempelkan bibi*nya pada bibi* milik Rose.


Hati Rose kembali berbicara ingin menolak, ada rasa takut pada sesuatu yang mengembung pada bagian tubuh suaminya itu, tapi rasa penasaran itu membuatnya mengesampingkan sedikit rasa takut yang kian mendera.


"Agghh!" Rose meringis, ketika gigitan Reyn pada bibir bawahnya terasa sedikit nyeri. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh laki-laki itu. Dengan cepat ia menelusupkan lid*hnya masuk dan menekan tengkuk Rose untuk memperdalam ciu*an mereka.


"Oh tidak!" jerit Rose didalam hati, ketika merasakan lid*h itu berpil*n dengan lid*h miliknya. Ia mendorong dada Reyn, namun laki-laki itu semakin erat menjeratnya dalam pelukannya.

__ADS_1


Gelenyar-gelenyar hangat itu terasa merambat mengikuti seluruh aliran darah ke seluruh tubuhnya yang turut bergetar.


Apakah ia mulai jatuh cinta pada guru sekaligus suaminya itu? Secepat itu kah? Setahunya, dari teen romance movie yang pernah ia tonton, dua manusia berlawanan jenis akan melakukan apa yang tengah ia lakukan bersama Reyn seperti saat ini bila ada penghantar cinta diantara keduanya.


Lutut Rose menggigil seperti seorang yang sedang kedinginan, tubuhnya mendadak lemas manakala dirasanya ada gandulan keras menempel pada perut bagian bawahnya, "Akhh tidak!! Itu pasti belalai gajah sama dua telur dinosaurus yang pernah dia katakan waktu itu!!" Jerit Rose lagi dalam hati. Membayangkannya saja membuatnya begitu ngeri hingga berkeringat dingin. Dengan sekuat tenaga Rose mendorong tubuh Reyn hingga terlepas.


"Kenapa Rose?" tanya Reyn bingung.


"Aku--, aku tidak bisa bernafas," ucap Rose terengah-engah.


"Baiklah, kita sudahi saja pembelajarannya kali ini." ucap Reyn bersikap santai.


"Apa?? Yang benar saja, dia bilang itu pembelajaran saja? Artinya tidak ada cinta saat dia melakukan itu padaku? Tapi kenapa segitiganya membelendung sampai segitunya," batin Rose tak percaya.


Kecewa? Rose mentertawai dirinya sendiri, kenapa dia harus kecewa? Apa karena dirinya begitu meresapi apa yang telah dirinya lakukan bersama Reyn dengan penuh perasaan?


"Aku--, aku keluar dulu Mas," Rose bergeser dari hadapan Reyn. Dengan wajah yang terlihat merona, ada rasa malu, kecewa juga ada disana, dan takut juga ada, gugup juga ada pastinya, memang membingungkan.


Reyn tidak menjawab, juga tidak bergeser dari posisinya berdiri, ia hanya menoleh, melihat kepergian Rose yang meninggalkan kamar mandi dan menutup pintu dibelakangnya tanpa berbalik melihat kearahnya.

__ADS_1


"Reyn, kau cari penyakit memang. Terpaksa kau harus menuntaskannya sendiri disini," monolog laki-laki itu seorang diri sembari memberi seringai pada dinding dihadapannya. Membayangkan bila Rose masih ada disana. Mungkin dia sedikit tidak waras kalau sampai bercin*a dengan dinding yang tidak bisa memberi respon apa-apa.


Bersambung...👉


__ADS_2