My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
106. Terbang


__ADS_3

"Leony! Dengarkan aku!" Dimas berusaha mengejar, tapi laki-laki itu segera ditahan oleh isterinya.


"Buat apa kau mengejarnya mas Dimas?" Perempuan itu mencekal lengan suaminya dengan kencang.


"Untuk apa kau datang kemari Yeni, bukankah aku sudah menyuruhmu dirumah saja, biar aku yang mengurus putri kita Olin," Dimas menatap berang isterinya.


"Aku memang harus menyusulmu kemari Mas. Lihat, didepanku saja kau masih berani mengejar perempuan yang mengasuh anak harammu itu. Apa kau berniat memperisteri dirinya seperti adiknya dulu?" Yeni menunjuk pada Leony yang sudah pergi meninggalkan area sekolah bersama Bram.


"Jaga lisan-mu Yeni. Clara bukan anak haram, dia putriku, darah dagingku. Aku dan Giyani sudah menikah waktu itu, kau saja yang menjadi perusak rumah tangga kami." Rahang Dimas mengeras dengan wajahnya ikut memerah, sambil menunjuk wajah isterinya dalam emosinya.


"Siapa suruh kau jadi pria miskin!" sengit Yeni tak mau kalah.


Dimas mengangkat satu tangannya dengan giginya yang saling gemeretak, ingin rasanya ia memukul wajah sang isteri tapi buru-buru diurungkannya niatnya itu.


Selama hidup dengan Yeni, walau rumah tangga mereka bak neraka dunia, satu kalipun ia tidak pernah menyakiti secara fisik, mungkin itu sebabnya perempuan itu semakin berani padanya, batin Dimas, ia berusaha menguasai diri di tengah emosinya yang memuncak.


"Dan kau--, kau miskin cinta." Dimas mencengkram lengan Yeni dengan kuat, membuat perempuan itu meringis kesakitan.


"Kau memaksakan cintamu padaku, dan menggunakan kemiskinan keluargaku yang sedang bangkrut pada waktu itu," setelah mengatakan itu, Dimas melepaskan cengkramannya dari lengan Yeni lalu pergi meninggalkannya masih dengan perasaan penuh emosi.


"Mas! Mas Dimas!" Yeni kembali mengejar.


"Mas! Kau mau kemana Mas?" Yeni menggedor-gedor jendela mobil Dimas dengan keras, tapi laki-laki itu tidak menggubrisnya sama sekali, tetap menjalankan mobilnya meninggalkan area parkir sekolah.


Dari lobi sekolah, kepala sekolah dan dua guru lainnya yang hendak pulang tak sengaja melihatnya dan merasa prihatin, hanya bisa mendoakan didalam hati, demi kebaikan kedua orang tua murid mereka itu.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


"Bram! Kau mau membawaku kemana?" pekik Leony dari belakang. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Bram didepannya saat menyadari motor Bram mengarah keluar dari jalan utama, yang bukan menuju arah kantor.


"Tenang Ayang bidadari, aku bukan orang jahat!" Bram terus melajukan motornya meninggalkan keramaian konvoi pelajar, membuat Leony bergidik ngeri memikirkan Bram bisa melakukan apapun padanya, apalagi jalan yang ia tuju semakin sepi.


"Turunkan aku disini! Turunkan!" Leony memukul-mukul punggung Bram dengan beringas hingga akhirnya Bram terpaksa menepikan motornya khawatir dirinya dan Leony akan jatuh berdua akibat pergerakan Leony yang hampir membuat keduanya terjatuh.


"Aku tahu, kau pasti berniat jahatkan padaku?!" ketus Leony sambil turun dari motor.


Bram mendesah kasar, ia lalu membuka helmnya untuk mengambil udara segar, pemuda itu memang butuh banyak oksigen menghadapi Leony yang sangat sulit dijinakkan.

__ADS_1


Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan kembali mendial nomor terakhir yang telah ia hubungi hari ini.


πŸ“ž"Ada apa lagi kakak ipar?" terdengar suara seorang pria dari seberang sambungan telepon. Leony sangat mengenal suara bosnya itu, apalagi Bram sengaja menyalakan loadspeaker.


πŸ“ž"Aku minta izin membawa sekretaris pribadimu pulang ke rumahmu dan Rose. Bila dipaksakan ke kantor, mungkin kami tiba disana setelah kantor tutup, para pelajar itu masih menguasai jalan utama."


πŸ“ž"Tunggu, bagaiamana caranya kau bisa bertemu dengan sekretaris Leony, kak Bram? Bukankah dia tadi izin ke sekolah putrinya?" tanya Reyn keheranan.


πŸ“ž"Aku bertemunya dijalan pas terjebak macet konvoi pelajar. Tepat saat aku menelponmu siang tadi."


πŸ“ž"Baiklah. Tapi ingat, kau tidak boleh berbuat maksiat dengan sekretarisku dirumah ku sendiri kak Bram," Reyn mewanti-wanti dengan sedikit menekan ucapannya.


πŸ“žAstaga! Aku ini masih polos adik ipar tidak mungkin berlaku macam-macam pada sekretaris liarmu itu, dia sulit dijinakkan," Bram memelankan suara diujung kalimatnya sambil melirik Leony yang tengah memelototkan mata terhadapnya.


πŸ“ž"Sudah dulu, ini sore masih panas terik, nanti kulitku legam terpapar sinar matahari. Mahal perawatannya. Jangan lupa telepon mbok Dira kalau aku kesana, biar aku nggak teriak-teriak kaya orang gila yang manggil si Mbok dibelakang."


Dari ujung telepon, Bram dan Leony mendengar kekehan Reyn sebelum sambungan telepon benar-benar terputus.


"Ayo naik," Bram sudah memasang helmnya kembali, menoleh pada Leony yang masih berdiri tidak jauh dari motornya.


"Kemana?"


Tidak ada pilihan lain, Leony terpaksa menuruti perkataan Bram, bila ia ingin pulang sendiri juga tidak mungkin, karena kendaraan umum semuanya sedang rehat dengan adanya konvoi pelajar yang masih menguasai jalan utama hingga sore itu.


"Peluk yang kencang kaya tadi sebelum turun," titah Bram. Pemuda itu tersenyum sendiri dibalik helmnya, karena kali ini Leony tidak protes seperti yang sudah-sudah.


Ia sengaja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar pujaan hatinya itu tidak mengendorkan pelukan diperutnya, serasa pacaran beneran, kekehnya didalam hati.


"Tidak sampai lima menit, Bram menghentikan motornya tepat didepan rumah gedongan berpagar kokoh. Seorang wanita paruh baya tergogoh-gopoh menghampiri dari dalam sana untuk membuka pintu pagar.


Drrt. Drrt. Drrt.


Bram buru-buru meraih ponselnya dari dalam saku celananya. Begitu melihat siapa yang menelponnya Bram seketika terlihat gugup.


πŸ“ž"Halo, maaf Bu Livia, saya lupa," suara Bram yang biasa suka usil seketika memelas, membuat Leony mengernyitkan keningnya lalu mengintip siapa nama yang tertera di layar ponsel pemuda itu yang menloadspeaker ponselnya seperti biasa.


πŸ“ž"Bram, Ibu hampir seharian ini menunggumu di kampus, karena besok harus berangkat ke luar kota." terdengar suara bersahaja seorang wanita dari dalam ponsel Bram.

__ADS_1


πŸ“ž"Sekali lagi m-maaf Bu, saya tadi kejebak macet. Mohon tunggu Bu, saya dalam perjalanan kesana."


πŸ“ž"Tidak bisa Bram, ini sudah pukul 17.00, waktunya saya pulang."


πŸ“ž"Tolong bu Livia, saya janji dalam waktu 5 menit saya tiba di kampus, saya sudah dekat kok," Bram berusaha membujuk sang dosen pembimbingnya.


πŸ“ž"Baiklah. Lewat 5 menit, Ibu pulang," setelah mengatakan itu telepon langsung terputus.


"Ayang bidadari," Bram menoleh pada Leony yang masih duduk dibelakangnya. "Babang Arjuna pamit, tinggal sebentar ke kampus, mau temuin dosen pembimbing, tadi siang udah janji tapi lupa. Ingat, jangan kemana-mana dulu, nanti babang Arjuna yang antar pulang." pesannya.


"Mbok Dira, tolong siapin makanan buat sekretaris Leony, juga kamar tamu untuk istirahat. Juga kasih tau Rose pinjam baju gantinya. Aku kekampus bentar, nanti balik lagi," ucap Bram buru-buru pada perempuan paruh baya yang masih berdiri disisi pagar besi itu.


"Baik mas Bram, siap laksanakan!" kelakar mbok Dira dengan senyum lebarnya, membuat Bram ikut tertawa berama ART Reyn itu, yang sefrekuensi dengannya.


"Maaf ya Ayang bidadari, babang Arjuna tinggal bentar," Bram kembali beralih pada Leony yang sudah turun dari motornya.


"Bagaimana mungkin kau bisa tiba di kampus dalam waktu 5 menit Bram?" Leony merasa tak yakin, karena untuk sampai kerumah bosnya ini, mereka hampir menghabiskan waktu 5 menit dari jalan utama kota Tangga Arang, apalagi kampus Bram tidak jauh dari sekolah TK Clara, ya lumayan jauh.


"Babang kan Arjuna, bisa terbang, dalam sekejap akan sampai di kampus."


Kata 'terbang' dari ucapan Bram pastinya pemuda itu akan melarikan motornya sekencang-kencangnya, begitu yang bisa ditangkap oleh Leony. Itu pasti sangat berbahaya apalagi sampai jam segini konvoi pelajar itu masih belum ada tanda-tanda berkurang dari jalan raya utama.


"Tapi--, itu bahaya Bram," Leony nampak cemas.


"Ciyee, bahagianya daku di cemasin sama Ayang bidadari."


Mbok Dira ikut tertawa melihat sikap Bram yang memang suka usil, tidak pernah ada serius-seriusnya, padahal ia melihat si perempuan bukan tipe manusia yang suka bercanda, walau jarang bertemu tapi ia sempat beberapa kali melihat Leony dikantor majikannya saat diajak Reyn menghadiri ulang tahun perusahaan.


"Aduh, sakit--, tapi nikmat," Bram kembali terkekeh saat cubitan Leony mendarat diperutnya dengan gerakan memutar. Belahan pipi perempuan itu semakin memerah mendengar celotehan dari mulut lemes Bram.


"Babang Arjuna pergi dulu, dan segera balik sebelum Ayang bidadari merindu," Bram langsung menstarter motornya dan melesat pergi.


"Mas Bram memang begitu Non, becanda mulu mulai orok," mbok Dira masih tertawa geli.


"Ayo masuk, Non," ajak mbok Dira lagi dengan senyum ramahnya.


Leony mengangguk, lalu mengikuti mbok Dira masuk setelah wanita paruh baya itu mengunci pagar.

__ADS_1


Bersambung...πŸ‘‰


__ADS_2