
Leony menyibak kerumunan beberapa orang tua murid didepan sekolah dengan tidak sabar. Walau dengan susah payah akhirnya Leony sampai ke pusat kerumunan yang membuatnya kaget dengan mata membelalak, apa yang dirinya khawatirkan itulah yang tengah terjadi didepan matanya.
"Clara!.Berhenti Clara!" Leony ikut berteriak dan membantu seorang guru perempuan yang kewalahan melerai perkelahian dua anak TK yang saling menjambak, mencakar dan menarik paksa bajunya masing-masing.
"Clala punya Papi! Papi Clala kelja!" gadis kecil itu tidak perduli pada tangan-tangan yang melerainya, ia terus menjambak rambut dengan sekuat tenaga sambil memukul wajah anak perempuan dibawahnya bertubi-tubi hingga lawannya itu menangis.
Walau dalam posisi terjepit dibawah, anak perempuan itu tetap melakukan perlawanan sambil menangis dengan menarik seragam atasan Clara hingga beberapa kancingnya lepas.
"Mami bilang berhenti Clara!" Leony menarik tubuh putrinya itu dengan paksa, lalu menggendong untuk membawanya pergi. Sementara anak perempuan yang terbaring dilantai halaman sekolah itu buru-buru dibantu oleh sang guru perempuan dengan pakaian kotor dan kusut tidak karu-karuan
Kerumunan itu segera membuka jalan untuk memberi ruang bagi Leony keluar dari sana.
"Om itu bukan Papimu! Mamimu suka ambil Papi orang lain!" teriak anak perempuan itu masih tidak terima akan kekalahannya berduel dengan Clara, ia menunjuk-nunjuk sambil menangis.
Ayunan langkah Leony terhenti. Ucapan lantang anak perempuan yang berlidah tajam itu membuatnya sangat terganggu, ditambah tatapan turut menghakimi para orang tua yang seolah percaya begitu saja ucapan tidak berdasar bocah perempuan itu.
"Bu guru, tolong sampaikan pesan saya pada orang tua anak ini, didik yang benar anaknya, supaya kelak tidak menjadi orang jahat," ucap Leony dengan emosi sambil menunjuk wajah Olin yang ia kenali memang sering ribut dengan Clara.
Olin seketika menghentikan tangisnya, takut melihat tatapan marah Leony padanya.
Tanpa menunggu jawaban sang ibu guru, Leony segera meninggalkan tempat itu dengan hati yang masih panas. Ia sungguh tidak habis fikir bagaimana mungkin anak seusia itu mampu berkata sejahat itu, menuduh dirinya merebut suami orang.
Dari kejauhan, para orang tua murid masih memperhatikan Leony yang membawa Clara memasuki mobilnya.
Leony menuntaskan pemasangan sabuk pengaman pada tubuh mungil Clara sebelum mengangkat ponselnya yang terus berdering.
📞"Hallo, selamat siang," sapa Leony pelan sambil mengatur emosi dalam dadanya.
📞" Selamat siang juga ibu Leony, maaf menggangu waktu ibu sebentar. Saya ibu Mendelson, kepala sekolah TK negeri 1 Tangga Arang. Memohon maaf atas kejadian hari ini di sekolah. Kapan kiranya kita bisa bertemu Bu? Untuk membahas yang telah terjadi tadi?" ucap suara diseberang sambungan telepon dengan sopan.
📞" Untuk hari ini saya belum bisa, saya masih emosi."Jujurnya. "Silahkan ibu kepala sekolah mengatur waktunya dua atau tiga hari kedepan, dan tolong saya dikabari waktu pertemuannya, karena sebagai seorang pegawai swasta saya harus meminta izin pada atasan saya."
__ADS_1
📞"Baik ibu Leony, terima kasih atas waktunya. Dan secepatnya saya akan kabari waktu pertemuanya. Selamat siang, dan selamat sampai tujuan."
📞"Terima kasih kembali."
Leony menyimpan ponselnya yang sudah terputus lalu melirik Clara yang membisu ditempat duduknya sambil menatap lurus kedepan.
Bekas cakaran kuku Olin meninggalkan luka di sebagian wajah, leher, dan tangan Clara. Hati Leony pedih melihatnya, ia sangat tidak rela bila ada orang yang berani menyakiti gadis kecilnya itu.
Perjuangannya 4 tahun silam kembali terlintas, bagaimana dirinya pontang panting merawat dan berusaha mencari pendonor ASI buat Clara.
Giyani, ibu kandung Clara tidak bisa menyusui karena mengalami gangguan mental setelah beberapa jam pasca melahirkan hingga hari meninggalnya.
"Pasti rasanya sakit," lirih Leony. Tangan perempuan itu mengusap beberapa luka cakar yang mengeluarkan sedikit darah, lalu memasukan tissue kotor kedalam plastik, Setelahnya ia merapikan rambut dan baju putrinya itu.
Clara tidak berkata apapun, meringispun tidak.
"Kita cari makan dulu yuk?" ajak Leony sambil menghidupkan mesin mobilnya, lalu menjalankan dengan perlahan meninggalkan sekolah.
Clara kembali menggeleng.
"Jadi Clara mau makan apa dong? Kasih tau Mami, kita akan cari sama-sama."
"Clala gak mau makan apa-apa Mami, Clala hanya mau papi Blam, please Mami," lirih bocah itu pelan dengan bola mata yang berkaca-kaca menoleh pada maminya.
Mendengarnya, Leony lagi-lagi terdiam seperti yang biasa bocah itu lihat selama ini.
"Masih nggak boleh ya?" cicit Clara dengan raut sedih, Leony jadi iba melihatnya.
"Sayang, luka-lukamu harus diobati dulu, takutnya nanti infeksi." Leony berusaha memberi alasan.
"Sebentaaaar aja Mi," pinta Clara, dengan nada penuh permohonan.
__ADS_1
"Oke, kita ketemu om Bram," Leony akhirnya mengalah. Ini semua demi Clara, batinnya memberi alasan pada dirinya sendiri. Karena disatu sisi, Leony sangat berat melakukannya.
"Tapi janji ya, jangan panggil papi sama om Bram kalau ketemu, nanti orang-orang pada bingung, karena om Bram masih sekolah." lanjut Leony memperingatkan.
"Papi Blam macih cekolah? Kok bica? Kan udah tua kaya Mami," polosnya.
Leony mendesah ringan sebelum menjawab putrinya.
"Om Bram belum setua Mami. Usia om Bram masih dijenjang perguruan tinggi, dan butuh 15 tahun lagi Clara baru bisa sekolah di perguruan tinggi seperti om Bram."
Clara.mengangguk, walau gadis kecil itu tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Leony karena pemahamannya yang masih sangat terbatas.
...🍓🍓🍓...
Clara memandang takjub pada universitas yang begitu luas dan megah dimana ia berdiri sekarang, tentu saja luasnya berpuluh kali lipat dari sekolah TK-nya.
Sementara itu, Leony mendial nomor Bram yang sudah tersimpan diponselnya, matanya melihat ratusan mahasiswa yang berlalu lalang di area parkir yang cukup luas itu, sampai akhirnya pandangannya berhenti pada satu sosok pemuda yang sangat dikenalnya.
"Bram..." gumam Leony setengah berbisik, matanya masih mengawasi Bram dari kejauhan. Pemuda itu terus berjalan menuju deretan motor sport yang terparkir tanpa menyadari kehadiran dirinya dan Clara.
Leony masih menempelkan ponselnya pada telinganya, dan tidak ada tanda-tanda teleponnya akan diangkat, karena Bram sudah memasang helmnya, menaiki motornya lalu pergi meninggalkan area kampus dengan tergesa-gesa.
Bisa saja ia menyusul Bram dengan mobinya, tapi dirinya tidak punya nyali untuk itu, mengingat kalau dirinyalah yang melarang laki-laki itu untuk muncul dihadapannya saat pertemuan mereka yang terakhir di sekolah Clara.
Dan sekarang, dirinya yang mendatangi pria itu. Mau taruh dimana wajahnya nanti? Ini pasti sangat memalukan, walau alasan bertemu adalah demi Clara, putri kesayangannya.
"Clara, Sayang. Maafkan Mami, sepertinya kita harus pulang sekarang. Om Bram tidak ada disini, Mami sudah telepon tapi tidak diangkat."
Clara yang tadinya sangat bersemangat kini kembali lesu, namun ia tidak protes seperti biasanya, membuat hati Leony terenyuh.
Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri, akan membuat putri kecilnya itu selalu bahagia bagaimanapun caranya, mengingat Clara tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya. Tapi itu sepertinya sangat sulit terjadi, contohnya saja sekarang ini, ia belum berani mengorbankan harga dirinya demi kebahagian Clara.
__ADS_1
Bersambung...👉