My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA


__ADS_3

"Kamu mandul Rose? Kok belum hamil-hamil? Ini 'kan udah delapan bulan kalian menikah," Yira menatap Rose sambil mengunyah camilan yang di suguhkan mbok Dira diatas meja.


"Ya ampun Yira!" Rose terbelalak, ia menoleh kesana kemari, khawatir Rendy, dan Jarno, juga kakaknya mendengar suara lantang dan cempreng si kutilang itu.


Dengan gemes ia melempar bantal sofa setelah memastikan tiga pria yang ia cari sedang asik tergelak di pinggiran kolam renang, itu artinya mereka tidak sedang menguping obrolan mereka.


"Dengerin ya, ku tu nggak mandul, tapi belum nina-ninu sama mas Reyn," Rose terpaksa jujur, semburat rona merah menghiasi belahan pipinya yang chubby.


"Belum???" Yira, Norsa, dan Rina membelalak.


"Serius???" kepo ketiganya masih dalam mode tak percaya.


Rose mengangguk pelan, namun pasti.


"Kalian nggak tau bagaimana caranya membuat anak?" Yira kembali mempertegas. "Sini aku ajarin!"


"Ssttt!" Rose menempelkan jari telunjuknya diujung bibir Yira yang sok tahu.


"Nggak usah diajarin. Lagian kita belum lulus. Gimana kalau aku hamil, bawa perut buncit ke sekolah. Waduh malu-malu'in kan?" cegah Rose, begitu melihat Yira membuka tas miliknya untuk mencari sesuatu didalamnya.


"Rose, kalau baru ngelakuinnya sekali nggak bakalan jadi, percaya deh. Jadi kamu nggak perlu khawatir."


"Tau dari mana?" Rose menatap Yira serius, tak percaya akan ucapan temannya itu.


"Tanteku, katanya harus rajin nabung begituan kalo mau punya anak," jawab Yira tak kalah serius.


"Wuahh! Kalo Rose punya anak, mereka pasti lucu-lucu!" celetuk Norsa kegirangan, menangkup kedua pipinya sembari tersenyum menerawang, membayangkan bocil-bocil gembul yang berlarian megal-megol kesana-kemari lalu memporak-porandakan rumah Rose dan Reyn yang bersih dan rapi ini.


"Kalau perempuan bakalan mirip sama kamu Rose, dan kalau laki-laki pasti gantengnya mirip pak Reyn," Yira ikut tersenyum menerawang bersama Norsa dengan segala bahasa tubuhnya yang sedari tadi tidak bisa diam.


"Nggak sabar punya ponakan," Rina tidak mau kalah, ikut ngehalu bersama kedua temannya.


"Iya juga yah," Rose sedikit terkekeh. Ia mulai terpengaruh pada obrolan menyesatkan ketiga teman-temannya itu, ikut membayangkan betapa ramainya rumah ini kalau saja dirinya dan Reyn punya banyak anak. Dia pasti tidak kesepian lagi walau Reyn jarang dirumah.


"Sini aku ajarin," Yira kembali bersuara, membuyarkan kehaluan ketiganya. "Kalau pak Reyn sampai tidak tergoda, pasti kamu nggak menarik," ujar Yira menggulir ponselnya yang ia ambil dari dalam tas sekolahnya.


...🍓🍓🍓...


Reyn memasuki kamar sambil melonggarkan dasinya yang serasa mencekik leher. Mode lampu kamar tidurnya dan Rose sudah temaram, tidak seperti biasanya terang benderang saat dirinya pulang selarut apapun. Biasanya, dirinya yang mengubahnya.

__ADS_1


Ia melirik keatas tempat tidur, melihat atensi Rose yang berbaring disana, tidak bergerak, tentu sudah tidur seperti biasanya batinnya.


Laki-laki itu segera berbalik dari depan lemari pakaian saat menyadari ada bayangan mendekatinya.


Reyn terpaku, bola matanya naik turun, memindai dari ujung kaki hingga ujung rambut, sosok yang berdiri menantang dihadapannya.


"Rose, apa ini dirimu?" jakun Reyn ikut naik turun, disuguhkan pemandangan yang berbeda. Dadanya semakin berdegup kencang saat Rose semakin mendekat dan mengikis jarak. Handuk yang dipegangnya tidak terasa jatuh teronggok dilantai.


"Mas lupa sama isteri sendiri," Rose melingkarkan sepasang tangannya dileher Reyn dan mulai bergelayut dengan manja disana. Seketika Reyn merasa kegerahan, lelah dan kantuk yang ia rasakan sebelumnya detik itu juga menguap entah kemana saat menghirup aroma wangi yang menguar dari tubuh isterinya itu.


"Dari mana kau dapatkan pakaian seperti ini?" tangan Reyn menyentuh rumbai-rumbai lingerie merah yang dikenakan Rose. Tatapannya tidak mampu beralih dari manik mata yang membuat gairahnya dengan cepat melambung naik.


"Bukannya pakaian ini mas Reyn yang belikan?" Rose sedikit merenggangkan tubuhnya yang menempel didada suaminya, hanya untuk melirik keberadaan lingerie yang ia kenakan.


"Aku?" Reyn mengernyit heran.


"Iya, Mama yang bilang. Malah mas Reyn yang pilihkan sendiri. Ingat 'kan?" mengingat apa yang dikatakan ibu mertuanya saat ia dan bundanya ditunjukan segala hantaran yang diberikan Reyn di Walk in Closet kala itu.


Reyn masih terdiam, ia masih tidak ingat. Sejurus kemudian laki-laki itu segera tanggap, pasti ini ulah Mamanya yang mengatas namakan dirinya yang membelinya, supaya lebih mempererat hubungan antara dirinya dengan Rose.


"Lalu--, ngapain pake lingerie kaya gini?" tanya Reyn pura-pura bodoh.


Hufh! Burgh!


Sepersekian detik, tubuh jangkung dan atletis Reyn terlempar bebas menghempas kasur empuk ranjang didepannya dengan posisi terlentang.


Reyn masih berfikir keras, bagaimana isteri bocilnya itu bisa melakukan hal itu padanya, napasnya mendadak sesak, karena Rose sudah duduk diatas perutnya dengan mata memerah.


"Rose, a-apa yang kau lakukan?" kaget Reyn dengan terbata-bata. Kenapa isteri manjanya ini bisa berubah seperti preman pasar dengan tenaga samsonnya.


"Sekarang juga kita harus buat anak. Apa mas Reyn tidak mau punya anak-anak yang lucu dariku," Rose mencondongkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya yang menyangga pada sepasang bahu kekar suaminya itu.


"B-buat anak?" Reyn semakin kaget, tapi ia berusaha tenang, sialnya si Joni nggak mau kompromi, tiba-tiba saja mengacung tegang dibawah sana tersentuh bokong Rose yang tanpa sengaja menggoyang ria diatasnya.


"Iya buat anak Mas. Kata Yira kita harus nabung dari sekarang?" polos Rose.


"Y-Yira?" Reyn kembali mengernyitkan keningnya mendengar nama yang tak asing di telinganya itu.


"Iya Yira Mas, tadi dia bilang begitu, Norsa sama Rina juga dengar," ucap.Rose masih dalam mode polosnya.

__ADS_1


"Astaga! Sudah ku duga." Reyn dengan sigap meraih tubuh Rose yang masih duduk diatasnya, kini dirinya yang mengungkung tubuh isterinya itu dibawahnya. Rose-nya tidak mungkin seberani itu bersikap padanya kalau tidak dibumbui dan direcokin teman-temannya.


Rose menahan napasnya, jantungnya berdebar tidak karuan saat Reyn menyentuh lembut perutnya yang masih rata.


"Apa kau siap perut tipismu ini membuncit?"


Rose terdiam sesaat, lalu mengangguk yakin.


"Kau tidak malu membawa perut buncitmu kesana-kemari di sekolah dan di lihat teman-temanmu? Lalu mereka meledekmu atau mengata-ngatai yang tidak pantas?"


Rose kembali terdiam sesaat, terlihat sedang berfikir, detik selanjutnya ia kembali mengangguk pasti. Tidak mungkin ia berbicara plin-plan, karena diawal ia sudah menjawab pada suaminya itu kalau ia tidak akan malu dengan perut buncitnya.


Giliran Reyn yang menjadi pusing, si Joni sudah mengacung tegap, meronta-ronta ingin lepas dari sarung motif papan catur yang semakin menyesak.


"Tapi aku yang malu," lirih Reyn. Ia berusaha keras menahan segala gejolak yang semakin menggelora, tak tahan melihat keseksian tubuh Rose yang begitu menggairahkan dibawahnya.


"Perutku yang akan membuncit, tapi kenapa mas Reyn yang harus malu?" Rose terheran, ia menatap Reyn yang tengah memejamkan mata seolah sedang menahan sesuatu yang kebelet.


"Malu karena tidak bisa menepati janji." sahut Reyn, lalu membuka matanya. "Sebelum menikahimu, Mas udah buat surat perjanjian, tidak akan membuatmu hamil sampai kau lulus. Itu di saksikan oleh Papa-Mama, Ayah-Bunda, dan juga Bapak kepala sekolah."


"Laki-laki itu, harus bisa dipegang janjinya, nggak boleh ingkar," imbuh Reyn masih dengan suara lirihnya yang mulai memarau.


Rose menatap lekat wajah Reyn diatasnya untuk beberapa saat lamanya.


Gletuk!


Rose seketika meringis, merasakan sentilan jari Reyn mendarat dijidatnya yang putih mulus. "Sakit Mas," gadis itu meraba dahinya yang tidak terlalu sakit.


"Kau lupa? Kalau kau itu masih kecil, aku kan pernah mengatakan itu padamu saat awal kita menikah. Udah, ganti lingeriemu itu dengan baju tidur, Mas mau mandi dulu, gerah," Reyn bangkit dari kungkungannya, lalu meraih handuknya yang sempat terjatuh dilantai. Ia buru-buru meninggalkan Rose dan beranjak ke kamar mandi.


"Aduh Joni, hampir saja kau membuat semuanya kacau," Reyn mengomeli sang Junior yang semakin mengacung saat ia melepaskan semua atribut bawahannya. Reyn mulai sibuk sendiri, untuk membujuk aset berharganya itu untuk tidak mengamuk dengan mengusapnya lembut.


Bukannya tenang dan tertidur kembali seperti harapan, mendapat usapan Reyn, si Joni semakin menjadi, ia mulai mengeluarkan otot-otonya bak seorang binaragawan membuat Reyn semakin sakit kepala menghadapi kebandelannya.


"Sabar ya JON, jangan sekarang, ini belum waktunya."


"Ngapain mas Reyn di dalam? Siapa JON?"


"Hmffhh!" Reyn seketika mengatupkan mulutnya. Suara Rose terdengar jelas didepan pintu kamar mandi mereka.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2