
"Silahkan masuk Abang Budaya Kota Tangga Arang." Reyn berdiri dari duduknya, tidak mau berlama-lama saling berpandangan dengan mantan siswanya itu.
Steven temangu, untuk pertama kalinya mantan gurunya itu menyapa dirinya dengan panggilan yang biasa disematkan warga kota yang mengenalnya.
Dan untuk pertama kalinya pula ia melihat pria dihadapannya itu berpenampilan berbeda. Setelan jas bermerek yang dikenakan sang mantan gurunya itu setara dengan harga satu unit Pajero Sport ayahnya.
Steven mengetahuinya dengan pasti, karena ayahnya juga pernah mengajaknya untuk memilih salah satu setelan jas bermerek itu di butik ternama dikota mereka, hanya saja ayahnya mengurungkan niatnya karena harganya tidak sesuai isi kantong.
Memikirkan hal itu saja sudah membuatnya kalah telak dengan mantan gurunya itu, renung Steven.
"Terima kasih sudah bermurah hati mau bersua poto dengan beberapa pegawai perusahaan ini," lanjut Reyn, ia berjalan menuju pantry mini di ruangannya. "Mau minum apa? Panas? Dingin?" ucapnya lagi memberi penawaran.
Steven menelan salivanya, menatap banyaknya layar monitor pada dinding sisi kiri ruangan itu, serupa ruang IT saja batinnya. Pantas saja mantan gurunya itu berkata demikian, jelas saja ia sudah melihat apa yang telah dilakukannya di lobi bersama para pegawai resepsionis itu. Begitu pula layar monitor memperlihatkan pos jaga dimana ia bertanya pada security saat meminta izin untuk masuk.
"Mau minuman dingin? Atau yang panas?" ulang Reyn lagi sembari menoleh pada Steven yang kini sudah duduk di sofa tamu yang berada di tengah-tengah ruangannya.
Pemuda itu masih belum bisa mempercayai kenyataan didepan matanya, bahwa Reyn yang pernah menjadi guru Biologinya itu adalah Pemilik perusahaan dimana dirinya sekarang berada.
"Tidak perlu repot-repot. Air mineralpun jadi Pak," sahut Steven akhirnya. Ia menatap Reyn yang datang mendekat dengan membawa 2 gelas teh panas dan beberapa botol minuman dingin dengan nampan ditangannya.
"Silahkan di minum."
"Terima kasih,"
"Berikan proposal permohonanmu untuk praktek disini," ucap Reyn kemudian.
"Maaf, itu alasanku saja supaya bisa masuk." kata Steven jujur.
"Aku sudah tau." sahut Reyn. "Ayo, minumlah. Kau boleh minum yang panas atau yang dingin. Mana kau suka saja," Reyn kembali menawarkan.
Steven terdiam sejenak, merangkai kata dalam kepalanya yang akan ia ungkapkan pada sang mantan guru. Ia memandang Reyn yang meraih gelas teh panasnya, bibir itu nampak mengerucut meniup uap teh panasnya, lalu mulai menyesapnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Steven menemukan sosok yang berbeda dari mantan gurunya itu, tidak sedingin dan sedatar didalam kelas saat mengajar dulu.
Beberapa detik kemudian, Steven ikut meraih cangkir gelas teh panasnya juga. Meniup uap panas yang mengepul, bukan niat meniru gurunya, ia hanya tidak ingin bibirnya melepuh kalau langsung meminumnya.
Wajah Steven seketika meringis, merasakan cita rasa teh hijau dalam mulutnya tanpa gula sebutirpun. Ini pertama kalinya ia meminumnya, biasanya selalu ditambahkan gula walau sedikit.
"Kenapa?" Reyn memandang Steven yang masih meringis.
"Kelat dan pahit di lidah Pak," jujur Steven.
Reyn tersenyum tipis menanggapi perkataan mantan siswanya itu. "Saya tidak percaya, seorang Abang Budaya kebanggaan Kota Tangga Arang tidak bisa meminum teh hijau tanpa gula." Mendengarnya, wajah Steven sedikit memerah.
"Kau boleh meminum soft drink itu, supaya rasa kelat dan pahit tehnya hilang dari mulutmu," Reyn menunjuk beberapa botol minuman dingin yang telah ia suguhkan.
Steven tidak melakukan apa yang dikatakan Reyn padanya, juga tidak sanggup menghabiskan teh hijau dalam cangkir gelasnya, ia benar-benar tidak pernah meminum teh tanpa gula. Di rumah, kedua orang tuanya juga tidak pernah melakukan itu.
"Pak Reyn--," Steven menatap Reyn yang masih menyesap tehnya.
"Kenapa pak Reyn mau menjadi guru, kalau Bapak sebenarnya adalah seorang pengusaha. Bukankah menjadi seorang pengusaha lebih menjanjikan dibanding menjadi seorang guru?" Steven berusaha bersikap santai lewat pertanyaannya, walau dalam hatinya saat ini sudah tidak sabar, ingin rasanya bertanya langsung ke inti tujuan.
"Jawabannya cita-cita." sahut Reyn enteng, kembali mengulas senyum tipisnya.
"Menjadi guru adalah cita-cita saya sejak kecil. Sedangkan menjadi pengusaha adalah amanat dari orang tua, karena mereka sudah tidak ada, mau tidak mau saya harus mengambil alih."
"Saya sangat kagum pada guru-guru saya dulu saat di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Anak-anak dibimbing dengan sabar sehingga bisa mengenal huruf dan angka. Dari buta aksara menjadi bisa membaca, menulis, berhitung, dan banyak hal lainnya. Guru adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Dan guru, mereka laksana pelita dalam kegelapan." jelasnya sedikit panjang.
Steven dapat melihat raut kekaguman dari mantan gurunya itu saat berucap demikian. Namun ia tidak tertarik menanggapinya lebih lanjut. Pemuda itu lebih tertarik dan fokus pada tujuan utamanya kenapa ia kesana.
"Apa tidak ada maksud lain selain itu? Mendekati Rose misalnya." tembak Steven yang sudah tidak sabar lagi dengan segala rasa penasaran yang memaksanya sedikit tidak sopan pada sang mantan guru.
Reyn menatap Steven tenang, ia dapat melihat kilat kecemburuan dan amarah yang tertahan dimata pemuda itu. "Steven, aku menjadi guru di SMU Negeri Tangga Arang sudah memasuki tahun ke lima, itu artinya aku lebih dulu menjadi guru pengajar disana sebelum kau dan Rose adik kelasmu itu menjadi siswa-siswi disana."
__ADS_1
"Jadi tidak ada.alasan kau menuduhku menjadi guru karena mendekati seorang siswi. Jujur saja, jika aku tidak ingat diriku adalah seorang guru, aku bisa saja memberi pelajaran pada mulutmu itu," ucap Reyn setenang mungkin.
"Kalau begitu--, jangan dekati Rose lagi. Dia masih kekasihku." Steven menatap Reyn. Ingin melihat perubahan wajah pria yang sok bersikap tenang itu saat mendengar perkataannya.
"Lalu bagaimana dengan kejadian didepan restoran itu?" Reyn menatap Steven, mengingatkan pemuda itu pada pertemuan mereka yang terakhir kali diparkiran restoran Tepian Mutiara. Sementara tangannya menurunkan cangkir gelas tehnya yang sudah kosong keatas meja dihadapannya.
"Ya--, i-itu--," Steven terlihat bingung untuk menjawabnya, pemuda itu bergerak-gerak ditempat duduknya untuk memperbaiki posisi duduknya yang sebenarnya tidak bermasalah. Ia ingat, itu untuk kesekian kalinya Rose memutuskan hubungan mereka secara sepihak, dan ia masih tidak bisa menerimanya.
"Rose memang ingin kami putus. Itu--, karena kesalah fahaman tentang apa yang dikatakan Mamiku pada ibundanya Rose. Tapi aku tidak bisa mengabulkannya, aku masih sangat mencintainya. Dia milikku, pria lain tidak boleh merebutnya dariku," tekan Steven di akhir kalimatnya. Ia menatap Reyn yang tengah menyimak setiap ucapannya dengan raut tenang.
"Pertanyaanku, kenapa kau datang kemari membahas Rose denganku, bila kau mengkalim Rose adalah milikmu?" Reyn menyilangkan kakinya diatas lutut bersamaan dengan sepasang tangannya yang melipat didepan dadanya.
"Saya hanya ingin memastikan apa yang saya dengar tidak benar. Bahwa Rose Margarine bukanlah isteri pengusaha Beras dan Pupuk yang bernama Reyn Hamdani, guru Biologiku di SMU dulu. Perempuan muda berusia 19 tahun yang dimaksud itu adalah Rose yang lain, bukan kekasihku Rose." ucap Steven memberondong dengan napas sedikit tersengal.
Steven tidak mengalihkan pandangannya dari Reyn, jantung pemuda itu berdegup tidak beraturan atas penuturannya barusan. Baginya, jawaban Reyn akan menentukan posisinya selanjutnya.
Setelah cukup lama terdiam dengan raut tenangnya, Reyn terlihat merogoh saku celana bagian belakangnya. Dari sana laki-laki itu mengeluarkan dompetnya. Sesaat kemudian, ia mengulurkan benda pipih berwarna biru kepada Steven.
"Ini apa maksudnya?" Steven menunjukan Kartu Tanda Penduduk yang diberikan Reyn barusan padanya.
"Lihat satus perkawinan saya disana?" sahut Reyn.
"Lalu apa hubungannya dengan pembicaraan kita?" Steven memang melihat bahwa dikartu itu tertulis status mantan gurunya itu telah kawin.
"Itu artinya saya sudah menikah dan tercatat secara negara. Dan saya telah menikahi Rose Margarine, putri dari pak Martin dan ibu Marlina." lugas Reyn.
DEG!
Steven terhenyak. Walau ia sudah menduga akan mendengar jawaban itu, tetap saja ia tidak siap. Dunianya serasa berhenti berputar. Nafasnya seketika terasa sesak dengan kepala berdenyut membuatnya tiba-tiba merasakan pusing pada kepalanya. Kedua tangan Steven gegas meraih sandaran sofa di kiri kanannya, tiba-tiba saja tubuhnya terasa limbung.
Bersambung...👉
__ADS_1