
Dengan kecepatan sedang, Rose mengendarai mobilnya melaju melintasi jalan pinggiran kota, setelah mengantar Norsa sepupunya ia langsung pulang ke rumah. Sedikitpun ia tidak curiga bila ada orang yang sedang membuntutinya dari kejauhan.
Tin! Tin! Tin!
Rose membunyikan klaksonnya beberapa kali, seorang laki-laki tergopoh-gopoh berlari menuju gerbang dan membukanya dengan terburu-buru.
"Maaf Non! Kelamaan," ujar pria itu menyaringkan suaranya dipinggir pagar, mempersilahkan sang majikan masuk.
"Nggak pa-pa Pak!" Rose ikut menyaringkan suaranya sambil melemparkan senyum dari kaca jendela mobilnya yang sengaja ia turunkan untuk menyapa asisten rumah tangganya yang sudah dia anggap seperti keluarga.
Mobil Rose kembali merayap perlahan memasuki gerbang rumah megahnya, sementara pak Kasim kembali menutup pintu pagar dan menguncinya.
"Jadi Rose sekarang tinggal di rumah itu?" gumam Steven pelan pada Rina yang membonceng dibelakangnya.
"Kayanya seperti itu sih Kak. Aku juga baru tahu. Dia nggak pernah cerita." Rina turut memperhatikan rumah megah dihadapannya yang baru dimasuki Rose bersama mobil mewahnya.
Keduanya memang sengaja menguntit Rose dari kejauhan menggunakan motor matic kekinian milik Steven supaya tidak dikenali. Sebelumnya, mereka juga sudah beberapa kali berusaha mencari tahu, tapi selalu kehilangan jejak.
"Kita pulang sekarang Kak?" tanya Rina, saat Steven menstarter motornya.
"Kita ke warung klontongan itu sebentar Rin, aku mau menanyakan informasi. Kali aja mereka tahu siapa pemilik rumah megah yang dihuni Rose sekarang." tunjuk Steven dengan wajahnya pada warung salah seorang warga pinggir jalan yang berada disebelah bangunan megah itu. Ia sangat penasaran dengan siapa gadis pujaannya itu tinggal, bila ditilik dari bangunan megahnya, tentu pemiliknya bukan orang sembarangan batinnya.
Seorang wanita dengan kebaya tradisionalnya melongokan wajahnya dari dalam warung. Ia gegas keluar saat Steven memarkirkan kendaraannya tepat didepan warungnya yang lengang.
"Mau beli apa Mas?" tanya sang pemilik warung ramah.
"Dua soft drink dingin Bu," sahut Steven sambil melihat ke lemari pendingin si ibu warung.
__ADS_1
"Mau yang rasa apa Mas?" tanya si pemilik warung sambil membuka lemari pendinginnya.
"Botol berwarna merah itu saja Bu," putus Steven tanpa bertanya apa yang disukai Rina.
"Orang baru di daerah sini ya Mas?" tanya si pemilik warung lagi sambil membawa dua botol soft drink dan meletakannya diatas meja teras dimana Steven dan Rina duduk.
"Iya Bu, tadi kebetulan lewat dan kehausan." Steven memberikan satu botol pada Rina lalu mengambil satu botol lainnya untuk dirinya sendiri lalu membuka penutupnya dan segera meneguknya hingga bersisa setengah.
"Mas-nya mirip tenan sama putra budaya kota Tangga Arang," ucap sang ibu warung menelisik wajah Steven.
"Masa sih Bu? Ganteng dong saya kalau gitu," kekeh Steven.
"Iya, bener. Mirip kok Mas. Jangan-jangan memang beneran ini Mas-nya," si ibu warung masih memperhatikan dan ikut terkekeh. Sementara Rina yang duduk bersebelahan dengan Steven hanya menyimak obrolan keduanya dan tidak lupa meminum soft drink miliknya. Sebenarnya ia tidak menyukai minuman bersoda, namun karena Steven yang memberikannya ia tetap meminumnya sedikit demi sedikit.
"Saya hanya seorang mahasiswa Bu, lagi cari-cari informasi untuk KKN, kali aja di derah sini ada yang cocok dan bisa nerima saya." Steven meneguk isi botolnya yang terakhir lalu membuangnya ke tong sampah yang telah disediakan oleh pemilik warung.
"Dimana rumah pak RT nya Bu?" tanya Steven sekedar basa-basi.
"Mas ngeliat rumah gedongan itu?" tunjuk si ibu warung ke rumah besar yang sebelumnya dimasuki oleh Rose.
"Iya, liat Bu," angguk Steven, pandangan mengikuti arah yang ditunjuk sang pemilik warung.
"Empat rumah lagi setelah rumah gedongan itu, itu rumahnya pak RT kami, pak Rasyid namanya. Beliau sudah biasa mengurus anak-anak kuliah seperti Mas ini yang minta informasi di daerah sekitaran sini." terangnya sambil menunjuk kearah ujung yang hampir terlindungi bangunan yang ia sebut bangunan gedongan itu.
"Bu, kalau boleh tau, siapa pemilik rumah gedongan itu? Apa itu perkantoran atau apa gitu? Saya lihat hanya bangunan itu saja yang paling besar didaerah sini," Steven mulai pada tujuan awalnya.
"Itu bukan perkantoran Mas, tapi rumah pribadi pengusaha beras dan pengusaha pupuk. Pak Reyn Hamdani namanya. Orangnya sangat dermawan di daerah sini Mas," terang sang ibu warung tanpa curiga.
__ADS_1
"Reyn Hamdani?" Steven dan Rina saling berpandangan sesaat. Di kepala mereka, langsung tertuju pada sang guru Biologi mereka.
"Mas sama Mba-nya kenal?" tanya ibu warung penasaran, saat keduanya sama-sama membeo nama yang ia sebut.
"Ng-nggak Bu, cuma mirip saja namanya dengan guru Biologi saya yang mengajar di SMU dulu," Steven memang curiga, karena ia pernah memergoki guru Biologi-nya itu makan siang bersama Rose beberapa bulan yang lalu direstoran Tepian Mutiara, tapi ia buru-buru menampik fikiran itu.
Bisa saja namanya yang serupa. Setahunya, Reyn Hamdani tidak lebih dari guru-gurunya yang lain, apalagi guru Biologinya itu hanya sering terlihat mengendarai motor sport andalannya yang sudah berusia lima tahunan itu, dan banter-banternya mobil yang beberapa kali ia gunakan ke sekolah dan ditaksir juga sudah berusia lima tahunan keatas.
"Baru-baru ini, hampir setengah tahunlah, beliau membawa bininya, masih sangat muda, dan sangat cantik, baru 19 tahun umurnya Mas." lanjut sang pemilik warung menggebu mengingat sosok gadis cantik yang pernah ia lihat beberapa kali keluar dari rumah besar itu.
Steven dan Rina sontak saling berpandangan kembali. Seketika fikiran keduanya tertuju pada Rose, karena usianya sama dengan perempuan muda yang menjadi isteri pengusaha beras dan pupuk itu. Apalagi beberapa menit yang lalu mereka melihat sendiri Rose memasuki rumah megah itu dengan mobil mewahnya dan disambut dengan sangat hormat oleh seorang laki-laki yang diduga salah satu pelayan dirumah besar itu.
"Kok ibu bisa tahu kalau isteri sang pengusaha baru berusia 19 tahun?" wajah Steven menegang, perasaannya mulai tak karuan. Ia sangat berharap perempuan muda yang dimaksud bukanlah Rose, gadis yang masih dianggap kekasihnya.
"Tau-lah Mas, pak Reyn itu ngajakin bininya ke rumah pak RT. Biasalah, kalau warga baru kan harus lapor ketua RT setempat. Mereka sempat jadi tontonan warga loh Mas," ucap sang ibu warung yang semakin membuka lebar informasi yang ia tahu.
"Tontonan? Maksudnya?" Steven mengernyitkan dahinya heran.
"Sekitaran sini kan jarang-jarang melihat pasangan serasi kaya pak Reyn sama bininya itu Mas. Yang suami guanteng tuenan begitu, dan si bininya juga ayu tuenan, poko'e klop, bener-bener pasangan serasi Mas," ucapnya sumringah sambil mengunjukan 2 jempolnya ke arah Steven.
"Nama isterinya siapa Bu?" Perasaan Steven semakin tidak karuan, pertanyaannya sendiri membuat jantungnya semakin berdetak tidak berirama, ia benar-benar tidak siap bila jawabannya adalah nama Rose.
Rina menatap Steven, dia dapat merasakan bila pemuda itu masih begitu menyukai sahabatnya. Lalu untuk apa dia ada disini? Menemani Steven untuk mencari informasi tentang Rose, saingannya? Atau mendapat simpati pemuda itu yang jelas-jelas masih mengharapkan cinta gadis lain, dan bukan dirinya?
"Bodohnya aku!" pekik Rina didalam hati, ingin rasanya ia menangis menyaksikan semua ini.
"Tunggu! Aku bukan gadis bodoh! Aku tetap akan mendapatkanmu dengan caraku, kak Steven!"
__ADS_1
Bersambung...👉