
"Yah, sabar. Nggak enak sama pak Haswan dan ibu Sarina, juga nak Reyn," Marlina menggamit lengan Martin sambil berbisik pelan.
"Tapi Bun, Bram itu keterlaluan." Martin melirik tajam pada Bram yang tertunduk diam dikursinya.
"Mau dikasih makan apa anak gadis orang? Dia saja masih kuliah, penghasilannya dalam berkerja juga masih kembang kempis. Untuk biaya kuliahnya saja masih disubsidi oleh kita," Martin masih ngegas. Sementara Reyn dan kedua orang tuanya merasa serba salah berada dalam situasi ini, dan hal itu sangat disadari oleh Marlina.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jadi, jangan salahkan Rose maupun Bram. Bukannya gaya suka tebar pesona mereka itu menurun dari Ayahnya," timpal Marlina.
Perempuan itu sengaja mengatakannya dihadapan kedua besan dan menantunya, karena tidak ada cara lain membungkam mulut suaminya yang tidak bisa diperingatkan itu.
"Bun--," Martin terkaget, ia menatap Marlina harap-harap cemas, semoga isterinya itu tidak membeberkan rahasianya.
"Jangan buka rahasia Ayah didepan anak-menantu dan besan kita, Bun," mohon Martin dengan raut yang mendadak berubah melas, sambil mencuri pandang pada kedua besan dan anak-menantunya, juga Bram.
Yang dilirik pura-pura tidak mendengar, mereka tahu Martin pasti malu.
"Masih mending Bram dan Rose. Mereka tidak punya banyak mantan seperti Ayah. Hampir setiap hari para wanita itu menyambangi Bunda di kantor sambil mencak-mencak, setelah kita menikah waktu itu," sambung Marlina lagi. Martin mendelik sambil menahan nafas.
"Ampun Bun, cukup. Jangan teruskan," wajah Martin merah padam menahan malu, dan yang lainnya masih pura-pura tidak mendengar.
"Ayah lapar. Kita makan sekarang ya Bun,." Martin gegas mengambil piring, tidak menunggu isterinya yang mengambil makanan untuknya seperti biasanya.
"Pak Haswan, bu Sarina, mari kita makan," Martin tidak lupa menawarkan pada kedua besannya.
"Rose, ambilkan makanan untuk suamimu," Marlina berucap pada putrinya, ia tidak lagi memperpanjang pembicaraanya dengan sang suami. Baginya, suaminya sudah bungkam, tidak berceloteh dan marah-marah didepan menantu dan besan mereka itu sudah cukup.
__ADS_1
Harapannya sebagai seorang ibu, hanya ingin menyelesaikan masalah Bram dengan kepala dingin, biar bagaimanapun, perasaan putra sulungnya itu haruslah tetap dihargai.
...🍓🍓🍓...
Reyn baru saja turun dari lantai dua, setelah mengantarkan Rose tidur dikamarnya. Laki-laki itu mengambil posisi duduk disisi kanan mertuanya, kembali bergabung sesuai permintaan para orang tua itu sebelum mengantarkan Rose.
"Reyn, Ayah dan Bunda sepakat. Kita akan datang memenuhi undangan kedua orang tua Leony. Ayah memang kesal pada Bram," Martin menatap datar pada Bram yang menunduk disebelah sisi kiri Sofa.
"Tapi Ayah juga tidak bisa mengabaikan panggilan mereka gara-gara ulah Bram yang tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Ayah dan Bunda menyampaikan niatannya untuk menikahi Leony pada kedua orang tua gadis itu,"
"Jadi, Ayah minta kau memberitahukan pada kami latar belakang atau apapun keterangan tentang gadis itu. Kau bosnya, tentunya dirimu banyak tahu tentang gadis yang diincar oleh anak bau kencur ini. Jangan ada yang kau tutup-tutupi," Martin menatap menantunya, demikian pula halnya dengan Sarina, dan kedua orang tua Reyn.
Reyn terdiam sejenak, berusaha menyusun kalimatnya sebaik mungkin, dan sebenarnya hatinya merasa was-was akan apa yang hendak ia tuturkan, khawatir akan membuat keadaan bertambah runyam.
"Leony, dia berkerja sebagai sekretaris pribadiku di perusahaan sudah hampir 8 tahun, dan usianya 31 tahun, lebih tua 8 tahun dari kak Bram--,"
"Diam Bram, siapa yang mengizinkanmu bicara sekarang?" Martin menatap tajam putra sulungnya. Pemuda itu seketika mengatupkan mulutnya rapat.
"Lanjut Reyn," instruksi Martin, kembali mengarahkan atensinya pada sang menantu.
"Keluarga Leony adalah salah satu keturunan bangsawan di kota Tangga Arang ini, dan perempuan itu telah memiliki seorang putri berusia 4 tahun."
"Jadi, perempuan itu bukan gadis tapi janda?" Martin tersentak kaget, begitu pula Marlina dan kedua besannya. Martin menatap menantunya lalu beralih menatap tajam pada Bram dengan kesal.
"Bram, kau yang benar saja. Apa di kota kita ini kekurangan para gadis hingga kau menjatuhkan pilihanmu pada seorang janda? Huh? Tidak bisa, Ayah sulit menerimanya!" Wajah Martin memerah, laki-laki itu memang sedang marah, tidak habis fikir akan jalan fikiran putra sulungnya.
__ADS_1
Mendengar amarah ayahnya, Bram lagi-lagi hanya bisa menunduk. Ia juga tidak tahu, kenapa hatinya begitu terpikat oleh Leony.
Bila saja jatuh cinta bisa diatur, ia juga ingin menambatkan hatinya pada seorang gadis, dengan status sosial yang sama dengannya supaya minim masalah, tidak seperti yang tengah ia hadapi sekarang ini, lumayan rumit dan pelik.
"Yah, Ayah yang tenang dulu ya." Marlina mengusap lembut lengan suaminya, sambil menunjuk dengan isyarat wajahnya pada Reyn. "Biarkan Reyn selesai bicara dulu, Yah. Jangan dipotong-potong dong, kita harus mendengarkan semuanya tentang perempuan itu."
Martin mendesah, ia masih sulit menerima kenyataan bila putranya menyukai seorang janda.
"Maafkan Ayah, Ayah memang emosi mendengarnya. Kau bisa melanjutkannya lagi Reyn," Martin kembali memandang kearah Reyn, dan menantunya itu mulai melanjutkan apa yang belum sempat ia selesaikan sebelumnya.
"Mengenai Leony masih gadis atau sudah janda, Reyn juga tidak tahu pasti, Yah. Setahu Reyn, Leony belum pernah menikah. Dan pada kartu tanda penduduknya, statusnya masih belum kawin selama 8 tahun berkerja di perusahaan kami." jelas Reyn dengan raut yang juga terlihat bingung seperti semua orang yang mendengar penuturannya.
"Bram, apa kau tahu tentang ini?" Martin memandang datar pada Bram, laki-laki itu berusaha menahan emosinya, biar bagaimanapun kesal hatinya, ia harus menghargai keberadaan kedua besan dan menantunya yang berada ditengah-tengah mereka.
"Papi dan Mami Leony memang berterus terang pada Bram, bila Leony telah memiliki seorang putri bernama Clara berusia 4 tahun. Mereka mengatakan itu karena Bram mengatakan niatan Bram menikahi Leony kala itu."
"Lalu, bagaimana dengan ayah dari putri Leony? Apa mereka bercerai? Dan pria itu, dimana sekarang dia berada?" berondong Martin masih dengan tatapan tajamnya.
"Orang tua Leony tidak mengatakan apapun tentang pria itu saat aku menanyakannya, Yah. Mereka hanya mengatakan laki-laki itu tidak bertanggung jawab dan meninggalkan Clara yang ketika itu berusia 3 bulan." papar Bram, sembari teringat pada pertemuan pertamanya dengan kedua orang tua Leony.
Martin terdiam sesaat. Dari rautnya, pria itu terlihat sedang menimbang keputusan apa yang harus ia ambil berkenaan dengan apa yang telah mereka bicarakan malam itu.
"Sebaiknya, malam.besok kita berkunjung kerumah keluarga Leony untuk menemui kedua orang tuanya. Dan saya meminta kesediaan pak Haswan dan ibu Sarina menemani kami. Kau juga Reyn."
"Tentu saja kami bersedia pak Martin, kita ini keluarga." sahut Haswan cepat sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Reyn juga siap, Yah," gegas Reyn menyahut, menanggapi permintaan sang ayah mertuanya.
Bersambung...👉