
Setelah dirasa cukup jauh meninggalkan restoran dan Steven, Reyn mulai melambatkan laju motornya dengan kecepatan sedang, mungkin saja Rose yang ada diboncengannya takut dengan kecepatan fikirnya, sehingga memeluknya sangat kencang.
Setelah beberapa menit berlalu, gadis itu masih tidak mengurangi kadar kekencangan pelukannya. Reyn melirik kaca spionnya, tapi tidak melihat wajah Rose yang bersembunyi dibalik punggung lebarnya.
Perlahan tangan Reyn menyentuh lembut sepasang tangan Rose yang melingkar kuat dipinggangnya. "Kau baik-baik saja?" Reyn menyaringkan suaranya dengan kepalanya setengah berputar kebelakang.
Tidak ada.sahutan. Reyn menunggu sembari tetap pokus pada lalu lintas didepannya.
"Apa kau baik-baik saja?" Reyn kembali menyaringkan sedikit suaranya sembari menepuk-nepuk sepasang tangan Rose yang masih melingkar dipinggangnya seperti posisi semula.
Masih juga tidak ada jawaban selain suara deru mesin motornya dan suara kendaraan lainnya yang melintas.
"Gadis cengeng! Apa kau baik-baik saja?" pekik Reyn, dia begitu gemes. Dua kali ucapannya tidak dijawab. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan saja bila Rose tidak sedang melamun apa lagi sampai tertidur, kan berbahaya batinnya.
Ciyuuut..
"Awhh! Sakit!" Ringis Reyn. "Kau jago sekali memelintir kulit perutku!" pekik laki-laki itu merasa perih dan panas pada perutnya.
"Upah mulut yang mengataiku gadis cengeng! Aku tidak suka!" gerutu Rose balas memekik ditelinga Reyn, walau ia sadar itu nggak akan ngaruh mengingat Reyn sedang menggunakan helm yang menutupi telinganya. Gadis itu kembali memeluk namun tidak sekencang sebelumnya.
"Itu benar kan? Tadi pagi saja menangis ditoilet," Reyn masih berusaha menggoda. Entah kenapa akhir-akhir ini asik saja melihat Rose mengomel dengan mulutnya yang selalu saja ada jawabannya.
"Itu karena Rose keseeeel dihukum! Dan diketawain teman-teman sekelas!" pekiknya sambil mencubit perut bagian bawah Reyn dengan kencang dan gemas.
"Kau mencubit belalaiku Rose!" pekik Reyn disertai wajah yang meringis.
Seketika jari-jari Rose mendadak kaku, demi mendengar si belalai tercubit olehnya. Tempurung kepala Rose seketika dipenuhi dengan bayangan belalai gajah yang kuyu dan teraniaya. Ouh! Bukannya merasa.kasihan apalagi bersalah, Rose malah merasa ngeri dan serem.
"Rose, turun. Kita sudah sampai." Reyn menurunkan standar motornya. Membuka helmnya dan menaruh pada salah satu spionnya.
__ADS_1
"Rose. Ayo, turun. Kita sudah sampai." ucap Reyn lagi, merasa heran mengapa gadis itu seakan betah duduk diatas motor. Laki-laki itu menarik dirinya, lalu berbalik.
"Rose? Kau kenapa?" Begitu melihat tubuh Rose yang terlihat kaku diatas motornya, bagai patung yang tak bergerak, dengan posisi masih seperti seorang yang memeluk tapi jari-jemarinya seakan akan mencengkram sesuatu.
"Rose, kau tidak malu? Orang-orang melihatmu. Kau terlihat aneh," bisik Reyn ditelinga gadis itu yang seketika mendelik menatapnya.
"Kita dimana?" ucap Rose dengan wajah bersemu merah, mendapatkan beberapa orang yang memang melihat kearahnya sambil tersenyum geli bahkan ada yang menahan tawanya dengan buru-buru membuang wajah kearah lain.
"Dealer." sahut Reyn.
"Ngapain kesini Mas? Bukannya pulang ke rumah?" gerutu Rose masih menahan malu dengan bibir bawahnya lebih maju. Di fikirnya mereka sekarang sudah ada dirumah. Ia memang tidak fokus pada jalan yang mereka tempuh gara-gara memikirkan si belalai itu.
"Udah. Buruan ikut," Reyn menarik pergelangan tangan Rose.
Gadis itu berusaha mensejajarkan langkah kaki panjang Reyn dengan langkah kakinya yang pendek hingga terkesan dirinya seperti seorang anak kecil yang tengah berlari-lari kecil disamping ayahnya.
"Selamat siang pak Reyn, Nona," sapa seorang CS dealer ramah, begitu melihat Reyn dan Rose melintas masuk pintu kaca otomatis.
"Siang juga Nona Yulia," balas Reyn tersenyum tipis disudut bibirnya.
"Mobilnya mau diambil sekarang?" tanya wanita itu lagi.
"Iya. Perkenalkan ini pemiliknya." Reyn menunjuk Rose yang berdiri disisinya.
"Nona Rose Margarine?" Wanita itu menyebut nama customernya dengan tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya. Rose melongo bingung tapi tetap menyambut jabatan tangan sang CS dealer.
"Saya Yulia, Nona," Rose hanya mengangguk kaku, ia masih diawang-awang karena Reyn tidak menjelaskan apa-apa sebelumnya padanya. "Mari saya antar untuk melihat mobilnya," lanjut CS itu lagi.
"Ayo," Reyn menoleh pada Rose yang seolah enggan beranjak dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Capek. Mas Reyn kakinya panjang, Rose nggak bisa ngikutin." rengeknya dengan raut kelelahan.
"Mas gendong, mau?" ucap Reyn dengan niat bercanda. Ia yakin gadis manja itu pasti menolak dengan alasan malu dilihat orang.
"Mau." sahut Rose diluar dugaan.
Yulia tertawa kecil melihat Reyn terpaku, termakan omongannya sendiri. Laki-laki itu memang tidak menyangka bila isterinya akan menjawab demikian.
"Kamu nggak malu?" Reyn mendekatkan bibirnya ditelinga Rose, supaya bisikannya tidak terdengar Yulia.
"Nggak malu!" sahut Rose lantang.
Yulia terkekeh menyaksikan tingkah Reyn yang gelagapan. Wajah laki-laki itu seketika mengeras menahan gemas, ia tidak mengerti mengapa isteri kecilnya itu tidak tertebak.
Biasanya merasa malu bila didepan orang banyak bertingkah tidak wajar, tapi kenapa sekarang terlihat begitu berani. Wanita memang membingungkan. Reyn menyugar rambutnya, menghilangkan frustrasi atas ke-tidak fahamannya pada sikap Rose-nya.
"Serius nggak malu?" Reyn kembali berbisik pelan, berharap Rose akan mengubah jawabannya. Mereka pasti akan menjadi tontonan semua pengunjung dan pegawai dealer tentunya bila Rose tetap ngotot minta digendong batinnya.
"Ya nggak malu lah Mas, kaki Rose pegel ini dari tadi ngejer-ngejer langkah kakinya Mas yang panjang-panjang itu," gadis itu sedikit berjongkok untuk menyentuh kakinya yang memang terasa.pegal. Ternyata Rose tidak berubah fikiran.
Reyn mengambil nafas dalam sebelum akhirnya meraih tubuh mungil Rose dan menggendongnya ala bridal style. Sontak seisi dealer memandang kearah mereka dengan berbagai komentar dan siulan yang terdengar riuh rendah. Belum lagi ada yang sempat mengabadikannya lewat ponsel pintarnya masing-masing.
Tidak sampai disitu saja, Rose yang mendadak kegenitan tanpa malu-malu melingkarkan kedua tangannya pada leher Reyn membuat jakun laki-laki itu naik turun tidak beraturan.
Yulia, sang CS hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu. Entah apa yang difikirkan wanita itu, ia lalu bergegas menuju etalase khusus, dimana mobil yang dimaksudkannya dipajang, diikuti Reyn yang menggendong isteri manja-nya yang tidak tahu malu itu.
"Mas Reyn pasti sangat bersyukurkan bisa menggendongku lagi," ucap Rose tanpa dosa. Reyn hanya bisa terdiam dengan wajah datarnya.
Bersambung...👉
__ADS_1