
"Huek! Huek! Huek!"
Reyn memijat tengkuk Rose sambil mengelap keringat yang bercucuran diwajah isterinya itu, dengan sabar ia menemani Rose yang tengah memuntahkan apa yang telah masuk kedalam lambungnya.
"Masih mual?" tanya Reyn cemas. Walau sudah sering melihat Rose muntah di pagi hari atau setelah makan kebanyakan, tetap saja ia cemas pada isterinya itu.
Rose mengangguk lemah sambil bersandar pada dinding toilet dibelakangnya. Ia mengambil oksigen, berusaha mengatur napasnya yang memburu akibat aktifitas muntah-muntahnya.
Menghirup aroma AC dalam mobilnya saat diantar oleh Bram membuatnya mual, selama mengalami kehamilan ini, ia memang tidak tahan mencium aroma AC mobil.
"Minum dulu," Reyn mendekatkan segelas jahe hangat dan membantu meminumkannya untuk mengurangi rasa mual sang isteri.
"Bagaimana?" Reyn masih memandangi wajah lemas isterinya itu.
"Lumayan enakan Mas." Rose ikut menyeka keringatnya lalu menegakkan tubuhnya untuk berdiri. "Tapi aku mau makan lagi, perutku kok lapar lagi ya Mas? Bolehkan?"
Reyn terkekeh, hatinya langsung merasa lega mendengar ucapan isterinya yang minta makan lagi. Sedahsyat apapun isterinya itu mual dan muntah-muntah, setelah itu ia pasti minta makan, itu yang membuat Reyn senang sehingga asupan untuk janin dan ibunya selalu ada.
"Tentu saja boleh, yuk," Reyn membantu Rose keluar dari toilet. Keduanya melihat Bram keberatan membawa banyaknya camilan Rose yang dia angkut dari mobil dan menaruhnya disisi sofa.
"Ini, serah terima isterimu. Awasin baik-baik jangan sampai ia bawa mobil sendirian lagi ke Samarinda, bahaya." Bram menyodorkan kunci mobil Rose pada Reyn.
"Bawa saja mobilnya dulu Kak. Kalau mobilnya dirumah, nanti Rose keluyuran lagi seperti tadi pagi," Reyn mendorong tangan Bram supaya menyimpan kunci mobil isterinya itu.
"Bahan bakarnya mahal," Bram melirik Rose dan Reyn yang tertawa mendengar ucapannya, ia sengaja mengatakannya karena tidak ingin diribetin dengan kemacetan lalu lintas bila mengendarai mobil.
"Sebutkan saja nomor rekening kak Bram, aku akan transfer biaya bahan bakarnya juga total belanjaan Rose ini," tunjuk Reyn pada banyaknya camilan isterinya sambil menggulir ponselnya.
"Hei adik ipar, kalau baru belanjain makanan Rose juga bahan bakar mobilnya tidak akan membuatku jatuh miskin, jadi kau tidak perlu mengganti atau mentransfer apapun," Ucapnya dengan nada tersinggung.
"Bu-bukan begitu maksudku kak Bram," Reyn berusaha memberi penjelasan sambil menoleh pada Rose yang mengedikan kedua bahunya. Tapi Bram tidak memberi kesempatan padanya untuk bicara.
__ADS_1
"Om Haswan sama tante Sarina, mereka sudah memberi gaji yang cukup tinggi untukku, dan bahkan mereka akan tersinggung bila aku masih minta-minta pada kalian, mereka akan berfikir gaji yang mereka berikan padaku itu tidak cukup."
"Sudah, aku pamit dulu. Masih ada.urusan penting. Rose jangan lupa makan semuanya ini, belinya pake diut, bukan pake daun." Bram mengusap lembut rambut adiknya, dan beralih memandangi Reyn yang menatapnya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Minta diusap juga kepalanya? Cih, kau itu laki-laki dan lebih tua dariku," setelah berkata demikian Bram gegas meninggalkan ruang kerja suami adiknya itu, membuat keduanya kembali saling pandang.
"Tadi dia makan apa?" Reyn beralih pada isterinya, setelah kakak iparnya itu menghilang dari pandangan mereka.
"Nggak makan apa-apa. Hanya menontonku makan." Rose melangkah mendekati sofa, lalu meraih satu ruas batang bambu yang hitam gosong didekat sofa.
"Aku mau makan lemang ini. Tolong bukain," perempuan itu mengangkatnya tinggi-tinggi didepan Reyn yang kebingungan memikirkan bagaimana cara mengeluarkan isinya.
...🍓🍓🍓...
"Aku bisa makan sendiri. Letakan saja disana, nanti aku akan memakannya," tolak Leony, perempuan itu menjauhkan mulutnya dari ujung sendok yang didekatkan Hendra ke bibirnya.
"Tidak ada penolakan, bila aku membiarkanmu, kau pasti akan menunda makan siangmu, dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan lambungmu. Lihat, kau sampai masuk rumah sakit ini karena tidak makan dengan teratur." Hendra masih memaksa, mendekatkan sendok makan ke mulut Leony.
"Terserah kau saja, yang penting kau harus makan." Hendra menyerahkan mangkuk sup ditangannya dengan hati-hati pada tangan Leony yang sudah terulur sejak tadi.
Dokter muda dan bersahaja itu memandangi Leony yang tengah menyuapi dirinya sendiri tanpa merasa risih dilihat olehnya.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" Leony melirik sekilas pada Hendra sambil terus mengunyah suapan-suapan yang masuk kedalam mulutnya.
"Kau cantik, walau dalam keadaan sakit seperti ini." puji Hendra sambil tersenyum tipis.
"Gombal!" Leony tertawa kecil, menatap wajah Hendra yang memandangi dirinya dengan lekat.
"Kau tau. Sejak dulu aku bukan termasuk dalam deretan tipe pria yang suka ngegombal ataupun perayu."
Leony terdiam, kekehannya seketika terasa kaku, sesaat kemudian perempuan itu mengalihkan pandangannya dari Hendra dan memandangi supnya yang masih tersisa banyak didalam mangkuknya, dan kembali menyuapi dirinya sendiri secara perlahan, sesungguhnya ia sangat tidak berselera menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Hingga saat ini aku masih menunggu jawabanmu, Leony. Kita sudah saling kenal sejak lama. Aku tidak keberatan ada Clara diantara kita. Akupun akan menganggap Clara nantinya seperti putriku, sama seperti dirimu menganggapnya." sambung Hendra.
Pria itu terus memandangi Leony. Demi perempuan dihadapannya ini, ia selalu menolak setiap wanita yang berusaha menjalin hubungan yang serius dengannya.
Leony mendongakan wajahnya, kembali menatap Hendra, untuk kesekian kalinya ia terpaksa harus membuat dokter muda itu kecewa dengan jawabanya yang sama seperti yang sudah-sudah.
Namun tenggorokannya tiba-tiba tercekat atas penampakan seseorang yang seketika membalikan tubuhnya didepan pintu ruang rawat inapnya dan berlalu pergi.
"B-Bram..." Leony gegas turun dari pembaringannya, tapi tubuhnya tiba-tiba oleng karena masih lemas. Dan untungnya, Hendra dengan sigap menangkap tubuh Leony supaya tidak terjatuh.
"Leony, kau membahayakan dirimu sendiri. Lihat, supmu tumpah," tunjuk Hendra pada tumpahan sup yang mengenai rok perempuan itu.
"A-aku, aku harus bertemu Bram, aku sudah berjanji pada Clara supaya putriku itu bisa bertemu dengannya." Leony tidak perduli. Hendra terpaksa memapah dan membantu Leony berjalan menuju pintu.
"Bram! Bram! Kembali! Jangan pergi!" teriak Leony.
Hendra menatap ke ujung lorong dimana sepasang mata Leony terarah kesana, ia memang melihat seorang pria mengenakan kemeja berwarna biru laut berjalan menuju ujung lorong dibelakang beberapa perawat, tetapi pria itu tidak menoleh sedikitpun, seolah bukan dirinya yang dipanggil oleh Leony.
"Apa pria berkemeja biru itu yang kau panggil?" tanya Hendra memastikan.
"Iya," sahut Leony dengan lesu, hatinya sedih karena tidak bisa menepati janjinya pada Clara, putrinya.
"I-ini, apa ini?" Leony menatap kantong makanan yang tersenggol kakinya. Ia berjongkok meraih kantong makanan itu.
Hendra membantu Leony membuka tiga kotak makanan itu, di kotak makanan pertama ada bubur nasi, di kotak makanan kedua ada beberapa potong puyunghai lengkap dengan sayurannya, di kotak makanan ketiga berisi daging rendang.
Leony kembali menatap punggung pria berkemeja biru laut yang semakin jauh diujung lorong sana.
"Ini pasti Bram yang membawanya," lirih Leony. Ia sangat hapal dengan menu makanan itu. Kembali terlintas dalam ingatannya, pemuda itu kerap kali memaksanya memakan apa yang telah ia bawa.
Bersambung...👉
__ADS_1