My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
105. Bertemu Orang Tua Olin


__ADS_3

Bram masih terpaku diatas motornya ketika Leony dengan buru-buru turun dari motor sport miliknya, setengah berlari menggunakan sepatu high heels-nya menuju ruang kepala sekolah karena dirinya sudah sangat terlambat.


Pemuda itu masih speecless, pasca pelukan erat yang dilakukan oleh Leony sepanjang perjalanan tadi, walau ia sendiri yang memaksa perempuan itu melakukannya dengan dalih melakukan tindakan absourd lainnya bila pujaan hatinya itu tidak menurut.


Masih dalam mode bahagia ala dirinya, Bram mendekap perutnya sendiri membayangkan tangan Leony yang sebelumnya melingkar erat disana, sambil senyum-senyum tak jelas dibalik helmnya.


Kita tinggalkan dulu Bram dengan segala khayalan tingkat dewanya. Pemuda itu juga benar-benar lupa bila dirinya ada janji bertemu dengan sang dosen pembimbingnya di kampus.


Sementara itu, Leony yang berniat mengetuk pintu lantas mengurungkan niatnya, saat matanya bersirobok dengan sepasang mata milik Dimas, pria masa lalu mendiang adiknya yang sangat dibencinya didalam sana.


"Silahkan masuk nona Leony," Ibu Mendelson, sang kepala sekolah berdiri dari duduknya, mengulas senyum ramahnya saat menyadari kehadiran Leony.


Bila saja ia tidak ingat pada etika, Leony tentu saja akan balik kanan. Dirinya sangat tidak sudi bertemu dengan pria bajingan itu. Namun mengingat kepala sekolah yang mengundangnya datang, ia terpaksa tetap masuk karena menghargai wanita itu.


"Mari, silahkan duduk disini," ibu Mendelson kembali mempersilahkan dengan ramah, sembari mengulurkan tangannya pada Leony.


Leony menyambut jabatan tangan ibu kepala sekolah sembari balas tersenyum ramah , ia mengabaikan tangan Dimas yang ikut terulur dengan berpura-pura tidak melihatnya.


"Maaf, saya terjebak macet konvoi kelulusan pelajar, " ucap Leony mengambil duduk disisi kiri kepala sekolah.


"Tidak masalah Nona, saya mengerti." ibu Mendelson kembali mengulas senyum ramahnya. "Baik, bagaimana kalau kita mulai saja sekarang." perempuan dengan senyum bersahaja itu menatap Dimas dan Leony bergantian.


"Silahkan Bu kepala sekolah," Leony dan Dimas tak sengaja menjawab kompak. Laki-laki itu menoleh pada Leony, sementara perempuan itu kembali tidak menghiraukannya seolah-olah Dimas tidak ada disana.


"Berkenaan kejadian beberapa minggu yang lalu, kami selaku pihak sekolah benar-benar menyesal dan meminta maaf pada nona Leony, apalagi dikabarkan ananda Clara sampai sakit dan menginap di rumah sakit." ibu Mendelson memasang wajah menyesalnya. Dari gestur tubuhnya kentara sekali bila wanita bertubuh tambun itu bersungguh-sungguh dalam ucapannya.

__ADS_1


"Pak Dimas, orang tua dari ananda Olin, beliau juga memohon maaf pada apa yang telah putrinya katakan dan lakukan pada ananda Clara. Ia berjanji akan menyuruh putrinya tidak berlaku demikian lagi. Bukan begitu pak Dimas?" ibu Mendelson beralih pada Dimas yang duduk tenang mendengarkan.


"Iya Bu." sahut Dimas cepat. Laki-laki itu kembali menatap kearah Leony yang sedari tadi tidak mau melihat kearahnya, seolah dirinya adalah momok yang sangat menjijikan.


"Aku minta maaf atas apa yang dilakukan Olin pada Clara, Leony. Aku--"


"Ternyata Olin adalah putrimu, pantas saja kelakuannya tidak jauh berbeda dengan ayah dan ibunya," Leony tersenyum sinis dengan ucapan sarkasnya.


"Dan apakah permintaan maafmu itu dapat mengembalikan rasa aman pada Clara bersekolah disini? Tidak! Perbuatan Olin sudah membuat teman-temannya ikut membully Clara, sehingga putriku itu tidak mau bersekolah lagi," ketus Leony, ia masih tidak mau melihat kearah pria itu.


"Bu kepala sekolah, hari ini juga saya minta surat pindah untuk putri saya Clara. Tadinya saya berniat untuk membujuk Clara supaya mau bersekolah disini, tapi begitu tahu Olin adalah putri pak Dimas, saya berubah fikiran. Clara tidak boleh satu sekolah dengan saudari tirinya yang jahat itu."


Ibu Mendelson terperangah, menatap Leony dan Dimas secara bergantian dengan sorot tak percaya, tidak menyangka dua anak didiknya yang sering bertengkar itu ternyata memiliki hubungan darah.


"Bukan Bu," Leony cepat menjawab. "Laki-laki ini suami mendiang adik saya."


"Cukup adik saya saja yang terkena gangguan mental hingga hari mangkatnya karena pernah punya hubungan dengan laki-laki ini, Clara tidak boleh. Bergaul dengan Olin, saya khawatir Clara bisa bernasib sama seperti ibunya," pungkas Leony dengan emosinya.


Walau sesingkat itu, penjelasan Leony membuat ibu Mendelson dapat mengerti kenapa wanita itu bersikeras memindahkan Clara dari sekolah yang dipimpinnya, ternyata ada masalah pribadi yang sangat sensitif dimasa.lalu.


"Baiklah, saya tidak bisa menolak lagi seperti yang sudah-sudah nona Leony. Akan segera kami buatkan dari pihak sekolah," putus ibu Mendelson pada akhirnya.


"Kalau begitu," Leony melirik arloji tangannya yang sudah menunjukan pukul 15.10. "Saya pamit dulu untuk kembali berkerja, bila sudah selesai tolong kabari saya lagi supaya bisa mengambilnya untuk masuk ke sekokah yang baru."


Leony berdiri. Ia berjabatan tangan pada ibu Mendelson sebelum pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikitpun pada Dimas.

__ADS_1


Dari area parkir, Bram melihat Leony buru-buru keluar dari lobi sekolah, nampak dibelakangnya menyusul seorang laki-laki dengan langkah cepatnya.


Tidak berselang lama, seorang wanita berambut keriting, ikal kecil-kecil keluar dari mobilnya dan membanting pintu dengan kasar, lalu gegas menuju lobi sekolah dimana. Leony dan Dimas berada.


"Leony tunggu!"


Leony tak perduli pada panggilan Dimas, ia berjalan semakin cepat hingga setengah berlari.


"Aku mohon, berhenti Leony, kita harus bicara tentang Clara. Dia putriku, darah dagingku!" teriak Dimas.


Bram terhenyak mendengarnya. "Jadi, pria itu ayah Clara, yang tidak menikahi Leony! Brengsek!" ia mengepalkan tangannya. Ingin menghampiri, tapi diurungkannya karena melihat perempuan berambut ikal itu turut bergabung disana. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sambil terus waspada, mengawasi ketiganya yang kini berada ditengah-tengah lapangan sekolah.


Suasana sekolah memang nampak sepi karena semua murid sudah pulang begitu juga dengan sebagian gurunya.


"STOP! Berhenti mengatakan Clara putrimu!' Kini Leony berbalik, ia memberikan tatapan tajam pada Dimas yang berdiri ditempatnya.


"Kau hanya laki-laki yang mampu menghadirkan seorang bayi ke dunia ini, tapi tidak mampu bertanggung jawab membesarkannya. Adikku meninggal gara-gara laki-laki sepertimu," marah Leony dengan wajah merah padamnya, emosi yang sejak tadi ia pendam saat melihat Dimas kini ia keluarkan.


"Adikmu saja yang bodoh! Mudah tergoda oleh rayuan laki-laki! Mas Dimas, dia pria beristeri dan beranak satu waktu itu!"


Leony mendelik, menatap perempuan berambut ikal itu dengan hati kesal karena berani mengatai mendiang adiknya. Ia kembali melayangkan tatapan tajam penuh kemarahan pada Dimas.


"Itu artinya kau dan orang tuamu sudah berbohong pada kami kalau kau pada saat itu seorang pria lajang, sehingga orang tuaku mengizinkanmu menikahi mendiang adikku. Kau benar-benar laki-laki penipu!" tunjuk Leony, lalu bergegas pergi meninggalkan sepasang suami isteri itu.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2