My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
43. MENGAMBANG


__ADS_3

Didapur, Rose tengah mencuci mangkuk-mangkuk kotor dan sendok-sendok yang telah dipakai untuk memakan salad buatannya. Sekarang dia sudah terbiasa melakukannya, sehingga peralatan dapur yang ia cuci sudah jarang pecah seperti dulu.


Tidak jauh berbeda dengan sibuknya tangannya yang lagi berkerja, demikian pula otak dalam tempurung kepalanya, begitu riuh dengan fikirannya, masih membayangkan apa yang ia lihat di kolam renang.


"Kenapa seperti itu ya? Apa si belalai sedang meringkuk kedinginan karena terlalu lama didalam air?" guman Rose tertawa aneh dengan segala bayangan yang tergambar dalam otaknya.


"Oh nggak, nggak. Pasti si belalai sedang melungker kaya ulet daun pisang yang gemuk." bayangnya lagi.


"Ih kok menggelikan sih klo kaya ulet!" Rose bergidik kegelian sendiri membayangkan hewan gemuk berlemak yang sering ia lempar bebas saat menemukannya pada ujung gulungan daun pisang mbok Dira disertai teriakan histerisnya memenuhi dapur saat belajar memasak.


"Udah beres," Rose mengelap tangannya yang basah pada kain lap yang tergantung dekat wastafel, ia beranjak dari sana berniat kembali bergabung mengobrol dengan kedua orang tuanya dan kedua mertuanya diruang keluarga.


"Kok sepi? Apa Mas guru udahan renangnya?" kepala Rose melongok kesana kemari, mencari keberadaan Reyn yang tidak terlihat saat melintasi kolam renang. Air kolam juga terlihat tenang.


"Apa itu?" Rose semakin mendekati kolam, meninggalkan rimbunan pohon bonsai dimana ia berdiri, saat melihat suatu benda berwarna hijau terang yang mengambang dipermukaan air kolam.


"Bukannya itu celana renang Mas Reyn?" seketika terbersit rasa khawatir dihati Rose, ia semakin mendekati bibir kolam, takut Reyn ada didasar sana karena kelelahan berenang.


"Akhh!" pekik Rose tertahan saat tangan basah kokoh berotot memeluk pinggang rampingnya dari belakang.


Belum sempat Rose melihat wajah si pelaku, tubuh rampingnya sudah dibawa terjun bebas kedalam kolam.


BRASS! BYURRR!!


Kaki dan tangan Rose melingkar erat pada orang yang membawanya jatuh kedalam kolam. Dengan wajah cemas yang basah kuyup, dan ingus yang keluar dari hidungnya, Rose menengadahkan wajahnya keatas, melihat Reyn yang tertawa senang melihat dirinya yang ketakutan.


"Ih! Mas Reyn jahat! Rose udah pernah bilang! Rose nggak pandai renang! Gimana kalau Rose tenggelam atau lemas!" marahnya sambil mencubit gemas.


"Awh! Sakit Rose!" ringis Reyn, cubitan Rose pada pinggangnya lumayan manjur perihnya.


"Nggak bakalan tenggelam Rose. Buruan berdiri," suruh Reyn. Laki-laki itu mengelap ingus Rose dengan tangannya lalu membasuhnya dengan air kolam.


"Nggak! Takut!" gadis itu semakin mempererat kunciannya pada tubuh Reyn.

__ADS_1


"Dijamin nggak bakalan tenggelam Rose, dangkal kok airnya," bujuk Reyn supaya Rose melepas dekapannya.


"Beneran? Nggak bo'ong?" Rose menatap Reyn yang masih senyum-senyum sendiri memperhatikan ketakutan tidak masuk akal Rose.


"Beneran Rose, Mas nggak bo'ong kok."


Dengan ragu, Rose melonggarkan kunciannya, menurunkan perlahan kakinya yang mengunci pada pa*a Reyn hingga akhirnya mampu menyentuh dasar kolam.


"Iya, nggak dalam, dangkal kok," Rose memberanikan diri melepas pegangan tangannya dari lengan Reyn, disana memang cukup dangkal, airnya hanya setinggi 135 senti meter saja.


"Ayo berenang," ajak Reyn mendahului Rose dengan gaya kupu-kupunya. Gadis itu meniru lalu mengekor dibelakangnya dengan gaya renang bebas tidak jelas.


Reyn lebih dulu sampai ketepian satunya, ia menyandarkan punggungnya dengan kedua tangannya merentang di atas tepian kolam sebagai penyangga, karena disana kedalaman airnya mencapi dua meter.


Laki-laki itu tersenyum sendiri melihat tubuh Rose yang sulit mengapung, pertanda bila gadis itu memang belum terlalu pandai berenang. Wajah Rose sesekali mendongak keatas untuk mengambil oksigen, hidung dan pipinya mulai memerah karena beberapa kali terminum air kolam.


Reyn buru-buru menghampiri, menyambar tubuh isterinya itu supaya tidak benar-benar tenggelam dan membawanya menepi didekat tangga kolam.


Rose berpegangan erat pada lengan Reyn, napasnya terdengar memburu dan tidak beraturan.


"Sengaja, 'kan kalau bilang kamunya pasti takut dan nggak bakalan mau belajar berenang." sahut Reyn santai, ia kembali membersihkan cairan sedikit kental yang mengalir dari hidung Rose dengan jarinya lalu membersihkannya dengan air.


"Mas nggak jijik?" Rose menatap Reyn, dalam hati ia sebenarnya merasa malu, itu sebabnya ia malas sekali berenang, pasti ingusnya ikut keluar juga.


"Muntahmu saja pernah aku bersihkan," sahut Reyn datar. Rose terdiam, perkataan suaminya benar, ia melihat sendiri Reyn begitu telaten mengurusnya saat ia mual dan muntah-muntah gegara mencuci kain segitiga milik suaminya untuk pertama kalinya.


Sungguh ironi, Reyn saja tidak jijik, tapi dirinya begitu jijik luar biasa mencuci pakaian da*am*n suaminya, ucapnya dalam hati.


Tunggu, ngomong-ngomong tentang pakaian da*am*n, Rose mendadak teringat benda mengapung yang ia duga adalah celana renang milik suaminya. Seketika dirinya bergidik memikirkannya lagi.


"Mas--, apa mas Reyn nggak pake cel*na?" tanya Rose to the point. Ia menatap wajah Reyn dan mulai melonggarkan pegangan tangannya hendak kabur.


"Hah?!" Reyn terlihat bingung. "Pertanyaan macam apa itu? Kau itu yah, masih sekolah suka mikir mesum." sentilnya pelan pada jidat Rose.

__ADS_1


"Tadi Rose lihat ce*ana renangnya mas Reyn ngambang di kolam renang ini, itu sebabnya Rose ngomong kaya gitu," jelas Rose tidak terima dikatakan mesum dengan bibir mencucu.


Mendengar penuturan Rose, Reyn yang pada dasarnya suka bercanda tersenyum didalam hati, memikirkan kejahilan yang dihasilkan otak usilnya yang mulai berkerja.


"Lihat kebawah dulu, kalau kau nggak percaya Mas pake ce*ana," datarnya memandang Rose yang masih bergelayut pada lengannya sambil mengayuh dua kakinya dibawah sana supaya posisinya didalam air tidak turun kedasar kolam.


"Nggak mau!" tolak Rose, bagaimana kalau benaran suaminya itu gak pake ce*ana, 'kan bisa berabe batinnya. Tapi ngapain coba dirinya terus bergelayut ditangan Reyn. Perlahan ia menjauh, lupa kalau disana airnya dalam.


Kpak! Puk!


Baru saja Rose melepaskan pegangan tangannya dari lengan Reyn, kepalanya sudah terlihat timbul tenggelam, berusaha naik kepermukaan, sialnya malah tubuhnya terasa semakin berat dan menurun ke dasar kolam dengan air setinggi dua meter itu.


"T--To-long Mas!!" pekik Rose terputus-putus.


Untuk kedua kalinya, Reyn dengan sigap menyambar tubuh Rose, dan menariknya lagi ke tepi menuju sudut kolam, ia tidak mau isterinya itu meminum air kolam lagi seperti yang sudah-sudah.


"Kau tidak apa-apa?" Reyn memperhatikan wajah Rose yang memerah. Hidung, pipi, dan matanya juga ikut memerah akibat perjuangannya berusaha tidak tenggelam. Laki-laki itu kermbali membersihkan cairan yang lagi-lagi keluar dari hidung Rose.


"Rose nggak mau berenang lagi, Rose takut tenggelam," suara Rose terdengar serak hampir ingin menangis.


"Udah, nggak pa-pa namanya juga belajar, iya begitu." Reyn menurunkan rok lebar Rose yang sejak tadi mengambang naik kepermukaan, memperlihatkan kaki jenjang dan paha mulusnya yang terekspos.


Walau posisi didalam air, Reyn masih dapat melihatnya dengan jelas, belum lagi perut dan pusar isterinya itu juga terpampang didepan mata, membuat Reyn lagi-lagi sibuk membenarkan atasan isterinya itu juga.


Walau sudah dibenarkan, rok dan baju Rose kembali mengambang kepermukaan, membuat jakun Reyn mulai naik turun tidak beraturan. Belum lagi rambut basah dan buliran air yang menempel diwajah Rose membuatnya isteri kecilnya itu semakin memukau.


Perlahan, namun pasti, Reyn mendekatkan wajahnya kewajah Rose.


"M-mas Reyn m-mau apa--" Rose menatap waspada.


"Jangan banyak tanya. Tadi udah belajar renang, sekarang lanjut belajar yang dikamar mandi tempo hari."


Rose seketika mematung, gerakan Reyn terlampau cepat, ketika bi*ir dingin laki-laki itu kini menyentuh bi*irnya. Perlahan ia memejamkan matanya, ketika diirasa bi*irnya berkedut, merasakan sesapan bi*ir Reyn yang mulai liar.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2