
"Rose!" panggil pak Ruben.
"Iya, saya Pak!" gegas Rose menyahut dan mendongakkan wajah, menemukan atensi sang guru wali kelasnya itu tengah menatap ke.arahnya.
"Ke depan!" serunya, masih menatap Rose yang seketika terlihat tegang.
Dengan perasaan dag-dig-dug, gadis itu segera beranjak dari duduknya, menghampiri pak Ruben di mejanya yang berada di pojok kiri depan.
"Tulis soal ulangan harian ini di papan tulis. Tenggorokan saya masih sakit akibat batuk, tidak bisa berbicara banyak," ucapnya beralasan.
"Baik Pak," sahut Rose patuh tidak berani membantah, walau dalam hatinya sedikit ngedumel pada guru wali kelasnya itu, karena yang melakukan tugas tulis menulis itu biasanya adalah Yira, sekretaris kelas.
"Anak-anak, siapkan kertas kosong dan pulpen masing-masing diatas meja. Selain itu, masukan semua ke dalam laci meja! Tidak di perkenankan tolah-toleh ke kiri maupun kanan, muka maupun belakang, apa lagi keatas maupun bawah!"
Semua melongo, termasuk Rose. Bukannya tadi katanya nggak bisa banyak bicara karena beralasan sakit tenggorokan, tapi kenapa sekarang instruksi demikian panjang dan demikian lebarnya, begitu kira-kira yang difikirkan para siswa itu.
Walau demikian, tentu saja tidak ada yang berani protes.
"Sambil Rose menulis soal di papan tulis, kerjakan masing-masing pada kertas ulangan kalian masing-masing! Waktu hanya 40 menit!" tegas pak Ruben lagi. Tidak ada yang menyahut, tapi mereka segera melakukan sesuai perintah.
Dua puluh soal essay telah selesai di tulis. Rose terlihat kebingungan saat tidak menemukan pak Ruben di mejanya untuk mengembalikan kertas soal yang ia pegang.
"Saya di sini Rose!"
Rose menoleh ke sumber suara. Nampak pak Ruben duduk di kursi mejanya, dan Norsa yang ada disebelahnya terlihat begitu tegang sambil menunduk menatap kertas ulangannya, tanpa satu soalpun yang sudah terjawab.
"Duduk dimeja Bapak saja Rose, kerjakan soalmu disana! Waktumu tinggal 30 menit lagi." ucapnya sambil melirik jam dinding yang bertengger di atas papan tulis.
"Tapi Pak, kertas dan pulpen saya masih ada didalam tas saya." Rose menuju mejanya, berniat mengambil alat-alat tulisnya.
__ADS_1
"Saya sudah menyiapkan pulpen dan kertas ulangan buat kamu di meja saya, Rose." dengan isyarat wajah, pak Ruben menunjuk pada mejanya.
Rose menoleh. Benar saja, dimeja guru sudah ada pulpen dan selembar kertas kosong.
"Ayo buruan. Waktumu tinggal 28 menit lagi Rose." pak Ruben kembali memberi isyarat lewat dagunya yang sedikit terangkat kearah samping wajahnya.
"Iya Pak," Rose menurut pasrah. Niat sekali gurunya itu melakukan itu padanya, fikirnya didalam hati. Tidak mau membuang waktu, Rose gegas mengerjakan soal ulangannya di meja guru.
Tidak seperti biasanya, ulangan harian kali ini begitu hening dan tegang, tidak ada yang berani bergerak grasak grusuk, apalagi tolah-toleh meminta jawaban seperti yang telah di peringatkan.
Kring! Kring! Kring!
"Yah!!! Belum selesai Pak!" keluh seisi kelas termasuk Rose.
"Waktu habis! Rendy, kumpulkan lembaran jawaban semua teman-temanmu! Dan bawa ke meja Bapak diruang guru sekarang juga!" perintahnya sambil beranjak dari kursi Rose yang di dudukinya.
"Dan jangan lupa, senin depan sudah semesteran," imbuhnya lagi.
Rose melenguh, tapi tetap patuh. Ia berjalan gontai mengekor pak Ruben keluar ruangan, sementara teman-temannya yang lain siap-siap menuju kantin diistirahat pertama mereka pagi itu.
...🍓🍓🍓...
Di pojokan pantry ruang guru, pak Ruben sengaja berdiri disana sambil menyesap kopi pahitnya, tapi cita rasanya tidak sepahit hidup masa lalunya yang pernah tergelar.
Bila readers penasaran sepahit apa itu? Mungkin sang guru BK yang berwajah portugal itu dengan senang hati membuka sekelumit kisah pahitnya. Tapi dirinya yakin, readers gak akan perduli, karena udah ilfil duluan dengan sikap cempreng dan menyebalkannya tanpa pandang bulu pada para siswa-siswi dan rekan-rekan gurunya.
Dari sana dengan posisi yang sangat strategis, pak Ruben bisa dengan leluasa mengawasi Rose yang duduk di mejanya menyelesaikan menulis jawaban soal ulangannya, ia juga dengan mudah mengawasi siapa saja yang masuk keluar dari pintu ruang guru.
Dengan setumpuk berkas ditangan kirinya, Reyn melangkah masuk menuju mejanya. Sesaat ia terpaku, melihat Rose menunduk dan tengah serius mengerjakan sesuatu.
__ADS_1
Detik berikutnya Reyn segera tersadar dimana ia berada sekarang. Ia kembali melangkah menuju meja guru yang tepat bersebelahan dengan meja guru milik pak Ruben untuk meletakan berkas yang dibawanya diatas meja kerjanya.
Aroma maskulin itu kian menguar, merasuk indera penciuman Rose yang masih berkonsentrasi dengan satu soal yang akan dijawabnya.
"Seperti wangi mas Reyn," Rose mendongak, aliran darahnya berdesir cepat saat mendapatkan Reyn tepat ada disebelah mejanya. Rona memerah itu begitu saja menghiasai belahan pipi mulusnya yang tiba-tiba menghangat.
Tak berlangsung lama. Wajah Rose seketika berubah sendu, saat Reyn beranjak pergi begitu saja tanpa sedikitpun mau menoleh kearahnya. Ia tidak meminta begitu banyak, cukup sedikit saja melirik pada dirinya, iya--, hanya begitu. Ia tahu itu tidak benar dan sangat berbahaya, tapi ia tidak rela dicuekin oleh pria yang sudah mulai bisa menggantikan bayangan Steven dari benaknya itu.
"Fix!" di sudut sana pak Ruben tersenyum lebar menyaksikan semuanya itu sambil menyatukan ujung ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O.
"Sudah selesai Rose?!" pak Ruben gegas mendekati Rose.
"Belum, sedikit lagi." sahut Rose menoleh sekilas lalu kembali menunduk dan menuliskan jawaban apa yang ada didalam kepalanya saat ini.
"Kenapa Rose mengerjakan tugas di ruang guru? Apa dia melakukan kesalahan?" tanya ibu Sari yang baru masuk ke ruang guru, ia menatap pada Rose dan pak Ruben bergantian. Dibelakangnya, nampak Reyn bergegas ikut masuk.
"Tidak. Dia siswi yang istimewa." sahut pak Ruben santai dengan senyum tipisnya yang terkembang saat melihat Reyn datang dengan tergesa-gesa mendekat lalu meraih dompetnya yang tertinggal diatas mejanya.
Rose terperangah, saat pak Ruben tiba-tiba menarik kertas yang sedang ia tulis.
"Luar biasa! Kau pintar sekali Rose! Jawabanmu benar semua!" gema suara pak Ruben memenuhi ruang guru. Tentu saja semua guru disana menoleh ke arahnya juga memandang kearah Rose yang seketika terlihat gaguk mendapat perlakuan serupa itu dari guru pendidikan moralnya itu. Hanya Reyn saja yang terlihat tidak perduli, ia gegas menuju pintu keluar membawa dompetnya.
"Kau pasti punya guru privat di rumah. Bukan begitu Rose?" ucapannya mengarah pada Rose tapi lirikan matanya terus mengawasi Reyn yang terus melangkah menuju pintu keluar.
"Ya ampun, pak Ruben ini mengada-ada saja. Bukannya jawaban soal nomor 20 baru akan ditulis? Bagaimana bisa benar semua?" sungut Rose blak-blakan. Sedari tadi ia sudah menahan rasa sebelnya pada sang gurunya itu.
Pak Ruben seketika mengatupkan mulutnya yang sebelumnya berkoar-koar ria seenak jidatnya, ia baru sadar bila Rose memang belum menjawab semua soal, ditambah lagi semua wajah para.guru yang menatapnya aneh sambil mengernyitkan dahi mereka kearahnya.
"Sepertinya, itu pengaruh kopi pahit yang Pak Ruben minum itu," ledek pak Hartanto, sang kepala sekolah yang sedang mengisi gelasnya dengan air panas, sambil menunjuk gelas kopi yang masih di pegang oleh pak Ruben.
__ADS_1
"Saya rasa begitu Pak kepala sekolah. Makanya pak Ruben, pagi-pagi itu minumnya teh hangat, cokelat panas, atau susu. Bukannya kopi pahit, cukup hidup saja yang terasa pahit, minuman jangan. Kalau mau sehat ya minum jamu saja!" timpal ibu Sari sekenanya, sang guru Bahasa Indonesia itu ikut meledek lalu tertawa bersama guru-guru yang lainnya.
Bersambung...👉