My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
40. BUKTI REKAMAN


__ADS_3

"Hentikan omong kosong ini ibu Mutiara yang terhormat. Kami bukanlah keluarga yang bisa Ibu perlakukan sesuka hati." Tak terasa, Martin menyaringkan suaranya, walau ia sadar benar siapa tamunya.


Mutiara terlihat tenang, ia sunggingkan senyum tipis diujung bibirnya yang sedikit terangkat.


"Steven sayang, kau dengar sendiri kan? Bukan Mami yang tidak merestui hubunganmu dengan Rose pacarmu itu, tapi kedua orang tuanya." ia menoleh pada Steven yang duduk disebelahnya.


Marlina membulatkan matanya dengan mulut sedikit terbuka, sungguh tidak menduga bila wanita yang sangat disegani dan dihormati itu, terlihat begitu lembut dan penuh pesona sebagai isteri seorang yang paling mereka segani dikota ini, mampu mengeluarkan kata yang tidak sesuai dengan apa yang pernah dikatakannya ketika itu.


"Saya sangat kaget, ternyata ibu Mutiara punya dua muka?" Marlina tidak bisa menahan diri untuk berkata demikian, ia bahkan ingin mengumpat, tapi kewarasannya masih terjaga dengan baik, tidak ingin bersikap melebihi batas etika kesopanan pada tamunya.


"Apa maksud bu Marlina, saya kok tidak enak mendengarnya," Mutiara mengubah air mukanya, memperlihatkan raut sikap tidak terima atas perkataan yang ia dengar.


"Bun, bisa tolong ambilkan ponsel ayah yang tertinggal dikamar." Martin yang sudah jengah sejak awal kedatangan kedua tamunya ingin segera mengakhiri kepura-puraan wanita dihadapannya itu.


"Iya Yah, sebentar Bunda ambilkan," Marlina gegas berdiri. Ia buru-buru naik kelantai dua, mengambil apa yang diminta suaminya.


"Sepertinya ibu Marlina tidak menyukai saya," Mutiara kembali memandang pada Martin setelah dirinya memperhatikan Marlina yang sudah tidak tampak dari pandangan matanya.


Steven menyentuh pelan lengan ibunya, ia sudah cukup merasa tegang saat ibunya dikatakan bermuka dua, dan sekarang malah ibunya mengungkapkan penilaiannya secara blak-blakan tentang Marlina dihadapan Martin.


"Mi, disini kita sedang ingin melamar," bisik Steven ditelinga ibunya. "Bukan ingin berdebat. Mereka calon mertua Steven Mi, calon besan Mami dan Papi juga," ungkapnya, berharap ibunya bisa mengendalikan sikap dan perkataannya.

__ADS_1


Martin tidak lantas menjawab apa yang dikatakan Mutiara padanya, ia hanya berdiam diri. Dirinya sadar benar dengan siapa ia berbicara, sebisa mungkin ia tetap berlaku hormat, bukan karena wanita itu, tapi lebih menghargai sang suami dari wanita yang menjadi lawan bicaranya.


Tak lama, Marlina terlihat sudah kembali, ia menuruni anak-anak tangga dengan cepat dan hati-hati, tidak ingin dirinya ditunggu terlalu lama.


"Ini Yah," Marlina menyerahkan benda pipih yang diminta suaminya. Mutiara dan Steven turut memperhatikan benda pipih yang diterima oleh Martin dengan raut penuh tanya.


"Sebelumnya saya mohon maaf pada ibu Mutiara, dan juga kau nak Steven. Sebaiknya kita mendengarkan ini dulu, supaya kesimpang siuran ini bisa terurai dan tidak terjadi kesalah-fahaman lagi," ucap Martin sembari memutar rekaman dalam ponselnya.


Hening sesaat. Keempat orang itu sama-sama memasang indera pendengaran mereka dengan baik, menyimak dengan penuh perhatian apa yang tengah diperdengarkan.


Mutiara nampak gelisah, ia beberapa kali memperbaiki posisi duduknya. Dirinya perlahan mulai menegang ketika suaranya begitu jelas terdengar dari rekaman yang ada di ponsel Martin.


Begitu pula dengan Steven, pemuda itu sangat mengenali suara wanita yang berbicara lembut dan tegas itu. Ia menoleh dan menatap ibunya dengan penuh tanya.


"Mohon tidak berkomentar dulu, kita dengarkan hingga tuntas, supaya semuanya jelas," ucap Martin menginterupsi.


Mereka semua kembali pokus pada pendengarannya masing-masing. Steven berkali-kali harus mengusap wajahnya kasar, karena apa yang ia dengar direkaman itu sama persis dengan apa yang pernah dikatakan Rose dan ibundanya.


Raut wajah Mutiara semakin memerah, manakala Steven menatapnya sedih, setelah mendengarkan semuanya. "S-sayang, M-mami bisa jelasain. I-itu tidak seperti--"


"Cukup Mi, lebih baik kita pulang sekarang," lirih Steven. Saat ini, dirinya serasa tidak punya kekuatan untuk berdebat dan sangat sulit baginya mempercayai apa yang ia dengar. Ibunya, wanita yang paling ia percaya dan sayangi, kenapa bisa melakukan itu padanya?

__ADS_1


"Saya mohon pamit Om, Tante," Steven sudah tidak sanggup menatap kedua orang tua Rose. Rasa bahagianya yang sangat besar ketika datang bertandang ke rumah orang tua Rose dengan niat yang baik, kini sudah sirna tak bersisa.


Steven tertunduk, ia melangkah pergi meninggalkan ibunya yang.terlihat salah tingkah sendiri disana.


"B-bagaimana rekaman itu bisa ada? Apa ibu Marlina merekamnya dengan diam-diam waktu itu?" Mutiara terlihat marah, tapi dirinya berusaha untuk mengontrol dirinya. "Saya tidak terima, ibu Marlina melakukan itu dirumah saya sendiri."


"Saya bukan orang yang dungu bu Mutiara. Itu saya lakukan bukan untuk menyerang Anda, tapi sebagai bentuk perlindungan diri bila sewaktu-waktu terjadi hal seperti ini. Kami tidak ingin harga diri dan nama baik kami diinjak-injak, walau kami orang biasa." Marlina membela diri, karena memang benar dirinya telah merekam pembicaraan mereka waktu itu.


"Hapus semua rekaman itu. Berapa saya harus membayarnya? Anggap saya membelinya." Mutiara menatap dingin sepasang suami isteri dihadapannya. Ia tidak ingin rekaman itu akan menjadi masalah dikemudian hari.


"Kami bukan Anda bu Mutiara." Martin langsung menyela, ia tahu apa yang difikirkan wanita itu. "Setiap perkataan yang keluar dari mulut kami bisa Anda pegang. Kami bukan tipe orang yang suka menggunakan bukti seperti ini untuk memeras orang lain. Kami lebih bahagia hidup dengan hasil keringat kami sendiri."


"Kami tidak bisa memberikannya, karena barang bukti itu bukan untuk diperjual-beli. Diantara kita, tidak ada urusan lagi, kami sudah menjauhkan Rose dari Steven. Tolong jaga putra ibu Mutiara supaya tidak mendekati putri kami lagi. Jika saja ibu jujur, mungkin peristiwa hari ini dan drama-drama sebelum ini tidak perlu terjadi." tutup Martin.


Mutiara menelan salivanya, kata-kata itu akhirnya kembali padanya. Walalu merasa kesal keinginannya tidak dituruti ia juga tidak berani memaksa. Wanita berpenampilan elegan itu juga terlalu malu untuk mengakui perbuatannya, ia pergi tanpa mengucapkan salam, apalagi maaf.


...🍓🍓🍓...


Reyn keluar dari ruang kerjanya yang masih ada dalam area kamar tidurnya dan Rose. Sedari tadi ia bolak-balik antara ruang kerjanya dan kamar mereka, hanya untuk mengawasi Rose.yang terdengar rusuh didalam kamar mandi.


Suara mual dan muntah gadis itu sesekali terdengar karena sedang mencuci kain kotor ha*d-nya. Sejujurnya, Reyn merasa kasihan, tapi sebagai suami, ia tidak bisa menuruti semua kemanjaan isterinya yang terkesan jorok itu, ia tidak bisa membiarkan isteri bocilnya itu terus-terusan jijik pada kain kotornya sendiri.

__ADS_1


Ia ingat benar bagaimana kemarin Rose terlihat menekukkan wajahnya saat ia menolak permintaan isterinya itu mencuci kain kotornya. Dan sore ini, isterinya itu terpaksa mencucinya sendiri dengan berbagai drama didalam sana.


Bersambung...👉


__ADS_2