My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
41. OBROLAN KELUARGA


__ADS_3

"Itu mobil apa tidak terlalu mewah dibawa seorang pelajar SMU nak Reyn?" tanya Marlina, setelah melihat mobil baru Rose terparkir didepan rumah ketika ia bersama suami dan kedua besannya baru saja tiba disana.


"Nggak pa-pa Bun, biar Rose tambah semangat belajarnya," Reyn mendudukan boko*gnya pada sofa diruang keluarga, setelah mempersilahkan kedua orang tuanya dan kedua mertuanya duduk.


"Selain itu, Rose juga sudah belajar mengemudi dengan didampingi seorang instruktur Bun. Dua minggu lagi dia akan mendapatkan surat izin mengemudinya, baru boleh berkendara sendiri ke sekolah." tambah Reyn lagi.


"Iya, nggak pa-pa bu Marlina, lagi pula itu juga dibeli sebagai hantaran untuk Rose waktu itu," ucap Sarina sambil meneguk segelas jus jeruk buatan Rose siang itu.


"Heum segar sekali. Rose sudah pandai membuat jus jeruk rupanya" celetuk Martin disela-sela obrolan ringan mereka sembari terkekeh sendiri.


"Terakhir, aku pernah mencicipi jus jeruk buatannya yang kebanyakan air." Yang lain ikut tertawa mendengar ucapannya. Bukan rahasia lagi bila gadis belia itu terkenal tidak bisa melakukan banyak hal karena terlalu manja.


"Terima kasih ya Nak Reyn, kau pasti kerepotan menghadapi kemanjaan putri kami itu. Ayah dan Bunda sudah berusaha mendidiknya selama ini, bahkan tidak bosan-bosannya sering mengomelinya setiap hari, tapi tetap saja, bahkan ia semakin manja saja tiada duanya," ujar Martin lagi sambil menggeleng pelan. Walau begitu ia sangat menyayangi putrinya itu.


"Iya Yah nggak pa-pa, Reyn maklum. Sebelum menikah juga udah dikasih tau, jadi Reyn nggak kaget, hanya heran saja. Ternyata yang Ayah dan Bunda bilang itu semuanya benar," aku Reyn sambil tertawa, tentu saja keempat orang tua itu turut tertawa bersamanya.


Mereka sudah bisa membayangkan banyak ulah Rose yang pastinya membuat Reyn yang terbiasa dengan segala sesuatu serba perfect sejak kecil terpatahkan oleh sikap Rose yang suka seenaknya.


"Minggu lalu, Steven dan ibunya datang ke rumah untuk melamar Rose," ungkap Martin setelah tawa mereka.mulai mereda.

__ADS_1


"Kok bisa pak Martin, bukannya ibu Mutiara yang meminta ibu Marlina menjauhkan Rose dari Steven?" sambar pak Haswan, mengingat kedua besannya pernah menceritakannya, itulah salah satu alasan mereka sepakat menikahkan Rose dengan putra mereka dengan cepat.


"Saya juga bingung memikirkannya pak Haswan. Tapi kami sudah menyelesaikannya dengan memperdengarkan rekaman yang pernah kita dengar bersama itu." sahut Martin mengingat apa yang ia lakukan saat itu bersama.isterinya pada.Steven dan ibunya.


"Saya juga.tidak tahu, apakah pak Farid tahu atau tidak bila isteri dan putranya itu datang melamar berdua. Menurut kebiasaan kita, harusnya kedua orang tua dari laki-laki itu harus.datang bila masih hidup. Seperti yang kita lakukan," ucap Martin menatap kedua besannya.


"Saya rasa pak Farid tidak tahu pak Martin," duga Haswan. "Tapi apa maksudnya ibu Mutiara melakukan itu? Apa beliau ingin bermain-main dengan kesakralan pernikahan?" ucapnya sambil berfikir.


"Kita tidak tahu apa maksud beliau Pak. Semoga saja setelah ini, Steven tidak mendekati Rose lagi setelah mendengar rekaman itu. Dan kau nak Reyn, Ayah menitipkan Rose padamu sebagai isterimu. Tidak tahu kenapa, Ayah masih khawatir saja, takut Steven atau ibunya itu berulah lagi, tapi semoga saja tidak." ucap Martin sedikit cemas.


"Oh ya, bagaimana kalian di sekolah? Apa belajar mengajar kalian lancar?" tanya Martin lagi, sudah hampir dua bulan pernikahan putrinya dengan Reyn, ia belum sempat menanyakan situasi mereka disekolah.


"Bagaimana guru BK itu bisa mencurigai kalian?" Haswan menatap Reyn, sangat penasaran kenapa hal itu bisa cepat terendus, padahal setahunya mereka hanya memberitahukan kepala sekolah dan bendahara sekolah saja.


"Pertama, aku memberikan sebotol air mineral karena kasihan Rose kehausan waktu itu dan guru BK mengetahuinya. Kedua, guru BK melihat pak Kasim mengantar jemput Rose dengan mobilku. Aku tidak berfikir sampai kesitu saat itu Pa" jelas.Reyn mengingat pertemuannya dengan sang guru BK waktu itu.


"Yang Reyn khawatirkan sih kredibilitas sekolah Pa kalau sampai pernikahan ini terkuak, para orang tua dan masyarakat luas bisa saja tidak lagi mempercayakan putra-putri mereka bersekolah disana."


"Dan kasihan juga Bapak kepaala sekolah dan Bendahara sekolah kalau ini ketahuan, mereka bisa terseret," ucap Reyn menatap ayahnya.

__ADS_1


Semua terdiam, apa yang dikatakan Reyn memang benar. Masalah besar sudah siap menanti didepan mata bila pernikahan itu mencuat kepermuakaan. Itulah yang di khawatirkan walau nekat meneruskan pernikahan putra putri mereka.


"Maafkan kami nak Reyn, Pak Haswan dan ibu Sarina. Karena ingin menolong kami, kalian diperhadapkan pada situasi sulit seperti sekarang ini," ucap Martin merasa sangat tidak enak.


"Tidak perlu minta maaf pak Martin, ini sudah kesepakatan kita bersama, jadi kita akan tanggung bersama pula. Reyn juga tidak keberatan sejak awal akan pernikahan ini, dan segala dampaknya juga sudah kita fikirkan sama-aama. Bukan begitu Reyn?" Haswan menatap Reyn putranya.


"Iya, Papah benar Yah. Aku juga sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ini juga mauku menerima pernikahan itu, bukan karena paksaan," Reyn memandang pada kedua mertuanya yang masih terlihat tidak nyaman.


"Bagaimana kalau kau mengundurkan diri saja dari sekolah itu Reyn, pokus saja pada pekerjaanmu di perusahaan beras," ucap Haswan hati-hati memberi ide. Ia tahu, mengajar dan menjadi guru adalah cita-cita Reyn sejak kecil selain belajar sebagai pembisnis cilik yang diturunkan dari keluarganya.


"Aku memang sudah memikirkannya Pa." Reyn kembali memamdang pada ayahnya. "Aku memang menunggu Papa dan Mama, Ayah dan Bunda juga datang kemari untuk membicarakan hal ini."


"Senin nanti aku akan berusaha membicarakan pengunduran diriku pada kepala sekolah. Aku tidak yakin beliau bisa menerima pengunduran diriku, karena tidak ada guru Biologi pengganti lagi. Di sekolah hanya ada tiga guru biologi yang menangani dua puluh empat kelas. Dan aku khusus menangani empat kelas yang ada dikelas XII IPA, pihak sekolah memberiku tanggung jawab untuk meningkatkan nilai siswa-siswi pembelajaran tahun ajaran baru ini supaya bisa lulus dengan nilai lebih tinggi dari siswa-siswi yang lulus tahun lalu."


"Kok diem, pasti ngomongin Rose ya?"" gadis itu tiba-tiba muncul dari arah dapur membawa mangkuk kaca dan beberapa mangkuk kecil dalam nampan ditangannya..Bertepatan dengan masuknya dirinya, mereka semua langsung menghentikan obrolannya.


"Kau itu Rose, bikin kaget saja," ucap Marlina yang tengah serius mendengar obrolan yang disampaikan Reyn.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2