
Rose mundur beberapa langkah kebelakang hingga mentok pada dinding kamar mandi dibelakangnya, sementara tangannya masih tetap menutupi area dua aset berharganya.
"Kenapa nggak pake celana sih Mas?" Rose memicingkan matanya merasa ngeri lalu kembali terpejam, saat si belalai dan sepasang telur dinosaurus itu seakan melambai padanya ketika Reyn berjalan mendekatinya.
Lutut Rose sedikit gemetar, rasa gelisah, takut, cemas, malu, ngeri, serem, semuanya berpadu jadi satu membuat gadis itu bingung harus bereaksi seperti apa.
"Apa kau takut?" tanya Reyn selembut mungkin, mengikis jarak diantara mereka.
Rose membuka matanya sembari mengangguk kikuk menatap kewajah Reyn, tidak berani melirik kebawah lagi.
"Jangan takut, itu tidak semenakutkan yang kau kira," Reyn menunduk, menurunkan wajahnya hingga bibir keduanya saling bertemu. Rose membeku, saat dirasanya sentuhan basah nan lembut itu kembali ia rasakan, setelah pernah melakukannya terakhir kali dikolam renang kala itu dengan dalih belajar.
Reyn menarik tubuh Rose masuk dalam dekapannya, menahan tengkuk wanitanya untuk memperdalam pagutannya yang semakin menuntut. Perlahan, dibawanya tubuh mungil itu kembali merasakan guyuran air shower yang menyejukan sore itu.
"Mas, aku masih kecil," Rasa takut itu masih membayang, hingga Rose berusaha mencari alasan, setelah Reyn melepas tautan mereka untuk memberi ruang bagi keduanya menghirup oksigen. "Mas beberapa kali bilang begitu 'kan?" ucapnya lagi mengingatkan.
"Itu dulu. Sekarang kau sudah besar." kilah Reyn, laki-laki itu tahu bila Rose berusaha mencari alasan saja, dan dirinya tidak akan membiarkan itu terjadi setelah ia menahan hasratnya sekian lamanya.
Lutut Rose semakin gemetar, alasan apalagi yang harus coba ia lontarkan supaya lepas dari situasi mendebarkan itu.
"Hiks! Hiks!! Hiks!" Rose seketika menangis. Reyn terpana melihatnya ditambah lutut Rose yang saling berantukan satu sama lain karena gemetar.
Merasa tak tega, Reyn meraih handuk kimono milik isterinya, membalut tubuh mungil itu setelah mematikan shower, lalu menggendongnya keluar dari kamar mandi, sementara Rose menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya itu.
"Pergi kemana keberanianmu ketika menggunakan lingerie waktu itu? Heum?" ledek Reyn sembari mengulum senyum.
"Jangan meledekku!" pekik Rose sembari menggigit dada Reyn keras.
"Haduh! Sakit Rose," bohong Reyn sambil terkekeh.
"Tunggu disini, Mas ambilkan pakaian ganti supaya kau tidak kedinginan," Reyn menurunkan Rose ditepi pembaringan. Rose menggeleng rusuh, sepasang tangannya semakin erat memeluk leher Reyn membuat laki-laki itu bingung.
"Apa yang kau inginkan? Heum?" Reyn menatap Rose yang masih membenamkan kepalanya pada dada polosnya, tentu saja sampai kebawahpun polos, ia belum sempat membalut tubuhnya sendiri karena mengurus kemanjaan isteri bocilnya. Itu terlebih dahulu.
"Tidur," gumam Rose hampir tidak terdengar. Gadis itu masih setia menyembunyikan wajahnya didada suaminya.
"Tidur?" Reyn berfikir sesaat, bukannya ini masih sore, batinya.
"Jangan banyak tanya Mas, lakuin aja yang Rose katakan!"
???
__ADS_1
Reyn tersentak, tentu saja ia kaget, kenapa Rose tiba-tiba berubah judes. Dan tentu saja ia tetap sabar melayani keinginan sang isteri bocilnya itu.
"Begini?" Reyn membaringkan tubuh Rose dengan hati-hati, berharap ia tidak melakukan kesalahan.
Gadis itu mengangguk. "Pelukin Rose lagi. Dingin," rengeknya manja.
Reyn ikut masuk kedalam selimut, memberi pelukan hangat sesuai permintaan Rose. Sapuan nafas hangat didada bidangnya, membuat sesuatu yang sempat mengantuk dibawah sana mulai menggeliat-geliat kegerahan.
"Jon, jangan nakal, jadi bocah yang kalem dulu, oke!" hardik Reyn yang mulai sakit kepala.
"Siapa Jon Mas?" Rose mendongakan wajahnya, menatap wajah Reyn yang sedikit memerah.
"Lupakan. Tidurlah," Reyn mencium pucuk rambut Rose, lalu merapatkan kembali pelukannya. Dengan mata terpejam, laki-laki itu mengusap lembut punggung Rose yang masih mengenakan handuk kimononya, menghirup wanginya aroma rambut basah Rose yang belum sempat dikeringkan.
Samar-samar, Reyn merasakan ada sesapan lembut pada pucuk dadanya. Semakin lama, rasa itu semakin kuat, menyalurkan gelenyar-gelenyar hasrat keseluruh sarafnya.
"Siapa yang mengajarimu seperti itu Rose, sshh..." suara desisan itu keluar begitu halus dari bibir Reyn yang bergetar.
Tidak ada jawaban, dan Rose merasa tidak perlu menjawabnya. Ia terus mengikuti naluri kewanitaannya, sedikit mengangkat wajahnya dan berpindah kesisi yang lain, menyesap pucuk dada Reyn berikutnya.
Laki-laki itu kembali melenguh nikmat sambil terpejam, merasakan sensasi yang diciftakan bibir mungil sang isteri bocilnya yang tidak pernah ia duga bisa.melakukannya.
Reyn-pun tidak tahu kapan tepatnya Rose naik ketubuhnya, menyentuh bibirnya dan memberi lum@tan-lum@tan lembut disana.
Dipandanginya sesaat wajah Reyn.
"Kenapa melihatku seperti itu? Heum?" gumam Reyn sedikit mendes@h.
"Apa wajah tampan ini punya Rose?" Jemari Rose mulai merambah, menyentuh setiap inchi wajah Reyn yang sudah berkabut. Laki-laki itu hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Apa kotak-kotak berotot ini juga punya Rose?" Tangan Rose berpindah, kembali menjelajah dan menekan-nekan pelan pada dada hingga perut Reyn yang terasa keras di ujung jari-jarinya.
Merasakan sentuhan jemari Rose bak pijatan, juga pertanyaan menggemaskan dan suara yang terdengar manja itu, Reyn dengan gemes menarik tangan Rose dan membawa ke suatu tempat.
"Ini si Joni, dia juga punyamu Rose. Ayo dielus." Reyn memberi tatapan menggoda, hampir saja ia tergelak melihat wajah Rose yang menegang seketika.
"Mas," tangan Rose meraba dan sedikit menekan sambil menduga-duga siapa si Joni yang bersembunyi dibalik selimut, nama yang beberapa kali disebut suaminya itu.
"Mas!" Rose memekik kaget. Jantung gadis itu hampir saja copot saat yang ia pegang mengacung ke atas akibat sentuhannya yang sedikit brutal. Ia gegas bangkit dari atas tubuh Reyn, tapi sayang, ia kalah cepat dari gerakan laki-laki dewasa itu
"Mau lari kemana? Heum?" Rose menatap wajah Reyn yang sudah mengungkungnya, lidahnya mendadak kelu. Nafas gadis itu terdengar memburu karena kaget menyadari siapa si Joni yang dimaksud.
__ADS_1
...🍓🍓🍓...
"Mbok, saya pamit pulang dulu ya, tolong sampaikan pada pak Reyn juga non Rose."
"Iya, Pak." angguk mbok Dira." Wanita paruh baya itu ikut beranjak, mengantarkan pak Kasim hingga ke pagar depan rumah. Ia kembali masuk setelah mobil yang dikendarai pak Kasim menjauh.
Mbok Dira menoleh ke atas, belum ada tanda-tanda.kedua majikannya turun untuk makan malam. Dan sebagai asisten rumah tangga, ia sangat menghargai privasi sang majikan, sehingga ia hanya bisa menunggu sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan lainnya yang belum beres.
"Eumph," Rose melenguh. Sesapan pada pucuk-pucuk perbukitannya membuat gadis itu menggelinjang nikmat. Sensasi yang diciftakan Reyn telah membuatnya melambung tinggi hingga ke awan-awan.
Tangan Rose mencengkram kuat, mengacak rambut Reyn yang baru terpangkas rapi beberapa hari yang lalu, membenamkannya pada lembah perbukitannya, seolah takut bila suaminya itu menghentikan aksinya secara sepihak.
"Mas Reyn... Aghh!" lenguhan seksi itu kembali terdengar, semakin membakar hasrat Reyn yang sudah memanas.
"Mas mau nyangkul, boleh?"
Rose mengangguk, walau sebenarnya ia tidak mengerti maksud perkataan Reyn. Segala perlakuan manis Reyn telah membius seluruh alam sadarnya.
"M-mas..." Rose menggigit bibir bawahnya, merasakan sesuatu yang tumpul menyentuh pangkal sel@ngkangannya.
"Mas akan melakukannya dengan selembut mungkin dan hati-hati," bisik Reyn dengan nafasnya yang semakin memburu.
Satu hentakan Reyn, membuat Rose memekik histeris. Tanpa sengaja kuku-kuku tajam gadis itu menancap pada kulit punggung Reyn. Wajah laki-laki itu sedikit meringis merasakan perih pada kulitnya. Pergerakan keduanya terhenti sesaat.
Reyn kembali *****@* lembut bibir pink yang selalu menggodanya itu. Sentuhan-sentuhan manis penuh kelembutan kembali membuat Rose rileks, hasratnya kembali menggebu seiring rem@san yang mengg@irahkan pada perbukitannya.
"Mass, hhh..." Rose melenguh manja, merasakan penyatuan yang dilakukan Reyn. Rasa perih itu perlahan sirna, kini telah berganti sejuta rasa nikmat yang tidak tergambarkan dengan ungkapan kata.
"Rose... Hhhh!" Peluh telah membanjiri tubuh Reyn yang berkerja keras mencangkul agar lahan garapannya gembur dan siap ditaburi benih unggulnya.
Syair-syair asmara itu kini terdengar saling bersahut-sahutan. Rose sudah melupakan segala rasa malunya. Sekarang hanya ada Reyn memenuhi segala imajinasi liarnya, begitu pula dengan Reyn.
"Rose! ....hhh!"
"Mas!...Eugh!"
Keduanya ambruk bersama. Menyisakan deru napas yang saling berkejaran.
"Bersihin dikamar mandi dulu yuk," bisik Reyn ditelinga isterinya itu. Setelah mampu bergerak dari rasa penatnya beberapa menit kemudian.
"Rose lelah, Mas," ungkanya tak berdaya.
__ADS_1
"Mas yang gendong ke kamar mandi." Reyn bangkit, lalu mengangkat tubuh polos itu keluar dari dalam selimut. Rose hanya pasrah, tenaganya telah terkuras habis, untuk membuka mata saja ia sudah tidak sanggup.
Bersambung...👉