
"Bu Sarina serius?" Marlina menghentikan aktifitasnya memotong sayur, pengakuan wanita itu sungguh mengejutkannya. Ia menatap besannya itu dengan pandangan yang begitu sulit mempercayai apa yang ia dengar.
"Benar bu Marlina, saya serius. Maafkan kami, karena baru bisa cerita sekarang, bukan maksud menyembunyikan apapun, tapi belum berkesempatan saja," sahut Sarina balas menatap.
"Kita sekarang sudah jadi satu keluarga, jadi saya ingin menceritakan semuanya," imbuhnya. Ia kembali melanjutkan meracik bumbu daging yang akan ia masak untuk menjadi menu makan malam mereka beberapa jam lagi.
"Seperti kata saya tadi Reyn memang bukan anak kandung kami. Reyn adalah anak majikan kami, pasangan pak Heru Hamdani dan ibu Heni. Saya berkerja sebagai asisten rumah tangga mereka, khusus merawat ibu Heni yang sering sakit-sakitan ketika itu. Dan suami saya, dia awalnya pedagang asongan yang mangkal di terminal, menjual jajanan."
"Oh, itu rupanya kenapa mas Reyn nggak ada mirip-miripnya sama Papa dan Mamanya," guman Rose yang tidak sengaja mendengar obrolan antara ibundanya dengan sang mama mertua. Ia baru saja dari kamarnya dan hendak mengantarkan handuk pada suaminya.
"Melihat keuletan suami saya, pak Heru Hamdani memberi bantuan modal untuk membuka satu kedai kecil khusus jajanan khas Kaltim, kata beliau usaha itu cukup bagus dan sangat menjanjikan bila tekun dilakoni," ucap Sarina tersenyum kecil.
"Benar saja, dalam dua tahun, suami saya bisa mengembangkan tiga cabang lagi, hingga sekarang kami sudah memiliki dua puluh enam cabang kedai jajajan di pulau kita tercinta ini." Marlina ikut tersenyum mendengar penuturan besannya.
"Kembali ke obrolan awal kita--," Sarina kembali memandang pada Marlina yang sedang menumis sayuran yang telah ia bersihkan sebelumnya.
"Saya tidak bisa punya anak setelah pengangkatan rahim. Penyakit kanker itu sudah merenggut bayi saya yang baru saja berusia satu bulan dalam kandungan.
"Syukurnya, ibu Heni adalah majikan yang sangat baik hati." Sarina tersenyum, ada rasa sedih mengingat masa.lalu yang telah menjadi kenangan. "Beliau yang membiayai operasi, hingga saya benar-benar sembuh dan pulih. Karena saat itu suami saya masih menjadi pedagang asongan. Padahal saat itu, beliau juga sedang menderita sakit yang serius." Sarina kembali tersenyum getir.
__ADS_1
"Penyakit Lupus yang diderita Ibu Heni merenggut nyawanya saat putranya yang bernama Reyn Hamdani baru berumur dua tahun, masih sangat kecil."
Bola mata Sarina berkaca-kaca mengingat saat terakhir ibu kandung Reyn itu menitipkan putra semata wayangnya ketika akan berangkat kerumah sakit, memintanya untuk menjaga Reyn bayi seperti anaknya sendiri, seolah telah memiliki firasat kalau dirinya tidak akan bisa kembali pulang kerumah untuk membesarkan putranya.
"Penyakit Lupus? S-saya baru mendengarnya?" ucap Marlina terbata-bata, hatinya merasa terharu mendengar kisah sang besannya itu.
"Penyakit Lupus adalah salah satu jenis penyakit autoimun kronis yang menimbulkan peradangan pada beberapa bagian tubuh, seperti pada sendi, kulit, ginjal, hingga otak. Penyakit ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh melawan sel sehat dalam tubuh manusia itu sendiri." terang Sarina, mengingat penjelasan dokter kala itu.
"Mengerikan sekali ya,"" Marlina sedikit meringis. Yang ia tahu, sistem kekebalan tubuh biasanya akan memberi perlindungan ekstra pada tubuh manusia supaya kebal atas segala serangan berbagai jenis penyakit dari luar yang ingin masuk kedalam tubuh, tapi ini kok sebaliknya, batinya merasa.ngeri.
"Sepeninggal ibu Heni, pak Heru Hamdani sering kali dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Mereka kasihan melihat pak Heru yang hanya jadi orang tua tunggal, tidak memikirkan kesehatannya sendiri, hanya sibuk berkerja selain memperhatikan Reyn putranya."
"Mereka selamat?" Marlina nampak menegang, menanti jawaban selanjutnya.
"Sayangnya tidak bu Marlina, tidak ada satupun nyawa yang selamat dalam kecelakaan Pesawat ZXX Air itu. Suami saya turut datang bersama beberapa karyawan pak Heru lainnya ke lokasi jatuhnya pesawat yang ada dihutan itu. Ia melihat serpihan pesawat dan bagian-bagian tubuh yang sudah tidak bisa dikenali lagi."
Marlina mendesah, ia teringat 18 tahun silam saat Rose baru berusia 1 tahun, pesawat yang disebutkan Sarina itu jatuh disalah satu pulau dihutan yang menjadi perladangan warga, dan itu menjadi berita utama dilayar kaca dua bulan lamanya hingga pemerintah pun turun tangan karena lebij dari 300 jiwa yang meninggal termasuk kru pesawat.
"Kasihan sekali nak Reyn, usia dua tahun ditinggal meninggal ibunya, usia delapan tahun ditinggal ayah dan kakek neneknya," guman Marlina sedih.
__ADS_1
Air mata Rose menggenang dipelupuk matanya, ia buru-buru menyekanya dengan ujung-ujung jarinya, membayangkan betapa sedihnya bila ia ada diposisi itu. Mungkin dirinya yang cengeng tidak akan sanggup batinnya. Sedari tadi gadis itu masih menguping disana.
"Kehilangam ayah, kakek, dan neneknya, membuat Reyn kecil lebih pendiam. Anak itu sering terbangun ditengah malam karena teriakannya sendiri memanggil ayahnya."
"Setelah ibunya tiada, Reyn memang lebih banyak tidur bersama ayahnya, dibandingkan tidur sendiri di kamarnya. Mungkin hal itu yang membuatnya sering bermimpi tentang ayahnya, duga Sarina.
"Setelah bagian-bagian tubuh keluarga pak Heru berhasil diidentifikasikan oleh pihak rumah sakit lalu dikebumikan di sebelah makam ibu Heni, pengacara keluarga pak Heru datang menemui saya dan suami untuk membicarakan wasiat."
"Jujur saja kami kaget, saat melihat nama kami tertera sebagai orang tuan angkat Reyn. Dan segala keputusan perusahaan harus ditanda tangan kami selama Reyn belum dewasa."
"Memikirkan saja membuat kami pusing, apalagi menjalaninya. Karena saya dan suami hanya berijazah Sekolah Menengah Pertama saja. Kami sangat dan sangat tidak paham tentang perusahaan."
"Bersyukurnya, mendiang pak Heru dan isterinya, adalah orang yang baik, demikian pula dengan kedua orang tuanya. Tidak sedikit orang pernah menerima kebaikan dan uluran tangan dermawan dari beliau termasuk saya dan suami, juga para karyawannya."
"Jadi para karyawan yang rata-rata orang baik itu melakukan pekerjaan mereka masing-masing dengan sangat baik sesuai tanggung jawabnya, jadi kami jarang sekali menemui masalah yang berarti. Demikiaan pula pak Boni, pengacara keluarga mendiang pak Heru, sangat banyak membantu kami dalam hal hukum perusahaan yang tidak kami pahami." terang Sarina panjang lebar.
"Rose, ngapain disini?" Reyn mencolek punggung isterinya yang masih setia menguping.
"Ih, mas Reyn ngagetin aja." gerutu Rose sembari menoleh. Reyn buru-buru membekap mulutnya yang hendak berteriak melihat suaminya yang hanya mengenakan kain segitiganya saja.
__ADS_1
Bersambung...👉