My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
94. Insiden Es Krim


__ADS_3

"Bagaimana kak Bram? Jadi terima tawaranku semalam untuk kerja dikantor?"


Bram menggeleng pelan. "Nggak. Sepertinya aku lebih memilih tawaran om Haswan aja, mengurus gerai-gerainya yang ada di Samarinda," sahutnya sambil memandangi Reyn yang tengah memangku Rose.


Adik perempuannya itu menyandarkan kepalanya didada suaminya dengan raut lesu karena muntah-muntah di sekolah dan membuat seisi kelas panik.


Bram segera menjemput pulang adiknya itu setelah Norsa menelponnya tadi, karena Reyn hari itu tidak ada mata pelajaran di sekolah sehingga lebih memilih berkantor mulai pagi.


"Kenapa?" Reyn menatap Bram penuh minat, sementara tangannya terus mengusap lembut rambut Rose yang masih setia mรจmejamkan matanya, berusaha mencari rasa nyaman dalam dekapan sang suami.


"Kalau kak Bram mau, aku bisa mengatur kak Bram jadi Marketing Manager, atau Accounting Manager sesuai bidang pendidikan yang kak Bram tempuh di kampus," imbuhnya lagi.


Bram tertawa hambar sambil mengalihkan pandangannya pada air mancur ditengah telaga buatan yang berada dalam taman bunga pacar yang beraneka warna.


"Pertama, aku belum memiliki ijazah sarjana. Kedua, Ayang bidadari bisa muntah kuning bila terus-terusan melihatku ada.disekitarnya. Itu sebabnya aku tidak mau satu kantor dengannya." ungkapnya sambil melamun.


Mendengar ucapan sang kakak ipar yang menyadari sikap dingin Leony dan tidak menyukai kehadiran pemuda itu berada disekitarnya, membuat Reyn tergelak sendiri, sementara Bram mendelik jengkel merasa ditertawai sang adik ipar, sungguh tiada akhlak, gumamnya membatin kesal.


"Puas?" Bram memberi tatapan tajam, tapi malah terlihat lucu dimata Reyn. Menurutnya, kakak iparnya itu sangat tidak cocok bertampang judes, berbeda dengan Leony, perempuan itu sangat serasi dengan lakon judesnya.


"Oh, masih belum puas?" Bram yang kesal ditertawai langsung mengambil tas ransel, dan menggendongnya pergi tanpa pamit.


"Mau kemana? Lalu Rose bagaimana ini?" pekik Reyn kaget, ketika kakak iparnya pergi begitu saja dengan terburu-buru.


"Udah! Nggak usah manja minta dibantuin terus! Kau kan udah ada disini untuk mengurus adikku itu! Itu semua juga gara-gara perbuatanmu yang membuat bayi dalam perutnya, jadi kau harus bertanggung jawab mengurusnya! Aku ada urusan penting! Ini waktunya menjemput pulang calon anak sambungku!" Bram balas memekik dari kejauhan sambil menghidupkan motornya lalu segera meninggalkan kediaman adik iparnya itu.


...๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“...


Setelah cukup lama mengamati gerombolan anak-anak berseragam pink-hitam kotak-kotak yang keluar dari pintu utama, senyum bahagia Bram akhirnya mengembang, saat pandangannya menangkap presisi Clara tengah berlari-lari riang kearahnya dengan kuncir 2 ekor kudanya yang melambai-lambai diterpa angin.


"Papi Blam udah lama nungguin Clala?" tanyanya dengan napas memburu. Wajah gadis kecil itu memerah dan peluh membanjiri wajahnya yang terpapar sinar matahari.

__ADS_1


"Belum, baru 15 menit," Bram berjongkok sembari tersenyum lalu menoel hidung bangir gadis kecil itu, dan tidak lupa mengelap keringat Clara dengan saputangan miliknya.


"Putri peri Mariposa haus?"


Clara mengangguk cepat.


Bram menurunkan tas ranselnya dan mengambil sekotak es krim berukuran jumbo. Clara tidak sabar memandanginya. Begitu tutupnya berhasil dibuka, ia segera menyendoknya dengan sendok yang telah diberikan Bram padanya.


"Heum! Enak! Segar! Lezaaaat!" pekiknya girang dan terus menyuap dengan lahap. Bram tersenyum puas melihatnya.


"Clara!"


Bram menoleh, begitu pula Clara yang dipanggil namanya. Keduanya sama-sama terkaget kala melihat siapa yang datang menghampiri mereka.


"Kok Mami kecini?" tanya Clara heran. "Bukannya bibi Kliting yang halusnya jemput?" sebutnya pada Sri, asisten rumah tangga sekaligus pengasuh dirinya yang sering dibully oleh Olin, teman sekelasnya.


"Bibi Olin nggak enak badan Sayang, jadi Mami yang jemput pulang."


Kekesalan yang belum selesai sejak semalam pada Bram membuat emosi Leony gampang tersulut menghadapi sikap putrinya yang acuh tak acuh padanya, padahal dirinya rela bela-belain keluar kantor ditengah kesibukannya yang menumpuk.


"Kau lupa?" Leony menatap tajam pada Bram yang masih berjongkok memegang kotak es krim yang tengah dinikmati Clara.


Nyali Bram seketika menciut melihat wajah garang Leony yang seakan ingin menerkam, mencincang, dan ********** habis.


"Bukankah aku sudah memperingatkanmu! Jangan pernah temui Clara dan muncul dihadapanku lagi! Kau membawa pengaruh buruk buat putriku!"


Bram menoleh kesana kemari, mendapatkan semua orang yang masih ramai menjemput putra putri mereka memandang aneh pada dirinya, Leony, dan Clara.


"Tolong, jangan begini Ayang bidadari? Maluuu," gumam Bram berbisik dengan wajah glowingnya yang memerah.


"Berhenti memanggilku seperti itu! Nyebelin!" pekik Leony tidak sekencang sebelumnya, ia sebenarnya merasa risih juga saat menyadari semua mata tertuju pada dirinya dan juga Bram yang berjongkok dihadapannya dan Clara

__ADS_1


"Belhenti malahin Papi, Mi. Papi nggak nakal," lantang Clara sambil memeluk Bram dengan pergerakan melindungi.


"Suami ganteng dan muda gitu jangan diomelin Bu, nanti berpindah ke lain hati," tegur seorang ibu hitam manis sambil berlalu dibelakang Leony, menggandeng seorang anak TK yang ikut memandangi Clara lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum.


Mendengarnya, tentu saja hati Leony semakin geram atas kesalah pahaman wanita itu, seolah dirinya adalah isteri jahat yang sedang menindas seorang suami.


"Ini semua gara-gara kamu!" Leony memelototi Bram. Tanpa sengaja, tangan Leony yang berniat meraih tubuh Clara malah menyambar dan menarik kencang kotak es krim yang dipegang Bram karena gadis kecil itu menghindar, dan... Kotak es krim terhempas kelantai semen yang kotor.


"Mami!" pekik Clara kaget, melihat es krimnya yang teronggok mengotori lantai dan sebagian sepatunya. "Mami nakal!" tangis gadis kecil itu meledak.


"S-sabar Sayang, nanti kita beli lagi," panik Bram berusaha menenangkan Clara.


"Clara, Mami minta maaf. Mami benar-benar nggak sengaja Sayang," Leony berjongkok dan berusaha memeluk putrinya, namun gadis itu menepis tangan ibunya dengan kesal.


"Nggak boleh gitu Clara, Mamimu nggak sengaja," Bram berusaha membantu supaya gadis itu tidak marah pada ibunya.


"Inikan yang kau inginkan? Supaya putriku tidak menyukaiku? Kau sengaja merebut perhatiannya dariku. Sekarang pergi, aku tidak mau melihatmu lagi." gumam Leony pelan penuh penekanan. Dirinya tidak mau orang-orang disekitarnya kembali memperhatikan mereka.


"Kau salah paham Ayang bidadari, aku tidak bermaksud begi--"


"Stop. Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikanmu itu. Aku sangat muak mendengarnya. Dan pergi sekarang juga dari sini." Leony sudah tidak bisa menahan emosinya. Ia menarik dengan paksa tangan kecil Clara yang sedang memeluk Bram.


"Clala ga mau, Clala mau papi Blam."


"Berhenti memanggilnya seperti itu Clara, dia bukan papimu." bentak Leony sambil menyeret paksa tangan Clara.


Bram terlihat bingung, dirinya yang diusir pergi tapi kenapa Leony yang malah pergi meninggalkannya dengan membawa Clara yang terus meronta minta dilepaskan.


Pemuda itu gegas berdiri dari jongkoknya lalu menyusul Leony yang sudah masuk kemobilnya bersama Clara.


Bersambung...๐Ÿ‘‰

__ADS_1


__ADS_2