My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
79. MEMOHON BANTUAN


__ADS_3

"Pak Reyn!"


Reyn menghentikan langkahnya bersama lawyernya. Ia melihat Farid yang memanggilnya tergopoh-gopoh mendekatinya setelah meninggalkan isterinya di lobi kantor polisi.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya pria itu meminta izin sembari mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan. Napasnya sedikit terengah-engah karena terburu-buru.


"Tentu saja bisa, Pak. Dimana? Disini panas," Reyn menebarkan pandangannya. Ia masih sanggup berdiri dibawah terik matahari siang itu, tapi melihat mantan kepala daerah-nya, Reyn tidak tega pada pria yang terlihat lelah itu.


Bagaimana kalau disana saja?" Reyn menunjuk salah satu kursi taman yang mirip seperti gasebo, tidak jauh dari mereka berdiri.


"Baik, Pak." Farid setuju. Ketiganya gegas menuju tempat yang ditunjuk. Reyn menyempatkan diri menelpon sopir pribadinya, meminta tolong pria itu membelikan minuman dingin dikantin yang ada disekitaran kantor polisi.


"Silahkan Pak," Reyn mempersilahkan Farid mengambil tempat duduknya lebih dulu. Rasa hormatnya pada pria itu tidak pernah luntur sekalipun saat ini sudah tidak menjabat lagi.


"Terima kasih Pak Reyn," Farid segera duduk, setelah kembali mengelap keringat didahi dan pucuk hidungnya, pria itu kembali menatap Reyn juga lawyer Reyn yang telah duduk didepannya dengan meja pembatas diantara mereka.


"Ini minumnya Pak," pak Kasim menyodorkan plastik yang ia bawa.


"Pak Kasim sudah ambil?" Reyn memandang pada sopirnya itu.


"Sudah Pak." sahut pria itu sambil tersenyum.


"Terima kasih, pak Kasim boleh tunggu di mobil lagi."


"Baik, sama-sama Pak," pak Kasim segera undur diri.


"Silahkan diminum dulu pak Farid, pak Nainggolan." Reyn menyodorkan sebotol minuman mineral dan sekaleng minuman dingin didepan dua pria berumur yang duduk bersamanya.

__ADS_1


Ketiga pria itu sama-sama meraih kaleng minuman dinginnya, untuk melegakan dahaga disiang terik itu sebelum berbicara lebih lanjut.


"Pak Reyn, saya boleh meminta bantuan?" Farid kembali membuka suaranya yang terdengar pelan. Ia menatap Reyn dihadapannya, ada rasa ragu untuk mengatakan maksudnya, tetapi kebutuhannya yang mendesak memaksanya untuk tetap mengungkapkan niatnya.


"Katakan saja Pak, tak perlu sungkan. Saya akan bantu, selama saya mampu melakukannya." Reyn turut memandang Farid penuh perhatian.


"Begini Pak--," Farid merapikan duduknya, walau setelah bergerak sedikit kekiri dan kekanan, posisinya tetap kembali pada posisi semula, hanya untuk membuat dirinya percaya diri saja.


Pria itu begitu malu untuk meminta bantuan pada orang yang telah dijahatin isterinya. Tapi apa daya, kondisinya sekarang memang memaksanya untuk menyingkirkan dahulu rasa malunya, ia benar-bemar tidak bisa melakukan apapun bila tidak berusaha mencari bantuan.


Reyn memandang sang mantan kepala daerah-nya itu. Ia dan lawyernya nampak duduk tenang menunggu apa yang akan disampaikan pria didepan mereka.


"Saya menjual rumah pribadi saya. Saya sudah menawarkannya ke beberapa sahabat juga kenalan. Mereka belum bisa membelinya, bukan karena tidak tertarik, tapi belum ada dana tunai sesuai harga yang saya buka,"


"Bagaimana kalau pak Reyn membelinya. Saya perlu dana untuk biaya perobatan Steven yang masih pada tahap fisioterapi dan pemulihannya. Juga--, membayar ganti rugi hasil mediasi kita hari ini." Jujur Farid.


"Biar bagaimanapun, saya tidak bisa membiarkan isteri saya di penjara. Saya akan berupaya melakukan apapun, selama masih diberikan kesempatan dan masih ada jalan isteri saya itu untuk tidak mendekam di penjara." sambung pria itu. Ia kembali mengusap keringatnya yang merembes didahinya. Sudah kesekian kalinya ia melakukannya, udara panas akibat teriknya matahari juga perasaan malu yang campur aduk membuat pria itu mudah mengeluarkan keringatnya.


Reyn menoleh kearah Nainggolan yang duduk bersebelahan dengannya, lawyernya itu hanya merespon dengan anggukan, seolah menyetujui segala keputusan yang diambil oleh kliennya itu.


"Rumah pak Farid itu akan mengingatkan kami pada hinaan yang pernah dilontarkan ibu Mutiara pada ibu mertua saya karena hubungan yang pernah terjalin antara Steven dan isteri saya. Kemungkinan besar isteri saya tidak setuju," Reyn menatap wajah Farid yang seketika berubah tak nyaman dan merasa bersalah mendengar ucapannya.


"Saya tahu Pak. Dan saya dengan tulus benar-benar memohon maaf atas apa yang pernah dikatakan isteri saya pada waktu itu, bahkan segala tindakannya yang ia lakukan sampai terjadi masalah besar dikota kita ini. Saya tahu, semua yang telah terjadi ini tidak bisa termaafkan. Dan di ruang mediasi tadi, pak Reyn malah menarik semua tuntutan keluarga pak Reyn pada isteri saya, saya sungguh merasa malu, karena pihak keluarga pak Reyn tidak membalas apa yang telah isteri saya lakukan."


"Lalu--, saya dengan tidak tahu malunya ini, datang meminta bantuan pada keluarga yang pernah isteri saya perlakukan tidak baik." Laki-laki itu sedikit menundukan kepalanya dengan suaranya terdengar sedikit bergetar, menahan getir yang membuncah dalam dadanya.


"Selain datang pada pak Reyn saya belum tahu harus kemana lagi. Mungkin ada saja orang diluar sana yang mau membeli rumah saya. Tapi, itu butuh waktu karena tidak mudah menjual properti seperti itu. Dan sekarang saya butuh dana yang cepat pak Reyn. Jadi, anggap saya menghiba pada Anda, memohon bantuan Anda pak Reyn, untuk membeli rumah saya." ucap pria itu lebih bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Reyn meneguk salivanya, sikap Farid yang mengorbankan apapun miliknya, termasuk harga dirinya dengan memohon hingga sedemikian, membuat hatinya terenyuh dan tersentuh.


Reyn kembali menoleh kearah Nainggolan, lawyernya itu hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Setelahnya, ia beralih pada Farid yang telah menatapnya kembali dengan penuh harap dalam hatinya.


"Besok siang--, kita bertemu dikantor notaris. Pak Farid silahkan membawa berkas surat-suratnya."


Wajah Farid seketika berbinar, hampir saja ia melonjak kegirangan mendengar perkataan Reyn laksana hujan dimusim kemarau bila tidak ingat usia.


"Pak Reyn serius?" tanya Farid masih belum bisa percaya dengan apa yang ia dengar. Laki-laki itu sampai menegakkan punggungnya yang bersandar pada sandaran kursi dibelakangnya.


"Iya, saya serius pak Farid," Reyn mengulas senyum. Dilubuk hatinya yang terdalam, Reyn merasa bahagia bisa mengembalikan senyum diwajah pria yang hingga saat ini masih ia hargai dan hormati, sosok yang banyak memberi sumbangsih kemajuan perekonomian warga kota dalam kepemimpinannya.


"Kalau begitu saya pamit sekarang, untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Terima kasih pak Reyn, saya senang sekali." Farid gegas berdiri lalu berjabat tangan dengan Reyn, juga Nainggolan. Senyum laki-laki itu terus terkembang karena perasaannya sudah lebih baik, rasa lelahnya menguap begitu saja setelah mendengar kesediaan Reyn membeli rumah pribadinya.


"Sama-sama Pak. Besok orang saya akan memberitahukan pak Farid mengenai waktu dan alamat kantor Notaris-nya."


Reyn dan Nainggolan ikut berdiri, setelah berjabatan tangan mereka melepaskan kepergian Farid yang kembali ke lobi kantor polisi untuk menemui isterinya yang masih menunggu disana.


"Pak Nainggolan, tolong persiapkan berkas-berkas yang diperlukan besok saat di kantor notaris."


"Baik Pak. Saya akan menghubungi sekretatis Leony untuk meminta identitas pak Reyn yang diperlukan dalam penyiapan berkas."


Keduanya beranjak dari sana. Nainggolan tersenyum malu melihat Reyn memungut botol dan kaleng kosong termasuk miliknya.


"Maafkan saya pak Reyn, saya lupa membawa sampah saya." ucap pria itu sambil berjalan disisi Reyn.


"Tidak masalah pak Nainggolan. Saya hanya terbiasa saja tidak meninggalkan sampah disembarang tempat sejak masih kecil. Mama saya akan menghukum," Reyn terkekeh, mengingat kedisiplinan yang diterapkan ibu angkatnya. Ia sering menangis kala itu karena rasa sakit pada telinganya yang dijewer.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2