
Steven memarkirkan motor sportnya disela-sela kendaraan roda dua yang ada di blok B itu. Setelah mencantolkan helmnya, ia merapikan sedikit penampilannya juga rambutnya yang baru dipangkas rapi oleh penata rambutnya.
Beberapa pegawai lalu lalang menyapa dengan senyum ramah mereka.
Begitu memasuki lobi, Steven kembali di suguhkan senyum manis tiga resepsionis disana. "Selamat siang Abang Budaya Kota Tangga Arang," sapa mereka bersamaan dengan tangan menyatu didepan dada.
"Setenar itu kah diriku?" batin Steven tertawa didalam hati. Ia juga melihat beberpa pegawai yang berseliweran disana turut menyapa dirinya dengan senyum ramah.
Steven balas tersenyum. "Selamat siang juga Nona-Nona. Saya ingin bertemu pak Reyn Hamdani, pemilik perusahaan ini?" imbuhnya, mendekati meja resepsionis.
"Abang Budaya silahkan naik ke lantai 8, disana nanti akan bertemu dengan sekretaris Leony. Beliau yang akan mengantarkan Abang ke ruangan pak Reyn. Lift-nya ada disebelah sana," terang seorang resepsionis yang berdiri di sebelah kiri sambil menunjuk lurus kedepan.
Steven mengangguk, sebenarnya ia sudah mengetahuinya dari security yang ada di pos jaga tadinya. Ia hanya berbasa-basi saja karena para resepsionis itu telah menyapanya lebih dulu.
"Baik, terima kasih," Steven kembali tersenyum, lalu beranjak.
"Tunggu Abang!" panggil resepsionis itu lagi
Steven berhenti lalu berbalik. "Ya, ada apa?" tanyanya.
"Boleh minta poto bareng dengan kami bertiga? sebentar saja," ucap resepsionis itu, berharap permintaannya tidak di tolak.
Steven tersenyum. "Boleh," lalu mendekati ketiga resepsionis itu lagi, tidak ingin membuat ketiganya kecewa.
Ketiga resepsionis itu gegas menghambur keluar dari belakang meja, tanpa aba-aba langsung memepeti Steven dengan gaya norak khas para ABG, segala sikap sopan bersahaja yang biasa mereka tunjukan pada setiap pegawai maupun tamu Perusahaan menguap hilang begitu saja. Steven hanya bisa tersenyum, baginya itu sudah biasa ia temui selama dinobatkan menjadi Abang Budaya kota kelahirannya ini.
Seperti biasa, Steven menampilkan senyum terbaiknya saat para resepsionis itu mengambil gambar mereka berempat dan melakukan beberapa kali jepretan.
"Abang, boleh minta poto berdua aja ya?" pinta seorang resepsionis disebelah kanan Steven.
__ADS_1
"Boleh, tapi satu kali ini aja ya. Saya nggak enak, nanti dianggap ganggu'in para pegawai disini, ini kan masih jam kerja?" ucap Steven halus, supaya lawan bicaranya itu tidak tersinggung.
Sebenarnya ia merasa enggan kalau hanya diajak poto berdua dengan seorang perempuan, itu membuatnya teringat pada Rose yang tidak pernah mau di ajak poto berdua dengannya. Kalaupun potonya dan Rose ada didalam ponselnya, itu hanya terlihat samping atau belakang gadis itu saja, karena ia melakukannya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Rose yang ketika itu masih berstatus kekasihnya.
Resepsionis itu mengangguk setuju, ia gegas merapat ke tubuh Steven lalu memeluk pinggang pria ganteng itu tanpa izin. Steven membiarkannnya, dengan begitu ia berharap pengambilan gambar mereka cepat selesai.
"Terima kasih banyak Abang untuk kesediaannya," ucap resepsionis itu tersenyum senang. Steven hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Setelah merasa cukup dengan senyum basa-basinya, Steven gegas berbalik menuju lift yang ada diseberang meja resepsionis.
Sebelum pintu lift tertutup, Steven sempat melihat ketiga resepsionis itu tengah berebutan melihat layar ponsel yang digunakan untuk menjepret. Pemuda itu kembali termenung seorang diri sambil melihat monitor yang menunjukan angka yang terus berubah.
Ting!
Begitu lift terbuka, Steven telah disambut seorang wanita cantik berwajah lembut dengan senyum ramah terkembang diwajahnya. "Selamat datang mas Steven Jhon. Perkenalkan saya sekretaris Leony." ucapnya sopan dengan menyatukan kedua tangan didepan dada.
"Saya akan mengantarkan Anda menemui pak Reyn di ruangannya," imbuhnya lagi masih tersenyum, ketika melihat pemuda itu terpaku memandang dirinya.
Dengan langkah gemulainya bak seorang model, sekretaris Leony lalu melangkah lebih dulu diikuti Steven yang berjalan dibelakangnya dengan berbagai asumsi dalam benaknya.
Steven mengakui bila para pegawai di Perusahaan ini memang ramah-ramah. Namun ia merasa sedikit aneh, karena dirinya di terima dengan sangat baik disini, bahkan terkesan lebih istimewa dengan adanya penyambutan sekretaris Leony. Ia yakin bila ini bukan karena dirinya sebagai Abang Budaya Kotanya, karena ia kemari datang atas nama pribadi.
Tidak seperti dilantai dasar, dilantai 8 ini terkesan tenang dan senyap. Steven mengedarkan pandangannya kesegala penjuru, tidak ada seorang pegawaipun yang berseliweran disana selain dirinya dan sekretaris Leony.
Tidak ada obrolan keluar dari mulut keduanya. Steven yang terbiasa mengobrol dengan berbagai kalangan karena jabatan ayahnya sebagai orang nomor satu kota itu, juga dirinya sendiri menjadi ikon pemuda kotanya mendadak merasa sungkan untuk bersuara, padahal ada banyak pertanyaan yang mengganjal dalam benaknya saat ini.
Jantung Steven kembali berdetak tidak beraturan saat sekretaris Leony menghentikan langkahnya tepat didepan pintu dihadapan mereka. Sebentar lagi, ia akan melihat siapa sebenarnya pengusaha yang namanya mirip dengan gurunya itu.
"Mas Steven gugup kenapa?" tanya Leony. Lagi-lagi, wanita cantik itu tersenyum saat melihat Steven mengatur napasnya dibarengi gerakan tangan mengelus dadanya.
"A-apa? T-tidak. S-saya baik-baik saja," Steven yang berpura biasa-biasa saja malah terlihat semakin canggung.
__ADS_1
"Pak Reyn orangnya baik mas Steven. Beliau tidak galak seperti bos pada umumnya," ucap sekretaris Leony, wanita itu mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu.
"Seperti semua pegawai di perusahaan ini, ramah dan bersahabat, begitu pula dengan pak Reyn kami itu," sambung Leony. Wanita cantik itu memberi sedikit keterangan tentang majikannya, supaya tamu yang ia bawa menghadap ini tidak merasa tegang seperti yang tengah ia saksikan saat ini.
"Benar begitu?" Steven menatap sekretaris Leony.
Sebenarnya, bukan karena akan bertemu seorang pemilik perusahaan itu, tapi rasa gugup dan tegang yang ia rasakan lebih pada sosok yang selama ini menjadi teka--teki baaginya, yang sebentar lagi akan terungkap.
"Itu benar," angguk sekretaris Leony lagi dengan senyum manisnya. "Siap masuk sekarang?" tanya wanita itu lagi.
Steven mengangguk tanda setuju. Tapi detak jantungnya saat ini tidak mau berkompromi. Suara ketukan pintu sekretaris Leony membuat Steven semakin menegang saja dibuatnya.
"Masuk!" seru suara dari dalam ruangan.
Suara itu, begitu familiar di indera pendengarannya, Steven buru-buru menghirup oksigen memenuhi rongga dadanya, berharap kejutan apapun di dalam sana akan tetap membuatnya kuat berdiri di atas ke dua kakinya.
Ceklek.
Sekretaris Leony mendorong pintu didepannya dengan pelan hingga terbuka lebar.
"Tamu yang pak Reyn tunggu sudah tiba," ujar wanita itu pada seorang pria yang duduk dibelakang meja.
"Suruh masuk. Kau boleh kembali ke mejamu, sekretaris Leony," sahut pria itu bersahaja.
Steven bergeming, ia membeku diambang pintu, memandang lurus pada pria yang menatapnya dari belakang meja kerjanya. Ternyata pengusaha bernama Reyn Hamdani itu adalah benar mantan guru Biologinya. Kenapa? Kenapa bisa dia orangnya? Batin Steven masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang ia lihat.
Sekretaris Leony yang berpamitan dengannya pun ia abaikan. Tatapan Steven masih tak berkedip, melihat Reyn yang juga enggan mengalihkan pandangannya dari mantan siswanya itu.
Bersambung....👉
__ADS_1