My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
78. GANTI RUGI


__ADS_3

Tahu diperhatikan, bukannya merasa canggung, hal itu malah memicu Mutiara berjalan anggun bak selebritas papan atas, dengan kepala sedikit mendongak ke atas. Dia tidak perduli saat indra pendengarannya menangkap suara berbisik sumbang tentang dirinya.


Farid yang berjalan disisi Mutiara berusaha bersikap biasa, walau saat ini perasaannya tengah kacau. Wajah lelah itu tetap menampilkan senyum menyapa pada semua orang yang sudah menanti kehadiran mereka dengan duduk berjejer rapi.


Di bagian terdepan, Farid juga melihat kehadiran Reyn Hamdani disana, duduk dengan tenang bersama lawyernya.


"Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih karena sudah sabar menunggu." seorang berseragam Polri itu membuka pertemuan setelah Farid dan Mutiara duduk dikursinya masing-masing, membuat senyap bisik-bisik yang semula mendengung tidak jelas.


"Kita langsung saja ke pokok inti mediasi hari ini. Sesuai pasal yang telah dikenakan pada ibu Mutiara atas kesalahan yang telah diakuinya saat pemeriksaan, maka para pelapor bersedia menempuh jalur damai bila pihak ibu Mutiara bersedia mengganti rugi atas kerugian yang telah diderita oleh Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu pelapor ini."


"Briptu Riyu, tolong berikan daftar ganti rugi pada ibu Mutiara dan pak Farid."


"Baik Pak," polisi muda itu gegas melakukan apa yang diperintahkan padanya.


Mutiara dan Farid menerima daftar yang diberikan pada mereka, membaca dengan teliti setiap kata dan juga angka-angka yang tertera disana.


"Tidak bisa! Saya tidak mau! Kalian semua pasti mengambil kesempatan kan?! Menaruh angka-angka yang tidak masuk akal seperti ini," tuduh Mutiara sambil melempar ke udara, lembaran kertas yang baru selesai dibacanya.


"Mami, tolong jaga sikap, ini kantor polisi," Farid yang terkejut melihat ulah isterinya segera menegurnya dengan berucap pelan, ia berjongkok dari kursinya dan memungut lembaran kertas yang melayang jatuh dibawah kakinya.


"Tidak bisa Pi, dibiarin mereka malah ngelunjak! Dasar para pemeras!" lantangnya menatap para pelapor yang duduk berjejer berseberangan dengan dirinya dan suami.

__ADS_1


"Ibu yang ngelunjak! Enak saja kami dibilang Pemeras!" seorang perempuan berambut ikal berdiri sambil menuding marah. Ia salah satu pemilik toko kaca disebelah sekolah, yang menderita kerusakan cukup parah karena barang dagangannya banyak yang pecah akibat rusuhnya demo didepan sekolah beberapa waktu lalu.


"Berani-beraninya kau menjulurkan tangan rendahmu itu padaku?" Mutiara ikut berdiri dari duduknya, tidak terima ada orang yang begitu berani menuding kearahnya.


"Ngakunya berdarah bangsawan! Tapi tidak beretika!" seorang ibu lain, pemilik toko sembako ikut mengatai, merasa kesal melihat ulah Mutiara yang harusnya segera membayar kerugian mereka yang menghambat usaha beberapa minggu belakangan, pasca kerusuhan demo itu.


"Ya! Kelakuan dan tindakan Ibu, tidak seindah nama Ibu!" teriak ibu disudut deretan kursi tengah, wanita itu terlihat sangat muak.


"Kasihan suami dan anaknya lengser! Hanya menanggung perbuatannya yang tidak lebih dari seorang penjahat!" teriak seorang ibu lagi yang berada dideretan kursi paling belakang. Ulah Mutiara telah menyulut emosi para ibu-ibu yang selama ini sudah berusaha menahan diri


"Cukup Mohon tenang ibu-ibu semua! Siapa yang menjadi pendengar bila semuanya berteriak," lerai pemimpin mediasi. "Kita disini untuk mencapai titik kata sepakat, bukan untuk mengatai atau melukai."


Farid, Reyn, dan para bapak-bapak yang hadir disana hanya bisa meringis, tidak tahan mendengar ibu-ibu yang saling berteriak. Begitulah emak-emak kalau lagi berdebat membuat para bapak ingin kabur saja, sayangnya ini adalah forum mediasi, sanggup tidak sanggup mereka harus memaksakan diri untuk bertahan hingga hasil mediasi tercapai.


"Para pelapor ini hanya meminta ganti rugi saja bu Mutiara, bukan ganti untung, karena kerusakan pada toko-toko dan barang-barang dagangan mereka. Begitu pula korban-korban kerusuhan yang terluka juga meminta penggantian biaya perobatan yang telah mereka dahulukan. Harusnya ini diselesaikan beberapa minggu yang lalu, namun mereka memberi waktu karena ibu Mutiara sedang di rawat di rumah sakit." jelas polisi yang memimpin mediasi.


"Pokoknya saya tidak mau!" Mutiara tetap bersikukuh pada pendiriannya.


"Mami, kalau Mami tidak menyanggupi permintaan para pelapor, kapan pertemuan ini selesai?" Farid berusaha berkata lembut pada isterinya, walau sebenarnya hatinya begitu gemes, tapi ia harus tetap menjaga sikapnya.


"Papi, kita tidak boleh menyanggupinya. Mami saja yang masuk rumah sakit bayar sendiri, tidak ada yang nyumbang. Lalu mereka seenaknya minta kita yang bayarin, enak saja!"

__ADS_1


Tanpa sadar Farid mendengus, ia semakin gemas, sikap tidak mau tahu isterinya terlalu menguji kesabarannya.


"Penjarakan saja, selesai! Tidak perlu bayar ganti rugi. Bukankah ibu Mutiara telah melakukan tindakan pidana?" Seorang Bapak berkacamata ikut angkat bicara, karena geram melihat Mutiara .yang tidak mau bertanggung jawab. Pria itu adalah ayah dari polisi yang dikeroyok dan di hajar hingga terkapar hampir meninggal.


"Berdasarkan Pasal 16 UU No. 9 Tahun 1998, pelaku atau peserta pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum yang melakukan perbuatan melanggar hukum, dapat dikenakan sanksi hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan orang-orang suruhan ibu Mutiara sudah melakukan penganiayaan,        pengeroyokan, perusakan barang. Di tambah lagi demo yang dilakukan tidak berizin. Saya rasa itu hukuman yang paling cocok buat manusia seperti Anda ini ibu Mutiara," pungkas pria itu lagi mengakhiri ucapannya. Ia memberi tatapan nyalang saking geramnya.


Mutiara seketika membeku. Di penjara? Tidak! Dia tidak mau, perempuan itu menggeleng tapi mulutnya bungkam, tidak mampu berkata-kata.


"Saya akan membayar sesuai yang ada didaftar itu. Dan saya mohon maaf atas segala yang telah dilakukan isteri saya. Ini adalah kelalaian saya, bukan sepenuhnya salah isteri saya."


Mutiara menoleh pada suaminya.


"Pi, kita nggak salah, buat apa minta maaf. Dan kalau Papi menyanggupi membayar semuanya sesuai daftar itu, uangnya dari mana?" gumamnya sedikit berbisik supaya tidak didengar orang lain.


Farid menarik napas dalam, ia seperti tidak mengenal isterinya yang telah ia nikahi hampir dua puluh delapan tahun silam itu, kenapa sikapnya berubah tidak berperasaan seperti ini? Batinnya.


"Biar Papi yang fikirkan. Mami cukup menerima semua keputusan Papi."


"T-tapi Pi--"


"Sekali lagi, saya bertanggung jawab membayar semua ganti rugi sesuai daftar yang telah kami terima." tegas Farid lagi, tanpa menghiraukan Mutiara yang berusaha protes disebelahnya.Ia sudah tidak mau berlama-lama dan bertele-tele lagi, tubuh dan hatinya yang lelah telah menuntut untuk segera diistirahatkan.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2