My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
67. GEGER


__ADS_3

Hartanto memegang dadanya yang mendadak serasa sesak. Detak jantungnya didalam sana berdegup begitu kencang, saat menonton video berdurasi hanya 73 detik dari ponsel milik Ruben. Fikirannya kini berkelana, memikirkan segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi terhadap Reyn dan Rose, bila video itu sampai tersebar.


"Bukankah laki-laki yang menggendong Rose itu adalah pak Reyn?" Ruben menatap Hartanto yang masih membisu menatap layar ponsel yang tengah ia tonton dari belakang meja kerjanya.


"Pintar juga pak Reyn dan Rose menyimpan rapat delapan bulan pernikahan mereka tanpa ada satu orang-pun diantara kita yang tahu," sambung Ruben lagi, ketika.dirasa ucapannya masih belum di respon.


"Dari mana video ini pak Ruben peroleh?" Hartanto memandangi Ruben sesaat, sambil mengembalikan ponsel milik rekan gurunya itu, setelah selesai menontonnya ulang hingga dua kali, memastikan bila di video itu adalah benar-benar Reyn dan Rose.


"Yulia, alumni siswi kita yang berkerja sebagai kepala coustomer service di dealer mobil." sahut Ruben gamblang.


"Pak Reyn, dia membeli mobil LC yang harganya selangit itu di dealer tempat Yulia berkerja, yang sekarang sering di kendarai oleh Rose ke sekolah. Saya juga baru tahu bila pak Reyn adalah seorang pengusaha dari Yulia juga," terang Ruben lagi.


"Jadi pak Ruben selama ini menguntit pak Reyn?" duga Hartanto penuh curiga.


"Itu benar." aku Ruben jujur.


"Setelah mengetahui identitas pak Reyn yang sebenarnya, saya bahkan bertanya-tanya pada diri saya sendiri kenapa dia mau menjadi guru dengan penghasilan tidak seberapa di bandingkan dengan penghasilannya sebagai seorang pengusaha," guru BK berwajah portugal itu terlihat tercenung sesaat lalu kembali menatap serius pada Hartanto.


Merasa tak nyaman akan tatapan Ruben padanya, Hartanto meraih botol mineralnya. Selain sebagai peralihan, ia juga berusaha meredakan tenggorokannya yang terasa kering, dan berharap bisa mengurangi sedikit rasa paniknya.


"Pak kepala sekolah, pernikahan antara pak Reyn dan Rose adalah masalah yang sangat serius," Ruben masih memandangi atasannya dengan rautnya yang amat serius.


"Bapak tahu kan? Bila pernikahan mereka berdua sampai mencuat ke permukaan, kredibilitas sekolah kita akan di pertanyakan oleh masyarakat. Siapa lagi yang mau mempercayakan putra-putrinya bersekolah di sekolah ini? Bila gurunya saja bisa menikahi muridnya sendiri!" sentak Ruben tanpa sadar.


Kepala sekolah yang sebelumnya sudah merasa tegang, tersentak kaget mendengar sentakan guru BK itu diujung kalimatnya, wajahnya terlihat bertambah panik bercampur gusar pada rekan guru yang duduk dihadapannya itu. Hampir saja ia melemparkan buku yang tergeletak diatas mejanya kewajah pak Ruben.


"Pak Ruben, tidak bisakah Bapak berbicara lebih pelan. Bagaimana bila ada yang mendengar?" tegur Hartanto dengan nada sedikit menggeram, masih dengan raut gusarnya karena panik.


"M-mafkan saya Pak kepala sekolah, saya tidak sengaja. Saya terlalu terbawa perasaan," jujur Ruben tersadar. "Saya hanya terlalu khawatir bila masyarakat sampai tahu--"


"KELUAR!!!"


"SISWI YANG BERNAMA ROSE MARGARINE!!! KELAS XII IPA-AI! KELUAR!!!"


"Apa itu?" Ruben yang belum menyelesaikan kalimatnya menajamkan telinganya, Hartanto-pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"KELUAR!!!"


"SISWI YANG BERNAMA ROSE MARGARINE!!! KELAS XII IPA-AI! KELUAR!!!"


Detik selanjutnya, dengan perasaan campur aduk, tanpa aba-aba keduanya berlomba melompat keluar dari kursinya masing-masing, suara itu semakin jelas terdengar disertai kebisingan bagai dengungan segerombolan besar tawon yang sedang menyerbu.


Keduanya gegas berlari kearah pintu, memastikan apa yang sedang terjadi diluar ruangan.


"Hah! Hah! Hah!" seorang security tiba-tiba muncul menghadang diambang pintu ruang kepala sekolah dengan napasnya yang tersengal-sengal hampir pingsan lalu terduduk diatas ubin, setelah berlari kencang dari pos jaga.


"Apa yang terjadi Pak security?" panik Ruben.


Masih mengatur napas sesaknya, security itu masih belum sanggup berucap. Ia hanya menujuk kearah pintu gerbang sekolah yang tidak berhasil di dobrak paksa oleh masa.


Hartanto dan Ruben terpaku seketika, mulut keduanya hanya bisa ternganga dengan lidah terasa kelu menemukan ratusan masa yang tengah berorasi didepan pagar sekolah dengan spanduk-spanduk yang mereka bentangkan.


"Apa yang terjadi Pak kepala sekolah?" beberapa guru yang sedang mengajar itu sengaja keluar meninggalkan para siswanya, untuk mengetahui apa yang menyebabkan hiruk-pikuk diluar pagar yang nampak mengerikan.


"Saya juga belum tahu Bapak dan Ibu guru," sahut Hartanto dengan suaranya yang bergetar. Lututnya tak terasa gemetaran, merasakan kepanikan yang luar biasa. Bagaimana tidak, sekolah yang dipimpinnya saat ini mendapat serangan aksi dari masa yang dirinya sendiri belum mengetahui identitas para pengunjuk rasa itu dari mana.


"Pak Ruben, t-tolong hubungi pihak kepolisian untuk pengamanan darurat." perintah Hartanto terbata-bata.


"B-baik Pak kepala sekolah," sahut mereka bersamaan lalu dengan gegas berlari kecil menuju ruang kelas yang sempat mereka tinggalkan demi mendapatkan informasi.


"KAMI TIDAK MAU SISWI BERNAMA ROSE MARGARINE BERADA DI SEKOLAH INI LAGI!!"


"KAMII TIDAK INGIN DIA MERACUNI PUTRA-PUTRI KAMI!!"


"DI SEKOLAH INI, TEMPATNYA MENIMBA ILMU, BUKAN AJANG MENCARI JODOH LALU MENIKAH DIAM-DIAM!!!"


"HARI INI JUGA, SISWI BERNAMA ROSE MARGARINE HARUS KELUAR DARI SEKOLAH INI!!!"


Tuntut sang Orator. Suara pria itu menggema begitu jelas lewat pengeras suara yang sengaja didengungkan.


Kepadatan lalu lintas dua arah segera mengular panjang didepan gerbang sekolah. Suara klakson para pengendara yang ingin lewat dan merasa terganggu dengan aksi masa itu menambah keramaian dan kebisingan yang memekakan telinga.

__ADS_1


Sementara itu, masa yang bersama sang orator, dengan semangatnya yang semakin menggebu terus menyerukan tuntutan mereka, dengan meneriakan lantang setiap tulisan-tulisan di spanduk-spanduk, alasan mereka melakukan aksinya pagi itu di SMU Negeri Tangga Arang.


🍓🍓🍓


📞"Pak Martin, ibu Marlina dibawa ke rumah sakit umum Tangga Arang. Beliau pingsan saat mengetahui unjuk rasa di sekolah putri Anda, Pak," ucap seorang resepsionis memberi kabar saat Martin menelpon ke kantor isterinya yang berada di gedung sebelah.


📞"Baik terima kasih." Martin menutup teleponnya lalu menghubungi Bram, putra sulungnya.


📞"Bram, kau masih di kampus?" tanya Martin tanpa basa-basi. Begitu putranya itu mengangkat teleponnya.


📞"Aku sudah diluar. Ada apa ayah?" Bram mendengar nada kepanikan ayahnya. Ia melirik sebentar ke arah Leony yang memperhatikannya.


📞"Cepat, periksa keadaan adikmu Rose, pastikan dia baik-baik saja. Ada aksi sebagian masyarakat kota atas pernikahan adikmu."


Deg.


Yang Bram takutkan selama ini akhirnya terjadi juga. Pemuda itu berusaha bersikap tenang ditengah kepanikannya.


📞"Bram? Kau dengar Ayah?"


📞"I-iya. Aku dengar Ayah. Aku segera kesana."


Begitu selesai menelpon Bram, Martin buru-buru memasukan ponselnya ke dalam saku. Lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya.


"Apa yang terjadi pak Martin? Kapan Rose menikah? Apa putrimu itu diam-diam menikah dengan putra pak Bupati?" Berondong Jose, saat dirinya berpapasan dengan Martin yang baru keluar dari ruangannya.


Rekan kerja sejawat Martin itu sengaja menemuinya demi mendapat klarifikasi kesimpang siuran yang ia lihat di media televisi lokal dan media-media masa lokal lainnya yang menyorot pernikahan diam-diam putri temannya itu.


Berita itu tentu saja membuat geger kota kecil mereka. Bingung, itu yang ia rasakan, pasalnya putri temannya itu bukanlah publik pigur. Ia hanya berpraduga saja bila Rose menikah diam-diam dengan Steven, karena ia tahu pemuda dan pemudi itu memiliki hubungan seperti yang pernah diakui Steven di restoran didepan dirinya, Martin, dan rekan kerja sejawatnya yang lain.


"Maaf, aku belum bisa cerita sekarang. Aku harus kerumah sakit, isteriku sakit karena berita pernikahan putriku yang mencuat ke permukaan."


"Jadi itu benar?" kaget Jose.


"Iya itu bemar. Tapi tidak sepenuhnya seperti yang diberitakan. Lain waktu aku baru bisa cerita." putus.Martin buru-buru.

__ADS_1


"Baiklah. Hati-hati dijalan." Jose menatap kepergian Martin dengan perasaan campur aduk, ia dapat melihat kegelisahan temannya itu.


Bersambung...👉


__ADS_2