My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
110. The End


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


"Rose..." Lirih Steven, saat melihat perempuan dengan perutnya yang membola berjalan mondar-mandir sendiri ditaman rumah sakit diawasi Reyn yang duduk di kursi taman.


Masih ada debaran dalam dada pemuda itu kala menyebut nama yang pernah singgah dihatinya, menghiasi hari-harinya dimasa lalu. Ya, rasa cinta itu masih tersimpan rapi dalam sanubarinya, sulit sekali untuk dia lupakan.


"Steven, ayo cepatan, apa lagi yang kau tunggu?" Panggil Mutiara, ketika menyadari putranya itu tertinggal jauh dibelakang.


"Steven!" Mutiara menyaringkan suaranya saat putranya itu seperti sedang melamun melihat ke satu arah. Steven masih bergeming, segala atensinya saat ini sedang terpokus pada satu sosok yang selalu ia rindukan tanpa bisa ia dekati.


Akhirnya Mutiara mengalah. Ia kembali berbalik mendekati putranya setelah tahu apa yang membuat putranya seperti itu.


"Apa kau masih menginginkan perempuan yang sudah hamil besar itu? Yang sebentar lagi akan melahirkan anak suaminya?"


Steven menatap ibunya sejenak lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Rose yang terus berjalan, terlihat keberatan membawa perutnya.


"Tidak." sahut Steven pelan, ia berusaha menutupi rasa sakit kehilangan cinta pertamanya itu karena ulah ibunya.


"Mami pulang saja, kasian Papi sendiri mengurus pemesanan daging-daging ayam dari para pelanggan kita. Aku bisa sendiri Mi, lihat kakiku sudah mulai kuat berjalan," Steven menaikan tongkat penyangga tubuhnya sambil berjalan pelan.


"Tidak Stev, Mami sudah izin pada Papimu. Ayo, dokter pasti sudah menunggu," Mutiara kembali berjalan dengan pelan, menyeimbangi langkah kaki Steven yang berjalan tertatih. Patah tulang kaki yang dialami Steven beberapa bulan lalu memang ada kemajuan walau terkesan pelan.


...🍓🍓🍓...


"Mas, telepon kak Bram, dia sudah dimana sekarang, sepertinya aku sudah mau melahirkan ini," Rose masih terus berjalan mondar mandir dengan wajah meringis, merasakan rasa sakit mules yang terkadang timbul tenggelam.


"Sayang, kak Bram masih ujian skripsi, lagi pula disini ada suamimu yang siap menemanimu bersalin," Reyn bangkit dari duduknya, mendekap Rose yang berdiri dengan wajah cemberut.


"Anak ini nggak akan mau keluar kalau pamannya nggak datang dan nemanin aku Mas. Ayo Mas, telepon kak Bram lagi, suruh tunda saja sidang skripsinya, pokoknya kak Bram harus ada disini temanin Rose. Titik!"


Reyn mendesah prustrasi, sedari tadi isterinya itu selalu merengek dipanggilkan kakaknya itu.


"Akhh! Sakit! Cepat Mas! Panggilin kak Bram sekarang juga!" Rose memegang perutnya yang terus bergelut didalam sana, kontraksi si jabang bayi semakin intens terasa.


Reyn panik.


"Cepat! Jemput kak Bram sekarang juga! Bagaimanapun caranya!" perintah Reyn pada orang-orangnya yang ikut berjaga tidak jauh darinya.


"Baik Pak!" Lima laki-laki itu segera undur diri, melaksanakan apa yang dititahkan oleh sang majikan.


...🍓🍓🍓...


"Cepat Bram! Dari tadi adikmu terus meneriakan namamu didalam sana!" ucap Marlina panik, ketika melihat putra sulungnya baru tiba dengan keringat bersimbah.


Didalam sana, suara erangan, teriakan dari Rose memang semakin santer terdengar, membuat siapa saja yang mendengarnya ikut merasakan kesakitan yang tengah dialami isteri bocil Reyn itu.


"Anak itu memang sangat merepotkanku mulai dia kecil," omel Bram kalang kabut melepas tas selempangnya. Ia memang sangat kesal, ditengah dirinya sedang menjabarkan skripsinya didepan para dosen penguji, orang-orang Reyn mengangkutnya begitu saja, walau ia meronta bagai bocil yang sedang diculik.


Bram buru-buru masuk, ia tidak menyadari kehadiran Leony yang berdiri didekat Haswan dan Sarina, perempuan itu hanya tersenyum kecil melihat gaya Bram yang tanpa sensor sedikitpun. Berbeda bila sedang berdua dengannya beberapa bulan terakhir ini, pemuda itu sebisa mungkin bersikap ja'im sok dibuat-buat manis untuk mendapatkan simpatinya.


...🍓🍓🍓...


"Kak Bram! Akh, sakit!" Rose terus mengerang kesakitan. Suaranya semakin nyaring kala melihat kakaknya muncul diruang bersalinnya.


Detak jantung Bram memacu semakin kencang, melihat kondisi adiknya yang mengenaskan diatas ranjang bersalin. Ingin rasanya ia balik kanan, takut melihat adiknya yang menggeliat-geliat kesakitan, namun nalurinya sebagai seorang kakak yang selalu sigap memberi rasa aman pada adiknya mulai mereka masih kanak-kanak menuntunnya untuk tetap mendekati adiknya itu.


"Akhh sakit kak Bram.." keluh Rose menatap kakaknya dengan sorot sayu, membuat Bram semakin kasihan padanya.


Perlahan Bram merangkak naik, saat Reyn memberi ruang padanya untuk mengambil posisi dimana Rose bisa menyandarkan punggungnya didada sang kakak yang selalu ada untuknya.


"Nona beruntung, punya dua laki-laki hebat yang selalu siaga dan memberi dukungan," dokter paruh baya itu mengulas senyumnya memandangi Rose, Reyn, dan juga Bram.

__ADS_1


"Ayo semangat Nona, kita songsong kehadiran dedek bayinya yang sudah bersiap didalam sana," sambung sang dokter memberi semangat.


"Bersiap Sayang, kau kuat, kau pasti bisa," Reyn menggenggam tangan Rose mencium punggung tangan isterinya itu dengan lembut.


"Ayo adik nakal, keluarkan segenap tenagamu, aku ada disini mendukungmu--, aduh!"


Rose mencubit bibir Bram, bisa-bisanya kakaknya mengatai dirinya seperti itu disaat ia sedang bertarung nyawa demi bayi yang ada didalam kandungannya.


Reyn hanya bisa menggeleng menyaksikan kakak beradik itu yang menyalurkan kasih sayang dengan cara mereka.


Suasana manis itu hanya sebentar saja dirasa saat kesakitan kembali menyerang Rose, perempuan itu kembali berteriak, mengerang kesakitan, dengan tubuhnya yang terus menggeliat, membuat Reyn dan Bram panik sampai keubun-ubun berusaha menenangkan. Sedangkan sang dokter tetap terlihat tenang dan terus memberikan arahan pada Rose untuk melakukan sesuai petunjuknya.


"Akh! Mas guru, sakiiiit!" erang Rose.


Reyn menggenggam erat tangan isterinya itu, mengusap perut sambil melafalkan doa didalam hatinya agar persalinan isteri tercintanya berjalan lancar.


Berbeda dengan Bram, pemuda itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sang adik. Bram terus berteriak sambil ikut mengerang, seolah-olah dirinya juga akan bersalin. Suasana tegang bercampur panik, membuat Reyn tidak menghiraukan sang kakak iparnya, ia hanya pokus pada Rose untuk memberi dukungam pada isterinya itu.


Hingga akhirnya....


Oeeekkk! Oeeeekkk! Oeeeekkk!


Suasana tegang dan panik seketika menguap, menghilang begitu saja diterbangkan angin. Martin-Marlina, Haswan-Sarina, juga Leony yang setia menunggu diluar, mereka saling berpandangan, lalu melemparkan senyum bahagia satu sama lain begitu mendengarkan tangisan nyaring bayi didalam ruang bersalin, sembari memanjatkan doa dan puji syukur, karena kebahagiaan sudah datang dalam keluarga besar mereka.


"Selamat! Pak Reyn, nona Rose, dengan lahirnya bayi perempuan yang cantik ini, Anda berdua telah resmi menjadi orang tua." sang dokter yang membantu persalinan menunjukan bayi ditangannya pada sepasang suami isteri yang sedang berbahagia itu.


"Saya bawa dulu untuk dibersihkan," pamit sang dokter bersama dua suster yang membantunya.


"Sayang, terima kasih sudah melahirkan putri yang cantik." Reyn tersenyum lalu mencium kening Rose dengan penuh rasa sayang.


Reyn mengurai pelukannya dari tubuh Rose, beralih pada Bram, hendak berterima kasih pada kakak iparnya itu yang telah menemani dirinya dan Rose diruang bersalin.


"Apa liat-liat," omel Bram yang tersandar lesu diranjang persalinan adiknya.


Reyn tergelak, begitu pula dengan Rose, perempuan itu berusaha menghentikan tawanya, pasca melahirkan ia tidak memiliki cukup tenaga untuk tertawa.


"Terus saja tertawa! Kalian kan memang sedang bahagia," Bram terus saja mengomel, tubuhnya terasa remuk, wajah dan lehernya terasa perih bermandikan peluh.


"Lihat wajah kak Bram di kamera ponsel ini," sodor Reyn pada Bram, setelah mengaktifkan mode kamera.


Dengan gaya acuhnya, Bram tetap menerima ponsel milik Reyn, ia sebenarnya malas melihat wajahnya yang pasti kelihatan kusut setelah melakukan perjuangan hebat bersama adik perempuannya.


"OH MY GOD! ROSE! APA YANG KAU LAKUKAN PADA WAJAH TAMPANKU!" Bram memekik kaget, jemarinya mengusap wajahnya yang penuh goresan cakaran kuku-kuku Rose, begitu pula dengan nasib lehernya.


Reyn makin tergelak, pantas saja setiap kali Rose mengerang dan berteriak, Bram pasti ikut berteriak dan mengerang kesakitan, ternyata pemuda itu sedang menerima penganiayaan dari adiknya sendiri tanpa mereka sadari.


"Bram! Kenapa kau meneriaki adikmu! Dia baru saja usai bertarung nyawa!" Marah Martin, yang tiba-tiba muncul bersama Marlina dan kedua besannya.


"Lihat wajah Bram Ayah!" Bram menunjukan wajahnya pada sang ayah. "Julukan Baby Face padaku pasti terancam minggat kalau begini caranya," sungut pemuda itu lagi sambil mengusap wajahnya dengan kesal.


Bukannya merasa prihatin, semua yang ada diruang bersalin itu malah mentertawai Bram, melihat keadaan pemuda itu yang seakan terkena cakaran hewan buas..


"Maaf pak Reyn, sesuai janji kami pada para dosen dikampus mas Bram tadi siang, kami harus membawanya lagi sekarang," seorang pria dengan empat orang pria lainnya yang berada dibelakangnya berbicara pada Reyn dari depan pintu ruang bersalin.


"Baik, lakukanlah apa yang menjadi tugas kalian," sahut Reyn dan mempersilahkan mereka masuk menemui Bram.


"Hei! Hei! Hei! Kalian mau apa lagi?!" Bram panik, melihat 5 orang pria bertubuh tegap dan berwajah sangar kembali menghampirnya, sama seperti yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu saat dirinya sedang menjalani ujian sidang skripsinya.


Kelima pria itu tidak berkata apapun, mereka langsung mengangkut kembali Bram dengan paksa walau pemuda itu terus meronta dan berteriak-teriak menimbulkan kegaduhan.


...🍓🍓🍓...

__ADS_1


Sore itu, Bram tersenyum lebar mendengar sang dosen pembimbingnya, ibu Livia, sekaligus merangkap sebagai moderator sidang mengumumkan bila hasil ujian skripsi yang baru saja usai ia jalani mendapatkan nilai A+ dari ketiga dosen pengujinya.


Suasana euforia dihati pemuda itu makin bertambah, manakala Leony muncul didepan pintu ruang ujian membawa beberapa kotak makanan untuk para dosen penguji dan pembimbing, tradisi yang sudah biasa dilakukan setiap mahasiswa peserta ujian setelah selesai diuji.


Bram terus menatap Leony yang menghidangkan kotak-kotak makanan diatas meja, dibantu 5 pria tegap yang sempat membuatnya kesal.


Pemuda itu memang sempat khawatir, pasca Rose melahirkan, saat dirinya diminta kembali keruang ujian skripsi, siapa yang akan membantunya menyiapkan te-te-k bengek seperti itu, karena teman-temannya yang ia minta tolong sudah pada pergi seusai mereka ujian.


"Terima kasih," ucap Bram terharu, saat ia dan Leony sudah berada diluar ruang ujian. Ia masih sulit percaya, perempuan pujaan hatinya yang selalu bersikap dingin dan gampang emosi padanya bisa menyiapkan semuanya itu untuknya.


"Tidak masalah, untuk calon suami," balas Leony tersenyum manis, lalu mendekatkan sendok yang sudah dibubuhi nasi dan sepotong daging. "Makanlah, ini daging rendang kesukaanmu, kau pasti lapar kan?" ucap Leony lembut.


Bram terpana.


"S-suami?" ucap Bram.gugup.


"Ca-lon su-a-mi. Belum suami," Leony meralat.


"Oh iya, maksudku seperti itu," Bram terkekeh lalu membuka mulutnya lebar-lebar menerima suapan dari Leony dan mengunyahnya penuh kenikmatan.


"Rasanya lezat, melebihi rendang-rendang yang biasanya aku makan," lebay Bram, tapi memang benar ia merasakan cita rasanya seperti itu.


"Kau berlebihan. Padahal aku memesannya ditempat biasa kita makan," jujur Leony.


"Oh, ya selamat ya, kau lulus ujian skripsi dengan nilai yang sangat memuaskan. Aku turut senang, dan juga bangga padamu," Leony kembali mengulas senyum manisnya.


"Terima kasih. Berikan aku ciuman disini," tunjuk Bram pada pipi kanannya.


CUP.


Detak jantung Bram seketika berhenti, ia membeku, tak percaya Leony meluluskan permintaannya, padahal dirinya hanya bercanda untuk membuat kesal Leony seperti biasanya.


CUP.


Bram kembali kaget, ia memandang lekat wajah cantik disampingnya itu, masih tidak percaya pada apa yang dilakukan Leony untuk kedua kalinya padanya.


"Biar klop, kanan dan kiri. Dan jangan lupa bernapas lagi," ledek Leony enteng.


"Oh, bahagianya aku." Bram masih menatap Leony dengan tatapannya yang penuh puja. Kebahagiannya hari ini begitu menumpuk dan berlipat kali ganda.


Pertama, adik perempuannya melahirkan dengan selamat, sehingga statusnya kini sudah menjadi seorang paman. Kedua, ia lulus ujian skripsi dengan nilai A+. Ketiga, mendapat ciuman selamat dari Leony dipipi kiri dan kanannya. Dan yang ke-empat...


"Menikahlah denganku Leony," pinta Bram tanpa basa-basi.


"Iya, aku mau. Setelah kau wisuda nanti."


"YESSS!!!" Bram kaget bercampur senang. Pemuda itu langsung selebrasi didepan ruang ujian, tidak sadar bila para dosen penguji dan pembimbingnya menyaksikan apa yang sedang ia lakukan.


Leony hanya bisa tergelak melihat tingkah Bram, beberapa bulan terakhir ini, ia mulai terbiasa pada gaya pemuda itu, dan sepertinya ia sudah bisa menerimanya.


...TAMAT...


Terima kasih pada para pembaca yang telah mengikuti kisah di novel ini hingga tamat.


Doa author, kita semua sehat, dan tidak lupa bahagia. Tetap bersyukur dalam segala hal, selalu ada hikmah dari setiap kejadian hidup.


Salam dari author.


Bila berkenan, jangan lupa mampir di novel baru author : TERNODA.


__ADS_1


__ADS_2