My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
46. WALK IN CLOSET


__ADS_3

"Sayang, ayo masuk sini?" Sarina melambaikan tangan pada menantunya yang masih berdiri diambang pintu. Sudah dua bulan Rose tinggal di rumah suaminya itu, tapi baru malam itu ia masuk ke bilik itu.


"I-iya Ma," Rose masuk dengan langkah perlahan, pandangan gadis itu tidak henti-hentinya menyapu seisi ruangan dengan takjub, serasa masuk ke butik artis saja batinnya.


"I-ini ruangan apaan sih Ma?" Rose mendekati sang mama Mertua dan ibundanya, namun tatapannya masih mengitari seluruh ruangan dengan raut terpukau.


"Walk in closet." Senyum Sarina, jemarinya mengusap lembut punggung menantunya yang telah berdiri disisinya. "Ini semua milikmu Sayang." imbuhnya sambil tersenyum.


"A-apa? ini semua punya Rose?" gadis itu menatap ibu mertuanya tak percaya.


"Heum," angguk Sarina sembari tersenyum.


Rose bergerak, mendekati rak-rak sepatu pesta dihadapannya, mengambil sepasang sepatu dari sana, dan mengenakannya di kakinya. "Ini pas sekali Ma. Bagaimana bisa Mama tahu ukuran kaki Rose?" gadis itu kembali memandang pada ibu mertunya.


"Dari bundamu Sayang," senyum Sarina lagi sembari menoleh pada besannya yang juga tersenyum melihat tingkah Rose yang menurunkan lagi sepasang sepatu pesta dari rak disebelahnya.


"Ini juga bagus dan sangat pas di kaki Rose," gadis itu begitu bersemangat mencoba sepatu-sepatu yang berjejer rapi diatas rak dihadapannya, dirinya berasa sedang berada di toko sepatu saja.


"Serius, semua sepatu-sepatu ini punya Rose Ma?" tanya gadis itu masih tak percaya, apa lagi saat melihat label yang ada disepatu-sepatu itu. Dirumah orang tuanya dulu ia memang memiliki beberapa sepatu pesta, sepatu santai, sepatu olah raga, dan sepatu ke sekolah, dan itu semua tidak lebih dari sepuluh pasang. Tapi disini, sepatu-sepatu yang berjejer dan tersusun rapi di rak-rak itu membuat pandangan mata Rose berbinar melihatnya


"Iya, serius Sayang." Sarina dan Marlina kembali saling melempar senyum.


Didalam hati, keterkejutan sang ibunda Rose juga tidak jauh berbeda dengan putrinya. Memang saat keluarga Reyn melamar Rose ketika itu, pihak besannya menyampaikan daftar hantaran untuk putrinya, tapi tidak menyangka bila sepatunya sebanyak ini, bak toko sepatu saja batinnya.


"Sayang, ayo kita lihat beberapa gaun pestamu." ajak Sarina. Rose mengangguk, ia mengekor dibelakang Sarina dan Marlina yang berjalan ke deretan lemari kaca, disebelah deretan rak-rak sepatunya.


Rose kembali terpukau, saat lemari kaca transfaran itu dibuka lebar dengan cara mendorong dua sisinya berlawanan arah. Ia mulai menyentuh gaun-gaun pesta yang tergantung rapi itu satu persatu, meraih salah satunya dan menempelkannya pada tubuh rampingnya.


"Ini cantik sekali Ma," Rose memperlihatkannya pada Mama mertua dan ibundanya seraya berputar-putar kiri dan kanan.

__ADS_1


"Secantik dirimu juga Sayang," Marlina ikut bersuara, melihat senyun indah diwajah putrinya membuat hatinya turut bahagia.


Puas melihat koleksi gaun-gaun pesta dan pakaian resmi lainnya, mata Rose tidak sengaja melihat satu lemari pakaian yang menarik perhatiannya.


Penasaran melihat rupa dan modelnya, Rose meraih salah satunya yang tergantung rapi disana. "ini lingerie?" tanya Rose, ia memandang pada sang mama mertuanya sambil menunjukan apa yang tengah dipegangnya.


"Heum, kau suka?" Sarina tertawa kecil tidak lupa menoleh pada Marlina besannya.


"Jangankan model beginian Ma, Bunda nggak bolehin Rose pake tank top atau model baju kurang bahan lainnya Ma," jawab Rose masih memperhatikan dengan raut serius pada pakaian penuh keseksian itu.


Ucapan jujur Rose sontak saja membuat kedua wanita paruh baya itu terkekeh memandangnya.


Gadis itu mengembalikan lingerie merah yang dipegangnya ketempat semula lalu meraih lingerie lainnya yang lebih minim dan dihiasi rumbai-rumbai saja, "Dih, kok gini amat sih modelnya," wajah Rose meringis, ada kengerian dihatinya membayangkan bila dirinya mengenakan itu.


Mendengar gumaman Rose yang bermonolog pada dirinya sendiri membuat Sarina dan Marlina kembali tergelak, ternyata keduanya juga membayangkan hal yang sama.


"Lingerie yang kau pegang itu, Reyn yang memilihnya sendiri," gema Sarina disela-sela gelaknya menatap raut Rose yang kadang meringis, kadang mengkerut dan kadang kegelian sendiri menatap pakaian aneh yang dipegangnya.


"Bu besan, Rose bolehkan pakai pakaian-pakaian seperti itu?" Sarina melemparkan pertanyaannya pada Marlina, sengaja ingin menggoda menantunya.


"Sekarang boleh kok Sayang, asal pakenya dirumah dan bersama Reyn," sambut Marlina ikut menggoda.


"Apaan si Bunda sama si Mama," Rose merengut, ia buru-buru meninggalkan lemari pakaian seksi itu, merasa risih juga melihat gelagat ibu dan mertuanya yang terus mentertawainya.


Sepolos-polosnya dirinya, ia tahu mengarah kemana ucapannya kedua wanita kesayangannya itu. Buktinya saat ini, wajahnya memerah sendiri mengingat Reyn yang membelikan semua pakaian seksi itu, "Haduh, kok aku jadi berdebar gini ingat mas Reyn," Rose menepuk jidadnya, berharap bayang-bayang suami machonya itu segera keluar dari dalam kepalanya.


"Sempet-sempetnya milih baju begituan, apa dia nggak malu sama penjualnya?" Monolog Rose sembari membayangkan Reyn memilah-milah lingerie ditemani para SPG wanita yang pasti senyum-senyum aneh melihat pria membeli pakaian seperti itu.


Sarina dan Marlina yang mengekor dibelakang Rose ikut menghentikan langkah mereka saat gadis itu berhenti pada rak-rak tas yang ada didalam etalase.

__ADS_1


Rose memperhatikan koleksi tas-tas dengan brand-brand dunia itu. Disana ada GUCCI, Louis Vuitton, ZARA,Cartier. Hermès, dan ada juga brand Indonesia yang dibanggakan dinegeri ini tentunya.


"Keluarga Mama pasti menghabiskan banyak uang untuk membeli ini semua," gadis itu berpaling menghadap ibu mertuanya, membelakangi deretan barang-barang mewah yang ia lihat pada lemari etalase tasnya.


Seusia dirinya, Rose cukup paham bahwa harga tas-tas, sepatu, gaun-gaun itu tidaklah murah dengan brand-brand ternamanya.


Sarina tersenyum hangat, dua tangannya membingkai lembut pipi Rose yang turut menghangat merasakan sentuhan sang ibu mertuanya.


"Semua yang ada disini, hantaran Reyn saat akan menikahimu dua bulan yang lalu." ucap Sarina lembut.


"Tidakkah ini terlalu banyak dan berlebihan Ma? Apa Rose pantas?" Lirih gadis itu, ia memamandang mertuanya dengan haru.


"Kau pantas Sayang," sambut Sarina masih dengan suara lembutnya. "Dihati Reyn, kau bahkan jauh lebih berharga dari semua yang ia berikan ini." ungkap Sarina pelan.


Rose termangu, mungkinkah dirinya yang super duper manja, dan banyak tidak tahunya itu begitu berharga dihati suaminya? Heuh, entahlah. Ia teringat, bagaimana dirinya dahulu sangat menolak pernikahan itu, saat mengetahui bila liburan mereka di villa kala itu adalah untuk menikahkannya dengan guru killer yang menyebalkan, bahkan ia pernah mengatakan bila wanita yang akan dinikahi oleh gurunya itu kepohonan alias tidak beruntung.


Bukankah yang tidak beruntung itu sebenarnya adalah Reyn, laki-laki yang menikahi perempuan seperti dirinya? Rose merasa malu sendiri.


"Oh ya, Mama ada bawa BPKB mobilmu yang Reyn titipkan dirumah waktu itu." Sarina membuka tas jinjingnya, dan mengambil buku kecil dari dalamnya.


"Ini," Sarina menyodorkan buku ditangannya pada menantunya.


Rose menerimanya, lalu membuka lembaran-lembarannya. "Bukannya ini BPKB Land Cruiser putih yang ada digarasi?" ucapnya, ketika melihat plat nomor dibuku itu sama dengan mobil yang diberikan Reyn didealer waktu itu, dan disana juga tertera pembelian secara cash.


"Kau benar Sayang, mobil itu sudah ada sebulan disana sebelum kalian menikah dan Reyn baru mengajakmu saja mengambilnya didealer itu. Mobil itu juga adalah salah satu hantaran pernikahanmu,"


"Yuk, Mama belum memperlihatkan beberapa hantaran perhiasan, make up dan aksesories lainnya di Walk in closet ini," Sarina kembali mengajak menantu juga besannya menuju satu bilik disebelahnya lagi, yang hanya dibatasi dengan tirai gorden.


Bersambung...👉

__ADS_1


Maaf readers, baru up. Author sibuk ikut lomba lari karung🤭🤭


__ADS_2