
"Luka-luka ini sepertinya infeksi, itu sebabnya Clara mengalami demam tinggi." Dokter Hendra dengan hati-hati mengoles salep pada luka-luka cakaran yang ada di wajah, leher, dan tangan Clara setelah membersihkannya.
"Saya juga sudah meminumkan obat penurun panas padanya, bila sampai besok pagi Clara tidak ada perubahan, sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja." imbuh.dokter Hendra lagi, setelah menyelesaikan pengobatannya sembari membereskan peralatan yang ia bawa.
"Saya pamit dulu," dokter Hendra berdiri sambil menenteng tasnya.
"Baik Dok, terima kasih banyak atas pertolongannya," Leony dan Jeny ikut berdiri lalu bersalaman. Leony mengantarkan dokter itu hingga didepan pintu kamar Clara.
"Leony..." dokter Hendra melirik sebentar kedalam kamar, memastikan Jeny tidak menyusul mereka. Ia melihat wanita paruh baya itu tengah sibuk merapikan selimut cucunya.
"Eum, iya..." Leony memandangi dokter Hendra yang menghentikan langkahnya diluar pintu kamar.
"Apa kau sudah punya jawabannya sekarang?" tagih dokter muda itu pelan.
"Maafkan aku Dok, jawabanku masih tetap sama seperti yang dulu. Lebih baik dokter menambatkan hati pada perempuan lain saja, karena masih banyak yang lebih baik dariku."
Dokter Hendra terdiam sesaat, ia mengambil napas dan membuangnya pelan. Sudah kesekian kalinya jawaban Leony selalu seperti itu padanya, tapi harapan cintanya pada perempuan itu tidak pernah pupus, bahkan semakin tumbuh subur setiap harinya.
Dirinya dan Leony adalah teman satu kampus yang sama, hanya saja laki-laki itu mengambil jurusan kedokteran sedangkan Leony jurusan akuntansi.
Walau bukan primadona kampus, tapi kehadiran Leony di kampus mampu mengalihkan semua atensi mahasiswa dan mahasiswi padanya ketika itu, termasuk para dosen.juga.
"Aku sering bertemu, dan kenal banyak orang baik. Tapi aku tak ingin memilih salah satupun dari mereka, karena mereka bukan kamu, Leony."
Mendengarnya, Leony menelan salivanya dengan susah payah, tatapan keduanya saling bertemu. Leony memeriksa hatinya, tapi tidak ia temukan sama sekali debaran istimewa untuk laki-laki itu disudut manapun hatinya.
Kenapa? Apa dirinya bukan wanita normal seperti kebanyakan wanita lainnya, yang bisa dicintai dan mencintai? Rasanya begitu sulit memaksa hatinya menerima cinta seorang pria.
Seorang Hendra, dokter yang sudah mapan dan selalu setia menanti jawaban 'YA' sejak mereka sama-sama menempuh pendidikan dibangku kuliah. Dan Hendra bukan pria satu-satunya yang pernah menyatakan cinta padanya.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa." kembali Leony memberi ketegasan tentang perasaannya.
"Aku akan tetap menunggumu, sampai kau berkata 'Ya'," dokter Hendra berusaha tersenyum.
"Jangan buang-buang waktumu menungguku. Nanti kau menua sia-sia," Leony memberi candaan seraya tertawa kecil, walau sebenarnya ia enggan melakukannya, karena itu bukan dirinya.
Ya, setidaknya itu yang bisa Leony lakukan pada pria yang selalu baik padanya dan keluarganya mulai mereka sama-sama menempuh pendidikan dulu.
__ADS_1
"Tidak masalah, demi dirimu," Hendra ikut tertawa kecil bersama Leony.
"Baiklah. Aku pamit, sudah pukul 22.15 wita. Kau tentunya butuh istirahat. Jaga kesehatanmu." Mendapat anggukan dari Leony, dokter Hendra akhirnya pergi meninggallan kamar Clara.
Leony masih berdiri didepan pintu, memperhatikan dokter Hendra yang menuruni anak-anak tangga rumahnya. Sesekali dokter muda itu masih menoleh kearahnya sambil melambaikan tangan, dan Leony terpaksa membalasnya, sampai akhirnya bibi Yaya menghampiri pria itu dan mengantarkannya hingga kepintu luar.
"Mami tidurlah, biar Leony yang temani Clara." Leony mendekati ibunya yang duduk ditepi pembaringan Clara.
"Kau saja yang istirahat, Sayang. Kau pasti lelah berkerja seharian ini, ditambah pulang terlambat karena mencari Bram," tolak Jeny.
"Udahlah Mam, Leony masih sanggup kok. Leony juga sambil tiduran disini sama Clara. Kasian Mami udah jagain Clara mulai siang sampai sekarang, Leony nggak mau Mami sakit lagi kaya dulu," bujuk Leony sambil memeluk sayang ibunya.
"Ya terserah kau saja. Kalau begitu Mami kekamar dulu sambil menunggu Papimu pulang. Kalau sudah nggak sanggup nanti cepat kasih tau Mami, biar kita gantian jagain Clara. Mami juga nggak mau kamu sakit."
Jeny mengurai pelukan putrinya, ia mencium pucuk rambut Leony yang wangi lalu beranjak dari sana, dan tidak lupa menutup pintu.
"Pa-pi Blam..."
Leony menoleh melihat putrinya berbicara sendiri dalam tidurnya, ada aliran bening disudut-sudut kelopak matanya yang tertutup rapat.
"Sayang ini Mami," Leony menyentuh kening putrinya. "Panas sekali," gumamnya dengan panik. Ia buru-buru mengambil baskom kecil diatas nakas lalu mulai mengompres, sementara Clara terus memanggil nama laki-laki itu.
...🍓🍓🍓...
Leony mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih sangat mengantuk, tubuh lelahnya seakan tak mampu ia gerakan.
Ini untuk ke-empat kalinya ia terbangun karena putrinya terus mengigau memanggil nama Bram. Ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 4 pagi.
"Clala haus," tangan gadis kecil itu menyentuh wajah maminya. Leony gegas bangkit, ia memaksa tubuhnya untuk bergerak ketika merasakan suhu panas pada tangan kecil Clara.
"Tubuhmu panas lagi, Sayang?" panik Leony, ia menyentuh kening leher dan bagian-bagian tubuh Clara yang terbuka.
"Clala haus," gumam bocah itu lagi.
"Tunggu sebentar. Mami ambilkan." Leony gegas turun dari ranjang putrinya, meraih teko dan menuangkan air ke gelas lalu membantu putrinya minun.
"Tambah?"
__ADS_1
Clara menggeleng, lalu kembali berbaring. Leony membantu merapikan selimut putrinya, namun bocah itu menurunkannya hingga kedadanya. "Panas Mi," keluhnya dengan bola mata memerah karena panas yang dirasanya.
Setelah meletakaan gelas kembali ke nakas, ia mulai mengompres dahi putrinya lagi agar panasnya segera turun.
"Mami, Clala nggak mau cekolah dicana lagi," gumam bocah itu dengan suaranya yang terdengar parau, menatap sayu pada Leony.
"Kenapa Sayang?" lembut Leony sambil menekan kain kompres pada dahi putrinya.
"Olin cama teman-teman celalu bilang kalo Clala nggak punya Papi cepelti meleka. Padahal Clala punya papi Blam." sahutnya sedih.
"Di cekolah tadi, itu bukan calah Clala, Mami," adunya lagi dengan suara pelan.
"Olin bilang kalo Mami ambil Papi olang bial Clala punya papi, buktinya papi Blam gak datang-datang lagi. Clala malah, jadi Clala talik lambut klitingnya, lalu Clala cakal-cakal muka jeleknya," akunya. "Olin jahat Mami."
Leony yang mendengarnya berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan memaksakan senyumnya sambil menyentuh pipi gembil putrinya.
"Sudahlah Sayang, Olin atau siapapun temanmu itu, mereka semua tidak berkata benar. Jadi, kau tidak perlu memikirkannya. Sekarang minum obat dulu supaya kau lekas sembuh.".Leony mengambil sebotol obat sirup penurun panas lalu menuangkannya pada sendok takar.
"Pait, Clala nggak mau Mami," bocah itu menggeleng sambil menutup mulutnya.
"Manis kok Sayang. Ayo diminum, biar sembuh." bujuk Leony sambil mendekatkan sendok ke mulut Clara. Bocah itu menutup wajahnya dengan selimut dan bersembunyi disana, sedangkan kain kompresnya terdampar diujung bantalnya.
"Sayang...."
"Nggak mau, pait!" pekiknya dari dalam selimut.
"Manis..."
"Pait!"
Leony mendesah, tubuhnya serasa ingin ambruk menahan kantuk, perlu kesabaran ekstra menghadapi putrinya itu.
"Sayang, besok kita ketemu om Bram, asal Clara mau minum obat," ucap Leony ketika ide itu tiba-tiba muncul dikepalanya, ia sudah tidak punya cara lain lagi untuk membujuk putrinya itu, fikirannya buntu saking lelahnya.
"Sungguh?!" Clara buru-buru menyibak selimutnya, menatap wajah maminya dengan penuh harap.
"I-iya Sayang, yang penting Clara minum obatnya dulu biar cepat sembuh." ucap Leony meyakinkan putrinya.
__ADS_1
Sejujurnya, ia sendiripun tidak yakin bisa mewujudkan kata-katanya, teleponnya saja tidak pernah diangkat oleh Bram, ditambah lagi sekarang, menurut mantan bos pemuda itu, kalau Bram sudah pindah berkerja di kota sebelah.
Bersambung...👉