My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
51. RENCANA AWAL


__ADS_3

"Reyn, Reyn--, Kau tahu? Kau itu benar-benar membuat Paman hilang tenaga mentertawaimu." Hartanto memegang perutnya yang mulai terasa kebas, sementara tangannya yang lain mencengkram botol minuman yang telah kosong karena isinya sudah berpindah sepenuhnya kedalam lambungnya.


Reyn masih pada mimik awalnya, datar. Dirinya bingung, bagian mana dari pembahasan mereka yang membuat sang atasannya begitu hobi mentertawai dirinya siang itu.


"Teruskan saja tawanya Paman, aku mau pamit dulu. Sudah waktunya aku ke kantor." Reyn melirik arloji pergelangan tangannya yang telah menunjukan pukul 15 lewat 4 menit. Ia berdiri dan menyambar tasnya untuk gegas meninggalkan sang kepala sekolah.


"Baiklah. Kau hati-hati dijalan ya?" Hartanto segera berdiri, membiarkan Reyn mencium punggung tangannya saat tidak ada orang lain yang melihatnya.


Ia sengaja menyembunyikan kedekatannya dengan Reyn dihadapan semua orang, karena tidak ingin rekan-rekan guru lainnya mengetahui identitas Reyn sebenarnya, juga khawatir mereka akan salah faham dan berfikir bila dirinya mengistimewakan salah satu pengajar, padahal sebisa mungkin ia telah bertindak adil sebagai kepala sekolah disana.


"Reyn--, ingat. Gadis itu bukan adikmu, tapi dia isterimu. Jadi tidak mungkin kau bisa memperlakukannya seperti adik terus menerus. Mungkin selama 5 bulan ini bisa, tapi tidak menjamin hari-hari kedepannya bisa. Masih ada hampir 7 bulan lagi baru gadis itu lulus," Hartanto kembali berusaha memperingatkan.


"Jadi Paman sarankan, tidak ada salahnya kau ke dokter kandungan, berkonsultasi alat penunda kehamilan yang paling cocok untuk kau dan isterimu itu." imbuh Hartanto yang sudah sangat berpengalaman dalam berumah tangga.


Reyn berdiri sejenak diambang pintu kantor kepala sekolah, pandangannya menyapu area sekolah yang sudah sepi. Para siswa-siswi sudah tidak terlihat satupun disekolah, hanya terlihat beberapa guru yang berjalan menuju parkiran untuk pulang.


Ia tersenyum sendiri, mengingat obrolannya dengan Hartanto beberapa bulan lalu, berbicara empat mata seperti hari ini, bila ia akan hidup bersama Rose bagai adik dan kakak, sebelum ia membawa kedua orang tuannya dan kedua orang tua Rose menghadap Hartanto.


"Mama dan Bunda juga sudah pernah menyarankan hal itu padaku, dan aku hargai saran Paman ini. Tapi maaf, aku tetap pada pendirian awalku. Tidak perlu pake alat kontrasepsi, aku akan bercocok tanam 7 bulan lagi," putus Reyn setengah hati.


"Dasar, kau memang keras kepala seperti Daddy-mu Reyn! Disuruh menikah lagi, mencari Mommy baru untukmu oleh kakek dan nenekmu waktu itu tapi tidak mau." gumam Hartanto ikut tertawa kecil.


"Jangan bilang Paman nggak pernah ngingatin kamu ya Reyn," sambung laki-laki itu lagi sedikit lantang, saat melihat Reyn pura-pura tidak mendengar sambil melangkah pergi menuju parkiran dimana roda duanya berada.


...🍓🍓🍓...


"Apa.kabarnya pak Ruben, lama tidak berkunjung kemari?" sambut Yulia ramah, ia mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dan mempersilahkan sang mantan gurunya itu duduk di salah satu sofa empuk yang disediakan untuk para konsumen. Ya, Yulia adalah salah satu alumni SMU Negeri Tangga Arang yang telah lulus tujuh tahun silam.


"Kabar baik Yulia. Kebetulan saatnya service berkala mobil butut Bapak yang sedang di kerjakan di ujung sana." tunjuk Ruben pada pada salah seorang mekanik yang tengah sibuk mengerjakan mobil miliknya.


"Bagaimana kalau pak Ruben ganti dengan mobil yang baru saja, nanti mobil yang lama Yulia bisa bantu mencarikan pembelinya, bagaimana?" Yulia mulai melancarkan aksi marketingnya sambil tersenyum lebar.


"Boleh juga itu," Ruben langsung menanggapi dan turut tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kebetulan bulan ini ada discount dan cash back-nya Pak, jadi lumayankan?" Yulia memperlihatkan beberpa brosur tipe mobil baru yang ia tawarkan lengkap dengan daftar harganya.


Ruben nampak antusias memperhatikan beberapa tipe mobil yang ditawarkan, sampai akhirnya ia teringat akan tujuan awalnya datang ke dealer mobil itu.


"Kalau Bapak pilih yang ini, masih tidak ada bedanya dengan mobil Bapak yang lama," Ruben mendorong brosur dihadapannya menjauh darinya. Ia lalu meminum minuman dingin yang disediakan untuknya.


"Bapak mau tipe yang lain? Boleh, disini ada banyak tipe pak Ruben, tinggal pilih," Yulia kembali membuka laci mejanya, mengambil beberapa brosur lagi didalam sana dengan semangat, lalu kembali menunjukannya lagi pada mantan gurunya itu.


Begitulah pekerjaannya, sebisa mungkin dirinya harus bisa membuat para konsumennya tertarik dan berhasil membuat mereka membeli salah satu product yang ia tawarkan.


Setelah beberapa saat melihat brosur-brosur yang baru disertai penjelasan mengenai product-product itu oleh Yulia, Ruben kembali terlihat kehilangan minat.


"Sepertinya saya nggak suka ini semua. Saya pengen liat LC," pungkas Ruben kembali meminum soft drink-nya.


Yulia diam sesaat, ia menatap Ruben, yang di pandang mengernyitkan wajahnya.


"Kenapa? Apa saya tidak pantas?" tanya Ruben sedikit tersinggung.


"Pertama harus inden dulu Pak. Kedua, untuk product LC tidak ada discount maupun cash back, dan bila pembelian secara kredit harus memberri DP 70 persen dari harga On the Road," terang Yulia.


"Berikan saya brosur dan list harganya," pinta Ruben. Yulia kembali membuka laci mejanya, lalu mengambil brosur dan daftar harga yang diminta oleh mantan gurunya itu.


"Ini Pak," sodor Yulia.


Ruben memperhatikan gambar-gambar pada brosur, saat ia melihat warna dan tipe yang sama dengan mobil milik Rose, pria berwajah fortugal itu langsung tersenyum penuh arti.


"Berapa harganya?" tanya Ruben sambil menunjuk gambar yang dilihatnya.


Setelah memperhatikan apa yang ditunjuk oleh Ruben padanya, Yulia lalu melihat pada daftar harga. "Ini harganya Pak," Yulia kembali menyodorkan satu daftar harga yang sudah ia lingkari sebagai tanda.


"Hampir 2,6 Milyar??" eja pria itu nyaring tanpa sadar.


"Kau yang benar saja Yulia, guru seperti Bapak ini mana mampu membeli mobil semahal ini! Kalau nawarin jangan mobil model beginian!" sungutnya lagi membuat beberapa calon konsumen disekitarnya terkikik menoleh kearahnya.

__ADS_1


Yulia hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, dia sudah menduga bakal seperti ini ujung-ujungnya, dirinyalah yang dituduh.


"Ngomong-ngomong, apa ada konsumenmu yang sanggup membeli mobil semahal itu?" pancing Ruben.


"Ada Pak," sahut Yulia.


"Berapa orang?" kejar Ruben


"Kalau tahun ini baru satu unit Pak."


"Siapa? Pasti orang kaya ya?" berondongnya penasaran.


Yulia terkekeh, melihat wajah kepo sang gurunya, ternyata masih seperti yang dulu batinnya.


"Reyn Hamdani, membelikan untuk isterinya sebagai hadiah pernikahan." sahut Yulia.


"A-apa?? REYN HAMDANI!" pekiknya lagi. Beberapa calon konsumen yang berada disekitar mereka kembali menoleh kaget mendengar suara Ruben yang cukup nyaring.


"Pak Ruben mengenal pak Reyn Hamdani? Pengusaha kaya, pemilik perusahaan Beras dan Pupuk Tangga Arang?" sambar Yulia, kala melihat reaksi mantan gurunya itu.


"T-tidak. Tadinya saya fikir mengenalnya, sepertinya namanya saja yang mirip." Ruben berusaha mengatur nafasnya yang sempat memburu karena keterkejutannya.


"Huuah, tidak mungkin juga si guru Biologi itu mampu membeli mobil semahal itu. Apa lagi dia juga menjadi guru juga belum ada 5 tahun ini," batin Ruben.


"Kalau boleh tahu, siapa nama isterinya?" tanya Ruben masih penasaran.


"Rose, Rose Margarine, Pak."


"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Air--, Air!" pekik Ruben tersedak.


Seorang customer service lainnya dengan cekatan meraih satu botol mineral, membuka, dan memberikannya pada Ruben yang lemas dan hampir pingsan mendengar nama sang isteri pengusaha mirip dengan nama siswinya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2