
"Selamat pagi." sapa Dokter Julio tersenyum cerah pada Steven yang telah duduk di kursi roda dan kedua orang tuanya yang tengah bersiap.
"Selamat pagi juga Dokter." sahut ketiganya hampir bersamaan, dan tidak lupa membalas senyum sang dokter.
"Apakah kau sudah siap dengan terapi-mu hari ini steven?" dokter Julio mendekati Steven yang duduk di kursi rodanya.
"Sakit tidak Dok?" tanya Steven.
"Biasanya sakit," jujur sang dokter.
"Tapi demi kesembuhanmu itu tidak mengapa Steven. Orang ganteng seperti dirimu tidak mungkin selamanya duduk di kursi roda seperti ini 'kan? Masa depanmu masih sangat panjang. Dan dunia diluar sana sedang menantimu untuk kembali mengukir prestasi." ucap dokter Julio memberi semangat.
"Dokter Julio benar Steven." Farid menepuk-nepuk lembut punggung putra kesayangannya.
"Berhenti meratapi musibah dan ketidak beruntungan yang pernah kau alami dimasa lalu. Ini waktunya kau bangkit Steven. Ingatlah semua nasihat Papi padamu. Di masa depan, kau pasti akan menjadi seorang yang hebat melebihi Papi-mu ini. Papi akan selalu mendukungmu Stev."
Steven menatap ayahnya. Selama ia menjadi seorang pesakitan di rumah sakit ini, ayahnya selalu mendampinginya dengan sabar, memberi semangat dan motivasi dalam setiap obrolan mereka.
Dengan pelan ia meraih tangan ayahnya yang masih menepuk punggungnya lembut, digenggamnya erat, lalu mencium punggung tangan milik ayahnya, pria yang sudah banyak berjuang untuk hidupnya, dan untuk masa depannya.
"Steven janji, akan menjadi pria sejati seperti yang Papi inginkan. Tidak mudah menyerah dengan segala tantangan yang menghadang." gemanya dengan penuh kepercayaan diri yang baru.
"Iya. Saya siap menjalani fisioterpinya Dok," Steven beralih pada dokter Julio, menganggukan kepalanya dengan pasti. Ia memutuskan tidak mau meratapi nasib buruk yang telah menimpanya akibat kecerobohannya sendiri.
"Kalau begitu, kami pamit dulu pak Farid, ibu Mutiara," setelah sedikit membungkuk sebagai tanda penghormatanya pada sang Bupati dan isterinya, dokter itu lalu mendorong pelan kursi roda Steven menuju pintu keluar.
"Putraku, dia sudah kembali seperti yang dulu," Farid menyunggingkan senyum diujung bibirnya, memandangi kepergian Steven dan dokter Julio.
"Mi, tagihan atas nama pak Rahmad sudah dibayar?" Farid mengalihkan pandangan pada mutiara yang berdiri disebelahnya.
__ADS_1
"Tidak. Untuk apa? Buang-buang uang saja," sahut Mutiiara sinis.
Farid menghela napas panjang, semakin kesini ia merasa isterinya itu semakin kelewatan saja.
"Mami tidak boleh perhitungan seperti itu. Pak Rahmad mengalami patah tulang rusuknya karena Steven anak kita Mi. Kita tidak boleh menutup mata, kasihan mereka," Farid berusaha menasehati isterinya.
"Pi, Mami sudah mengeluarkan banyak biaya rumah sakit untuk 13 orang yang di rawat dirumah sakit ini. Mami juga membayar perbaikan toko di perempatan jalan itu, dan biayanya tidak sedikit Pi."
"Dan untuk pak Rahmad, kita sudah mengeluarkan dana puluhan juta rupiah juga untuknya, masa itu tidak cukup? Kita tidak bisa mengeluarkan dana lagi Pi. Kita perlu memperhatikan Steven, biaya fisioterapinya tidak sedikit, uang dari mana harus Mami ambil, simpanan kita sudah menipis Pi," keluh Mutiara panjang lebar sambil mendengus kesal.
"Mi, Mami tidak perlu pusing memikirkan bagaimana mendapatkan uangnya, itu tugas Papi. Tugas Mami cukup datang ke bagian administrasi dan membayar tagihan rumah sakit, karena itu tanggung jawab kita atas kesalahan yang dilakukan Steven anak kita. Sudah bersyukur pihak korban tidak menuntut kita, mereka hanya minta biaya perobatan korban saja yang harusnya kita tanggung."
"Tapi uangnya tidak cukup Pi," sahut Mutiara beralasan.
"Bayar secukup uangnya saja Mi, nanti kita cicil. Pihak rumah sakit tidak keberatan. Mereka mengerti karena Papi sudah berbicara dengan mereka."
"Mami tiidak bisa Pi. Memang kita mau makan angin, keperluan Mami juga banyak," tolak Mutiara, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Asal Mami tahu, kesehatan Steven secara fisik dan mentalnya semakin membaik setiap harinya berkat doa keluarga para korban kecelakaan itu, mereka ikhlas menerrima musibah yang menimpa keluarganya akibat perbuatan anak kita. Setidaknya kita harus punya rasa kemanusian juga Mi."
Setelah berkata demikian, Farid berlalu dengan perasaan sedih, meninggalkan Mutiara yang masih bergeming diposisinya semula. Wanita itu masih tidak perduli, ia bahkan bosan mendengar kalimat suaminya yang itu-itu saja, uang dan uang lagi.
Farid terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Miris sekali, laki-laki sepertinya mampu memimpin warga setingkat kabupaten dengan cukup baik. Dalam masa jabatannya yang belum mencapai 5 tahun, sudah beberapa penghargaan yang telah ia raih karena kerja kerasnya yang mampu memimpin dengan baik. Tapi dalam keluarga kecilnya, kenapa ia seperti laki-laki yang tidak berguna saat mengadapi isterinya itu, keluhnya didalam hati.
"Selamat pagi Bu, boleh saya lihat tagihan atas nama pasien pak Rahmad Karan?" tanya Farid.didepan loket meja administrasi rumah sakit.
Seorang pegawai administrasi yang tengah sibuk membenahi mejanya segera menoleh kearah datangnya suara. Ia segera mengembangkan senyum dan sedikit membungkuk memberi penghormatan begitu melihat presisi sang Bupati.
"Selamat pagi juga Pak. Mohon di tunggu sebentar," ucapnya sopan. Ini kali kedua dirinya berhadapan langsung dengan orang nomor satu dikota tempatnya berkerja, rasa berdebar itu datang begitu saja, membuatnya sedikit gugup menekan keybord komputer di hadapannya.
__ADS_1
"Ibu sakit?" tanya Farid, ia melihat tangan pegawai adiminstari itu gemetar memegang kursor ditangannya.
"Tidak Pak, saya gugup dan grogi berhadapan dengan pak Bupati," ucap wanita itu jujur, tapi berusaha berkelakar.
Farid tertawa mendengarnya, namun tidak mengeluarkan kata-kata lagi karena tidak ingin mengganggu konsentrasi pegawai wanita itu. Ia hanya menunggu sampai wanita itu menemukan informasi yang ia minta.
"Pak, atas nama pasien Rahmad Karan, biaya rumah sakitnya sudah dibayar lunas. Juga sudah diberi uang muka untuk operasi keduanya 4 hari yang lalu. Dan rencana hari ini pukul 3 sore akan dilakukan tindakan operasi karena dokter Richardo, dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi dari luar pulau sudah tiba tadi pagi." terang pegawai wanita itu.
"Lunas?" Farid kaget, baru saja ia membahas tentang tagihan pak Rahmad dan isterinya itu bersikeras tidak mau membayar.
"Siapa yang membayarnya Bu?" tanya Farid penasaran pada sang dermawan itu, karena dirinya yakin bila Mutiara isterinya tidak mungkin yang membayarnya.
Wanita itu kembali melirik pada layar komputer didepanya, menurunkan dengan kursor ditangannya untuk beberapa saat.
"Pak Reyn Hamdani," jawab pegawai wanita itu kemudian, saat menemukan satu nama yang tertera disana. "Beliau pemilik perusahaan dimana pak Rahmad Karan berkerja, Pak," imbunya lagi.
"Iya, saya mengenal beliau," ucap Farid disela kagetnya. Nama Reyn Hamdani memang tidak asing baginya, laki-laki itu salah satu pengusaha yang sering mendapatkan penghargaan dari pemerintah kota karena rajin membayar pajak usaha tepat waktu. Dan beberapa kali ia bertemu dengan pengusaha beras dan pupuk itu, karena perusahaan milik pria itu berkerja sama dengan perusahaan milik daerah.
"Baik terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya pamit dulu." Farid kembali mengulas senyum sebelum pergi.
"Sama-sama Pak," sahut pegawai wanita itu ikut tersenyum. Dalam hati ia bersorak, bisa bertemu dan bertatapan langsung dengan Bupati-nya itu. Ternyata bukan isapan jempol semata, pemimpin kota mereka memang adalah orang yang benar-benar ramah, batinnya.
"Walau tidak hari ini, aku harus datang menemui pak Reyn untuk berterima kasih padanya," guman Farid didalam hati.
...🍓🍓🍓...
"Ternyata mereka memang sepasang suami isteri, ck-ck-ck," Ruben berdecak sendiri, memandangi layar ponselnya yang sedang memutar video Reyn menggendong Rose di dealer beberpa bulan silam.
Wajah Reyn memang tidak terlihat, hanya punggung lebarnya saja yang nampak, namun Ruben dapat memastikan bila laki-laki itu memanglah Reyn, rekan gurunya yang mengajar di sekolah yang sama.
__ADS_1
"Rose memang gadis yang sangat cantik, wajar saja pak Reyn nggak bisa nahan," gumanya lagi seorang diri. Ia kembali mengulang, memutar video singkat yang hanya berdurasi 73 detik itu. Ia bisa melihat pandangan mendamba seorang Rose saat mengalungkan kedua tangannya di leher Reyn yang menggendongnya dengan ala bridal style.
Bersambung...👉