
"Ya Tuhan! Kak Bram," Reyn mengusap wajahnya kasar. Selanjutnya ia menatap gemas pada Bram yang terlihat santai menyantap makanannya.
"Kenapa? Ada yang salah?" Bram masih dengan gaya santainya, sama sekali tidak merasa melakukan suatu kesalahan.
"Kali ini kak Bram benar-benar kelewatan." Reyn mengeraskan rahangnya melihat Bram mampu sesantai itu, sementara dirinya dan Leony hari ini di kantor kalang kabut akibat ulahnya.
"Bagaimana bisa kak Bram tidak meminta izin terlebih dahulu pada Leony sebelum membawa putrinya. Perempuan itu hampir seharian menangis mencari putrinya, mengira kalau putrinya diculik dan telah membuat laporan di kantor polisi." jelas Reyn dengan raut kesal.
"Salah sendiri, jual mahal amat perempuan itu. Coba menelponku-lah duluan sekali-kali, masa tidak pernah sama sekali. Dengan begitu, 'kan jadi tahu kalau Clara bersamaku." sahut Bram.masih bersikap biasa dan santai, sama sekali tidak ada rasa bersalah.
"Lagi pula, aku sudah meminta izin dengan orang tua Leony. Mereka mengizinkan kok." ucap Bram dengan raut serius.
"Iya kak Bram, tapi Leony kan ibunya, jadi kak Bram yang paling ganteng seantero jagat raya ini, WAJIB izin sama ibunya," tekan Reyn dengan nada gemasnya.
"Hei adik ipar. Yang ada, malah nggak diizinin sama Bidadariku itu kalau ngasih tau dia. Tapi terima kasih atas pujianmu adik ipar. Kau benar, tidak ada yang menandingi ketampananku, termasuk dirimu." Dengan gaya penuh percaya diri, Bram tersenyum senang.
Reyn menatap datar wajah Bram yang terkekeh seorang diri. Jika saja bukan kakak iparnya, ingin sekali ia memberi pelajaran pada pemuda yang jauh lebih muda darinya itu. Bagaimana bisa kakak iparnya itu sama sekali merasa tidak bersalah.
Dan mengenai perkataan Bram tentang telah meminta izin pada kedua orang tua Leony, Reyn yakin itu hanya omong kosong. Sempat beberapa kali ia mendengar beberapa pegawai laki-laki di perusahaan miliknya, berusaha mendekati Leony dan bertandang kerumah, selalu mendapat sambutan buruk, karena tidak sederajat dengan keluarga bangsawan mereka.
"Sudahlah, aku mau menemui anak itu. Lanjutkan saja makannya kak Bram, anak itu harus segera dipulangkan ke rumah ibunya." Reyn bangkit, lalu meninggalkan meja makan masih dengan perasaan kesal.
Bram yang melihatnya, buru-buru menyelesaikan makannya, ia tidak mau kalau dirinya tertinggal saat adik iparnya itu mengantar pulang Clara.
"Mas, lihat dia manis dan lucu, sangat mirip dengan sekretaris Leony," Rose yang baru naik dari kolam renang membawa Clara mendekati Reyn. Gadis kecil berwajah ceria itu tersenyum, memamerkan gigi-gigi putihnya, dengan air kolam masih mengucur turun dari tubuh mungilnya.
Reyn memandangi Clara yang berdiri disebelah Rose, dan ia setuju dengan kata isterinya itu, Clara memang sangat mirip dengan Leony, hanya saja gadis kecil berusia 4 tahun itu cukup gendut, sedangkan Leony sangat ramping diusianya yang cukup mapan menjadi seorang ibu.
"Halo Sayang, siapa namamu?" Reyn berjongkok, menyentuh rambut basah Clara, sekedar basa-basi karena sudah tahu nama gadis kecil dihadapannya itu.
"Clala Om,"" sahutnya dengan suara cadelnya.
"Clara senang disini?"
__ADS_1
"Cenang Om. Apalagi diajak lenang cama tante Lose," Clara mendongak ke arah Rose disampingnya dengan senyum bahagianya, Rose yang dilirik ikut tersenyum sambil mengusap pipi gembilnya.
"Clara sudah makan?" Reyn kembali melontarkan pertanyaannya.
Clara segera mengangguk, "Cudah Om, cama Om Blam makan ice cleam cama kentucky," polosnya.
"Anak pintar." Reyn mengusap lembut pucuk rambut Clara. "Sekarang ganti pakaian basahmu ini sama tante Rose ya? Nanti Om anterin pulang. Mami Leony kangen, dan udah nungguin Clara dirumah." bujuknya lembut.
"Tapi Mas--"
"Sayang, besok-besok Clara boleh main kesini lagi, asalkan mendapat izin dari Maminya," Reyn mengalihkan atensinya pada Rose, dan memberi kode supaya perkataannya tidak dibantah.
"Baik Mas." patuh Rose. "Ayo Clara sayang, kita pake baju baru yang dibelikan om Bram."
Clara langsung mengangguk setuju. Anak kecil itu gegas berlari-lari kecil mengikuti langkah Rose yang membawanya berganti pakaiannya yang basah setelah berenang.
...🍓🍓🍓...
Didepan rumah megah itu, nampak Leony juga baru tiba disana.
"Pak Reyn? Bagaimana Bapak tahu rumah saya?" tanya Leony keheranan, perempuan itu mendekati Reyn yang turun dari mobilnya.
"Kak Bram," Reyn menunjuk Bram yang tengah memarkirkan motornya di sudut taman bunga matahari yang agak jauh dari halaman rumah.
Pandangan Leony mengikuti arah jari Reyn, seketika ia merotasi bola matanya saat Bram berjalan kearah mereka dengan melempar senyum terbaiknya pada dirinya.
"Kenapa baru pulang? Bukannya pukul tiga sore saya sudah mengizinkan sekretaris Leony pulang?"
Raut Leony berubah muram. "Saya mampir ke beberapa taman kota dulu Pak, berharap bisa menemukan Clara disana. Tapi saya tidak menemukannya dimana-mana." perempuan itu kembali menangis sambil membekap wajahnya dengan kedua tangannya.
Reyn melirik pada Bram yang sudah berdiri didekatnya. "Lihat, apa yang kak Bram lakukan," gumam Reyn pelan. Bram terdiam, kini rasa bersalah itu mulai tergambar diwajahnya, melihat betapa khawatirnya sang pujaan hatinya itu pada Clara putrinya.
"Pak Reyn," Leony menjauhkan tangannya dari wajahnya. "Bolehkah saya besok meminta izin, untuk mencari putri saya?" mohonnya penuh harap. Reyn menatap kasihan pada Leony.
__ADS_1
"Saya masih belum tahu seperti apa keadaan putri saya itu." Leony menatap jauh kedepan dengan pandangan kosong. "Apakah Clara aman? Apa dia sudah makan? Apa hari ini dia sudah makan siang? Hiks hiks hiks," perempuan itu kembali menangis, merasa tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang untuk menemukan putrinya.
Reyn menyenggol lengan sang kakak iparnya, memberi isyarat supaya pemuda itu tidak terus membisu ditempatnya berdiri.
"Ayo kak Bram, bicara." suruh Reyn dengan sedikit memaksa, saat Bram masih saja bergeming ditempatnya.
"A-ayang Bi-bidadari," Bram mendadak gugup, rasa bersalah itu kini bertambah semakin besar melihat Leony yang menangis dalam kekhawatirannya.
Leony seolah tidak mendengar. Ia membekap kembali wajahnya dengan kedua tangannya, suara tangisnya semakin keras, rasa takut semakin membuncah dalam dadanya memikirkan putrinya yang belum diketahui kabar beritanya.
Rose yang sedari tadi memangku Clara didalam mobil, sabar menunggu Reyn membukakan pintu mobil. Kala melihat ekspresi Leony, ia buru-buru turun membawa Clara dalam gendongannya.
"Mami nangis?" gadis kecil itu menyentuh pundak Leony, merasa heran melihat ibunya yang terlihat cengeng dalam pemandangannya.
Seketika tangis Leony terhenti, serasa mimpi merasakan sentuhan tangan mungil Clara dan mendengar suaranya. Perempuan itu buru-buru melepaskan bekapan tangannya dari wajahnya.
Dengan mulut terbuka, ia melihat Clara tersenyum bahagia didalam gendongan Rose.
"Clara, apa ini kamu, Sayang?" Leony segera merebut gadis kecil itu dari gendongan Rose. Ia lalu mendekapnya erat, menciuminya dengan gemas diseluruh wajah, kepala bahkan hingga leher Clara. Clara yang dicium oleh Leony mengeliat-geliat kegelian.
Rasa takut, khawatir, dan cemas seketika menguap, berganti dengan rasa bahagia yang teramat sangat begitu memastikan anak yang ada dalam gendongannya adalah memang Clara, putrinya.
"T-terima kasih Nona, pak Reyn. Sudah membantu menemukan Clara yang hilang, dan membawanya pulang dengan selamat. Saya tidak tahu harus berterima kasih yang seperti apa. Saya--, saya sangat bahagia," ucap Leony dengan suaranya yang terdengar bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Ia begitu senang dan juga terharu.
Rose memandangi Reyn sekilas, lalu mengangguk dan tersenyum kikuk pada Leony. Ucapan perempuan itu membuatnya tiba-tiba geram pada Bram, ternyata sang kakaknya berbohong bila sudah meminta izin membawa Clara.
"Clara, kamu kemana saja, Sayang? Mami nangis karena cemas, takut kamu diculik orang jahat."
"Clala nggak diculik Mami. Om Blam ajak Clala jalan-jalan beli ice cleam, makan kentucky sampai kenyang lalu belenang di lumah tante Lose," jawab gadis itu dengan riangnya, tidak mengerti bila Leony benar-benar sport jantung mendengar celotehannya.
Leony seketika mendelik, menatap tajam pada Bram yang sudah pasrah menerima segala konsekuensi perempuan itu atas segala perbuatannya.
Bersambung...👉
__ADS_1