My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
90. Juru Bicara


__ADS_3

Reyn menatap layar monitor penuh minat. Dan penjelasan dokterpun didengarnya dengan khidmat, tidak ingin tertinggal informasi barang satu katapun tentang si buah cinta.


Genggaman tangan Reyn semakin erat, perasaan bahagia itu sungguh tidak dapat ia lukiskan dengan sederet kata-kata indah, pandangan matanya tetap pokus pada layar monitor dengan segala penjelasan sang dokter kandungan.


"Selamat! Buah hati pak Reyn dan ibu Rose telah hadir dan bertumbuh dalam kandungan ibu Rose," Dokter Aisyah tersenyum lebar, melirik pada sepasang suami isteri yang belum bisa berkata-kata, pancaran wajah mereka saja yang bisa melukiskan betapa bahagianya keduanya menyambut kehadiran sang janin imut itu.


"Lihat," tangan sang dokter kembali menggulir pelan tranduser pada perut bagian bawah Rose, sementara tangan kanannya terus mengarahkan sorot cahaya merah pada layar monitor yang tengah ia jelaskan.


"Janin yang baru berusia 6 minggu ini, sudah memiliki wajah dengan lingkaran besar untuk mata, hidung, mulut, telinga serta rahang bawah dan tenggorokan sudah mulai terbentuk."


Reyn dan Rose memperhatikan buah cinta mereka, terlihat melengkung seperti huruf C. Sedikit lebih besar dari butiran nasi, keduanya saling berpandangan, mengulas senyum bahagia yang sedari tadi terus terukir.


"Terima kasih, Sayang," Reyn mencium kening Rose yang masih berbaring. "Bibit unggulku berhasil jadi janin," gumam Reyn lagi, membuat Rose merrona dengan senyumnya yang terkesan malu-malu.


Dokter Aisyah tersenyum melihat roman kebahagiaan keduanya. Ia lalu membersihkan gel pada kulit perut Rose dan menyimpan terlebih dahulu alat pemeriksaannya sebelum memberi penjelasan lebih lanjut dan beberapa vitamin yang perlu dikonsumsi oleh ibu hamil.


...🍓🍓🍓...


"Bunda! Ayah!" teriak Rose, begitu memasuki rumah kedua orang tuanya, Reyn hanya menggeleng seraya tersenyum tipis dari belakang, sambil menenteng makan malam kesukaan kedua mertuanya.


Ya, isterinya itu kembali kehabitatnya, gaya anggun yang dibuat-buatnya didepan dokter kandungan tadi sudah menguap pergi entah kemana.


"Ya ampun Rose! Bising amat sih kamu!" Marlina yang muncul didepan pintu ruang makan tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyambut kedatangan si putri manja kesayangannya.


Rose segera mencium kedua pipi ibunya dengan brutal seperti biasanya dengan perasaan rindu yang teramat sangat.


"Rose ada kabar gembira Bun," ucapnya masih memeluk ibunya.

__ADS_1


"Kabar gembira?" Marlina menunjukan raut antusiasnya. Perempuan itu memandangi menantunya, seolah meminta konfirmasi atas apa yang dikatakan putrinya. Reyn yang mengerti auto mengangguk sambil tersenyum.


"Tahan! Tahan dulu!" Marlina memberi isyarat dengan tangannya. Kita ke meja makan, disana sudah ada Papa Haswan dan Mama Sarina juga. Kabar gembiranya dikatakan disana saja."


Marlina buru-buru mengajak anak dan menantunya ke ruang makan dengan wajah berbinar, ia sangat yakin bila kabar gembira yang dibawa anak dan menantunya pastilah kabar yang membahagiakan.


"Pa, Ma," Rose menyalami dan mencium punggung tangan kedua mertuanya, begitu pula dengan Reyn.


"Kok nggak pake mobil?" tanya Reyn heran sambil menyerahkan bawaannya pada sang Bibi. Karena saat masuk, ia dan Rose tidak melihat kendaraan Haswan dan Sarina didepan rumah.


"Oh, tadi sopir izin pulang, ada keperluan keluarga. Lama nggak berkunjung kemari, jadi Papa mengajak Mamamu kemari," sahut Haswan dengan senyum lebarnya.


"Ayo, buruan kasih tau kabar gembiranya sekarang, mumpung kita semua kumpul," Marlina buru-buru mengingatkan pada anak dan menantunya dengan raut tak sabar.


"Mas guru aja yang cerita," Rose melirik Reyn yang duduk disebelahnya. Laki-laki itu tertawa sejenak membuat semua atensi terarah padanya dengan rasa penasaran yang tinggi.


Mendengarnya, sontak semua yang ada disana berdiri dan menghambur memeluk dan mencium Rose dengan begitu bahagianya, disertai ucapan selamat dan doa yang menyertainya termasuk juga Bram. Pemuda itu, tentu kebagian yang paling akhir.


"Keponakanku pasti nggak kalah cantiknya sama Clara," celetuk Bram sambil mengusap perut Rose yang masih rata dengan perasaan bahagia.


"Clara? Clara siapa, Bram?" tanya Martin menatap putranya.


Rose seketika menegang, ia tahu ayah dan ibunya sangat antipati bila putra-putrinya berpacaran disaat masih menempuh pendidikan seperti yang pernah ia alami beberapa waktu lalu.


"Calon anak sambungku, Yah," sahut Bram jujur tanpa beban sedikitpun, malah Rose yang deg-degan mendengar pengakuan kakaknya itu.


"A-anak sa-sambung?" Kali ini Marlina memberi respon dengan suara gagapnya. Ia memandangi wajah Bram yang nampak santai.

__ADS_1


"Aduh!" Bram.meringis, mengusap perutnya yang telah mendapat cubitan gemas dari Rose, adiknya.


"Apaan sih Rose! Bumil kok hobinya nyubit kaya jari kepiting aja," pemuda itu gegas menjauh dari Rose sambil terus mengusap perutnya yang masih terasa sakit, kembali ke kursinya.


"Apa ada yang kalian berdua sembunyikan?" Marlina menatap Rose dan Bram bergantian dengan pandangan penuh selidik. Pengalamannya selama ini, bila putra dan putrinya berlaku demikian, tentu ada sesuatu yang serius.


"Adik ipar," Bram memandang pada Reyn yang sedari tadi diam saja. "Malam ini, aku kakak iparmu menugaskanmu jadi juru bicaraku. Aku percaya kau tidak akan salah bicara dalam konferensi meja bundar kita ini." dengan gaya sok memerintahnya.


"Bram, jaga bicaramu," tegur Martin malu. Walau sebagai menantunya, dirinya merasa sungkan bila putranya berbicara secara demikian pada Reyn, mengingat menantunya itu bukan orang biasa seperti keluarganya.


"Tidak apa Ayah," Reyn buru-buru menanggapi. Sebelumnya, niatnya datang kerumah mertuanya bukan hanya menyampaikan kabar kehamilan Rose, tapi juga pesan yang disampaikan oleh orang tua Leony, sekretaris pribadinya.


"Tadi sore, kami mengantarkan Clara pulang kerumah sekretaris Leony, dan kebetulan bertemu orang tua Leony disana."


Reyn mulai membuka pembicaraannya, tanpa menceritakan kesalah-fahaman yang telah terjadi pada Bram dan Leony, khawatir mertuanya akan marah besar pada kakak iparnya itu.


"Kedua orang tua sekretaris Leony meminta saya menyampaikan pada Ayah dan Bunda bahwa mereka menunggu kedatangan Ayah dan juga Bunda bersama kak Bram untuk keseriusan akan niat baik yang pernah kak Bram sampaikan pada saat pertama kali bertandang kerumah mereka sekitar dua bulan yang lalu."


"Dan lebih spesifiknya, kak Bram berencana menikahi sekretaris Leony bila kedua orang tua perempuan itu merestui. Bukan begitu kak Bram?" Reyn menatap kakak iparnya, karena sebelum menemui dokter kandungan bersama Rose, ia sempat menegaskan pada kakak iparnya itu tentang niat baik yang pemuda itu maksud pada kedua orang tua Leony.


"I-iya, benar seperti katamu itu, adik ipar," Bram mendadak gugup saat tatapan horor kedua orang tuanya mengarah kepadanya. Bulu kuduknya seketika turut merinding, suasana mulai menegang.


"Berani-beraninya kau melakukan itu Bram! Apa kau lupa kalau Ayah sudah sering memperingatkanmu juga? Cukup Rose yang bandel, nggak bisa diperingatkan! Kenapa sekarang kau malah mengikuti jejak adikmu itu?" Martin terlihat sangat geram.


Rose menelan salivanya dengan susah payah, mendengar ayahnya mengingatkan tentang masa lalunya. Itu sebabnya, saat ayah dan bundanya memaksanya menikah dengan Reyn tepat dihari pernikahan mereka yang dadakan beberapa bulan yang lalu, ia terpaksa menerimanya, karena ayahnya menunjukan sikap angkernya atas ketidak patuhannya berpacaran dengan Steven ketika itu.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2