
"Pak Reyn, aku mohon jangan gegabah!" Hartanto berusaha memperingatkan. "Ini masalah besar, salah langkah -- kita semua pasti celaka." cekal pria itu.
"Tapi saya tidak bisa berdiam diri pak. Akar permasalahan ini adalah saya," Reyn tetap berusaha keluar dari ruang guru, namun Hartanto menahannya dengan mencekal kuat lengannya.
"Bagaimana bisa pak Reyn bilang bila akar dari permasalahan ini adalah pak Reyn sendiri?" ibu Sari, guru bahasa Indonesia yang menjadi wakil kepala sekolah menatap Reyn, perkataan laki-laki itu mendorongnya bertanya demikian.
Sementara hiruk-pikuk kebisingan aksi diluar sana semakin membuat suasana sekolah makin tak nyaman, kedatangan yang berwajib masih mereka nanti-nantikan untuk mengamankan situasi yang makin memanas diluar.
"Karena laki-laki yang menikahi Rose adalah saya."
"A-apa?"
Seisi ruang guru sontak terpana. Ibu Sari seketika membekap mulutnya sendiri dengan satu tangannya, sementara satu tangan lainnya bertumpu pada salah satu meja yang ada didekatnya, supaya jangan sampai dirinya melorot bebas ke bawah atas pernyataan Reyn yang mengejutkan itu.
Syok, itulah yang dirasakan seluruh dewan guru itu. Mereka melemparkan tatapan tak terbaca pada Reyn yang memberi pernyataan mengejutkan.
"Itu benar. Pak Reyn memang telah menikahi Rose Margarine, siswi kelas XII IPA-AI seperti yang terus para aksi pendemo itu gaungkan. Tapi sepertinya mereka belum tahu, kalau pria lucnut yang menikahi Rose adalah pak Reyn ini, gurunya sendiri." tunjuk Ruben pada Reyn.
"Dan bila orang-orang di luar sana tahu, itu pasti lebih mengerikan lagi," ucap Ruben bergidik ngeri dengan raut cemas, mengintip dari kaca jendela ke arah gerbang sekolah yang semakin ramai membludak.
Bukan saja para pendemo, para pengendara yang terjebak macetpun ikut turun, meneriaki para penghuni sekolah yang sama sekali tidak berani memunculkan batang hidungnya selain tiga security yang terlihat gelabakan menghadapi kericuhan di depan pintu pagar yang masih terkunci rapat.
"B-bagaiamana bisa? Apakah pak Reyn tidak tahu kalau ini akan menjadi masalah besar seperti hari ini. Kita semua terancam akibat perbuatan pak Reyn!" sesal ibu Sari lagi, menatap nyalang Reyn yang berdiri disudut mejanya dengan raut bersalah.
__ADS_1
"Maafkan saya. Saya bersalah." Reyn tidak berusaha membela diri. Semua yang terjadi, dirinya lah yang patut dipersalahkan.
"Apa ini semua ulahmu pak Ruben?" Hartanto menatap Ruben yang masih berdiri dekat jendela kaca, memperhatikan kegiatan aksi yang terus berlangsung diluar sana.
"Bukan saya Pak kepala sekolah," sahut Ruben cepat, mengalihkan atensinya pada atasannya yang menatapnya tajam.
"Selama ini, bukankah hanya dirimu yang berusaha mencari tahu? Termasuk video yang kita lihat beberapa jam yang lalu? Telah disebarkan dititik lokasi sekolah ini." tuduh kepala sekolah geram.
"Saya berani bersumpah! Itu bukan perbuatan Saya!" lantang Ruben tidak terima.
"Tujuan saya mencari tahu tentang kebenaran antara pak Reyn dan Rose, supaya lebih awal saya bisa menekan agar jangan sampai terjadi masalah sebesar ini! Begitu saya tahu, masalah ini langsung mencuat ke permukaan, saya terlambat mengantisipasinya. Dan ini semua di luar kendali saya." ungkapnya serius.
"Saya-pun berani bersumpah! Tidak ada sama sekali niatan untuk menjahati sekolah ini, juga khususnya pak Reyn dan Rose dalam mencari pembuktian kebenaran."
"Cukup sudah saya kehilangan kota kelahiran saya, DILI, Provinsi ke-27 zaman Orba yang terpisah dari negeri ini. Saya tidak mau kehilangan lagi." suara pria berwajah portugal itu terdengar bergelombang hebat karena tubuhnya turut gemetar menahan perasaan dalam dadanya.
Ruben menengadahkan wajahnya kelangit-langit ruang guru, agar buliran bening di pelupuk matanya tidak jatuh ke pipi dan wajahnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus walau rajin dicukur. Hanya punggungnya saja yang terlihat sedikit berguncang. Ya, laki-laki berdarah Indo-portugal itu menangis pilu didalam hati, mengingat keluarga dan kota tercintanya.
Semua terdiam. Sebagian besar guru yang sudah senior di sekokah itu tahu cerita tentang kehidupan Ruben, rekan guru mereka. Mereka kembali terkenang, bagaimana pahitnya para pahlawan negeri ini memperjuangkan provinsi ke-27 zaman orde baru itu supaya tetap bertahan dalam kesatuan negara RI. Banyak anggota TNI yang pulang tinggal nama.
Sebut salah satunya, Brigadir Josep, adik laki-laki ibu Sari, asal Kalimantan Timur, seorang prajurit, hingga kini jenazahnya tidak ditemukan dalam baku tembak dengan musuh di tahun naas itu.
__ADS_1
Ketika itu, Ruben memang diberi pilihan, dirinya boleh kembali ke kotanya dan berkarya disana. Namun ia lebih memilih tetap menjadi warga negara Indonesia karena kecintaannya pada negeri ini, sementara isteri dan anak-anaknya, dan seluruh keluarga besarnya menetap di kota asal dan menjadi warga negara asing, berbeda dengan dirinya.
...🍓🍓🍓...
"Steven, apakah kau sudah tahu apa yang terjadi pada Rose hari ini? Gadis yang telah menjadi penyebab kecelakaanmu itu? Dia sudah menuainya," Mutiara tertawa puas.
Steven dan Farid saling berpandangan sesaat. Pemuda itu baru saja menyelesaikan kegiatan rutin fisioterapinya bersama dokter.
"Harusnya Mami memiliki rasa empati, bukan sebaliknya. Tidak baik merasa bahagia di atas penderitaan orang lain." tegur Farid sambil mengelengkan kepalanya pelan, ia pun sudah mendapat laporan dari ajudannya.
"Mami bahkan harus merayakannya, Papi. Gadis itu yang menyebabkan putra kita cacat. Dan gadis itu juga yang menyebabkan Mami menghamburkan uang yang tidak perlu, membiayai semua biaya pengobatan para korban kecelakaan itu, juga biaya renovasi kerusakan toko!" ucapnya berapi-api.
"Bukan Rose Mi, itu salah Steven. Steven yang tidak bisa mengendalikan diri waktu itu, hingga musibah kecelakaan itu terjadi," sela pemuda itu pada ibunya.
"Bahkan disaat dirimu masih di kursi roda seperti ini? Kau masih berusaha membelanya? Apa kau masih menyukai gadis itu? Dia sudah bersuami Stev!" tekan Mutiara dengan nada berang.
"Kalau boleh jujur, Iya. Aku masih sayang sama Rose Mi, tapi aku cukup tau diri, itu sudah tidak mungkin lagi." Steven menelan salivanya, sakit dalam dadanya masih terasa, ia memang belum rela dan belum ikhlas bila Rose kini sudah menjadi milik laki-laki lain.
"Dan aku harap, bukan Mami pelaku di balik aksi demo masal itu." Mutiara terkesiap, ucapan Steven secara tidak langsung telah menuduhnya.
"Coba Mami periksa semua berita yang beredar itu. Mengapa media-media itu menyorot bila aku yang menjadi suami dari Rose?" Steven menatap ibunya penuh tanya.
Mutiara kaget, ia buru-buru meraih ponselnya lalu mulai berselancar disana, menghimpun beberapa informasi satu demi satu yang berhasil ia temukan. Wanita itu terhenyak dengan raut tak terbaca.
__ADS_1
"K-kenapa bisa jadi kacau begini?" Mutiara menatap Steven juga Farid suaminya. Kedua laki-laki kesayangannya itu melemparkan senyum sinis dan tak berselera membahas lebih lanjut.
Bersambung...👉