
Keriuhan dalam kelas mendadak terhenti saat Reyn tiba-tiba muncul didepan pintu. Para siswa-siswi kelas XII IPA-AI itu tidak mendengar langkah sepatu sang guru, karena kebisingan yang mereka ciftakan sendiri didalam kelas.
"Selamat pagi!" sapa Reyn sambil berjalan masuk menuju meja guru yang berada disudut dekat jendela.
"Selamat pagi Pak!!!" sambut seisi kelas serempak dengan suara menggema.
Reyn menyapu pandangannya pada seluruh siswa-siswinya, melihat semua kursi-kursi terisi penuh, pertanda 40 siswa dikelas itu tidak ada yang absen.
"Inilah resiko punya isteri anak murid sendiri," keluh Reyn didalam hati saat tatapannya beradu pandang dengan Rose yang seakan melamun melihat kearahnya.
"Ketua kelas! Pimpin do'a sebelum mulai pelajaran!" Perintah Reyn, mengalihkan pandangan dari sang siswi yang pagi-pagi sudah membuatnya berurusan dengan guru BK sekolah.
"Bersiap! Sebelum pelajaran dimulai, marilah kita berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing. Berdoa dimulai!" Demi mendengar suara ketua kelas, seisi kelas menundukan kepalanya masing-masing.
"Selesai!" pekik Rendy lagi dengan suara lantangnya.
"Bapak tidak perlu mengabsen nama kalian satu-persatu, karena Bapak melihat hari ini kalian semua rajin, tidak ada yang absen." Reyn berdiri dari duduknya. Ia melangkah menuju papan tulis.
"Sebelum memulai pelajaran, terlebih dahulu Bapak mengucapkan selamat datang di kelas XII IPA. Harapan Bapak, kalian lebih bersungguh-sungguh belajar, mempersiapkan diri untuk ujian akhir dari sekarang. Jangan sampai ada ilmu yang terlewatkan, karena kalian akan rugi." ucapnya menatap satu-persatu siswa-siswinya yang pokus melihat kearahnya.
"Hari pertama pelajaran Biologi, Bapak ingin menguji pelajaran Biologi dikelas XI tahun lalu. Bapak ingin tahu apa kalian masih mengingatnya atau tidak."
Duft! Duft! Duft!
"Perhatikan di papan tulis!" Reyn mengetuk-ngetuk spidol ditangan kanannya pada dinding papan tulis.
"Gerak Nasti dan gerak Taksis!" Reyn menulis dipapan tulis. "Ada.yang masih ingat? Acungkan tangan sebelum menjawab!" pandangannya kembali menyapu seisi ruangan kelas, untuk melihat siapa yang ingin menjawab.
Nampak tangan-tangan saling berebutan mengacungkan tangan. "Saya Pak! Saya pak!"
"Iya, kamu Yira! Apa itu gerak Nasti?"
__ADS_1
"Dan kamu Jarno! Apa itu gerak Taksis?"
Reyn menunjuk dua siswa dan siswi itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Nasti adalah gerak sebagian tubuh tumbuhan akibat rangsangan dari luar, tetapi arah geraknya tidak dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan. Misalnya tumbuhan putri malu yang mengatup saat tersentuh oleh tangan kita Pak," jawab Yira antusias.
"Bagus Yira!"Puji Reyn. "Lanjut Jarno!" tunjuknya pada siswa gempal dan sangar itu.
"Taksis adalah gerak pindah tempat seluruh bagian tumbuhan yang arahnya dipengaruhi oleh sumber rangsangan. Misalanya spermatozoa yang bergerak menuju sel telur pada peristiwa pembuahan (Metagenesis) tumbuhan lumut (Bryophyta)." jawab Jarno lebih antusias.
"Bagus Jarno!" puji Reyn lagi sembari mengacungkan jempolnha pada kedua siswa-siswinya yang menjawab dengan gamblang dan antusias.
"Kamu ketua kelas!" Reyn menunjuk langsung pada Rendy. "Sebutkan beberapa gerakan Nasti yang kamu ketahui?"
"Fotonasti! Niktinasti! Seismonasti atau Tigmonasti! Dan Termonasti" lantang Rendy menjawab.
"Bagus! Ternyata kalian masih ingat pelajaran yang pernah Bapak ajarkan?" ungkap Reyn senang.
Sementara itu, Rose menyangga dagunya dengan dua tangannya diatas meja menatap setiap pergerakan Reyn yang bergerak kesana kemari didepan kelas, sesekali gurunya itu terlihat menulis di papan tulis, sesekali menunjuk beberapa teman-temannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.
Rambutnya yang terpangkas pendek dan rapi itu, bergoyang dan bergerak ringan tertiup angin yang masuk dari jendela yang terbuka, seolah sedang melambai dan memanggil dirinya.
Ah, bibir yang bergerak-gerak itu, pernah menci*m, menyes*p, dan m*l*mat bib*r miliknya. Rose meraba pelan bibirnya dengan ujung jari-jari kanannya lalu mulai tersenyum sendiri saat mengingat lid*h sang guru pernah memilin lid*hnya. Oh manisnya! Pekik Rose didalam hati sambil terus tersenyum sendiri.
Nah, tangan itu! Tangan kekar yang bergerak lincah menulis dipapan tulis itu, dan yang menunjuk teman-temannya, semalam telah menggendongnya dari ruang keluarga sampai kekamar. Huaa! Pengen lagi! Nanti pura-pura tidur lagi! Begitulah Rose sibuk dengan fikiran dan terus tersenyum membayangkan semuanya itu.
Dari tangan kekar sang guru Biologi, perhatian Rose turun ke sabuk yang melingkar dipinggang gurunya itu, lalu turun sedikit lagi dan mentok pada celana kain yang hanya sedikit terlihat menggembung disana, dan itu membuat Rose makin tersenyum lebar sendiri.
"Hihihi! Aku tahu dia pakai CiDi warna apa? Biru tua khan? Masalahnya aku yang nyiapin ditepi tempat tidur pagi tadi,"
Rose terus saja tersenyum tanpa menyadari bila Reyn sedari tadi memanggil namanya berulang kali, hingga Norsa yang duduk disebelahnya menyikut lengannya hingga ia tersadar karena hampir terjatuh akibat tangan yang menyangga dagunya lepas dari atas meja.
__ADS_1
"Apaan sih Norsa! Gangguin aja orang yang lagi asik! Heuh!" Kesal Rose mendelikan matanya pada sepupunya itu, masih saja belum sadar kalau seisi kelas sedang memperhatikan sikap anehnya yang seperti ada di alam yang berbeda dengan mereka.
"Tuh, di panggil yang didepan," Norsa hanya berbisk walau diperlakukan Rose demikian.
Rose segera menengok. Benar saja, Reyn yang bediri didepan sedang menatapnya datar. Gadis itu sekerika gugup menerima tatapan suaminya itu.
"Hehe," Rose cengengesan. "Maaf kan Rose ya Mamas suamiku, Rose ga dengar tadi saat mas Reyn manggil-manggil, hehe," ucap Rose masih belum move on dari dunianya sebelumnya.
Detak jantung Reyn serasa terhenti didalam sana. Bagaimana mungkin Rose bisa berkata seperti itu didepan semua teman-temannya? Gawat! Batinnya dengan nafas sedikit tersengal.
Semua siswa-siswi ternganga, mencerna apa yang sudah keluar dari mulut Rose.
"Astaga Rose, kau bicara apa sih?" Norsa kembali berbisik, berusaha menyadarkan Rose yang ia anggap salah bicara karena belum tersadar benar dari lamunannya ketika mereka semua sedang konsentrasi belajar.
"Loh! Aku disuruh manggilnya gitu kok! Mas Reyn, gak boleh Pak," sambung Rose, mengingat Reyn memang pernah mengatakan itu di awal pernikahan mereka.
"HAHAHAHAHAAAAA!!!" tawa seisi kelas meledak, kecuali Reyn, dan Norsa. Mereka terbahak, menyaksikan Rose yang terus bersikeras menolak memanggil Pak, lebih menyukai panggilan Mas pada sang guru Biologi yang dikenal killer itu.
Lidah Reyn terasa kelu, lututnya juga ikut bergetar, membayangkan masalah besar sudah menanti didepan mata.
Norsa memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Rose! Kau benar-benar membuatku pusing?" geram Norsa gemas.
"Rose! Berdiri!" panggil Reyn menatap tajam wajah gadis itu.
"I-iya Mas," Rose gugup dan nampak takut. Kenapa galaknya Reyn kembali lagi sekarang? batinya. Namun gadis itu menurut untuk berdiri sesuai perintah.
"Karena kau dan Norsa sudah mengganggu keamanan dan kenyaman belajar, kalian berdua Bapak hukum membersihkan toilet wanita di lantai tiga ini. Kerjakan sekarang!" Hentak Reyn marah.
"T-tapi saya nggak salah Pak," Norsa berusaha membela diri.
"Tetap saja kau ikut salah! Karena teman sebangkumu itu! Cepat, lakukan apa yang Bapak perintahkan tadi!" Sentaknya lagi dengan wajah mengeras dan memerah.
__ADS_1
"I-iya Pak," Norsa gegas berdiri menarik si manja Rose yang hampir menangis karena takut melihat kemarahan Reyn padanya.
Bersambung...👉