
"Hei Norsa! Rose! Ngapain main di toilet! Ini masih jam belajar," pak Ruben tiba-tiba muncul didepan pintu toilet putri.
Kedua siswi yang disebutkan namanya langsung menoleh kearah asalnya suara. Pak Ruben tersentak saat melihat wajah sembab Rose yang terlihat habis menangis.
"Kami bukannya sedang main Pak tapi kami tengah dihukum guru Biologi yang menyebalkan itu!" sahut Rose yang masih diselimuti rasa kesalnya.
"Apa?! Pak Reyn maksudnya?" pak Ruben memiringkan kepalanya, berharap tidak salah dengar, dan kedua siswi itu mengangguk mengiyakan.
Seketika perasaannya diliputi kebimbangan, padahal sedari kemarin siang ia begitu menggebu-gebu untuk mendapatkan bukti baru yang memberatkan Reyn. Tapi kenapa jadi begini? Kenapa Rose dihukum oleh Reyn? Apa dugaannya tentang hubungan Reyn dan Rose adalah salah? Hanya perasaannya saja? fikirnya bingung.
"Apa alasannya?" tanya pak Ruben berusaha mencari tahu.
"Dia--" Norsa menunjuk Rose ragu.
"Kenapa Rose? Apa yang dia lakukan?" tanya pak Ruben lagi.
"Ngelamun. Tidak serius belajar," sahut Norsa akhirnya, Rose hanya bisa menunduk, pasti dapet omelan lagi ini, fikirnya membatin.
"Heuh! Kamu itu yah Rose, sudah kelas XII masih saja tidak serius! Bapak sebagai wali kelas kamu tidak mau sampai salah satu siswa-siswi Bapak ada yang tidak lulus. Malu-maluin aja! Ingat yah Rose, jangan di ulangin lagi!" omel pak Ruben seperti biasanya.
"I-iya Pak," sahut Rose lemes, dapat bogeman lagi. "Kuat Rose! Jangan nangis lagi!" teriaknya dalam hati untuk menguatkan diri sendiri.
"Lanjutkan! Cepet selesain hukumannya! Jangan lama-lama disini. Toilet itu tempat bersarangnya kuman-kuman penyakit dan roh-roh jahat. Bapak pergi dulu."
"Iya Pak," sahut Rose dan Norsa bersamaan.
"Oh iya, suruh ketua kelas kalian temui Bapak di ruang BK saat istirahat pertama," pesan pak Ruben sebelum pergi.
"Baik Pak," sahut keduanya lagi lalu melanjutkan membersihkan toilet. Seperti biasa, Rose yang penjijikan kembali mual-mual dengan toilet putri yang bau pesing minta ampun, ditambah lagi masih ada onggokan kotoran yang tidak sempat turun didalam closet.
...🍓🍓🍓...
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
"Pak Ruben memanggil saya?" Rendy memunculkan setengah badannya dibalik pintu.
"Memangnya siapa lagi?! Di kelas XII IPA-AI ketua kelasnya kan kamu? Buruan masuk! Saya tidak suka basa-basi! Masih banyak siswa yang akan saya panggil lagi setelah kamu." gegasnya.
__ADS_1
"I-iya Pak," Rendy cepat- cepat masuk dan duduk pada kursi yang telah disediakan didepan meja pak Ruben.
"Bener pak Reyn hari ini menghukum Rose dan Norsa?" tanya pak Ruben to the point.
"Itu benar Pak," sahut Rendy.
"Kenapa?"
"Rose ngelamun saat jam pelajaran Biologi sedang berlangsung. Giliran ditanya dan disuruh jawab, Rose nggak ngeh. Malah manggil Mamas suamiku pada pak Reyn, Hahahaaa!" Rendy seketika tergelak mengingat peristiwa itu.
"Rose bilang begitu??!"mata pak Ruben yang memang dasar udah besar makin membola.
"Iya Pak serius!" ucap Rendy sembari mengembangkan dua jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf V di udara. "Malah Rose mengomelin Norsa yang menegurnya. Dia bilang begini Pak : LOH! AKU DISURUH MANGGILNYA GITU KOK! MAS REYN! GAK BOLEH PAK!" sambung Rendy, dengan suara meniru gaya Rose berbicara sambil terus terbahak geli.
"Heum, semakin mencurigakan," gumam pak Ruben sembari mengetuk-ngetuk kaca mejanya dengan pulpen ditangannya.
...🍓🍓🍓...
"Norsa, bantuin aku dong," Rose mengendap-endap disamping pos security jaga, sementara para siswa-siswi berjubel keluar melewati gerbang sekolah untuk pulang siang itu.
"Memangnya mau minta bantu apaan?" tanya Norsa.
"Imbalannya apa?" goda Norsa sambil memindahkan ponselnya yang ia pegang ke saku da*a kirinya.
"Terserah kamu deh Sa, aku sanggupin aja, yang penting jangan mahal-mahal. Aku harus berhemat!" tukas Rose yang mengingat gaji yang diberikan Reyn padanya sudah habis setengah yang ia belanjakan. Padahal sekarang baru tanggal 18, belum bayar gaji mbok Dira dan pak Kasim lagi diakhir bulan yang belum ia ketahui berapa nilainya.
"Okey traktir aku sama Rina makan siang besok, restauran Seafood. Deal!" ucap Norsa sambil mengulurkan tangan tanda mufakat.
"Ya ampun Sa, pake beginian segala!" Rose merotasi bola matanya, malas melihat sepupupunya banyak gaya.
"Setuju nggak?!" kejar Norsa.
"Iya, iya. Deal ahh! Besok tapinya. Buruan, panas nih kelamaan disini." Rose menyambut uluran tangan Norsa tanda setuju.
"Okayyyy! Byeeee!!" Norsa melambai dengan riang sambil berlalu. Meninggalkan Rose yang masih setia menunggu beberapa menit lagi disamping pos security.
"Ribet amat mau pulang," keluh Rose sambil melirik jam pada ponselnya yang sudah menujukan pukul 2 siang lewat 10.
"Non Rose," security yang membantu Rose kemarin datang menghampirinya.
__ADS_1
"Iya Pak ada apa?"
"Ngehindarin mas Steven lagi ya?" ucap security itu balik bertanya, ia baru saja datang dari luar gapura membantu para siswa-siswi yang berebutan naik bus sekolah.
"Ah iya Pak. Kok tahu?" Rose tersenyum tipis.
"Tau-lah Non, kemaren kan saya yang panggil Non saat bersama mas Steven," sahut security itu.
"Oh iya, saya lupa," Rose tertawa kecil setelah mengingatnya.
"Ngomong-ngomong, saya baru dari luar Non, mas Steven-nya lagi dikerubutin beberapa anak cewek kelas X. Kalau Non mau pulang sekarang buruan aja," ujarnya.
"Beneran?!" Rose nampak antusias. Ia sudah bosan mengumpet di samping pos jaga security.
"Iya Non, masa bo'ong."
"Terima kasih banyak pak kalau begitu?" Rose buru-buru berdiri.
"Sama-sama Non," balas sang security. Ia menatap kepergian Rose yang berlari-lari kecil menuju gerbang. "Cakep amat pacarnya pak Reyn, pantes aja berani bersaing ama anaknya Bupati, hehe." kekehnya.
Dari dalam mobil berkaca gelap, Rose yang sedang melintas bersama pak Kasim melihat Steven kewalahan menghadapi gadis-gadis belia kelas X yang meminta tanda tangan di rok mereka masing-masing.
"Idih, gile! Apaan coba, nyorat-nyoret rok cewek-cewek itu! Cewek-ceweknya juga Norak, mau aja minta tanda tangan di rok sekolahnya, coba dibuku kek!" dumel Rose seorang diri membuat pak Kasim tersenyum-senyum dibelakang kemudi.
"Kapan lagi dapat tanda tangan Putra Budaya Kota Tangga Arang Non?" celetuk pak Kasim dalam senyumnya. Sementara mobil mereka sudah menjauh meninggalkan area sekolah.
"Oh, pak Kasim tau juga kalau kak Steven itu Putra Budaya Kota Tangga Arang?" tanya Rose kaget.
"Tau-lah Non, masa nggak. Saya kan juga up date informasi, sering nonton berita di televisi tentang kota Tangga Arang kita ini?" sahut pak Kasim sambil pokus pada lalu lintas di depannya.
"Loh, ini mau kemana Pak? Kok jalan terus nggak belok kekiri?" Rose melirik pak Kasim yang dikira lupa jalan.
"Pak Reyn nggak kasih tau Non kah kalau saya disuruh mengantar Non makan siang di restauran Tepian Mutiara?" pak Kasim terheran, tapi ia tetap pokus mengemudikan mobil yang dikendarainya.
"Nggak," Rose menggeleng. "Kita putar balik saja Pak, saya masih sebel dan kesel sama mas Reyn. Dia tega menghukum saya membersihkan toilet putri yang kotor dan baunya yang minta ampun." adu Rose dengan raut memang terlihat kesal.
"Jangan dong Non, nanti saya di marahin pak Reyn, trus anak isteri saya mau dikasih makan apa kalau nggak kerja?" pak Kasim terlihat menghiba.
"Iya udah deh," walau hatinya kesal, tapi Rose juga tidak tega bila laki-laki paruh baya itu harus menanggung akibat kelakuannya. Ia teringat sepupunya Shasa dan bibinya yang kesulitan ekonomi setelah ditinggal meninggal sang kepala keluarga.
__ADS_1
Bersambung...👉