My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
109. Kita Urus Rasa Bencimu


__ADS_3

"Ketika kau dirumah sakit, aku melihat dokter Hendra bersamamu disana. Aku mendengar apa yang kalian bicarakan. Dan aku cemburu," Bram menyandarkan punggungnya sambil menatap jauh kedepan tanpa pokus yang jelas.


Leony menatap Bram disebelahnya, senyum diwajah pemuda itu sudah benar-benar sirna pada pemandangannya.


"Dilain hari aku menanyakan pada Mami-mu, ternyata kau dan dokter Hendra adalah teman lama sejak kalian sama-sama kuliah dulu."


Leony masih terdiam ditempat duduknya, menatap lurus kedepan, sama seperti yang dilakukan Bram, dan terus menyimak setiap penuturan laki-laki yang terlihat sedih itu, tanpa berniat menyelanya.


"Aku hanya seorang pemuda dari kalangan biasa, bukan keturunan bangsawan seperti keluargamu, dan belum mapan seperti dokter teman lamamu itu."


"Dan selama ini aku sudah memaksakan cinta yang kupunya, dengan caraku yang konyol, kekanak-kanakan, tidak dewasa, lebay, dan banyak lainya yang malu-maluin kamu."


Leony menelan salivanya, masih terdiam, ia merasa tersindir, apa yang dikatakan Bram barusan, itu yang sering digaungkannya tentang pemuda itu saat ibunya berusaha membujuknya menerima Bram.


"Dan bila malam ini kau masih memintaku stop, jangan mengejarmu lagi, aku akan melakukannya." Bram menoleh menatap Leony yang masih bergeming disebelahnya, perempuan itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.


"Aku pernah melakukannya saat terakhir kau mengatakan tidak ingin melihatku muncul dihadapanmu. Ternyata itu terlalu sulit untuk aku lakukan, aku memang sempat menghilang, nyatanya aku muncul lagi dengan tidak tau malunya. Semuanya karena rasa CINTA." Bram tersenyum getir.


"Aku akan mengantarmu pulang," Bram kembali menghidupkan mobil,.lalu menjalankannya dengan perlahan, menuju rumah Leony yang tinggal 100 meter lagi.


Seorang security membuka pagar kokoh rumah Leony, saat melihat Bram menyembulkan wajahnya dari balik kaca jendela mobil yang ia turunkan.


Bram tersenyum pada sang security, lalu menaikan kembali kaca mobilnya dan berlalu memasuki halaman luas rumah Leony.


"Kita sudah sampai. Aku akan turun untuk berpamitan dengan orang tuamu, karena sudah membawa putri mereka pulang selarut ini." Bram melepas sabuk pengamannya, lalu gegas membuka pintu disebelahnya.


"Bram, tunggu." Leony menyentuh lengan Bram, sebelum pemuda itu benar-bemar keluar dari dalam mobil.


"Ada apa?" Bram menoleh, melihat Leony masih duduk ditempatnya semula.


"Bisa tolong bantuin aku membuka sabuk pengaman ini?" lirih Leony pelan. Bram tertawa kecil memdengar permintaan perempuan itu.


"Oh, maaf. Aku lupa kalau kau kesulitan melepas sabuk pengaman itu." Bram bergeser mendekat, mencondongkan sedikit tubuhnya dan mulai melepas besi pengunci sabuk pengaman.


Leony memejamkan matanya, saat aroma maskulin dari tubuh Bram kembali menyeruak masuk kedalam indera penciumannya.


"Aku--, aku suka aroma parfummu, Bram." lirih Leony lagi, sambil menghirup dalam udara sekitarnya.

__ADS_1


Kegiatan Bram seketika terhenti, pemuda itu menegakan wajahnya yang semula menunduk, memandang wajah Leony yang tengah memejamkan matanya.


"Suka aroma parfumku saja?" Bram menelisik bebas wajah cantik Leony yang masih setia memejamkan matanya, tanpa khawatir perempuan itu mengetahui bila dirinya tengah memandanginya.


"Aku--, aku tidak ingin kau menghilang lagi seperti dulu, Bram. Aku mau terus bisa melihatmu. Apa boleh seperti itu?"


Bram membeku, memandangi bibir pink milik Leony yang seolah berkomat-kamit mengatakan apa yang telah ia dengar. Pemuda itu menggigit bibir bawah dan atasnya sendiri secara bergantian, memastikan bila yang ia dengar bukanlah sekedar mimpi apa lagi hasil halusinasinya belaka.


"Akh," Bram merasakan sakit pada kedua belahan bibirnya karena ulahnya sendiri.


"Apa kau sengaja memejamkan mata agar aku mencium Bibirmu?" Bsik Bram pelan didaun telinga Leony.


Spontan perempuan itu membuka dan melebarkan sepasang matanya, menatap wajah Bram yang berada tepat didepan wajahnya.


"Tidak! Belum boleh!" panik Leony semakin merapatkan tubuhnya kebelakang kabin, membuat Bram kembali terkekeh melihat rona dibelahan pipi perempuan cantik pujaan hatinya itu.


"Boleh aku dengar sekali lagi kau mengucapkannya dengan mata terbuka dan menatapku?" pinta Bram setelah menghentikan kekehannya.


"Aku--, aku mau kau tetap didekatku, Bram. Jangan pernah menghilang lagi. Puas?!" Leony mendadak kesal melihat cengiran Bram.yang menyebalkan, jari lentik perempuan itu ikut mendarat manis diperut Bram yang mentertawainya.


"Aduh!" ringis Bram. "Pasti nikmat kalau lebih kebawah lagi nyubitnya." gelak Bram yang kembali kumat.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


"Mas guru, aku bemci padamu. Kau sama sekali tidak membelaku didepan Ayah dan Bunda," Rose cemberut sambil membantu melepas dasi, membuka kamcing kemeja, hingga melepas celana panjang suaminya.


"Beneran benci?" goda Reyn menatap Rose yang masih belum selesai dengan kegiatannya.


Rose mengangguk, menunjukan wajah manyunnya.


"Mas, turunin. Aku belum selesai berbenah," Rose pura-pura meronta, padahal dirinya begitu bahagia mendapatkan perlakuan manis suaminya itu.


Reyn membawa Rose dalam gendongannya dan mengungkungnya dikasur empuk mereka.


"Lupakan pakaian-pakaian kotor itu, mari kita urus dulu rasa bencimu pada Mas gurumu ini," Reyn menurunkan wajahnya, meraup bibir Rose yang sudah terbuka, siap menerima serangan-serangan darinya.


"Eumph!" Reyn gelagapan. Bukan dirinya yang menyerang seperti niatannya semula, malah Rose dengan gesitnya sudah berada diatasnya dan memberi serangan-serangan jitunya.

__ADS_1


"Sayang, hati-hati. Dalam perutmu ada anak kita," Reyn yang cemas buru-buru mengingatkan.


"Tenang Mas guru, pergulatan kita akan membuat anak kita menjadi kesatria yang tangguh," cerocos Rose asal dan kembali melanjutkan aksinya.


Dibawahnya, Reyn pasrah menerima perlakuan liar si isteri bocilnya itu, merasakan setiap sentuhan yang membangkitkan hasrat kejantanannya.


"Ohwsshh" wajah Rose seketika mendongak keatas, menikmati sensasi sesapan pada salah satu buah pepayanya yang bergelantungan. Serasa ribuan watt aliran listrik menjalar diseluruh tubuhnya merasakan rasa geli bercampur nikmat yang diciftakan kulu man Reyn disana.


Mendengar desisan se xi Rose, sontak membuat sang junior Reyn menegang dibawah sana.


Merasakan sapaan sang junior yang menyeruduk dibawah perutnya, tanpa ragu Rose mengulurkan tangannya untuk balas menyapa, memberikan sentuhan lembutnya.


"Eumph!" Reyn mendelik, lalu kembali memejamkan kedua matanya merasakan pijatan jemari Rose yang menelusup masuk kedalam kain penutup terakhir asetnya.


"Hewan melatanya bangun," bisik Rose, semakin intens memijat.


"Sayang, kok serem amat sih disebut begitu," ucap Reyn terbata-bata,, setengah tidak terima bila aset berharganya disamakan dengan hewan menakutkan itu.


"Nggak pa-pa Mas, biar lebih ganas gitu--, aghhsss," Rose kembali mendesis, merasakan giliran ujung pepayanya yang lain disesap oleh Reyn dengan penuh ga irah.


Tak tahan menahan hasratnya, Reyn perlahan membimbing ping gul sang isteri pada posisi yang seharusnya. Dan mulai membantu isterinya itu memberi beberapa gerakan.


"Aghss," jeritan kecil lolos begitu saja dari mulut Rose, saat penyatuan itu terjadi. Ia terpaku sesaat sebelum akhirnya mengerakan ping gulnya dengan gerakan pelan dan penuh perasaan.


"Rosehhhss," racauan Reyn semakin intens terdengar, saat Rose memacu pacuannya semakin cepat, seluruh sistem saraf keduanya sama-sama menegang, merasakan buncahan kenikmatan yang melebur menjadi satu, mengalir hangat didalam sana.


Bersambung...πŸ‘‰


Dua episode untuk hari iniπŸ€—πŸ€— terima kasih untuk kebersamaan para pembaca menemani author berkarya hingga ke tahap ini.


Satu episode lagi, My Dear TEACHER akan tamat. Yuk, mampir di karya baru author : TERNODA.


Kehadiran para pembaca akan membuat author semakin bersemangat dalam menulis. Mohon maaf bila ada salah kata dalam menulis maupun menjawab komentar dari para pembaca.


Salam :


DEWI PAYANG

__ADS_1



__ADS_2