
"Pak Reyn, bisa kita bicara sebentar?" Pak Ruben menghampiri Reyn dimeja kerjanya yang sedang bersiap memasuki ruang kelas di jam pertama.
"Tentu saja pak Ruben, bicaralah," Reyn merapikan posisi duduknya setelah menyiapkan beberapa buku panduan yang akan ia bawa ke kelas untuk memberi pelajaran.
"Tidak di sini, diruang BK, empat mata," ucap pak Ruben lagi.
Reyn melirik arloji dipergelangan tangannya. "Lima menit lagi pelajaran saya akan segera dimulai." menatap pada guru BK dihadapannya. "Mungkin saat jam istirahat saja Pak, karena hari ini saya full mengajar 4 kelas."
"Tidak bisa, jam istirahat saya sudah ada jadwal memanggil beberapa siswa," tegasnya.
"Sepertinya sangat penting?" Reyn menebak, namun tidak tahu apa yang akan dibicarakan guru BK itu.
"Lebih penting dari apapun yang pernah pak Reyn duga. Sepuluh menit saja, tidak lebih." pungkas pak Ruben dengan raut serius. Demikianlah dirinya, mengurus segala te*ek bengek akhlak semua penghuni sekolah membuatnya bersikap serius dengan siapapun juga, termasuk para rekan guru sejawatnya.
Reyn berfikir sejenak, Itu artinya ia akan terlambat lima menit masuk kelas batinnya.
"Baiklah," Reyn gegas berdiri, mengambil tas dan buku-bukunya lalu mengikuti pak Ruben. Guru-guru lainnya hanya menyikapinya dengan diam karena sedang sibuk mempersiapkan diri sebelum jam mata pelajaran dimulai, hanya kepala sekolah yang kebetulan lewat merasa ada sesuatu yang serius dari ucapan keduanya.
"Silahkan duduk pak Reyn." Pak Ruben mempersilahkan dengan ramah.
"Terima kasih," Reyn duduk pada kursi yang disediakan pak Ruben untuknya.
Keduanya kini duduk saling berhadapan. Guru BK berwajah portugal itu menatap Reyn, seakan tengah menyisir setiap lekuk-lekuk wajahnya. Risih? Tentu saja, tapi Reyn tetap bersikap tenang, karena bukan sekali atau dua kali ini saja ia menerima tatapan demikian dari guru BK itu, yang sengaja ingin menggeser mentalnya secara psikologis.
"Dari yang saya lihat, pak Reyn ini tidak jelek-jelek amat, tapi kenapa sampai sekarang tidak ada yang naksir? Buktinya sampai sekarang belum punya isteri?" ucapnya membuka pembicaraan, berharap umpannya dimakan.
__ADS_1
Reyn menatap kebola mata kelam pak Ruben, berusaha mencermati setiap kata sang guru BK itu, ia yakin perkataan itu bukan untuk menghinanya, tapi ada maksud yang terselubung.
"Saya rasa kehidupan pribadi saya tidaklah penting untuk dibahas. Kalau begitu saya permisi," Reyn menggeser kursinya untuk berdiri, merasa pertemuan itu buang-buang waktu saja.
"Kalau kehidupan pribadi pak Reyn tidak penting, bagaimana dengan kehidupan pribadi Rose Margarine, siswi kelas XII IPA-AI?" pak Ruben kembali bersuara, kali ini sedikit lebih lantang untuk menghentikan Reyn supaya tidak pergi begitu saja.
"Kalau saja kehidupan pribadi saya tidak penting untuk dibahas, apalagi kehidupan orang lain, saya sangat tidak tertarik untuk membahasnya. Bukankah pak Ruben yang menjadi wali kelasnya, silahkan wawancara sendiri bila penasaran." Timpal Reyn.
Reyn membalikan tubuhnya untuk bergegas pergi.
"Saya menduga ada hubungan istimewa antara pak Reyn dan Rose, pernikahan misalnya." tegasnya demi mendapat perhatian guru Biologi itu.
Langkah Reyn seketika terhenti, berbalik dan gegas mendekati meja pak Ruben lagi, tentu saja ucapan asal guru BK itu sangat mengganggunya.
"Apa maksud Anda pak Ruben?" Reyn terlihat kurang senang. "Tolong, jangam membuat statement tidak berdasar. Ini bisa jadi gosip murahan, kita sama-sama pendidik disini." datarnya.
Pak Ruben semakin tersenyum lebar, ia menangkap memang ada sesuatu antara guru dan murid itu, respon Reyn telah menunjukan bahwa dugaannya benar. Sekarang, tinggal bagaimana cara jitunya saja untuk mengungkapkan apa yang ia duga adalah suatu kebenaran.
"Jujurlah pada saya pak Reyn. Seserius apa hubungan pak Reyn dengan Rose. Saya akui, anak gadis itu memang sangat cantik."
Wajah Reyn mengeras, namun ia berusaha bersikap tenang, ia segera sadar ini adalah pancingan dari guru BK itu untuk mengorek keterangan darinya.
"Pak Ruben, sampai saat ini saya masih tidak memahami apa yang Anda maksud. Kenapa seolah-olah ucapan Anda terlalu menyudutkan saya, mengatakan seakan-akan saya memiliki hubungan khusus dengan salah satu murid di sekolah ini."
"Heum, masih mau menghindar. Jangan bilang aku Ruben, si guru BK yang cermat dan handal di sekolah ini, kalau tidak bisa mengulik dirimu secara tuntas," monolognya didalam hati.
__ADS_1
"Kemarin, saya melihat pak Reyn memberikan sebotol air mineral pada Rose lewat seorang siswa baru kelas X." ungkap pak Ruben, ia memperhatikan setiap gerik lawan bicaranya, berusaha mencari jawaban atas apa yang ia curigai dua hari ini.
"Sebenarnya saya tidak berniat pilih kasih, kebetulan saya punya satu saja kemarin." sahut Reyn bersikap biasa.
"Kenapa hanya Rose saja? Padahal disana ada banyak siswi yang saya hukum, mereka juga kehausan." pak Ruben menekuk kedua tangannya diatas meja untuk menyangga dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang sengaja belum dicukurnya.
"Tentu akan memerlukan ber-dus-dus air mineral Pak. Dan kenapa hal kecil seperti itu dipermasalahkan?" Reyn mulai tak sabar.
"Hal yang pak Reyn anggap kecil itu bisa menjadi hal besar." timpal guru BK itu mengurai senyum, dan kembali berwajah serius dan datar.
"Dua hari ini saya juga perhatikan, kalau Rose diantar-jemput mobil pribadi pak Reyn."
Reyn terhenyak, kenapa dirinya tidak kepikiran sampai disana? Ceroboh! Ceroboh! Ceroboh! Pekiknya memaki diri sendiri didalam hati.
"Kenapa saya melihat suatu kebetulan yang sangat kebetulan berkaitan satu sama lain. Pertama perhatian pak Reyn memberikan botol air mineral itu pada Rose. Kedua, sopir pak Reyn mengantar jemput dua hari ini. Seperti menjaga jodoh--. Bukan! Lebih tepatnya seperti perhatian suami pada isterinya."
Berlebihan memang, batin pak Ruben. Tapi mau gimana lagi, ini cara yang biasa dirinya lakukan, menohok, melebihkan dari bukti yang hanya sejumput ia peroleh demi pembuktian dari kecurigaan yang sangat mengganggunya selama.dua hari belakangan ini.
"Sepertinya pak Ruben terlalu jauh berfikir. Ya, saya memaklumi bila pak Ruben berlaku seperti ini pada saya karena tugas pak Ruben sebagai guru BK sekaligus guru Pendidikan Moral di sekolah ini. Saya terangkan, bahwa antara saya dan Rose hanya ada hubungan guru dan murid, tidak lebih dan tidak kurang," tegas Reyn tenang.
"Sepertinya saya harus pamit," Reyn melirik arloji tangannya. "Pembicaraan kita sudah lebih dari 10 menit. Kita bisa lanjut di lain waktu," Reyn menundukan kepalanya, sebagai penghormatan pada seniornya yang lebih lama mengabdi dari dirinya disekolah itu.
Pak Ruben masih merenung dibelakang mejanya. Reyn terlihat tenang dan pandai berkilah menurutnya, namun ia yakin, ia bisa membongkar apa yang masih menjadi kecurigaannya. Laki-laki berprofesi sebagai guru Pendidikan Moral itu telah dipercaya hampir 10 tahun menjadi guru BK. Sepak terjangnya untuk menjaga akhlak para pelajar dan pengajar sudah tidak diragukan lagi, ia mampu bersikap tegas pada siapapun juga termasuk kepala sekolah di sekolah itu.
Bersambung...👉
__ADS_1