My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
39. HARTA YANG PALING BERNILAI


__ADS_3

"Mas, boleh Rose minta tolong?" gadis itu masih mencengkram tangan Reyn dengan erat.


"Minta tolong apa, heum?"


"Itu Mas--, tapi jangan marah yah?" Rose merasa ragu, dan sedikit gugup.


"Bilang saja mau minta tolong apa. Buruan, Mas mau turun, mau mengantarkan ini," sambil menunjuk mangkuk kosong ditangannya.


"Itu Mas--, tolong cuci'in CD-nya Rose, Rose jijik," lirihnya hampir tak terdengar, menggigit bibir bawahnya merasa malu, tapi apa boleh buat, dia memang sangat jijik pada cairan merah dan bau amis bergumpal-gumpal hitam itu.


Reyn terpana. Ia menatap Rose lama, tidak percaya bila isteri kecilnya itu meminta tolong hal yang tidak pernah ia lakukan. Jangankan mencuci kain kotor perempuan yang sedang kedatangan tamu bulanannya, menyentuh pakai*n da*am wanita saja dia tidak pernah.


...🍓🍓🍓...


"Mi, hari ini aku sengaja munguntit Rose hingga ke restoran yang ada didekat sekolahnya," Steven memecahkan keheningan sarapan pagi yang hanya diwarnai suara dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan.


"Lalu?" Mutiara melirik sekilas kearah putranya, dan kembali pokus pada piring sarapannya. Sementara Farid Jhon, ayah Steven hanya mendengarkan obrolan isteri dan anaknya itu sambil menikmati sarapan paginya.


"Rose menghindariku Mi, saat aku menghampirinya dan teman-temannya. Ia pura-pura ketoilet lalu pulang meninggalkan kami tanpa pamit."


"Aku merasa Rose sudah berubah. Dia berubah setelah pesta syukuran kelulusanku beberapa bulan lalu Mi." Steven meletakan sendok dan garpunya.


"Sepertinya apa yang pernah dikatakan Rose dan Ibundanya itu memang benar, kalau Mami memang melarang hubunganku dengan gadis itu."


"Sayang," Mutiara turut menghentikan sejenak aktifitas sarapan paginya, memandang sorot mata Steven yang tengah menatapnya. Sebisa mungkin, ia berusaha berkata lembut pada putra bungsu kesayangannya itu.


"Sudah berulang kali Mami katakan padamu Sayang, Mami merestui hubunganmu dengan Rose. Dia gadis yang baik, sopan, dan juga sangat cantik, tidak ada alasan bagi Mami menolaknya," ucap Mutiara mengulas senyum hangatnya, masih berusaha menyembunyikan perkataan yang pernah ia katakan pada ibundanya Rose.


"Kalau begitu--, Sabtu sore besok, kita melamar Rose. Steven nggak mau dia diambil orang," putus Steven tiba-tiba.

__ADS_1


Mutiara terhenyak, ia dan suaminya saling berpandangan sesaat. Permintaan tidak terduga Steven sungguh membuat.keduanya kaget tidak terkira.


"Steven sayang, kau itu baru beberapa bulan ini masuk perguruan tinggi, mana bisa mau nikah gitu aja," Mutiara masih berusaha bersuara lembut. Sementara Farid, ayah Steven kembali bersikap tenang dan meminum jusnya.


"Steven bilang minta dilamarkan saja, bukan tunangan, apalagi nikah. Steven tahu, harus menyelesaikan kuliah dulu baru boleh menikahi Rose.


"T-tapi Steven--"


"Pokoknya, Steven tetep minta dilamarin Mi. Steven nggak mau keburu diambil orang. Steven udah liat banyak yang berusaha deketin pacarnya Steven itu. Apa lagi guru killer itu, udah berani boncengin Rose didepan mata Steven. Rasanya Steven panas hati ingin memukulnya!"


BOAM!!!


Mutiara kembali terkejut, demikian pula suaminya, saat kepalan tangan putra mereka Reyn memukul meja makan dihadapannya dengan rahangnya yang turut mengeras.


"Steven pamit dulu," pemuda itu bangkit lalu menggeser kursinya, bergerak kearah ibunya dan ayahnya dan mencium punggung tangan keduanya sebelum berangkat.


"Mam, kenapa Mami harus tidak jujur sih," Farid akhirnya membuka mulutnya setelah putranya itu sudah tidak terlihat lagi dan menghilang dibalik dinding. Laki-laki tinggi besar dan berwajah tegas itu menatap isterinya sambil mengusap sudut-audut bibirnya menggunakan tissue.


"Bukankah keluarga pak Martin sudah menjauhkan putri mereka dari Steven, sesuai keinginan Mami. Lalu kenapa Mami malah menambah masalah, mengarang cerita kalau Mami menyetujui hubungan Steven dengan putri pak Martin itu? Sekarang Mami susah sendiri kan? Lihat, Steven meminta kita melamar gadis itu, padahal Mami sudah bicara pada ibu Marlina, kalau Mami tidak menyetujui hubungan anak kita dengan anak mereka."


"Apa Papi menyalahkan Mami?" Mutiara yang masih pusing memikirkan permintaan Steven merasa tersudut akan perkataan suaminya.


"Begini Mam. Perlu Papi tegaskan siapa kita. Mungkin saja Mami lupa," Farid menatap dalam pada isterinya.


"Dikota ini, sederhananya--, Papi adalah ayah, dan Mami adalah ibu dari semua masyarakat, warga dalam lingkar teritorial pemerintahan, baik dikota, bahkan sampai ke pelosok. Segala yang kita lakukan tidak akan lepas dari pantauan dan pengawasan semua orang Mi, kita ini panutan, teladan, contoh yang dilihat oleh semua masyarakat."


"Sebisa mungkin, walau kita manusia biasa, kita tidak boleh bertindak salah." Farid masih menatap wajah isterinya yang sedikit menunduk. "Berbuat baik dan benar saja sering dipandang salah, apalagi memang salah." imbuhnya lagi.


"Hentikan kebohongan Mami itu, jangan menganggapnya sepele. Berterus teranglah pada Steven, kasihan dia sudah menjadi korban kebohongan Mami. Jangan sampai persoalan ini menjadi serius suatu hari nanti."

__ADS_1


Farid berdiri, menjinjing tas kerjanya," Papi berangkat dulu Mi."


"Mami antar sampai kedepan," Mutiara gegas berdiri, mensejajari langkah suaminya.


"Ingat pesan Papi ya Mi, cepat selesaikan masalah Mami dengan Steven, jangan sampai berlarut-larut. Ingat, kita ini siapa, karena nama baik adalah harta yang paling bernilai. Bila itu sudah tak ada, tidaklah guna kita memiliki jabatan setinggi apapun." pungkasnya.


Mutiara tidak mampu berkata apapun, dirinya tahu, apa yang dikatakan suaminya itu benar adanya. Ia menatap langkah ringan suaminya yang terus berjalan bersama ajudannya yang telah menanti didepan pintu rumah dinasnya.


...🍓🍓🍓...


"Apa maksud kedatangan ibu Mutiara dan Steven kerumah kami ini?" tanya Martin, setelah mempersilahkan kedua tamunya duduk dan meneguk minuman yang disiapkan oleh bibi Sila.


Martin dan Marlina lumayan terkejut sore itu, tanpa angin dan tanpa hujan Mutiara dan Steven tiba-tiba saja datang bertamu dirumah mereka pada akhir pekan itu.


"Rose ada dimana?" Mutiara balik bertanya. Pandangannya mengitari keseluruh sudut ruangan tamu, seakan mencari keberadaan Rose yang saat ini tidak duduk bersama mereka.


"Putri kami tidak ada dirumah," sahut Martin menatap datar pada dua tamunya, sementara Marlina duduk tenang disebelah suaminya.


"Dimana Om?" Steven memberanikan diri untuk bertanya.


"Keluar bersama Mas-nya," sahut Martin, dan Steven mengangguk pelan, menyangka orang yang dimaksud adalah Bram, kakak Rose.


"Saya kemari mau melamar Rose untuk Steven," ucap Mutiara, setelah lama ia berdiam.


Kaget, juga bingung, itu yang tengah dialami Martin dan Marlina mendengar pernyataan to the point Mutiara, keduanya saling berpandangan sesaat lalu kembali menatap pada kedua tamu yang duduk didepan mereka.


"Apa maksud ibu Mutiara?" Martin kembali melontarkan pertanyaannya, hanya untuk memastikan apa yang ia dan Marlina dengar.tidak salah.


"Saya ingin melamar Rose untuk Steven pak Martin dan ibu," ucap wanita itu lagi dengan suara lembutnya yang khas.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2