My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
85. Ratunya


__ADS_3

Para asisten rumah tangga yang sebagian besar wanita itu meneteskan air mata haru, memegang amplop ditangannya masing-masing, tiga kali lebih tebal dari biasanya.


"Izinkan kami masih mengabdi pada Bapak," seorang perempuan dengan rambut tergelung, dan nampak lebih tua dari yang lainnya bersuara, dan direspon anggukan oleh para asisten rumah tangga lainnya.


"Iya Pak, kami mau. Kami ikhlas, kami sudah terbiasa berkerja dengan Bapak." salah satu laki-laki yang sebaya dengan perempuan yang bergelung rambutnya itu ikut berbicara.


Farid tersenyum tipis. " Kesetiaan dan kerajinan Bapak dan Ibu sekalian sudah tidak diragukan lagi. Dan saya sangat puas atas kerja keras Bapak dan Ibu selama ini. Tapi saya mohon maaf, saya sudah tidak bisa memperkerjakan kalian lagi. Saya sudah tidak sesibuk dulu lagi."


"Bapak dan Ibu punya tanggung jawab keluarga masing-masing dirumah. Semoga saja sedikit rupiah yang saya berikan dapat digunakan untuk usaha--"


"Mau di apakan barang-barang ini?!"


Farid, steven, dan dua belas orang asisten rumah tangga itu menoleh kaget pada sumber suara. Mutiara yang baru saja turun dari mobilnya pagi itu berkacak pinggang diantara perabotan rumah tangga yang bejibun dihalaman rumah mewahnya.


"Papi berikan pada asisten rumah tangga kita Mi, dan selebihnya Papi sumbangkan," sahut Farid. Mendengarnya, Mutiara seketika meradang.


"Tidak boleh Pi! Kita bukan yayasan sosial! Enak saja! Suruh mereka bayar kalau mau!"


"Saat kita harus membayar yang harus kita bayar, siapa yang membantu kita? Tidak ada kan? Mami tidak setuju, mending kita jual pada pengumpul barang bekas dari pada memberikannya pada mereka. Mereka sudah mendapat gaji setiap bulannya--"


"STOP Mi!" hardik Farid dengan nada tinggi, laki-laki itu sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan sumbang isterinya itu dengan raut sedikit memerah.


"Lekaslah bersiap kalau Mami tidak mau Papi tinggal." sambung Farid lagi menurunkan nada suaranya.


Walau hati kesal, Mutiara tetap menurut, dua malam tidak pulang kerumah tentu akan membuatnya diadili Farid, batinnya. Perempuan itu pergi meninggalkan halaman rumah dengan menghentakan kakinya marah didepan semua orang. Farid hanya bisa mendesah, mengurut dada melihat ratunya itu.


"Jangan diambil hati," ucap Farid pada para asisten rumah tangganya itu setelah Mutiara menghilang didalam rumah. "Segera kosongkan rumah ini, lalu tolong bersihkan, dan pel hingga mengkilap. Bila semuanya sudah beres, tolong beritahu saya. Saya akan melakukan serah terima kunci rumah pada pemiliknya yang baru."


"Saya pamit dulu," Farid mulai menyalami satu persatu para asisten rumah tangganya, begitu pula dengan Steven yang masih duduk di kursi rodanya.

__ADS_1


Para asisten rumah tangga itu kembali meneteskan air mata, melihat Farid membantu Steven naik ke mobil dan menyimpan kursi roda pada bagasi belakang mobil. Laki-laki itu tidak ingin dibantu, beralasan dirinya sedang belajar melakukan semuanya sendiri, karena nantinya tidak akan menggunakan jasa asisten rumah tangga lagi.


Rasa haru mereka bercampur kesal saat melihat Mutiara datang dan masuk kemobil dengan gaya sombongnya seperti biasa. Para asisten rumah tangga itu hanya bisa mengurut dada, melihat sikap sang majikan perempuan yang berbanding terbalik dengan suami dan putra mereka.


...🍓🍓🍓...


"Mami, Clala nggak mau Bibi! Clala maunya Mami aja yang antelin ke cekolah!" rewel gadis berusia 4 tahun yang mengenakan seragam kotak-kotak berwarna merah hitam sambil melempar tas sekolahnya kesembarang tempat.


"Aduh Clara sayang, Mami bisa terlambat kalau harus mengantarkanmu. Kantor Mami dan sekolah Clara berlawanan arah, Sayang," Leony berusaha membujuk gadis kecil yang berkuncir kuda dan terlihat lucu itu.


"Pokoknya Clala nggak mau. Bosan diantar sama Bibi!" gadis kecil itu melipat sepasang tangannya didepan dada, bibir mungilnya mengerucut dan memaju hingga melebihi pucuk hidungnya. Matanya juga ikut melotot pada wanita dewasa berambut keriting yang berdiri tidak jauh dari Leony.


"Tidak sopan seperti itu Clara," Leony menggerakan jari telunjuknya didepan gadis kecil yang memanggilnya Mami sembari berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil didepannya.


"Baiklah, hari ini Mami akan anterin Clara. Oke," Leony akhirnya mengalah, arloji ditangannya sudah menunjukan pukul 7 lewat 14 menit, ia tidak mau berlama-lama berdebat dengan gadis kecil dihadapannya itu, yang ada dirinya akan terlambat, begitu pula dengan Clara.


"Bi, biar saya saja yang mengantarkan Clara ke sekolah, Bibi dirumah saja mengerjakan pekerjaan rumah lainnya."


"Ini Non," bibi Nira menyerahkan tas sekolah Clara pada Leony.


"Terima kasih Bi. Kami berangkat dulu."


"Iya, sama-sama Non. Hati-hati dijalan." wanita yang terbilang muda beberapa tahun dari Leony itu melambaikan tangannya, Clara yang melihatnya langsung membuang muka sebel.


"Clara," Leony menatap gadis kecil itu sedikit garang. "Mami tidak suka ya kalau Clara tidak hormat pada orang tua."


"I-iya Mami, maaf..." cicit gadis kecil itu dengan raut memelas dan sedikit takut.


Dibalik rindangnya tanaman hias didepan pagar rumah Leony, Bram keluar dari sana. Sudah hampir dua bulan ini ia menguntit Leony walau tidak setiap hari.

__ADS_1


Pemuda itu buru-buru menghidupkan motornya lalu membuntuti mobil Leony dari kejauhan.


Hampir lima belas menit mengemudi, Leony akhirnya menepikan mobilnya didepan pagar sekolah Clara, seorang security lalu datang mendekat.


"Maaf Nona, dilarang parkir disini," ucap sang security sopan, saat Leony keluar dari mobilnya dan menggandeng tangan Clara.


"Oh maaf Pak, saya sebentar saja. Mengantar putri saya ini kesekolah dan saya juga buru-buru mau berangkat kerja lagi.".


Leony berniat menitipkan Clara pada sang security namun ia kaget, gadis kecilnya sudah tidak ada disampingnya, ia juga tidak sadar kapan Clara melepaskan genggaman tangannya.


"Clara!" Leony panik, sementara pak security segera menunjuk ke satu arah, dimana Clara sedang berdialog dengan salah satu anak perempuan yang sebaya dengannya.


"Nggak! Mamiku jauh lebih cantik dali Mami-mu!" sengit Clara sambil memajukan dada dan wajahnya kedepan, hingga wajah kedua gadis kecil itu hampir saja menemepel satu sama lain.


"Mamiku yang cantik dan Mami-mu yang jelek! Lambut keliting kucut! Baju kucut! Celba kucut! Yeeek!" ulang gadis kecil berambut keriwil itu masih tidak mau kalah.


"Mamiku nggak keliting! Mami-mu yang keliting kaya lambutmu itu!" Clara masih berusaha membalas dengan caranya, hatinya sangat jengkel tidak terima karena bibi pengasuhnya yang dihina-hina oleh temannya itu disangka ibunya.


"Stop Clara! Stop Nolin! Nggak boleh berantem sama teman sendiri," Seorang wanita berseragam guru melerai.


Leony buru-buru mendekat, ingin tahu apa yang terjadi, tidak ketinggalan sang security juga menyusul dibelakangnya, mendatangi keributan kecil yang tercifta oleh dua gadis kecil itu.


"Liat! Mamiku jauh lebih cantik dali Mami-mu kan? Mamiku sepelti latu!" Clara memeluk Leony, lalu melirik pada Nolin.


Sementara gadis kecil yang menjadi lawan adu mulut Clara pagi itu menatap Leony sesaat lamanya, memang ada kemiripian wajah Clara dan tante-tante cantik itu batinnya.


"Kamu kemanakan Mami jelek-mu itu?" Nolin tidak mau terima kalau ibu temannya itu ternyata lebih cantik dari ibunya.


Semua yang ada disana terkesiap, mereka menggelengkan kepala tidak habis fikir, bagaimana mungkin anak-anak seusia TK ini bisa menghina ibu dari temannya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2