My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
87. Kaget


__ADS_3

Reyn nampak gelisah, waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi lewat 58 menit, 2 menit lagi pertemuannya dengan tamu penting perusahaan akan dimulai, dan Leony belum juga kembali setelah meminta izin keluar padanya 30 menit yang lalu.


"Leony, tidak biasanya kau seperti ini." Reyn bergumam seorang diri diluar ruangan. Laki-laki itu buru-buru mendial nomor kontak Leony begitu ia menemukannya.


Seteleh bunyi tunggu bergema beberapa kali akhirnya Reyn lega karena Leony mengangkat teleponnya. Tidak bertahan lama, detik berikutnya wajah Reyn menegang mendengar isakan diujung sambungan telepon.


📞"Apa yang terjadi sekretaris Leony?" Reyn menajamkan pendengarannya, suara isak itu makin tumpah ruah, dan suara diseberang sana nampak sedikit bising bercampur suara tangisan Leony.


📞"Tenangkan dirimu sekretaris Leony. Katakan, kau sekarang berada dimana?" Reyn mulai panik. Sambil menelpon, ia mengecek keberadaan sekretarisnya itu lewat smartphone miliknya, sayangnya Leony sedang me-nonaktifkan lokasi keberadaannya.


📞"Anak saya hilang Pak. Seseorang telah membawanya pergi dari sekolah saat saya akan menjemputnya," adu Leony dalam tangisnya yang kian menggema. Reyn tersentak kaget mendengarnya.


📞"A-anak?! Bagaimana mungkin?" Reyn masih dalan mode kagetnya.


Suara tangis Leony tiba-tiba terhenti. Perempuan itu sama kagetnya dengan Reyn. Diseberang sana, ia membekap mulutnya sendiri sambil menyundul kepala. Saking emosionalnya dirinya, perempuan itu tidak sadar kelepasan bicara.


Tut. Tut. Tut.


Telepon tiba-tiba terputus. Reyn masih syok, ia menatap layar ponselnya. "Bagaimana mungkin dia sudah punya anak? 8 tahun dia berkerja di perusahaan ini, aku tidak pernah mendengar apalagi mendapat surat undangan pernikahannya. Di kartu tanda penduduknya pun, statusnya belum kawin."


"Pak Reyn. Maaf, bisakah kita mulai sekarang? Waktu sudah menunjukan pukul 11 tepat. Tamu penting kita sudah menunggu didalam." Mendengarnya, Reyn gegas berbalik, menemukan Ginardi, sang manager operasional yang tengah berdiri tidak jauh darinya.


"Baiklah, kita masuk." Reyn beranjak. Ginardi mendorong handle pintu dan memberi ruang pada sang pimpinan untuk masuk terlebih dahulu.


...🍓🍓🍓...


"Saya mohon maaf pak. Saya sudah mengacaukan meeting penting kita hari ini," Leony menunduk, nampak sekali perempuan itu menyesali atas ketidak profesionalannya hari ini.


Reyn menatapnya kasihan, kehilangan salah satu anggota keluarga pasti sangat menyita perhatian, terlebih Leony seorang single parent seperti pengakuannya.


"Saya sudah membuat laporan polisi, tapi pihak yang berwajib mengatakan putri saya belum dinyatakan hilang sebelum 2 kali 24 jam, Pak." Leony berusaha terlihat tegar.


"Saya--, memakluminya sekretaris Leony. Kau tidak perlu meminta maaf ataupun merasa khawatir. Dan sayapun sudah memberi tahu pada pemimpin perusahaan PT. Adi Guna, kita akan membahas kontrak kerjasama dua hari lagi."

__ADS_1


"Dan mengenai pelaporanmu, saya akan berusaha membantu memantaunya bila sampai 2 kali 24 jam putrimu itu tidak ditemukan. Kebetulan saya punya teman di Polres Tangga Arang ini."


"Kau boleh pulang lebih awal untuk menenangkan dirimu dirumah. Saya juga akan pulang lebih awal, mau ke dokter mengantarkan isteri saya," Reyn bangkit dari duduknya, lalu merapikan jasnya.


"Nona Rose sakit?"


"Tidak. Saya hanya memeriksakan kesehatannya seperti biasa. Tolong kunci ruangan saya."


Leony ikut berdiri. Perempuan itu mengekori Reyn yang berjalan menuju pintu keluar sambil menjinjing tas kerjanya. Langkahnya mendadak ikut terhenti bersamaan dengan Reyn yang menghentikan langkahnya begitu melewati ambang pintu, ia tidak ingin sampai menabrak tubuh atasannya itu.


"Sekretaris Leony," Reyn berbalik.


Leony menatap wajah ragu Reyn lalu memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada yang ingin pak Reyn katakan lagi?"


Reyn mengangguk pelan. "Saya hanya ingin bertanya. Apa benar? Clara itu anakmu, sekretaris Leony?"


"Lalu, dimana Ayah anak itu? Kenapa kau tidak melibatkannya untuk mencari putrinya?"


"Bajing an itu sudah mati, remuk dimakan ikan pesut di pinggiran sungai Mahakam!" ketus Leony mendadak emosi kala mengingat ayah biologis Clara.


"Huh?!" Reyn mendelik kaget. "Selama tinggal dikota ini, saya tidak pernah mendengar ada berita manusia yang dimakan oleh Pesut Mahakam. Kau yang benar saja sekretaris Leony," ungkap Reyn tidak percaya.


Hewan mamalia yang terancam punah ini merupakan ikan lumba-lumba air tawar dan lebih dikenal dengan nama Pesut Mahakam. Kulit tubuhnya cukup menyeramkan, lebih menyerupai batang kayu gosong bila sedang berenang dipermukaan air, sehingga banyak orang tidak mengira bila itu adalah seekor ikan. Hewan ini memang salah satu hewan karnivora yang memakan ikan-ikan berukuran lebih kecil darinya, moluska, dan krustasea.


"Aku berharap seperti itu!" ketus Leony lagi. Laki-laki jahat sepertinya memang sebaiknya dijadikan makanan ikan mamalia itu, biar kejahatannya ikut lenyap dalam perut ikan."


Reyn kembali terdiam, ia dapat melihat bila Leony sangat marah pada ayah putrinya itu. Ia tidak ingin membahasnya lagi, tentu perempuan itu punya alasan sehingga bersikap demikian.


...🍓🍓🍓...


"Seperti motor kak Bram," Reyn buru-buru turun dari mobilnya, melihat sepeda motor kakak iparnya terparkir.dihalaman rumahnya.

__ADS_1


"Mbok, kak Bram dimana?" tanya Reyn saat melihat mbok Dira tengah membereskan ruang tamu yang nampak berantakan. Walau merasa aneh pada keadaan ruang tamunya yang tidak pernah seberantakan itu namun ia lebih pokus pada mbok Dira yang menjawab pertanyaannya.


"Mas Bram ada dimeja makan Pak."


"Terima kasih Mbok," Reyn gegas menuju ruang makan. Ia harus memberitahukan pada Bram tidak perlu mendekati Leony lagi. Sekretarisnya itu ternyata sudah memiliki anak dan sepertinya ada masalah serius dengan suaminya.


"Kak Bram," Reyn mendekat, lalu menarik kursi dan duduk disana, berhadapan dengan Bram yang tengah asik menyantap makan sorenya.


"Eh, adik ipar! Maaf, aku numpang makan," Bram terkekeh sendiri dihadapan Reyn.


"Tidak masalah. Beruntung kau kemari, bisa membantu Rose menghabiskan makanan itu, kan sayang udah dimasakin si mbok tapi nggak ada yang makan."


"Kalau masalah makan serahkan saja padaku, aku suka makanan enak." kekehnya lagi. "Tapi ngomong-ngomong tumben kau pulang cepat?" Bram memandangi Reyn sekilas dengan mulut penuhnya.


"Mau mengajak Rose ke dokter."


"Rose sakit?" Bram mengernyitkan keningnya. Seingatnya, adiknya itu baik-baik saja, bahkan sekarang sedang berenang dengan ceria disamping menemani calon anak sambungnya.


"Nggak. Aku hanya ingin memastikan didalam perut adikmu itu apa sudah ada buah hati kami."


"Apa? Kalian sudah melakukannya?" Bram terkejut. Mulutnya yang sedang mengunyah langsung menelan makanannya yang belum sempat melembut didalam sana.


"Nggak usah kaget. Sah-sah saja kan? Kami sudah menikah," Reyn menatap kakak iparnya yang kesulitan menelan makananya sambil menyodorkan gelas air putih.


Bram mengangguk setelah berhasil menelan dengan bantuan segelas air putih yang diteguknya.


"Baguslah. Jadi Clara ada temannya nanti."


"Clara? Siapa Clara?" Reyn merasa familiar dengan nama itu, mirip nama putrinya Leony yang hilang.


"Calon anak sambungku," sahut Bram kembali meneruskan makannya yang sempat terhenti sejenak. Dilihat dari wajah Reyn, adik iparnya itu pasti bingung mendengar ucapannya. Namun Bram lebih memilih menunda penjelasannya sebelum ritual makan sorenya selesai.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2