
"Kau tidak ingin bergabung?" Marlina bertanya pada putrinya, menunjuk ke arah Reyn, Martin, dan Haswan yang masih asik mengobrol di ruang keluarga.
"Nggak Ma, Rose buru-buru mau ke toilet nih. Maaf yah," Rose meringis sambil mengusap perutnya yang terasa sakit karena kekenyangan dan ingin membuang sampah lamanya.
"Ya udah, buruan sana. Nanti keburu keluar disini," ucap sang bunda dengan senyumannya.
Marlina dan Sarina menatap kepergian Rose yang tergesa-gesa menaiki anak-anak tangga, sedari tadi mereka memang melihat gadis itu meringis menahan sakit saat masih di bilik walk in closet miliknya.
"Rose mana Bun?" tanya Martin, ketika tidak melihat keberadaan putri kesayangan itu bersama isteri dan besannya.
"Ke kamarnya, sakit perut ingin BAB," jawab Marlina lalu mendudukan tubuhnya disebelah Martin. Demikian pula dengan Sarina, wanita itu juga duduk disebelah suaminya dan Reyn. Kelimanya kembali melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.
Di atas sana, Rose tengah mengeram dengan nikmatnya sambil melamun dengan segala fikirannya.
"Apa bener Mas Reyn itu jadi tukang manggul beras?" gumanya sambil mengeluarkan ampas-ampas sampahnya, mengingat hantaran suaminya yang begitu banyak hingga menjadi satu bilik serupa butik.
Untuk melihat-lihat semua hantaran itu saja, dirinya harus menghabiskan waktu hampir tiga jam termasuk melihat bilik khusus segala pakaian dan aksesories milik Reyn juga yang terletak bersebelahan dengan biliknya.
"Ugh, lega!" gadis itu mengusap perutnya yang sudah tidak sakit lagi setelah membuang hajatnya. Ia melirik jam dinding kamarnya yang sudah menunjukan pukul 10 lewat 10 menit, pantas saja dirinya sudah mengantuk fikirnya. Itu artinya dirinya telah menghabiskan waktu hampir 30 menit didalam sana.
Dengan sekali tekan, Rose mengubah mode lampu kamarnya menjadi mode tidur dengan pencahayaan temaram.
Tangan Rose meraba-raba, begitu masuk kedalam selimut tebalnya, seingatnya tidak ada guling diisana.
"Mas Reyn? Bukannya tadi masih ngobrol dibawah," gumamnya setelah menyibak selimut dibagian kepala dalam pencahayaan lampu tidur yang temaram ia masih dapat melihat Reyn yang sudah memejamkan matanya.
"Datar, tidak ada bedanya." cekikik Rose seorang diri. "Lagi bangun atau lagi tidur, tidak ada bedanya," imbuhnya lagi lalu merebahkan tubuhnya.
"Bilang apa?"
Rose terkesiap, mata Reyn seketika terbuka lebar. Ternyata laki-laki itu belum terlelap seperti dugaannya.
"Ng-nggak bilang apa-apa kok," sangkal Rose tergagap.
__ADS_1
"Apanya yang datar?" Reyn menarik tangan Rose yang berusaha menjauh.
"I-itu, mimik wajahnya mas Reyn." tunjuk Rose dengan bibirnya yang sedikit memaju.
"J-jangan mepet-mepet, bahaya Mas," gadis itu semakin tergagap. Dengan kedua belah tangannya, ia menahan berat dada Reyn yang semakin menghimpitnya.
"Sebahaya apa?" gumam Reyn setengah berbisik, dan terus melakukan aksinya.
"Hiks! Hiks! Hiks! Nggak boleh kaya gini. Kalo Rose bilang bahaya, ya bahaya Mas," ucap gadis itu yang tiba-tiba saja menangis. Bayangannya sudah kemana-mana akibat pernah menonton film dewasa yang tidak sengaja ia tonton bersama Norsa karena dikerjain oleh Rina ketika itu.
Reyn tertegun, ia bisa melihat raut ketakutan diwajah Rose, padahal dirinya hanya berniat mengodanya, tidak lebih. Bagaimanapun juga ia masih tahu batasannya, juga ingat janji keramatnya dihadapan kepala sekolah, tapi isterinya itu sudah menujukan sikap bocil akutnya.
Laki-laki itu bangkit dari kungkungannya, lalu merebahkan kembali tubuhnya ke posisi semula. Ia melirik sekilas pada Rose yang sudah menaikan selimutnya hingga ke lehernya.
"Mas Reyn marah?" Rose melirik suaminya yang kini memunggungi dirinya.
"Nggak." singkat Reyn.
Rose perlahan menyentuh punggung lebar Reyn.
...🍓🍓🍓...
"Wuih! Giile!" Rendy yang baru saja turun dari motor sportnya tanpa sadar menggandeng jemari Jarno yang berjalan diparkiran.
"Astaga Ren!" Kaget Jarno. Aku laki-laki tulen, tau!" pemuda itu dengan refleks menghempaskan tangan Rendy yang menggenggam jemarinya sambil menunjukan raut jijiknya atas perlakuan sang ketua kelas padanya.
"Eh! Heee... Sorry kawan, nggak sengaja," kekeh Rendy yang tersadar bila ia barusan sudah menggenggam jemari Jarno, teman sekelasnya yang lumayan macho walau terkadang sangar padanya.
"Santai aja 'napa? Nggak mungkin juga kan jeruk makan jeruk!" sambung Rendy masih terkekah.
"Rose! Kaya udah jadi bininya pejabat aja bawa mobil ginian!" ledek Rendy beralih pada Rose yang baru saja turun dari mobilnya. Jarno hanya bisa melongo, menatap Rendy yang menghampiri Rose dan mobil mewahnya.
"Bukan bininya pejabat Ren, tapi bininya pengusaha," sambar Norsa yang baru saja turun dari mobil Rose tanpa sadar ikut menimpali. Sedetik kemudian ia buru-buru membekap mulutnya sendiri saat melihat Rose mendelikan mata kearahnya.
__ADS_1
"Pasti ayang m'beb Steven kan yang beli'in?" Yira asal nyeletuk, ia menggandeng tangan Rina, dari gerbang sekolah ia memang penasaran saat melihat mobil Land Cruiser itu melintas disampingnya.
Bertepatan dengan itu, Reyn melintas didepan Rose dan menatapnya sekilas, seketika Rose membeku di tempatnya. Suami sekaligus gurunya itu baru saja memarkirkan kendaraannya diparkiran para guru, bersebelahan dengan parkiran siswa.
"Hei Rose! Biasa aja keles ngeliatnya!" tegur Yira sambil melambai-lambaikan tangannya rusuh didepan wajah Rose yang masih bergeming, menatap punggung lebar Reyn kian menjauh menuju ruang guru.
"Waduh! Naksir nih kayanya sama sang guru killer sejagad sekolahan kita!" celoteh Yira yang tak berhasil membuat Rose berpaling.
"Ya nggak mungkinlah berpaling. Bisa ngamuk prince Steven, baru juga dibeli'in mobil." Jarno terkekeh seorang diri disamping Rendy.
"Serius nih, mobil barumu dibeli'in sama Steven, Rose?" tanya Rina penasaran. Ada rasa aneh bergelayut disudut hatinya saat mendengar mobil baru Rose dibelikan oleh pemuda yang dua tahun belakangan ini selalu mengganggu fikirannya.
Pasalnya, ia juga sudah tahu dari Norsa bila Rose dan Steven sudah tidak punya hubungan setelah liburan kenaikan kelas, tapi laki-laki itu tidak pernah mengakui kalau hubungan dirinya dan Rose sudah berakhir bila ia menanyakannya.
"Rose! Tuh, ditanya sama si Rina. ROSE!!" pekik Rendy sambil menyikut lengan Rose yang sedari tadi masih fokus pada Reyn yang terus melangkah tanpa menoleh lagi kearahnya.
"Diam! berisik! Nggak liat apa, Rose lagi sibuk!" omel Rose sambil memukul tangan Rendy yang menyikutnya. Saat dirinya kembali menoleh kearah Reyn, gurunya itu sudah menghilang dari sana, masuk ke ruang guru.
"Sibuk apaan? Ngeliatin pak Reyn dengan segala pesonanya itu, gitu?" Rendy masih mengganggu, melihat Rose yang memasang mode sebel padanya.
"Apaan si Rose, ini sekolahan. Bukan rumahmu," Norsa memberi kode pada sepupunya dengan mencubitnya. Ia khawatir kejadian beberapa bulan silam akan terulang, hanya melihat sang 'guru suami' bisa membuat sepupunya itu menderita penyakit latah dadakan.
"Sorry, tadi nanya apaan Rin?" Rose memandang ke arah Rina sambil menyibak rambut panjangnya kebelakang. Kali ini gadis itu cepat nyadarnya, tidak seperti pengalamannya beberapa bulan lalu.
"Steven yang beli'in kamu mobil baru ini?" ulang Rina lagi.
"Bukan. Ini mobil udah lama di garasi, Ayah sama Bunda baru sekarang ngizinin Rose bawa ke sekolah." bohongnya sambil melirik dengan ekor matanya pada Norsa, sementara yang dilirik pura-pura tidak melihat.
"Udah ah. Buruan ke kelas yuk, bentar lagi masukan." Ujar Rose sambil berlalu, tidak ingin pembahasan tentang mobilnya terus berlanjut.
"Ayo-ayo buruan! Jam pertama pak roh jahat yang masuk kelas!" Rendy turut bergegas, setengah berlari ia menyusul Rose yang mendahuluinya.
"Mobil lama? Sepertinya tidak?" pak Ruben tiba-tiba muncul dari belakang mobil Rose. Dirinya memang sengaja menguping obrolan ringan para siswa-siswinya itu.
__ADS_1
"Bila di lihat dari plat nomornya, ini baru dibeli sekitar 5 bulan yang lalu," gumamnya sambil memperhatikan plat nomor mobil Rose.
Bersambung...👉