
"Silahkan ikut kami masuk ke area sekolah. Kita bicarakan tuntutan kalian di dalam bersama pihak sekolah." ucap seorang petugas berseragam pada ketujuh pria gempal yang di duga menjadi pentolan dalam aksi demo sedari pagi hingga siang itu.
"Kami tidak ingin masuk ke dalam! Pembicaraan tuntutan kami di lakukan di luar sini saja, supaya masa yang bersama kami juga bisa mendengarkan!" tolak salah seorang dari mereka yang terlihat lebih dominan.
"SETUJU!!!"
"SETUJU!!!"
"SETUJU!!!"
Teriak masa lainnya bersahut-sahutan, membuat riuhnya suara kebisingan semakin menjadi, hingga salah satu petugas akhirnya terpaksa melepaskan tiga kali tembakan ke arah yang aman, sebagai peringatan.
DOR!
DOR!
DOR!
Bukannya menjadi tenang, para pendemo malah semakin menjadi. Seorang petugas lainnya yang berdiri dekat pendemo segera di sergap masa dan diberi pukulan membabi-buta tanpa ampun.
Dengan sigap, para petugas berseragam yang lainnya memberi bantuan. Para perusuh yang sengaja memukul segera di borgol dan di amankan lalu di seret paksa ke mobil polisi.
DOR!
DOR!
DOR!
Kembali tembakan peringatan terdengar.
"Saat ini juga! Aksi demonstrasi ini kami bubarkan!" Seru petugas berseragam POLRI itu menggunakan pengeras suara ditengah hiruk pikuk kekacauan yang ada, pandangannya menyapu tajam pada seluruh masa pendemo yang terlihat liar.
Sebagian besar para pendemo yang masih rusuh semakin menggila, mereka berteriak-teriak tidak terima beberapa teman-temannya yang digelandang secara paksa oleh petugas berseragam POLRI.
__ADS_1
"Lepaskan orang-orang kami! Kalau tidak, kami jamin aksi demo ini akan semakin kisruh!" ancam pria gempal yang lebih dominan itu lantang dengan amarahnya.
"Sampai saat ini, pihak POLRI belum menerima surat pemberitahuan unjuk rasa yang di gelar hari ini! Jadi berkumpulnya masa hari ini dianggap ilegal dan mengganggu ketertiban umum!" sentak pria berseragam POLRI itu tidak kalah garangnya.
Mendengarnya, pria gempal itu seketika bungkam. Karena itu benar.
"Bila tidak ingin kami seret paksa! Sekarang juga BUBAR-kan aksi demo yang tidak ber-izin hari ini!" Teriak petugas berseragam POLRI itu lagi pada masa pendemo dengan pengeras suaranya.
Suasana bising dan rusuh sedikit mereda namun tidak sepenuhnya hening, masih saja ada suara-suara sumbang di sudut-sudut tersembunyi para pendemo.
...🍓🍓🍓...
📞"Bodoh! Kenapa kalian bubar! Begitu saja takut! Aku sudah membayar kalian mahal! Dan para pendemo itu juga!" pekik Mutiara marah bukan kepalang. Wajahnya memerah dan membanting vas bunga diatas meja didepannya.
📞"Tapi Bu, demo kita tidak berizin, para petugas itu telah menangkap--"
📞"Dasar otak udang! Kau tidak perlu mengatakan itu padaku tentang izin dan t3t3k bengeknya! Tugas kalian hanya membuat kerusuhan di sekolah itu, membuat nama sekolah itu rusak sampai ada kegerakan dari para orang tua para siswa-siswi itu menuntut sekolah dan gadis itu!"
TUT!
"SIAL! SIAL!" Mutiara begitu kesal, semua yang ia susun tidak berjalan sesuai rencana.
Beberapa asisten rumah tangganya yang sedang berberes perabotan rumah tangga agar selalu terlihat mengkilat dan tertata rapi sontak dibuat kaget akibat ulah sang majikan. Namun mereka hanya berdiam diri sambil mengurut dada, memeriksa detak jantung yang berpacu kencang secara tiba-tiba.
Kring! Kring! Kring!
Seorang asisten rumah tangga itu tergopoh-gopoh menghampiri deringan telepon rumah, setelah mengangkatnya beberapa saat, ia menoleh dan berbicara penuh ke hati-hatian pada Mutiara yang masih duduk di sofa dengan raut kusut dan merah padamnya.
"Maaf Bu, Bapak telepon," ujar asisten rumah tangga itu.
Walau perasaannya saat ini masih sangat kacau, ia juga tidak berani mengabaikan suaminya, dengan langkah malas Mutiara mendekati asisten rumah tangganya yang masih menggenggam gagang telepon rumah ditangannya.
📞"Hallo Pi, ada apa?" Farid mendengar suara isterinya yang terdengar sedikit serak, tapi ia tetap harus mengatakan apa yang memang harus diketahui oleh isterinya itu saat ini juga.
__ADS_1
📞"Kenapa ponsel Mami tidak aktif?" tanya Farid sedikit basa basi.
📞"Itu--, sedang di isi daya Pi," bohong Mutiara.
📞"Asal saja tidak Mami hempaskan ke dinding lagi seperti yang biasa Mami lakukan pada benda tidak berdosa itu," sarkas Farid yang sudah bisa menduga pada nasib ponsel isterinya itu.
Mutiara terdiam sesaat, bukan tanpa alasan suaminya itu berkata demikian padanya. Laki-laki itu memang kerap kali melihat dirinya membanting ponselnya ke dinding hingga berserakan.
📞"Itu benar kan?" terdengar suara Farid lagi di ujung sambungan telepon. Laki-laki itu menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. Keterdiaman isterinya sudah menjadi jawaban bila yang ia duga adalah benar.
📞"Papi ada mengirim link di ponsel Mami, segera buka sekarang, terserah bagaimana caranya. Papi kecewa, kenapa Mami bisa bicara seperti itu pada ibu Marlina, rekaman itu sudah di dengar lebih dari satu juta orang setelah di upload kurang lebih dua jam yang lalu,--"
Deg!
Seketika Mutiara terhuyung, ia memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi mendengar kelanjutan ucapan Farid suaminya.
Dirinya yakin, link yang dikirim suaminya pastilah pembicaraan dengan Marlina beberapa bulan yang lalu saat pesta syukuran kelulusan putranya.
"Dasar perempuan berkasta rendah! Berani-beraninya dia melakukan itu padaku?!" pekik Mutiara marah.
"Bu! Ibu baik-baik saja!" beberapa pelayan cepat datang mendekat, membopong Mutiara yaang hampir terjungkal kelantai.
"Cepat! Panggilkan dokter!" teriak salah satu diantara mereka.
...🍓🍓🍓...
📞"Terima kasih banyak Pak, saya puas dengan hasil kerja Anda," ucap Marlina tersenyum lebar, lalu memutuskan sambungan telepon setelah mendengar jawaban dari lawan bicaranya.
"Bunda melakukannya?" Martin menatap wajah puas Marlina yang sedang bersandar di ranjang pasiennya.
Raut wajah laki-laki itu nampak keheranan, ia baru saja meninggalkan isterinya sekitar dua jam yang lalu untuk mengambil pakaian ganti isterinya di rumah mereka. Dan saat ini, ia dikejutkan kalau isterinya itu sudah menyuruh seseorang melakukan yang tidak sempat ia pikirkan. Dan itu membuat ia kewalahan menerima telepon teman-teman sejawatnya yang terus bertanya untuk mendapat konfirmasi dari apa yang mereka dengar.
"Iya Ayah. Ini adalah momen yang paling tepat melakukannya, Bunda sudah muak dengan sikap semena-mena ibu Steven itu, Bunda hanya ingin dia berhenti bermain-main dengan keluarga kita lagi." Marlina menatap suaminya yang duduk merapat padanya di pembaringan.
__ADS_1
"Anggap saja ini pelajaran yang berharga untuk perempuan bangsawan itu, Ayah. Supaya dirinya tidak terlalu pongah, karena orang biasa seperti kita pun juga mampu membuatnya jatuh tergeletak dan tidak bisa bangkit-bangkit lagi. Dan Bunda pastikan kalau dia tidak akan berani mempermainkan orang lagi."
Bersambung...👉