
"Mulai hari ini pak Kasim akan mengantar jemputmu ke sekolah, karena bus sekolah tidak ada rute lewat sini" Reyn mengenakan kaos kakinya yang panjang hingga mencapai lututnya.
"Lalu mas Reyn?" Rose yang sudah bersiap dihalaman rumah melirik kearah Reyn yang masih belum selesai memasang kaos kaki sebelah kanannya. Melihat itu Rose ingin tertawa, karena suaminya terlihat kesulitan menarik kaos kakinya yang kepanjangan.
"Sini aku bantu Mas," Rose menawarkan bantuan, mendekat lalu berjongkok. Entah kenapa, setelah kejadian dikamar mandi kemarin sepertinya otaknya sudah terkontamisasi, hatinya selalu saja membujuk mata sucinya untuk melirik ke resleting celana kain seragam guru Reyn yang terlihat mengembung. Sejujurnya ia heran, kenapa selalu mengembung seperti itu? Kenapa nggak rata saja? Isinya nyesekkah? Haduh, kenapa pagi-pagi otakku begini kotor mikirnya? Batin Rose. Masih banyak lagi hal-hal aneh dan tidak wajar menyeruak dalam isi tempurung kepalanya itu.
"Aku naik motorku saja seperti biasa. Kita tidak bisa berangkat dan pulang sekolah bersama. Pernikahan kita masih dirahasiakan dan hanya diketahui oleh Bapak kepala sekolah juga seorang bendahara sekolah." sahut Reyn sembari memperhatikan Rose yang tengah membantu memasang kaos kaki dan sepatu kulitnya, sesekali isterinya itu tertangkap basah olehnya melihat kearah selang*angannya, memang apa yang dia fikirkan? Batin Reyn heran, tapi ia pura-pura tidak tahu.
"Sudah selesai," Rose gegas berdiri diikuti oleh Reyn yang ikut berdiri bersamanya.
"Terima kasih," ucap Reyn menarik sedikit senyum diujung bibirnya.
"Mungkin mulai hari ini aku akan pulang sore atau sampai malam. Ada mbok Dira dan pak Kasim yang akan menemanimu dirumah, jadi kau tidak perlu takut," sambung Reyn memberitahu.
Rose seketika bersorak didalam hati, merasa bebas. Tapi ada rasa yang lain, seperti tak ingin jauh, entah apa itu. Walau dulunya ia suka sebel pada suami gurunya itu, kebersamaan mereka selama liburan dua minggu dirumah ini sedikit demi sedikit membuatnya merasa nyaman berada didekat laki-laki itu, walau kadang sikap keras, cuek, acuh, dan datar suaminya itu masih sering muncul bila mengajarinya banyak hal dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
"Kenapa sampai malam Mas? Bukannya dua minggu ini Mas nggak kemana-mana selama liburan?" tanya Rose penasaran, sebagai isteri ia merasa berhak harus tahu kemana saja suaminya itu pergi.
"Ada pekerjaan kecil. Karena mulai dua hari sebelum pernikahan sampai terakhir hari libur kemaren aku tidak mengurus usahaku, pekerjaan menumpuk pasti sudah menanti," jelasnya masih terdengar mengambang.
"Buruan berangkat, nanti kau terlambat." Reyn menarik pergelangan tangan Rose, membawanya menuju mobil.
"Boleh aku mencium punggung tangan mas Reyn untuk berpamitan?" tanya Rose ragu sebelum ia masuk ke mobil dan duduk bersebelahan dengan pak Kasim yang ada dibelakang kemudi.
"Boleh, tapi disini," tunjuk Reyn pada pipi kanannya sembari menggerakkan dua alisnya naik turun seperti orang kegenitan.
__ADS_1
"Tuh 'kan? Aku sudah menduganya. Pasti lain-lain maunya, mana gayanya mulai kegenitan lagi," gumam Rose didalam hatinya.
"Kemarin kan sudah Mas?"
"Kemarin itu belajar, ciumnya disini," tunjuk Reyn pada bibii*ya sendiri. "Sekarang pamitan, jadi cium pipi," tegasnya lagi.
"Buruan, kau tidak maukan mendapat hukuman dari pak Ruben keliling lapangan kalau terlambat upacara bendera hari ini," ancam Reyn.
"Iya, iya." Rose mengalah, melirik sebentar ke arah pak Kasim, hanya memastikan pria paruh baya itu tidak melihat apa yang ia lakukan pada Reyn. Tidak masalah hanya cium pipi batinnya, dari pada mendapat hukuman dari si 'roh jahat', begitu julukan yang disematkan para siswa untuk pak Ruben, guru pendidikan moral sekaligus guru BK di sekolah mereka.
Cup! Cup! Cup!
"Puas Mas?" Rose mendelikan matanya garang, setelah memberi tiga kecupan gemesnya melebihi yang diminta sang suam,i lalu masuk ke mobil.
"Jalan Pak, takut Rose terlambat,"
"Pak Reyn, kami duluan," pamitnya dari mobil, namun Reyn tidak menjawabnya, masih bergeming diposisinya semula.
"Udah Pak, jalan saja, nunggu mas Reyn jawab bakalan bikin Rose terlambat ke sekolah." Rose melirik Reyn yang masih belum bergerak dari posisinya berdiri dengan bola matanya yang membulat.
"Iya Non," pak Kasim terpaksa menuruti apa kata Nona barunya, walau dirinya tidak enak meninggalkan Reyn yang seolah tidak mendengar ucapannya saat pamit.
"Luar biasa, aku suka. Ternyata dia bisa melakukan yang lebih, melebihi yang aku minta," Reyn tersenyum sendiri lalu tergelak aneh sembari menangkup dua pipinya, tidak menduga kalau Rose mencium kedua pipinya, juga bibirnya.
Tentu saja laki-laki berseragam jas mini safari guru berwarna biru itu berulah demikian setelah mobil yang membawa Rose sudah menghilang dibalik pagar rumahnya.
__ADS_1
...🍓🍓🍓...
Upacara apel bendera pagi baru saja usai, Rose lebih memilih duduk dibawah pohon ketapang disudut lapangan upacara untuk menghirup udara segar setelah berpanas terik dipagi yang cerah itu.
Perhatian Rose terarah pada segerombolan siswi baru kelas X yang tengah mengekor guru Biologi yang berjalan dengan gaya angkuh dan sok tidak perdulinya menuju ruang para guru.
"Ngapain coba, mereka ngikutin pak Reyn kaya gerombolan anak-anak ayam gitu? Mereka belum tahu saja gimana modelnya guru antik satu itu? Hehe," kekeh Yira setengah mengejek, gadis itu rupanya sedari tadi ikut memperhatikan gerak-gerik para siswi baru itu.
"Dih Yira, nggak boleh gitu dong, biar kata dia guru antik seperti katamu itu, pak Reyn juga guru kita yang patut kita hargai?" ucap Rose sok bijak. "Lagian, itu pasti ulah si Ketua Osis sableng yang nyuruh minta tanda tangan guru paling killer disekolah kita," sambungnya lagi tak sadar ikut mengatai.
"Ciyeeee, ada yang lagi belain Sang Guru Biologi, trus sedetik kemudian ikut ngatain juga, haha," goda Norsa menyikut lengan sepupunya itu dengan senyuman penuh arti sambil terbahak sendiri.
"Apaan sih Norsa, siapa yang belain?" wajah Rose merona, ingin sekali rasanya ia menjitak kepala sepupunya itu, awas saja kalau sampai ember batinnya.
"Nggak usah ngelak gitu ah Rose, tadi aja yang diperhatiin pak Reyn mulu di upacara bendera, sampai salah-salah ayunan tangannya saat jadi dirigen lagu mengheningkan cifta, iya kan temen-temen," Rina ikut meledek.
"Iya! Iya! Bener! Kelamaan libur Rose salah mata, lupa sama pacar idolanya, beralih sama guru killer!" timpal siswi lainnya, sontak saja teman-teman sekelasnya yang masih nimbrung duduk disanapun ikut tergelak ramai.
"Oh! Rupanya roh-roh jahat penunggu pohon rindang ini sedang kongko-kongko menjelma jadi jin-jin betina kelas XII IPA-AI!"
"Ayo bubar! BU--BAR! Apa kalian tidak dengar bel masuk sudah berbunyi!" sentak pak Ruben dengan tatapan tajamnya sambil memukul punggung para siswi itu satu persatu dengan buku LKS ditangannya.
"Kabur! Roh jahat datang!" pekik mereka hampir bersamaan sambil berlari tunggang langgang meninggalkan pak Ruben yang terheran-heran mendengar teriakan Rose dan teman-temannya itu.
"Tunggu, mereka bilang apa tadi? Mengataiku 'roh jahat' juga? Awas ya kalian anak-anak kelas XII-AI," pak Ruben menggeram lalu ikut pergi meninggalkan tempat itu, memeriksa tempat lainnya, kalau-kalau masih ada siswa-siswi yang masih bandel belum masuk kelasnya masing-masing.
__ADS_1
Bersambung...👉