
"Bagaimana? Kau suka mobilnya?" tanya Reyn, begitu Rose dan Yulia selesai melakukan test drive mereka.
Rose gegas mengangguk rusuh. "Suka! Suka sekali Mas. Rasanya tidak sabaran mengendarainya ke sekolah. Ma kasih ya Mas," ucapnya dengan raut bahagia.
"Hanya ma kasih aja?" goda Reyn memberi tatapan datarnya.
Rose mendekat, memandang Reyn yang terlihat mempersiapkan diri dengan sedikit berdebar, seberani apa si isteri bocilnya itu.
"Cup. Udah," Rose memberi kecupan singkat dijakun Reyn membuat laki-laki itu keheranan juga Yulia terlihat menahan senyum karena sempat melihat apa yang dilakukan Rose.
"Kok di Jakun sih?" protes Reyn meraba jakunnya yang bergerak naik turun akibat perlakuan Rose, tidak sesuai ekspektasinya.
"Salah siapa nggak jongkok, jadi jakun aja yang bisa Rose capai," sahut Rose seadanya.
Reyn hanya bisa mendesah. Selalu saja ada jawaban yang keluar dari bibir isterinya itu. Ia beralih pada Yulia yang sedari tadi masih menemani mereka dan pura-pura tidak mendengar.
"Terima kasih banyak nona Yulia atas bantuannya hingga mobilnya siap keluar dealer hari ini." Reyn mengulas senyum tipis yang terlihat samar diujung bibirnya saja.
"Sama-sama pak Reyn. Semoga pak Reyn puas atas pelayanan dealer kami. Harapan kami, Bapak bisa kembali datang untuk membeli product-product perusahaan kami lainnya." ucap Yulia ramah.
Pada setiap coustomernya, ia selalu berkata demikian, semakin banyak penjualannya maka insentivenya pun akan semakin berlipat kali ganda.
"Tentu saja. Saya titip motor saya dulu didepan. Nanti saya akan mengirimkan seseorang untuk mengambilnya," ucap Reyn sekalian berpamitan.
"Baik pak Reyn," sahutnya mengangguk setuju.
"Ma.kasih ya kak Yulia, udah nemanin Rose test drive," Rose menyalami wanita dewasa itu.
"Sama-sama Nona," sahut Yulia tetap ramah. Ia memandangi Rose beranjak pergi bersama Reyn dengan lambaian tangan bahagia kearahnya. "Heum, siapa tidak bahagia memiliki suami yang baik plus tajir," gumamnya didalam hati, membalas lambaian tangan Rose padanya.
"Untuk sementara, kau tidak boleh berkendara dijalan raya, sampai kau mendapatkan surat izin mengemudi. Mengerti?" Reyn menjalankan mobil baru Rose perlahan, meninggalkan area dealer.
__ADS_1
"Sangat, sangat mengerti mamas Guru," sahut Rose mengedipkan matanya nakal, dia juga bingung kenapa bawaannya sekarang suka kecentilan saat berdua dengan Reyn.
Reyn melihatnya acuh, tidak perlu diladenin, bisa panjang ceritanya, batinnya. Gadis itu tidak tahu saja bila yang dilakukannya itu mengundang bahaya untuk dirinya sendiri.
"Nanti aku akan mengirimkan seorang instruktur mengemudi ke rumah kita supaya kau lebih lancar mengemudi dan tau rambu-rambu lalu lintas, sekalian dia akan mengurus surat ijin mengemudimu." imbuh Reyn lagi.
Rose kembali mengangguk, pandangannya kini fokus kedepan. "Kok bukan jalan pulang Mas?" Rose memperhatikan kiri-kanan jalan yang tidak biasa dilaluinya menuju rumah.
"Kita ke tempat kerja mas Reyn dulu. Siapa tau aja suatu hari nanti kamu tiba-tiba mau ketemu Mas disana, kan udah tahu tempatnya."
Rose kembali mengangguk, siapa tahu tiba-tiba uang sakunya habis, dia tinggal menadahkan tangannya saja pada Reyn. Bukankah itu sangat menyenangkan?" Rose tersenyum bahagia membayangkannya.
"Serius ini tempat kerja mas Reyn?" tanya Rose takjub, begitu Reyn membelokan kemudi memasuki area perusahaan yang terkenal di kotanya itu.
"Iya, Mas kerja disini juga selain jadi guru," sahut Reyn sembari menuju tempat parkir khusus.
"Wuah!! Luas sekali ya. Mas Reyn beruntung bisa kerja di tempat seperti ini," Rose terus menatap takjub keluar jendela, bangunan-bagunan tinggi dan megah itu berjejer rapi dengan taman-taman cantik yang terlihat asri.
"Baru kali ini Mas." Rose buru-buru melepas sabuk pengamannya, tidak sabar keluar dan melihat-lihat semua yang ada disana. Selama ini ia hanya melihatnya dari jalan raya saat melintas, tidak disangka hari ini dia bisa berada disini karena diajak Reyn.
Rose mengitari pandangannya pada seluruh sudut area perusahaan itu. Perusahaan Beras Tangga Arang, perusahaan yang bergerak di bidang pangan, agen penyedia beras terbesar di kota Tangga Arang, yang memiliki kerja sama dengan Perusahaan Pemerintah Daerah setempat.
"Pasti jabatan mas Reyn tinggi di perusahaan ini. Hanya bos yang bisa berangkat kerja seenaknya, dan bisa bawa isteri kesini, terus beli mobil semahal mobil miliknya." batin Rose, menghayal terlalu tinggi itulah kebiasaanya.
"Memangnya tugas mas Reyn di perusahaan ini apa?" tanya Rose mengembangkan senyum termanisnya.
"Buruh panggul," sahut Reyn yang sudah berdiri disamping Rose. Laki-laki itu menahan senyum ketika isterinya itu langsung memasang wajah cemberut mendengar jawabanya.
"Pasti bo'ong kan? Modelan Mas ini nggak cocok jadi buruh panggul. Kalau jadi kepala bagian atau manager pasti cocoklah," celoteh Rose memberi penilaian sambil mengitari Reyn yang membiarkan isterinya itu melakukan apapun sekehendak hatinya.
"Mas Reyn baru dateng?" seorang pria kurus tinggi dengan kulit gelap berkeringat licin sambil menyampir handuk kecil pada pundaknya datang menghampiri.
__ADS_1
"Iya pak Bandi," sahut Reyn tersenyum samar seperti biasanya.
"Isterinya ya Mas," pak Bandi memandang sekilas pada Rose yang tersenyum ramah padanya.
"Iya Pak, sekedar jalan-jalan sebentar. Supaya tahu saja tempat kerja suaminya," Reyn melirik Rose yang masih tersenyum ramah dengan ekor matanya.
"Wah bagus itu." pujinya menatap Rose. "Memang isteri harusnya begitu ya Mba, supaya tahu bagaimama kerasnya kepala keluarga seperti kami yang hanya buruh panggul harian ini dalam mencari nafkah." imbuhnya masih tetap tersenyum.
Rose menelan salivanya, benarkah Reyn disini hanya sebagai pekerja harian buruh panggul yang mengangkut karung-karung beras? Tidak mungkinkan Bapak itu berbohong, batinnya.
Seketika urat-urat saraf gadis itu terasa lemas dan lesu.
"Ayo mas buruan kita kerja, masih ada dua truck yang mau diisi karung-karung beras. Semakin banyak kita dapat mengangkut semakin banyak upah yang kita terima," kata pak Bandi lagi pada Reyn.
"Rose, kau tunggu Mas di gasebo taman itu saja ya, disini panas, namti kulitmu kusam terpapar sinar matahari yang masih menyengat sore ini." Rose tidak bersuara ia hanya mengangguk lemas mwnjawab perkataan Reyn padanya.
Sorot matanya menyiratkan rasa iba pada Reyn saat mengetahui bahwa suami gurunya yang bertubuh bagus bagai atlet itu hanyalah seorang buruh atau kuli panggul harian saja, pantas saja tadi saat didealer suaminya itu memamerkan otot-ototnya.
Ia melangkah menuju gasebo taman perusahaan yang ditunjuk Ryen, hanya berjarak kurang lebih tiga puluh meter dari tempat mereka berdiri.
Setelah mendudukan dirinya digasebo taman. Rose memperhatikan Reyn yang melangkah ringan bersama pak Bandi memasuki satu bangunan dengan ribuan tumpukan karungan beras yang tersusun rapi disana.
Tidak lama berselang, ia melihat Reyn sedang memanggul karungan beras dipunggungnya bersama puluhan pemanggul lainnya, lalu menghempaskannya keatas bak truck yang terparkir didepan bangunan tinggi itu. Sementara beberapa crew truck itu segera mengatur karung beras itu agar tersusun rapi didalam truck.
Hati Rose terenyuh, sulit mempercayai apa yang dirinya lihat. Bukan karena ia malu suaminya bekerja seperti itu, tapi ia tidak tega saja melihatnya, sangat berbanding terbalik dengan segala kemewahan yang dimiliki pria itu.
Reyn baru saja mengeluarkan satu unit mobil mewah dari dealer hari ini untuknya. Dan dirumah mewah suaminya, mereka menggunakan jasa dua asisten rumah tangga, belum lagi banyak kebutuhan rumah tangga lainnya yang disediakan suaminya itu secara berkelimpahan.
Ditambah lagi suaminya itu mengatakan akan mengirimkan instruktur untuk mengajarinya secara privat plus kepengurusan surat izin mengemudinya. Rose memejamkan matanya, kepalanya seketika berdenyut memikirkan semua itu.
Bersambung...👉
__ADS_1