My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)


__ADS_3

"Dia lagi, dia lagi," Leony merotasi bola matanya, kala melihat Bram keluar dari lift, mengenakan blazer berwarna pink favoritnya yang membalut kaos putihnya.


Pemuda itu melangkah mendekat, senyumnya selalu merekah, menghiasi bibir sehatnya dengan membawa tentengan ditangannya seperti biasanya.



"Hallo ayank bebeb-ku," seperti biasanya, Bram menyapa dengan penuh keceriaan, dan romantis ala-ala dirinya. Sementara yang disapa memasang wajah garangnya.


"Kau pasti lapar. Aku tahu Ayangku sangat sibuk, jadi aku meluangkan waktu membawa makan siang untukmu, agar asam lambungmu tidak menyerangmu," Bram meletakan tentengannya diatas meja, ia melirik sekilas wajah Leony yang terlihat masam dan jutek.


"Walau kau menunjukan wajah singa-mu itu, dimataku, kau tetaplah sang Dewi Bidadari-ku," Bram terkekeh sendiri diujung kalimatnya. Bagaimana mungkin disaat yang hampir bersamaan ia bisa mengatai lalu detik berikutnya memuja sang pujaan hati, Bram merasa geli sendiri.



Leony membenarkan letak kacamatanya, menatap datar dengan minim ekspresi pada pemuda yang sangat menjengkelkan hatinya itu.


"Kenapa kau tidak ada bosan-bosannya menggangguku setiap hari? Aku sibuk, tidak ada waktu meladenimu. Disini tidak ada pak Reyn, beliau ada pertemuan mediasi di kantor polisi." cetus Leony masih dengan mode juteknya.


Bukannya tersinggung mendapat sambutan tidak hangat Leony, Bram tetap saja merajut senyumnya semakin lebar mendekati presisi Leony dibelakang meja kerjanya.


"Jangan mendekat!" Leony nampak waspada melihat pada Bram yang semakin mengikis jarak dengannya.


"Huffhh!"


"K-kau! Apa yang kau lakukan! Dasar, bocah menyebalkan!" Leony meronta, sambil memukul dengan sekuat tenaga punggung Bram yang tanpa seizinnya mengangkat tubuhnya dan mendudukkan dirinya diatas meja diantara tumpukan berkas-berkas.


"Hanya mengubah posisi, agar Arjuna-mu ini bisa menyuapi-mu dengan mudah Ayang Bidadariku," Bram masih mengumbar senyum merekahnya tanpa terpengaruh sedikitpun pada kekesalan yang ditunjukan Leony padanya.


Pemuda itu merapikan kembali blazernya yang sedikit berantakan akibat ulah Leony yang menariknya dengan kasar. Setelah dirasanya cukup rapi, ia gegas membuka kotak makanan yang ia bawa dalam tentengannya.


"Berulangkali aku sudah katakan, kita ini bukan sepasang kekasih, jadi jangan pernah memanggilku seperti itu." protes Leony menatap jengkel pada Bram.

__ADS_1


"Heum, ini sepertinya kode buat aku." Bram tersenyum penuh arti, ia menghentikan sejenak kegiatannya menyiapkan makan siang untuk Leony, ia memandangi wanita pujaannya itu dengan sorot penuh damba.


"Jadilah kekasihku, aku mencintaimu," tembak Bram dengan rasa percaya dirinya yang tinggi hingga ke awang-awang. Pemuda itu membentuk gambar hati menggunakan jari tangannya dan menatap Leony yang seketika melongo menghadapi sikap absurd dirinya hingga membuat perempuan itu semakin gemes pada ulah Bram yang malah menjadi-jadi.


"Tidak menjawab? Ku anggap kita pacaran, fix!" putus Bram sepihak. Leony mendelik, ia membuka mulutnya siap melayangkan protes atas putusan sepihak Bram, namun pemuda itu dengan cekatan menempelkan satu jari telunjuknya dibibir peach wanita pujaannya agar tidak berkata apapun untuk menolaknya.


"Tidak menerima protes apapun setelah dua detik, keputusan final." ungkap Bram memonopoli.


"K-kau!" Leony semakin mendelik, menyiratkan ketidak sukaannya pada sikap Bram yang sesuka hatinya.


"Sekarang buruan makan," Bram mendekatkan sendok ke bibir Leony.


"A-aaa..., ayo buka mulutmu Bidadariku," bujuk Bram sambil mempraktekan membuka mulutnya sendiri dihadapan Leony.


"Aku tidak mau! Aku mau turun!" perempuan itu berusaha turun, namun Bram sengaja berdiri dihadapannya dan merapat hingga lutut Leony yang menekuk menyentuh area sensitif Bram, laki-laki itu menahan napasnya seketika, detik berikutnya kembali beraksi.


"Aku tidak akan pergi dari sini seperti biasanya sebelum kau memakan habis hasil masakanku yang sudah ku olah dengan penuh cinta." ujar Bram, mengesampingkan gelenyar-gelenyar aneh yang sempat menjalar akibat ulah lutut Leony.


"Kau tidak dengar? Aku tidak mau!" Leony mendorong dada Bram kuat, hingga kotak makannya terlepas dari tangan Bram dan terjatuh mengotori lantai dibawah meja.


Hening sesaat, Leony dan Bram sama-sama melihat tumpahan makanan teronggok menyedihkan di ubin. Untung saja tidak mengenai pakaian salah satu dari mereka.


"M-maafkan aku," Leony menatap Bram tak enak, ia merasa bersalah. Ia tidak menyangka apa yang ia lakukan akan berakhir seperti itu, sungguh ia tidak sengaja melakukannya.


Bram tersenyum di ujung bibirnya.


"Tidak masalah. Aku akan membersihkannya dulu." Laki-laki itu bergerak sedikit menjauh dari Leony yang duduk diatas meja.


"Permisi, boleh aku minta tissue-mu?"


"I-iya, b-boleh." Perempuan itu seketika gugup. Ia buru-buru meraih tissue disebelah duduknya dan memberikannya pada Bram.

__ADS_1


"Terima kasih." Bram menerimanya lalu berjongkok dibawah kaki Leony, perempuan itu semakin merapatkan kedua kakinya, bisa sajakan Bram modus dan ingin mengintip isi rok mini-nya.


Leony memperhatikan Bram yang mulai meraup jatuhan makanan yang teronggok itu dengan kedua tangannya menggunakan tissue dan memasukannya ke dalam tempat sampah yang ada disisi meja Leony dengan telaten.


"Sudah selesai." Bram berdiri, setelah lantai dibawah meja bersih tanpa sisa, ia menggeser tempat sampah ke posisinya yang semula.


"Masih ada satu kotak makanan lagi, ini punyaku dan aku rela berbagi denganmu," Bram mengeluarkan satu kotak makanan lagi, dan membukanya. Leony kembali mencium aroma lezat yang menguar dari sana, dan ia melihat isinya sama dengan kotak makanan yang dijatuhkan Bram sebelumnya.


"Buka mulutmu, aaa..." pemuda itu kembali mencontohkan membuka lebar mulutnya agar Leony menirunya.


"Tidak, kau saja yang makan, itu jatahmu," tolak Leony, menjauhkan sendok yang didekatkan pada bibirnya.


"Jangan membantahku lagi." Kali ini Bram memasang wajah datarnya, menatap dalam pada Leony yang selalu saja menolak apa yang ia lakukan.


"Aku harus pastikan perutmu ini terisi hingga kenyang dulu, setelah itu aku akan pergi sesuai keinginanmu. Seperti biasanya," imbuh Bram kembali mengulas senyum cerah di wajah tampannya.


Seperti yang sudah-sudah, ujung-ujungnya perempuan itu tetap menurut. Hanya untuk membuat Bram senang, dan setelah itu, pemuda itu pasti pergi tanpa perlu diusir bila kotak makanannya sudah kosong melompong.


"Oh, ternyata begini caranya si Kakak monyet merayu seorang gadis." Rose tersenyum mengejek kakaknya, ternyata sedari tadi ia berdiri disamping lift memperhatikan apa yang dilakukan kakak tersayangnya itu pada sekretaris pribadi suaminya. Karena keasikan, keduanya tidak menyadari kehadiran si pengganggu itu.


"Uhuk! Uhuk!" Leony seketika tersedak. Bram buru-buru membuka botol mineral dari dalam tas tentengannya dan memberikan pada Leony.


"Cepat minum," suruh Bram dengan raut panik. "Ayang Bidadari baik-baik saja?" tatap Bram masih dalam mode panik dan khawatir.


Leony menggeleng, setelah berhasil meredakan tenggorokannya dengan air mineral pemberian Bram. "Aku baik-baik saja." sambil menyerahkan botol mineral pada Bram. Perempuan itu mengatur napasnya yang sempat tersengal.


"Kau ini, Adik nakal, sudah membuat calon Kakak iparmu tersedak. Kalau dia mati gimana?" omel Bram sambil mencubit pipi chubby Rose yang sudah berdiri disebelahnya.


Leony terperangah mendengar ucapan Bram barusan, begitu pula dengan Rose, sambil menahan rasa sakit dipipinya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2