
Leony mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat jam dinding menunjukan pukul 18.30. Ia segera duduk dikasur, mengumpulkan segenap kesadarannya, ternyata sore itu ia tertidur begitu pulas setelah menikmati hidangan mbok Dira sebelum istirahat dikamar tamu ini.
Perempuan itu teringat pada kedua orang tuanya, ia buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas kerjanya dan mendial nomor ibunya untuk memberi kabar, khawatir orang rumah cemas karena ia pulang terlambat.
📞"Hallo Sayang," terdengar suara lembut dari seberang sana. Leony mengerutkan kening, tidak didengarnya nada cemas dari sang Mami seperti biasanya.
📞"Mam, Leony--, Leony sekarang berada di...." Leony ragu, rasa malu tiba-tiba menyerangnya. Bila ia katakan ia ada dikediaman keluarga Bram, apa kata ibunya nanti, karena selama ini ia selalu menunjukan ketidak sukaannya pada Bram didepan ibunya.
📞"Sekarang kau berada di rumah pak Reyn, karena Bram yang membawamu kesana. Apa kau mau mengabarkan begitu?" Jeny melanjutkan ucapan putrinya yang menggantung.
📞"B-bagaimana Mami bisa tau?" kaget Leony dengan sepasang matanya yang membola.
📞"Bram yang memberitahu Mami, dia akan mengantarkanmu pulang setelah makan malam, begitu katanya tadi pada Mami," jelas Jeny dari seberang sana. Mami tutup dulu ya, lagi buatkan Clara salad buah, dari tadi nagih terus." ujar sang Mami.
📞"Iya Mam," Leony menggigit ibu jarinya, ternyata pemuda bau kencur itu sudah memberitahu ibunya lebih dahulu. Bagaimana ia bisa lupa tidak memberitahu orang rumah, dan malah ketiduran, omelnya pada diri sendiri.
Setelah meletakan ponselnya diatas kasur, Leony bergerak menuju balkon, penasaran mendengar suara riak-riak air dan tawa riang dibawah sana.
Nampak Reyn yang bertelanjang dada sedang membersihkan rambut Rose dari beragam cat pilok yang mewarnai rambut, wajah, dan yang menempel pada kulitnya juga.
Sesekali bosnya itu terlihat sengaja menggelitik isteri bocilnya hingga perempuan muda itu terbahak kegelian dibuatnya.
Tak mau terima begitu saja digelitikin sang suami, Rose menyambar bibir suaminya dan mel umatnya hingga keduanya sama-sama tejatuh kedalam kolam renang dengan bebas.
Tak berselang lama keduanya kembali muncul kepermukaan dengan bibir masih saling bertaut, tangan Reyn sudah melingkar erat dipinggang Rose, dengan tubuh yang saling menempel ciuman keduanya semakin terlihat liar.
"Hah! Hah! Hah!" Dari atas balkon, Leony mengusap dadanya, serasa sport jantung. Bukan niatnya untuk mengintip, ia hanya tak sengaja melihat adegan mesra sang bos bersama isterinya dikolam renang.
__ADS_1
Leony repleks memundurkan tubuhnya, hingga membentur dinding dibelakangnya, dan akhirnya ia melorot kelantai, masih memegang dadanya yang riuh berpacu. Ini kali pertama ia menonton adegan kemesraan secara live, dan itu adalah bosnya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Leony gegas berdiri, dengan langkah setengah berlari ia menuju pintu yang sedang diketuk.
"Maaf Non, mengganggu," mbok Dira muncul didepan pintu.
"Nggak pa-pa kok Mbok, ada apa?" tanya Leony, semakin membuka lebar daun pintu kamar yang ia tempati.
"Ini gaun malam dan sepasang sepatu untuk non Leony, titipan mas Bram." mbok Dira menyerahkan dua paper bag yang ia bawa pada Leony.
"Gaun malam dan sepasang sepatu? Untuk apa Mbok?" Leony mengernyitkan keningnya, memperhatikan dua paper bag yang disodorkan oleh mbok Dira padanya.
"Ada Papa dan Mamanya pak Reyn, juga Ayah dan Ibundanya mas Bram dan non Rose datang. Mereka akan mengadakan syukuran makan malam keluarga di restoran atas kelulusan non Rose hari ini. Jadi non Leony diminta bersiap-siap. Tiga puluh menit dari sekarang rencananya mereka akan berangkat supaya tidak kemalaman."
"Iya, Non," sahut mbok Dira dengan senyum khasnya. Detak jantung Leony yang semula sudah mereda, kini kembali bertalu-talu, rasa.gugup tiba-tiba saja menguasainya begitu mendengar dirinya disertakan ikut acara makan malam keluarga dalam rangka syukuran kelulusan isteri dari bosnya itu.
"B-baiklah. Saya akan segera bersiap Mbok."
Mbok Dira mengangguk mengiyakan, lalu pamit meninggalkan Leony yang bergegas menuju kamar mandi dan bersiap, ia tidak ingin sampai dirinya ditunggu, itu pasti sangat memalukan.
...🍓🍓🍓...
"Oh, ya ampun Rose! Kenapa kelakuanmu aneh-aneh begitu?" Marlina memijat pelipisnya, merasa malu menonton kelakuan putrinya yang absourd, melebihi teman-temannya yang lain ditengah keramaian.
Sementara Haswan dan isterinya tak mampu menahan tawa melihat video sang menantu yang berhasil direkam oleh orang suruhan Reyn saat aksi konvoi kelulusan pelajar siang tadi.
__ADS_1
"Itulah Bun, Bram telepon Reyn tadi siang. Malah dia yang ngizinin isterinya yang lagi hamil ini ikut konvoi itu," adu Bram pada ke-empat orang tua mereka, sambil melirik Rose yang duduk tidak berkutik disamping Reyn, memeluk erat lengan suaminya itu, berharap ada pembelaan dari sang suami.
"Terpaksa aku izinin kak Bram, Rose udah mewek duluan saat temuin aku di ruang kepala sekolah tadi siang." Reyn melirik Rose yang cemberut mendengar ucapnya.
Reyn mengulum senyum, mengingat bagaimana isterinya itu dengan tidak tahu malunya mengancam akan menggulung dirinya sendiri dilantai ruang kepala sekolah, padahal disana masih ada Ruben yang belum selesai bernegosiasi dengan kepala sekolah.
"Nak Reyn, itu memang jurus ampuh Rose, dia pasti nangis duluan supaya kita tidak tega menolak permintaannya--"
"Ayah! Bunda! Lihat itu!" potong Rose cepat. Menunjuk pada layar televisi yang mereka gunakan untuk menonton aksi Rose sebelumnya.
Bram terperangah. Bagaiama bisa dirinya terekam dalam video orang-orang suruhan Reyn tanpa ia menyadarinya.
"Mau kemana?" Martin buru-buru menarik ujung daun telinga Bram yang hendak kabur setelah melihat videonya yang tidak kalah memukau dari gaya Rose, adiknya.
"Mau panggil Leony, Ayah. Bidadari cantikku itu lama sekali bersiap, nanti kita kemalaman makan malamnya," Bram memberi alasan untuk kabur, dia sudah tahu bakalan diomelin habis-habisan oleh kedua orang tuanya atas aksi kebut-kebutannya hari ini, yang membuat kocar-kacir barisan konvoi pelajar. Polisi terpaksa menggelandangnya ke pos terdekat, karena sudah membuat kisruh jalanan.
"Aku disini."
Semua menoleh, termasuk Bram. Pemuda itu terpukau, Leony terlihat anggun dan bersahaja dengan gaun malam berwarna peach pilihannya dari butik langganan keluarga Reyn.
"Kak Leony cantik sekali," Rose bangkit lalu mendekati Leony dan mendaratkan cipika cipikinya pada perempuan itu.
"Saya--, biasa saja Nona," semburat merah dibelahan pipi Leony jelas terlihat, menyadari semua pasang mata terarah padanya.
"Kalau begitu, mari kita segera berangkat. Kasihan Leony pulangnya kemalaman." Haswan buru-buru menginterupsi. Semuanya langsung setuju, mengingat waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Bram mengelus dada dengan perasaan lega. Kehadiran Leony telah membantunya terbebas dari omelan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung...👉