
Ding! Dong!
"Ciapa cih yang datang Mi," Clara mendongakan wajahnya, memandangi Leony.
"Mungkin tamu kakek dan nenek," sahut Leony sambil terus memperhatikan layar ponselnya.
"Nah, Clara suka yang mana?" Leony memperlihatkan layar ponselnya pada Clara.
Dengan sumringah gadis kecil itu kembali memperhatikan layar ponsel ibunya, menunjuk salah satu tas bercorak little ponny kesukaannya dari beragam pilihan tas sekolah yang ada. "Lainbow Dach, Mi."
"Clara, sayang. Rainbow Dash itu laki-laki bukan perempuan, Sayang. Kan masih ada pilihan Twilight Sparkle, Pinkie Pie, dan Rarity," tunjuk Leony pada tas-tas bergambar kartun little ponny dilayar ponselnya.
"Tapi Clala maunya Lainbow Dach, Mi. Bagus, ada walna pelanginya." rengeknya, masih menunjuk pada tas pilihannya yang semula.
"Tapi Clara, kamu itu perempuan Sayang, gimana kalau teman--"
"Maaf Non Leony, ada tamu didepan."
Leony menoleh, menemukan bi Yaya, asisten rumah tangganya berdiri dibelakang sofa dimana ia dan Clara masih berdebat mengenai selera tas putrinya itu.
"Siapa Bi?"
"Pak Reyn, Non. Tapi beliau tidak sendiri. Ada keluarganya juga Non. Juga pak Bram," terang sang bibi.
Deg.
Leony seketika berdiri, hatinya berdebar-debar aneh, rasa cemas mendadak menghampiri hatinya, mengingat ucapan ibunya pada Reyn kemaren sore. Tapi kenapa bosnya itu tidak berkata apapun bila malam ini akan bertamu kerumahnya saat dikantor tadi siang.
Ia tidak menghiraukan Clara yang sedari tadi menarik tangannya rusuh begitu mendengar nama Bram disebut oleh sang bibi.
"Leony! Tamu kok didiemin lama diluar? Buruan dipersilahkan masuk, Sayang!" Sedari tadi Jeny yang menemani suaminya menonton acara televisi memperhatikan putrinya belum juga beranjak menemui tamu mereka.
"I-iya Mi," sahut Leony setengah berteriak lalu beranjak bersama Clara yang tidak mau ketinggalan menyambut para tamu ibu dan kakek neneknya.
"Bi, tolong buatkan minum ya? Camilannya juga jangan lupa."
"Baik Non." Bibi Yaya gegas menyimpang menuju dapur, sedangkan Leony bersama Clara terus mengayunkan langkah kaki mereka menuju pintu depan.
"Papi Blaaaam! Holeeee!" Clara menepis tangan Leony yang ingin menangkap tubuh kecilnya. Ia berlari kencang menubruk kaki Bram yang terkaget mendengar ucapannya, begitu juga dengan yang lainnya.
"Clara, Sayang. Nggak boleh gitu sama tamu," Leony seketika salah tingkah. Namun Clara tidak peduli, gadis kecil itu menaiki tubuh Bram dengan semangatnya bak pemanjat tebing.
"Bram, kenapa anak itu memanggilmu Papi??" tekan Martin dengan sorot mata tajamnya, berbisik ditelinga putranya.
"Bram nggak tau, Yah," sahut Bram pura-pura bingung sembari menggendong Clara, padahal dirinyalah yang menyuruh gadis kecil itu memanggilnya seperti itu saat beberapa kali menemuinya di TK.
"M-maafkan putri saya Clara," Leony memandangi para tamunya sambil menyatukan sepasang tangannya didepan dada, ia benar-benar merasa tak enak dengan sikap putrinya yang demikian.
__ADS_1
"Tidak masalah Leony," sahut Reyn mewakili keluarganya sambil menyunggikan senyum tipisnya.
"M-mari silahkan masuk pak Reyn--, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu," Leony buru-buru mempersilahkan para tamunya itu masuk demi menyembunyikan rasa gugup yang tengah melandanya.
Hatinya semakin berdebar saat melihat kedua orang tua bosnya bersama kedua orang tua Bram turut datang berkunjung.
Walau belum pernah bertemu secara langsung, tapi Leony pernah melihat wajah kedua orang tua Bram itu terpampang di media ketika masalah besar beberapa bulan lalu menimpa keluarga Reyn, bosnya itu.
"Terima kasih," Reyn kembali tersenyum.
"Ayo, Yah-Bun, Pa-Ma, Kak Bram," Reyn lebih dulu memasuki rumah megah milik orang tua sekretaris pribadinya itu, lalu yang lainnya menyusul.
"Pap, Mam, ini pak Reyn bersama keluarganya.".Leony memperkenalkan para tamunya pada kedua orang tuanya yang sudah duduk diruang tamu menyambut kedatangan mereka.
Frans dan Jeny menyalami para tamunya lalu mempersilahkan duduk setelah mengenalkan diri mereka masing-masing.
Leony celingak-celinguk, melihat kesana kemari karena tidak menemukan keberadaan Bram dan Clara yang menghilang entah kemana.
"Pap, Mam, Leony tinggal sebentar, mau cari Clara," pamitnya dengan didengar para tamunya.
"Jangan lama-lama. Cepat kembali lagi. Titip Clara sama Bibi saja," pesan Jeny dan dibalas anggukan oleh Leony yang bergegas meninggalkan ruang tamu.
"Bi Yaya lihat Clara?" Leony mendekati bibi Yaya yang membawa nampan berisi minuman dan beberapa camilan.
"Di kolam renang belakang bersama pak Bram, Non."
"Sama-sama Non," balas sang Bibi walau Nona majikannya itu sudah menjauh.
"Samar-samar, Leony mendengar celotehan Clara, dan sesekali suara tawa riang gadis kecil itu lebih mendominasi ditengah keheningan suasana sekitar kolam.
"Clara!" Leony mendekat.
Bram dan Clara menoleh, dengan sisa-sisa tawa keduanya masih jelas tergambar diwajah mereka yang nampak sedang bahagia.
"Iya Mi," Clara masih melihat ke arah ibunya, begitu juga Bram. Keduanya sedang berayun ria di sisi kolam renang yang terang benderang.
"Mami--, boleh Mami bicara sama om Bram? Clara masuk dan minta bibi Yaya temani Clara bobo ya sayang. Ini sudah pukul 8 malam, waktunya Clara tidur. Besok sekolah," bujuk Leony lembut.
"Tapi Clala masih mau sama Papi Blam, Mi," Clara seketika cemberut mendengar ucapan ibunya.
Leony mendengus, mendengar putrinya memanggil Bram secara demikan, padahal dirinya sudah berulang-ulang kali melarang putrinya memanggil Bram dengan sebutan papi.
"Clara, Mami nggak suka kalau kamu nggak disiplin sama waktu. Apa ini hasil ajaran om Bram-mu itu?" tekan Leony, ia melirik Bram tajam dengan raut kesal.
Bram yang diseret namanya, segera menengahi.
"Clara yang cantik, secantik peri Mariposa. Kapan-kapan kita main lagi ya? Nanti kita mendongeng lagi tentang para peri dan pangeran-pangeran mereka," bujuk Bram lembut, ia meraih sepasang tangan mungil Clara lalu memberi kecupan ringan dipunggung tangan kecil itu membuat Clara tertawa senang.
__ADS_1
"Baiklah, putli pe-li Malipoca mau bobo dulu di cekuntum bunga. Jangan lupa pangelan papi Blam datang lagi temuin putli pe-li." Clara berdiri dari ayunannya, memeluk Bram yang masih duduk dan memberi ciuman dikedua belah pipi pemuda itu.
Leony kembali mendengus sambil menahan rasa kesalnya melihat keakraban keduanya.
"Clara Sayang, kau lupa memberi ucapan selamat malam pada Mami," panggil Leony mengingatkan, saat melihat putrinya itu ngeloyor pergi seolah tidak melihatnya.
"Nggak mau, Mami nakal!"
Leony terkesiap, matanya membola memandangi putrinya yang berlarian meninggalkan dirinya dan Bram memasuki rumah besar mereka.
"Kau lihat?!" Leony memberi tatapan kesalnya pada Bram sambil menunjuk arah putrinya yang meninggalkan mereka.
"Clara tidak pernah sebegitu tidak perdulinya padaku. Setelah bertemu dan mengenalmu, Clara-ku jadi liar seperti itu," tuduh Leony, wajahnya memerah menahan geram pada pemuda tengil dihadapannya itu.
Bram tidak menjawab. Pemuda itu masih terdiam dan duduk tenang tanpa menyaun ayunan yang didudukinya. Dengan duduk manis seperti itu saja, Leony masih kesal melihatnya.
"Untuk apa kau membawa kedua orang tuamu kemari?" tanya Leony dengan raut masih kesalnya.
"Memenuhi undangan calon mertua. Kau tidak lupakan kemarin mereka mengatakan itu?" Bram memamerkan senyumnya. "Selain itu, untuk menunjukan kalau aku serius, aku tidak main-main dengan niatku untuk menikahi Ayang bidadari," ucapnya penuh percaya diri.
Leony kembali mendelik, bola matanya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Bram melihatnya, namun ia sudah terbiasa melihat ekspresi pujaan hatinya seperti itu, malah membuatnya semakin jatuh hati yang kian mendalam melihatnya.
"Sin-ting!" Leony semakin sewot.
"Sudah aku katakan berulang-ulang, bahkan ratusan kali! Kalau aku tidak SUKA! Kau dengar? Aku tidak pernah menyukaimu! Sedikitpun, atau seujung kukupun!" pekik Leony yang sudah tidak bisa menahan diri, nafas perempuan itu terengah-engah dengan emosinya yang sedang meledak.
"Jangan pernah temui aku lagi! Juga Clara! Jauhi kami. Aku benar-benar tidak menyukaimu Bram! Bram Sulistyo!"
Sumpah! Dia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi pemuda slenge'an yang masih saja ngeyel mengejar cintanya itu.
Bram tidak berkata apapun, ia hanya memandangi Leony yang sedang memuntahkan amarahnya padanya.
Sedih, memang terbersit disudut hati pemuda itu, tapi cintanya pada Leony, membuatnya harus bisa menahan semuanya, termasuk kemarahan dan segala ucapan yang tidak mengenakan dari mulut Leony selama ini padanya.
"Non Leony. Maaf mengganggu," Sri, seorang asisten rumah tangga datang menghampiri dengan langkahnya yang tergopoh-gopoh.
"Ada apa Bi?"
"Non Leony dan pak Bram di tunggu Bapak dan Ibu didalam," sahut bibi Sri.
"Iya Bi, nanti kami kesana."
"Baik Non, saya permisi." Bibi Sri gegas berlalu setelah mendapat anggukan dari nona majikannya.
"Ingat, aku tidak pernah menyukaimu. Urungkan niatmu untuk menikahiku." Setelah berucap demikian, Leony gegas meninggalkan Bram yang masih terpaku dengan segala pikirannya. Haruskah ia maju? Ataukah mundur? Dan itu artinya ia kalah dan tidak akan pernah memdapatkan perempuan yang ia cintai.
Bersambung...👉
__ADS_1