My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)


__ADS_3

Rose gegas berlari, ketika melihat mobil yang dikemudikan pak Kasim sudah menunggunya diluar pagar sekolah.


"Rose!" panggil Rina, seperti ingin menunjukan sesuatu.


"Aku buru-buru Rin, pak Kasim sudah menjemputku!" teriaknya sambil berlari-lari kecil.


Seketika pergerakan Rose terhenti, saat ditengah kerumunan para siswa-siswi sekolahnya ada tangan seseorang yang menarik lengannya.


"Kak S-Steven? Kok Kakak bisa ada disini?" Rose nampak kaget, pemuda itu tiba-tiba saja muncul disana setelah sekian lama dirinya berusaha menghindar, dan membawanya menepi ke pagar sekolah.


"Rose, aku merindukanmu," Steven menggenggam erat tangan Rose, merapatkan tubuh gadis itu padanya.


Rose seketika gugup dan kikuk, itu tempat umum, tentu.saja ada banyak pasang mata yang melihat dirinya dan Steven batinnya. "Jangan begini Kak, tidak baik. Orang-orang melihat kita," ia menjauhkan dirinya sedikit dari Steven. Ia dapat melihat tatapan kerinduan dari sorot mata pemuda yang masih berstatus kekasihnya itu.


"Kenapa kau tidak menjawab teleponku Rose? Juga puluhan pesan-pesanku tidak kau balas? Apa kau berusaha menjauhiku?" kedua tangan Steven kini meraih pundak Rose yang berdiri kikuk dihadapannya.


Beberapa siswa-siswi terlihat mengintip secara diam-diam, mereka memang mengetahui hubungan Steven dan Rose yang sudah terjalin waktu pemuda itu masih berstatus siswa di SMU mereka.


"Selama tiga minggu ini kau seakan ditelan bumi. Kau kemana saja? Aku ke rumahmu tapi kata bibi kau sudah tidak tinggal disana," cecar Steven.


"Aku--" Rose bingung harus menjawab apa. Namun tidak mungkin juga bila ia berterus terang kalau dirinya telah menikah. Bukan karena mau menjaga perasaan pemuda itu agar tidak kecewa tapi lebih pada dampak besar yang bisa saja terjadi bila status pernikahannya dan Reyn diketahui banyak pihak termasuk sekolah, besar kemungkinan dirinya dikeluarkan dari sekolah begitu juga dengan Reyn batinnya.


Begitu bayangan suaminya itu terlintas dalam benaknya, gadis itu segera mengedarkan pandangannya, khawatir kalau-kalau suami gurunya itu melihat dirinya berduaan dengan Steven, menyudut pula.


"Oh my God!" Rose memekik didalam hati, ia seketika gelagapan menerima tatapan datar Reyn yang memang tengah menyorot kearahnya, suaminya itu tengah berbicara dengan salah satu security yang berjaga di pos jaga.


"Rose, apa yang kau lihat," Steven ikut menoleh, mencari objek yang dilihat gadisnya tapi tidak menemukannya karena banyaknya siswa-siswi yang berjubel diluar pagar sekolah, belum lagi para siswa yang memberondong keluar dari dalam area pagar.


"T-tidak ada," sahut Rose masih kikuk dan mengalihkan pandangannya ketempat lain agar tidak diketahui kalau dirinya sedang melihat kearah Reyn.


"Kak, jangan temui aku lagi. Kita sudahi saja hubungan ini," ungkap Rose yang nampak gelisah, sementara matanya sesekali melirik kearah pos jaga, tapi Reyn sudah tidak ada disana. Kemana dia? Mata Rose mengedar untuk mencari.


"Tidak boleh begitu Rose. Kakak tidak mau," tolak pemuda itu, sekian minggu dirinya berusaha mencari keberadaan kekasihnya itu, mendengar ucapan Rose ingin mengakhiri hubungan mereka tentu saja ia tidak bisa menerimanya begitu saja.


"Apa ini semuanya ada hubungannya dengan Mami?" telisik laki-laki itu.

__ADS_1


Rose mengangguk.


"Baiklah, sekarang kau ikut dengan kak Steven. Kita temui Mami untuk men-clear-kan kesimpang-siuran ini." Steven menarik pergelangan tangan Rose membawanya menuju motor sportnya yang tengah terpakir dibahu jalan.


"Maaf Kak, aku tidak bisa," Rose berusaha melepaskan tangannya dari Steven, namun cengkraman pemuda itu semakin dipereratnya, membuat Rose sulit melepaskannya.


Norsa menggigit bibi* bagian bawahnya, ia merasa cemas, ingin membantu Rose tapi tak bisa. "Aduh gimana ini Rin," ucapnya pada Rina yang berdiri disebelahnya.


"Biarkan saja, jangan ikut campur," sahut Rina yang juga bingung harus berbuat apa. "Lagian tumben Rose nggak mau Sa, biasanya juga kak Steven yang mengantarnya pulang, lanjut Rina yang memang tidak mengerti kalau Rose sudah berstatus isteri Reyn, guru mereka.


Norsa menatap Rina, tidak mungkin ia menceritakan kalau Rose sudah menikah pada sahabatnya itu, karena ini masalah besar. Bahkan keluarga besarnya sudah mewanti-wantinya jangan sampai salah bicara.


"Kak aku mohon jangan begini. Nggak enak dilihat siswa-siswi lainnya," Rose masih berusaha melepaskan tangannya.


"Mereka semua sudah tau kok tentang hubungan kita," Steven akhirnya melepaskan pegangan tangannya. Ia meraih helm dan mengenakannya dikepala Rose.


Saat ini, perasaan gadis itu begitu kacau, memikirkan bagaimana ia bisa melepaskan diri dari kenyataan hari ini. Bila ia pergi bersama Steven, bagaimana dengan orang tuanya, mereka pasti akan sangat kecewa padanya. Lalu Reyn dan keluarganya, apa yang akan mereka lakukan padanya nanti jika mengetahui dirinya pergi dengan laki-laki lain sementara dirinya sudah menikah.


"Oh my God! Help me!" pekik Rose bingung.


Rose dan Steven saling berpandangan sesaat lalu sama-sama menoleh kearah sang security. Gadis itu nampak cemas, pasalanya baru tadi pagi ia mendapat hukuman dari guru BK-nya itu.


"Pak Ruben? Memangnya Rose ada kesalahan apa Pak? Dan bukannya ini sudah jam pulang sekolah?" cecar Steven yang sangat mengenal nama guru yang disebutkan sang security.


"Maaf Mas, saya juga tidak tahu, hanya menyampaikan pesan," ucap sang security tak banyak bicara.


"Memang apa yang kau lakukan?" Steven beralih pada Rose sambil melepaskan kembali helm yang baru ia pasang.


"Nggak tau Kak, tadi pagi aku dan teman-teman juga sudah mendapat hukuman, karena mengatai beliau 'roh jahat'," Rose sedikit memelankan suara diujung kalimatnya.


Steven tersenyum lebar, julukan itu sudah tidak asing ditelingannya, karena dirinya dan teman-temannya juga memberi julukan yang sama pada pak Ruben, guru BK yang tidak pernah meloloskan para siswa dari hukumannya bila kedapatan melanggar peraturan.


"Baiklah, Kakak menunggumu disini ya,"Steven mengulas senyum manisnya dan mengusak pelan pucuk rambut sang kekasih, gemes, kangen juga, karena baru hari itu bisa berkesempatan bertemu lagi dengan gadis pujaan hatinya itu.


Rose mengangguk dan balas tersenyum," Aku pergi dulu ya Kak," gadis itu lalu mengikuti sang security yang juga berpamitan dengan Steven.

__ADS_1


"Non Rose, sopir-nya Non sudah menunggu disana," tunjuk sang security ketika dirinya dan Rose sudah melewati pos jaga dan terlindung dari dari para siswa yang ada diluar pagar.


Rose mengikuti arah yang ditunjukan security. Benar saja, mobil yang dikendarai pak Kasim sudah berada disebelah gedung perpustakaan sekolah, entah kapan mobil itu masuk, dirinya tidak menyadarinya karena sibuk berinteraksi dengan Steven di luar tadi.


"Bagaimaana boleh masuk Pak, bukannya sebelumnya dilarang? Para penjemput hanya diperbolehkan menunggu diluar?" tanya Rose heran.


"Tadi pak Reyn yang meminta izin Non," sahut security itu.


"Baiklah, terima kasih Pak. Saya mau bertemu pak Ruben dulu diruang guru," pamit Rose lalu bergegas.


"Jangan Non!" larang security itu cepat.


"Kenapa? Bukannya tadi saya disuruh menemui beliau di ruang guru," Rose kembali terheran.


"Itu hanya sebagai alasan supaya saya bisa membawa Non menjauh dari mas Steven. Pak Reyn yang suruh begitu Non," terang pria itu.


"Pak Reyn yang suruh?" Rose menatap sang security.


"Iya Non," angguknya.


"Lalu dimana pak Reyn sekarang?"


"Sudah pergi setelah meminta bantuan saya Non," sahut security itu lagi.


"Baiklah, terima kasih banyak Pak," Rose menyatukan dua tapak tangannya didepan dada pada security itu sebelum pergi. "Saya pamit." ucapnya sembari tersenyum.


"Sama-sama Non," security itu balas tersenyum.


Didepan ruang guru, pak Ruben yang berniat pulang, sedari tadi telah memperhatikan interaksi antara Rose dan sang security sekolah.


"Bukannya itu mobil pak Reyn?" pak Ruben masih memperhatikan saat Rose masuk ke mobil sampai mobil itu bergerak perlahan meninggalkan area sekolah.


"Apakah ada sesuatu diantara mereka? Mencurigakan sekali," gumamnya penasaran. "Sepertinya aku harus mencari tahu. Tidak boleh ada skandal di sekolah Negeri kebanggaan kota ini," ia lalu bergegas menuju motor matic kekiniannya.


__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2