My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
KITA SUDAH SELESAI


__ADS_3

Di sudut meja yang lain, pemandangan Reyn yang menyuapi Rose membuat seorang pemuda tampan idola para gadis remaja kota itu mendadak terserang sakit mata melihatnya.


Tentu saja darah mudanya juga ikut mendidih dibakar api cemburu, sang kekasih hati tertangkap basah sedang berduaan makan siang dengan laki-laki lain yang bukan dirinya.


"Rose, apa karena pak Reyn kau acap kali minta putus?" batin.Steven kecewa. Bila tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, tentu dia akan menolak untuk percaya. Gadis sebaik dan sepolos Rose bukan tipe tukang selingkuh batinnya.


Adegan suapan yang dilakukan Reyn membuat hatinya sakit ketika melihat Rose mau menerimanya hingga makanan dalam piring ditangan Reyn itu habis.


Ingin sekali rasanya ia menghajar laki-laki yang sudah berani mendekati pujaan hatinya saat dirinya masih sayang-sayangnya pada kekasihnya itu. Tapi ia berusaha menjaga kewarasannya, tidak mau gegabah karena dibutakan api cemburu, apalagi pria yang bersama kekasihnya itu adalah guru Biologinya saat dulunya ia masih berstatus siswa SMU Negeri Tangga Arang.


Sebagai pemuda yang dinobatkan menjadi duta budaya dikotanya, tentu saja Steven juga harus bisa menjaga image dan membawa diri se-elok mungkin dimanapun dirinya berada, ditambah lagi jabatan ayahnya sebagai orang nomor satu dikotanya, tentu saja dia harus ekstra hati-hati.


Steven lebih memilih melambaikan tangannya pada salah satu seorang pelayan restoran untuk menitipkan pembayaran makan siangnya dari pada menyambangi Rose yang terlihat membawa satu tentengan paper bag menuju toilet, sementara guru Biologinya itu sedang melakukan transaksi pembayaran dikasir.


"Memang kita mau kemana sih Mas harus ganti baju segala seperti ini," Rose kembali menghampiri Reyn yang sudah selesai dikasir dan duduk disalah satu kursi kosong menunggunya.


"Supaya kau lebih nyaman saja diatas motor nanti dari pada menggunakan rok sekolahmu tadi. Ayo," Reyn menarik pergelangan tangan Rose yang masih ingin bertanya, agar gegas mengikutinya keluar dari restoran.


"Pak Reyn!"


Reyn dan Rose menghentikan langkah saat diparkiran ada yang memanggil namanya dengan suara yang tidak asing baginya.


Terkejut, itu yang dirasa Rose saat ini, jantungnya seketika berpacu kencang tak beraturan, yang ia takutkan selama ini akhirnya datang menghampiri.


"K-kak Steven?" gumam Rose gugup dan terlihat salah tingkah, seingatnya beberpa menit yang lalu pemuda itu masih sibuk dikerubutin para adik-adik kelasnya yang meminta tanda tangan.


Berbeda dengan Reyn, laki-laki itu terlihat lebih santai dan tenang ketika tatapannya saling bersitubruk dengan Steven, pemuda yang pernah menjadi siswanya setahun silam.

__ADS_1


"Tolong lepasin tangan pak Reyn dari tangan Rose, dia kekasih saya, Bapak tidak lupakan?" Steven melangkah mendekat dan berhenti saat jarak mereka bertiga sangat dekat.


Walau sebenarnya cemburunya sudah memuncak melihat tangan Reyn memegang tangan Rose, tapi ia berusaha bisa menampilkan senyum diwajahnya.


Tanpa banyak berkomentar, Reyn menuruti apa kata Steven. Ia melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan Rose, ia juga ingin tahu apa yang diinginkan oleh pacar isterinya yang memang belum ada kata putus itu.


Diparkiran itu, beberapa pengunjung restoran yang berlalu lalang melirik kearah mereka sekilas saja lalu mengurus urusannya masing-masing, ada yang baru datang untuk bersantap siang, ada pula yang sudah selesai makan siang di restoran itu.


"Terima kasih sudah mengajak pacar saya makan siang Pak. Ayo Rose, kak Steven akan mengantarmu pulang," Tatapan Steven beralih pada Rose yang terpaku disiisi Reyn, sedikitpun ia tidak mau mengakui dengan lidahnya walau didalam hati ia tahu keduanya pasti memiliki hubungan.


Wajah Rose sedikit memucat karena bingung harus berkata apa. Kali ini ia sangat takut bila lidahnya sampai salah berkata.


"Katakan Rose, kau ingin pulang dengan siapa?" Terdengar suara Reyn mengudara, ketika ia melihat gadis itu hanya bisa terdiam, tidak sanggup berkata-kata mendengar ajakan Steven.


"D-dengan pak Reyn saja?" ucap Rose terbata-bata.


"Tidak bisa, kau harus pulang denganku Rose," Steven meraih paksa tangan Rose dan gadis itu seketika menepis tangannya kasar.


"Rose??" Steven tersentak, tidak percaya kalau gadis pujaan hatinya itu melakukan itu padanya, ia semakin yakin bila keduanya memang punya hubungan. Rasa sayangnya tetap memaksa untuk menolak kenyataan menyakitkan itu.


"Maafkan aku Kak Steven, sejak malam pesta itu, aku sudah tidak ingin punya hubungan lagi dengan Kakak. Bukankah aku sudah berulang kali mengatakan alasannya pada Kakak? Juga ibuku. Kami bukan keluarga yang berstatus sosial yang setara dengan keluarga kak Steven." ucap Rose ngegas dengan suara bergetar ingin menangis, mengingat kata-kata Mami Steven yang sangat menyakitkan karena tidak menginginkan dirinya.


"Ini pasti salah faham Rose, sampai saat ini Mami masih merestui hubungan kita," ucapnya berusaha meyakinkan apa yang ia ketahui dari ibunya.


"Mami kak Steven pembohong! Beliau tidak jujur!" pekik Rose dengan wajah memerah.


"Aku mendengar sendiri bagaimana Maminya kak Steven berbicara dengan Bundaku diruang dekat lorong itu, beliau tidak menginginkanku berhubungan dengan kak Steven karena status sosial kita yang tidak setara!"

__ADS_1


"Tapi Rose aku sudah bicara sama Mami, dan Mami mengaku tidak pernah bilang begitu," sahut Steven lagi.


"Cukup! Dengan berbicara begitu, sama artinya kak Steven mengatakan aku dan Bunda yang berbohong. Ayo Pak Reyn, kita pulang!" Rose menyeret tangan Reyn, untuk membawanya pergi dari sana dengan gusar, laki-laki itu terpaksa menurut saja diperlakukan isteri kecilnya seperti itu.


"Kasihan sekali dirimu Reyn, terjebak diantara cinta dua remaja aneh ini. Satu isterimu, satu mantan muridmu. Ayo Reyn, kau bisa apa?" batinnya merasa lucu, berbeda dengan Rose yang terlihat kesal dan Steven dengan wajah memelas berusaha memberi penjelasan yang itu-itu saja.


"Tunggu Rose, kita belum selesai," Steven mengejar. "Pak Reyn tolong bantu saya," mohonnya.


"Begini saja Stev, aku tidak tahu pasti apa permasalahan antara kalian berdua. Kusarankan, mungkin kau harus klarifikasi lagi dengan Mamimu apa yang dimaksud Rose tadi. Kalau Rose saja yang berbicara seperti itu, kau boleh menyangsikannya. Tapi bila Bundanya Rose juga berbicara hal yang sama, sepertinya ada yang disembunyikan oleh Mamimu, mungkin saja beliau punya alasannya kenapa tidak jujur padamu." ucap Reyn berusaha menengahi.


"Apa maksud pak Reyn? Pak Reyn mau bilang Mami saya juga berbohong? Mami saya itu merestui hubungan kami pak Reyn. Dan saya sudah bilang itu berkali-kali," ucap Steven ngotot dengan nada menekan.


Reyn yang menerima ucapan Steven hanya bisa memberi tatapan datar, rasanya ingin sekali ia memukul mulut Steven yang seolah nyolot padanya, tidak lucukan kalau ia sampai melakukan itu pada mantan muridnya sendiri.


"Sudahlah Pak, kita pergi saja. Kalau jawaban kak Steven yang itu-itu aja, sampai kapanpun tidak akan pernah selesai-selesai." ucap Rose yang sudah jengah mendengar ucapan Steven yang seolah menganggap angin lalu apa yang pernah dirinya dan Bundanya katakan tentang perkataan Mami pemuda itu.


Keduanya lalu memasang helm pengamannya masing-masing dan bersiap meninggalkan tempat itu.


Drum! Drum!


"Rose, apa kau mengkhianti aku dan berpacaran dengan pak Reyn gurumu sendiri," suara Steven seakan berlomba dengan deruman mesin motor sport milik Reyn. Pemuda itu sudah tidak bisa menyimpan perasaan marah dan cemburunya pada dua manusia yang sudah duduk diatas motor itu.


"Aku tidak berkhianat Kak. Sekali lagi aku tegaskan kalau kita sudah selesai dimalam pesta syukuran Kak Steven. Dan itu bukan mauku, tapi maunya Mami kak Steven yang meminta pada Bundaku supaya aku menjauh dari kak Steven. Kita jalan Pak!" pinta Rose sembari memeluk erat pinggang Reyn dan menyandarkan kepalanya dipunggung lebar suami gurunya itu.


Sakit, itulah yang dirasakan Steven menyaksiakan gadis yang masih dianggap sebagai kekasihnya berlalu sambil memeluk erat laki-laki lain.


Bersambung...👍

__ADS_1


__ADS_2