My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dikamar mandi dan menggunakan piyamanya, Reyn naik ke tempat tidur. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Rose yang sudah tertidur dengan lelapnya.


Dengan hati-hati, tangannya merapikan anak-anak rambut Rose yang berantakan. Hatinya menghangat saat jarinya menyentuh kulit wajah yang halus nan lembut milik Rose.


"Adikku," lirihnya sambil tersenyum mengingat masa lalu.


Flash Back On :


"Reyn, pak Martin dan isterinya sudah setuju kalau kita mengangkat Rose jadi adik perempuanmu. Kau pasti senang kan?" Sarina tersenyum membuka obrolan, memberikan piring yang telah ia isi dengan menu makan malam pada Reyn.


"Reyn nggak mau punya adik perempuan Ma. Nggak jadi," tolak Reyn seenaknya. Pemuda itu lalu menyuapkan makan malamnya ke dalam mulut dengan lahap.


Ia dan keluarganya baru pulang dari pulau jawa dimana ia baru saja diwisuda disana beberapa hari yang lalu.


"Loh, kok nggak jadi?" Sarina terbengong heran menatap putranya, lalu beralih pada Haswan. Suaminya itu bukannya membantunya malah mengangkat kedua bahunya menanggapi kebingungan sang isteri.


"Mereka udah setuju loh Reyn, Mama nggak enak jadinya. Selama ini Mama kan udah membujuk mereka atas permintaanmu yang selalu mau punya adik perempuan," Sarina kembali beralih memandang Reyn. Pemuda itu malah asik menikmati makan malamnya, begitu pula dengan suaminya.


Sejak usia 5 tahun, Reyn kecil memang selalu merengek meminta adik perempuan pada Daddy-nya, itu sebabnya kakek dan neneknya semakin gencar memaksa Heru, ayah Reyn untuk menikah lagi. Di sekolah TK, ia merasa iri saat melihat beberapa teman-temannya di jemput kedua orang tua dengan bayi-bayi gembul yang menggemaskan.


Ketika berusia 8 tahun, setelah kematian tragis yang dialami sang ayah, kakek, dan neneknya, Reyn kecil kembali merengek meminta adik perempuan pada Sarina yang ketika itu sudah menjadi orang tua angkatnya. Bingung, itu yang dialaminya saat itu. Pasalnya, dirinya sudah tidak mempunyai rahim karena penyakit kankernya, tidak mungkin lagi bisa mengandung.


Untuk menenangkan Reyn kecil ketika itu, ia mengajak bocah itu berkunjung ke tetangga sebelah, rumah ibu Shasa. Kebetulan keluarga ibu Shasa dari kota Tangga Arang datang pula kerumah itu membuat suasana bertambah semarak.


Reyn terlihat sibuk disana, bermain dan mengurus dua balita perempuan yang sangat merepotkannya. Rose yang berusia 2 tahun, begitu hobi menghamburkan seluruh isi rumah, sementara Shasa, kakak sepupunya yang berusia 3 tahun lebih tenang dan suka duduk dipojokan ruang tamu.


Ketika Rose dibawa pulang oleh kedua orang tuanya, Reyn menangis meraung. Meminta Sarina membeli bayi gembul yang super aktif itu menjadi adiknya.

__ADS_1


"Reyn sayang, Rose bukan boneka yang bisa dibeli," bujuk Sarina ketika itu.


Namun bocah itu tetap merengek dan berhari-hari lamanya menangis, supaya Rose gembul berusia balita itu dibeli oleh ibunya untuk menjadi adiknya.


"Ya udahlah kalau begitu. Besok Mama akan ke kota sebelah, Tangga Arang, menemui ibu Marlina dan suaminya, tidak enak membatalkannya hanya lewat telepon." putus Sarina akhirnya, sambil mendesah berat.


Sarina menyuapkan makanannya, dan mengunyahnya, cita rasanya terasa hambar. Pengaruh pikiran tidak enaknya pada keluarga Marlina, kenalannya, karena tidak jadi mengangkat putri bungsu mereka.


Sudah bertahun-tahun ia membangun hubungan baik dengan Marlina dan keluarganya, supaya keinginannya mengangkat Rose jadi putri angkatnya akan menjdi kenyataan.


"Lamarkan saja anak perempuan yang bernama Rose itu untuk Reyn Ma," pinta Reyn tiba-tiba.


"L-lamar?" kaget Sarina. Reyn, putra angkatnya itu memang sering membuat dirinya kaget dengan permintaannya yang cenderung aneh sejak bocah.


"Reyn, Rose itu masih gadis kecil, Sayang. Dia baru 15 tahun, dan baru kelas 2 SMP. Jangan mengada-ada deh, tidak boleh! Apa kau mau dianggap seorang pedofilia?" Sarina menatap tajam pada putranya yang masih meneruskan makan malamnya.


"Nggak! Nggak boleh! Mama nggak setuju!" sentak Sarina tegas. Wanita itu menyuap makanannya dengan beringas, ada rasa lumayan kesal dalam dadanya, baru saja minta dibatalkan rencana mengangkat Rose menjadi adik perempuannya, sekarang malah minta dilamarkan, ada-ada.saja omelnya didalam hati.


"Pa, tolongin Mama. Urus putramu ini," Sarina memandang suaminya.


"Udahlah Ma, ngapain pusing-pusing. Turutin aja permintaan putramu itu. Reyn benar, kalau tidak dari sekarang, Reyn bisa keselip anak laki-laki lain nantinya."


Sarina terpana, kenapa isi kepala suaminya dan Reyn bisa sekompak itu.


"Apa Mama tidak perhatikan, seusia itu saja, Rose sudah memikat hati para pegawai laki-laki kita saat ia berkunjung ke gerai-gerai kita. Papah nggak bisa jamin ya, kalau usia gadis itu sudah cukup dewasa Reyn bakalan mendapatkannya," imbuh Haswan menakuti isterinya.


Sarina menatap suaminya, dalam hati ia membenarkan ucapan suaminya itu, Rose remaja yang berusia 15 tahun saja sudah membuat para pegawai laki-laki mereka gelabakan saat dirinya main ke gerai mereka bersama.kedua orang tuannya.

__ADS_1


"Tapi Pa--, Mama nggak ngerti bagaimana caranya ngelamar anak remaja. Yang ada kita malah dianggap lancang, tidak mengerti norma dalam masyarakat. Mereka bisa salah faham Pa, bisa-bisa hubungan baik yang sudah terjalin selama ini bisa rusak," ucap Sarina merasa khawatir.


"Mamamu benar Reyn. Kau harus bersabar, tunggu sampai Rose tumbuh dewasa. Bagaimana?" Haswan langsung mengarahkan ucapannya pada putranya yang masih menyimak obrolan mereka.


"Nggak bisa. Reyn nggak mau." pungkasnya sambil melipat tangan didepan dadanya.


"Ayolah Reyn, jangan keras kepala. Kalau jadi adik perempuanmu, mereka sudah setuju. Begitu saja, oke?" Haswan asal membujuk, membuat Reyn seketika berdiri dari kursi meja makannya. Sangat jelas terlihat bila ia tidak bisa menerima ucapan itu.


"Papa, Reyn nggak mau Rose jadi adik perempuannya Reyn, tapi harus jadi isteri. Pokoknya isteri. Isteri ya Pa, bukan adik perempuan."


"Isteriku yang paling cantik sedunia dan sejagat alam raya. Kau lihat kan? Betapa keras kepalanya putra mendiang pak Heru dan ibu Heni itu. Aku sudah tidak bisa membantumu membujuk dia. Kau tahu, dia sekarang sedang memposisikan dirinya sebagai majikan kita, bukan putra kita, sayang," bisik Haswan pelan ditelinga isterinya dengan ekor matanya melirik Reyn yang tengah memperhatikan mereka.


"Reyn harap, bisik-bisk Papa dan Mama itu hasilnya adalah melamar Rose jadi isteri Reyn dan bukan adik perempuan," pungkasnya masih memandang curiga pada kedua orang tua angkatnya itu.


"Reyn kami yang paling tampan di rumah ini, Rose itu masih remaja, dan dia juga anak manja. Kata ibundanya, gadis itu masih belum bisa mengurus dirinya sendiri. Apa kau siap punya isteri seperti dia. Belum tentu dia bisa berubah saat dewasa nanti Reyn," ungkap Sarina apa adanya. Selain ibunda Rose mengatakan padanya, Sarina yang sudah kerap kali bertemu dengan gadis itu juga melihatnya sendiri.


Reyn terdiam sejenak. Ia memang tidak bergaul dengan Rose, ia dekat dengan gadis remaja itu saat dirinya berusia 8 tahun dan Rose 2 tahun. Setelah itu, dia lebih banyak berada di pulau jawa untuk mengenyam pendidikan disana, dan bila pulang, para pegawai mendiang ayahnya akan membawanya ke perusahaan, mengajarinya semua pekerjaan yang ada disana sesuai surat wasiat Daddy-nya.


Setiap kali Rose menyambangi gerai-gerai mereka, Haswan dan sarina tidak pernah lupa berkisah pada Reyn, sehinga cukup dari kisah-kisah dan beberapa jepretan poto tentang Rose kecil hingga remajanya, sudah membuat Reyn semakin tertarik pada sosok Rose yang masih lekat dalam ingatannya saat berusia 2 tahun, bayi gembul dan sangat menggemaskan itu.


"Tidak masalah. Reyn terima semuanya Ma. Reyn suka sama anak perempuan yang manja dan tidak tau apa-apa itu. Reyn bukan cari perempuan yang bisa mengurus rumah, tapi Reyn lagi cari isteri." sahut Reyn akhirnya.


Flash Back Off


"Dulu aku memang ingin kau jadi adikku." Reyn menoel pelan pucuk hidung Rose yang mancung. "Kau gendut, lucu, menggemaskan. Juga sangat merepotkan, rumah kami sampai berantakan karena ulahmu," Reyn tertawa sendiri.


"Setelah kau tumbuh dewasa. Rupanya kau lebih cocok jadi isteriku, bukan jadi adik perempuanku," lanjut Reyn. Ia memandangi wajah cantik isteri kecilnya itu dengan tidak pernah bosan-bosannya.

__ADS_1


"Demi kau, aku siap menghadapi masalah besar didepan sana Rose," Reyn kembali membenahi anak-anak rambut Rose yang kembali jatuh menjuntai menutupi wajahnya.


Bersambung...👉


__ADS_2